Google+ Followers

Selasa, 31 Maret 2015

Buku Hutang Budi

Seorang teman mampir ke rumah dalam perjalanan dari Pare, Kediri ke Probolinggo. Teman lama yang baru diketemukan kembali selepas aku boyong dari Pondok Pesantren di Kudus, lima tahun silam.

Sebagaimana umumnya pertemuan. Setelah melepas kangen dan saling bertanya kabar, kami pun hanyut dalam obrolan hangat mengenai masa lalu. Tentang kekonyolan-kekonyolan hingga saling bertukar petuah yang pernah terlontar dari lisan sang guru.

Ketika aku boyong, dia masih di sana hingga dua tahun. Setelah lulus, dia masuk dalam keorganisasian yang anggotanya terdiri dari huffadh. Cerita itu mengalir dari bibirnya yang tipis sewaktu melihat quranku yang bersampul coklat. Usut punya usut, dia masuk dalam team pentashihnya.

"Hebat kamu, Wan. Sudah jadi team inti. Aku masih cadangan," kataku dengan nada bercanda.

"Halah, kamu ini merendah saja. Lha santrimu ini sudah banyak."

"Yo cadangan, lha wong mereka itu santrinya, Mas. Aku cuma bantu di sini. Sambil nyelesaikan qiro'ah sab'ah."

"Wah, aku dulu cuma dapat dua rowi satu Imam. Hafsh sama Su'bah dari Imam 'Ashim. Gak kuat. Bayangin aja, 7 Imam, tiap imam punya dua perowi dengan khilaf yang berbeda. Sama aja kayak belajar 14 quran. Puyeng."

Aku hanya terkekeh, "Kamu itu kalau kok mau bohongi aku. Sejak kapan di kamusmu ada kata puyeng? Palingan juga gak betah sama tempatnya. Ngambil di Sab'ah di Ponorogo to?" Lalu menyeruput kopi yang tersaji.

"Kok tahu?"

"Dua hari lalu Dalebo mampir."

"Dalebo? Rohmat Fais? Dimana anak itu sekarang?"

"Jadi dosen sekarang di Jombang."

"Weh? Dalebo? Dosen?" Dia tertawa, "Cah edan jadi dosen, apa mahasiswanya gak edan juga?"

Giliran aku yang tertawa. Dalebo memang dulu terkenal sebagai santri yang di atas normal. Baik tingkah maupun kelakuannya.

"Buku hutangnya dulu masih ada lho!"

"Buku sampul hitam 300 halaman, yang katanya buku hutang"

"Iya," aku tertawa lepas. "Kemarin akhirnya ditunjukkan ke aku."

"Eh, beneran? Bukannya pas di pondok ada gemboknya? Sudah berapa banyak hutangnya?"

Lagi, aku tertawa, "Sudah terisi seperempat lebih. Ternyata itu buju hutang budi."

"Hutang budi?"

"Iya, siapa-siapa yang pernah berbuat baik ke Dalebo namanya ditulis di sana. Tiap sebulan sekali di-fatihah-i sebelum memulai khotmil quran."

"Subhanallah."

AM. Hafs
Malang, 31 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI