Google+ Followers


Membaca berita hari ini yang dipenuhi oleh pemblokiran beberapa situs media islam, saya jadi berpikiran, bagaimana cara membuka situs itu. Situs-situs itu hakekatnya tidak ditutup, hanya diblokir oleh pemerintahan kita yang sekarang, melalui operator.
Setelah berselancar, saya menemukan tutorial untuk membuka situs yang diblokir, berikut beberapa caranya,
Untuk Hp android bisa download aplikasinya di Appstore
https://play.google.com/store/apps/details?id=free.vpn.unblock.proxy.vpnmaster

Setelah terinstall,

1. Jalankan aplikasi.
2. Tekan tombol lingkaran yang bertuliskan "Touch to connect"
3. Centang kotak disebelah tulisan "Saya mempercayai aplikasi ini."
4. Tekan tombol OK.
5. Ditunggu hingga proses setting selesai.
6. Tombol lingkaran berubah tulisan menjadi "Connected".
7. Keluar dari aplikasi dan pastikan di bagian atas layar Android Anda
ada gambar kunci.
8. Silahkan dibuka lagi situs-situs berita Islam yang diblokir.

(2) Komputer Windows/Linux

Bagi pengguna komputer Windows atau Linux silahkan download "Tor Browser" di: https://www.torproject.org

Tinggal download saja dan diekstrak, tanpa harus diinstall.

Dan ada masih banyak cara lainnya.

Seri La Tahzan
lainnya bisa baca di sini

Jangan Bersedih, karena kesedihan hanya akan membuat kita lemah dalam beribadah, membuat kita putus harapan, mengiring kita untuk berburuk sangka, dan menenggelamkanmu ke dalampesimisme.
Jangan bersedih, sebab rasa sedih dan gunda adalah akar penyakit jiwa, sumber penyakit syaraf, penghancur jiwa, penebar keraguan dan kebingungan.
Jangan bersedih,  karena ada al-Quran, ada doa, ada shalat, ada sedekah, ada perbuatan baik, dan ada amalan yang memberikan manfaat.
Jangan bersedih, dan jangan pernah menyerah kepada kesedihan dengan tidak melakukan aktivitas. Shalatlah ... bertasbihlah ... bacalah ... menulislah ... bekerjalah ... terimalah tamu ... bersilaturahmilah ... dan merenunglah.
Allah berfirman,
Dan Rabb-mu berfirman; "Berdoalah kamu kepada-Ku, nisacaya akan Aku perkenankan bagimu. QS. Al-Mu'min: 60
Berdoalah kamu kepada Rabb-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. QS. Al-A'raf: 55
Maka, Sembahlah Allah dengan memurnikn ibadah kepada-Nya QS. Al-Mu'minun:14

Sebelumnya di sini

-Bagaimana cara membantu anak-anak menghadapi dunia yang tak ramah?-

Kadang kala dunia ini bisa menjadi tempat yang tidak adil dan menyusahkan bagi anak-anak dan sebesar apa pun keinginan kita, para orang tua tidak mampu menghilangkan segala hambatan yang ada di situ. Dalam kenyataannya kita memang tidak perlu menghilangkan hambatan tersebut, sebab justru dengan dihadapkan pada orang-orang dan situasi yang sulitlah anak-anak kita menjadi matang serta berkembang menjadi orang-orang dewasa yang mandiri serta dapat diandalkan.

Apa saja yang sebaiknya tidak kita katakan kepada anak-anak ketika mereka sedang dirundung kesulitan? Omongan-omongan yang hanya akan membentuk dinding tebal di antara Anda dan anak-anak Anda. Cara paling positif untuk membantu anak-anak menghadapi hidup ini adalah "mendengarkan aktif".

Ada tiga jenis reaksi yang biasanya ditunjukkan oleh orang tua, yang memunculkan penghalang.
dalam buku The Secret of Happy Children, Steve Biddulph membaginya dengan ilustrasi sebagai berikut ...

Patronising/merasa paling tahu yang benar
"Apa kabarmu hari ini?"
"Jeblok!"
"Oh, kasihan sekali kamu ini. Sini dan ceritakan pada Ibu apa yang terjadi."
"Kelas kami mendapat guru matematika baru. Dan aku tidak mengerti penjelasannya."
"Wah, berabe juga ya. Kamu mau Ibu bantu mengerjakan tugas matematikamu sore nanti?"
"Aku tidak membawanya pulang."
"Atau besok Ibu menelepon ke sekolah dan membicarakan masalah ini dengan kepala sekolah?"
"Gimana ya; aku tak tahulah ..."
"Menurut Ibu, yang lain baik adalah masuk langsung ke inti persoalannya sebelum jadi semakin sulit, begitu bukan?"
"Gimana ya, eem ..."
"Ibu ngaak mau pelajaranmu jadi berantakan."
"He-eh."

Lecturing/menggurui




"Apa kabarmu hari ini?"
"Payah!"
"Kamu memang selalu mengeluh. Ibu sendiri kepengen bisa menghabiskan waktu seharian untuk belajar, punya waktu yang menyenangkan dan santai."
"Aku dan teman-teman sekelasku sedang jengkel. Kami mendapat guru matematika baru yang menyebalkan ..."
"Hei, jangan omong seperti itu tentang gurumu. Kalau kamu mau lebih memperhatikan pelajaran pastilah tak akan ada masalah, Nak. Kamu memang selalu ingins emuanya mudah didapat."
"Emmm ...."

Distracting/mengalihkan

"Apa kabarmu hari ini?"
"Payah!"
"Ah, jangan begitu, tidak payah-payah betul, kan? Mau combro?"
"Terima kasih. Aku agak khawatir soal matematika ..."
"Ya, gimana ya. YAng jelas kamu bukan Einstein, Ibu dan ayahmu juga bukan Einstein. Sana, nonton TV saja, tak usahlah terlalu dipikirkan soal matematika itu ..."
"Eh-heh ..."

Nah gaya bereaksi mana yang biasa Anda tunjukkan? Di tiga gaya di atas orang tualah yang lebih banyak bicara, bukannya anak. Pembicaraan berlangsung singkat saja. Anak tida bisa sampai tuntas membicarakan persoalan yang sebetulnya sedang ia hadapi.

Sekarang coba perhatikan sebuah pendekatan yang lain ...

Mendengarkan aktif

"Apa kabarmu hari ini?"
"Jeblok!"
"Kamu kelihatan kesal sekali. Ada masalah apa?"
"Huh, kelas kami mendapat duru matematika baru. Caranya menjelaskan pelajaran cepat sekali."
"Kamu khawatir tak mampu mengikuti pelajarannya?"
"Ya, aku memintanya untuk menjelaskan lagi sebagian dari apa yang ia terangkan, dan ia cuma menjawab seharusnya aku lebih memperhatikannya lagi."
"Oo. Bagaimana perasaanmu terhadap jawaban gurumu itu?"
"Sebal--semua teman sekelas menoleh ke arahku... tapi sebetulnya mereka pun tidak mengerti, sama seperti aku!"
"JAdi kamu sebal karena jadi punya masalah gara-gara kau satu-satunya murid yagn mengajukan pertanyaan?"
"Ya, aku tak suka jadi pusat perhatian seperti itu."
"Jadi apa yang ignin kamu lakukan?"
"Tak tahulah, mungkin aku akan bertanya lagi kepada guru itu saat pelajaran selesai."
"MEnurutmu itu akan lebih baik?"
"Ya, karena aku takkan merasa malu. Lagipula, menurutku guru itu pun sebetulnya gelisan juga. Mungkin itulah sebabnya ia menerangkan dengan buru-buru."
"Kamu bisa memahami itu kalau kamu berada di posisinya?"
"Iyalah, menurutku ia gelisah juga menghadapi murid-murid baru."
"Tak heranlah, mengajar anak-anak pintar sepertimu, mana ada guru yang tak gelisah!"
"Ya ..."

Diperlukan latihan agar kita memiliki kecakapan dalam mendengarkan aktif. BAnyak orang tua telah membuktikan bahwa mendengarkan aktif sangat membantu mereka. Dengan mendengarkan aktif, para orang tua bisa membantu anak-anak mereka dengan menyerahkan tanggung jawab dan kepuasan memecahkan persoalan kepada anak-anak itu sendiri. Kuncinya adalah bertanya kepada diri sendiri, "Bisakah anakku dalam jangka panjang memperoleh manfaat dengan memecahkan masalahnya sendiri?"

Pengen lebih banyak tahu tentang bagaimana cara membantu anak-anak menghadapi dunia yang tak ramah? Baca bukunya biar lebih lega :D

bersambung ....
 


Seorang teman mampir ke rumah dalam perjalanan dari Pare, Kediri ke Probolinggo. Teman lama yang baru diketemukan kembali selepas aku boyong dari Pondok Pesantren di Kudus, lima tahun silam.

Sebagaimana umumnya pertemuan. Setelah melepas kangen dan saling bertanya kabar, kami pun hanyut dalam obrolan hangat mengenai masa lalu. Tentang kekonyolan-kekonyolan hingga saling bertukar petuah yang pernah terlontar dari lisan sang guru.

Ketika aku boyong, dia masih di sana hingga dua tahun. Setelah lulus, dia masuk dalam keorganisasian yang anggotanya terdiri dari huffadh. Cerita itu mengalir dari bibirnya yang tipis sewaktu melihat quranku yang bersampul coklat. Usut punya usut, dia masuk dalam team pentashihnya.

"Hebat kamu, Wan. Sudah jadi team inti. Aku masih cadangan," kataku dengan nada bercanda.

"Halah, kamu ini merendah saja. Lha santrimu ini sudah banyak."

"Yo cadangan, lha wong mereka itu santrinya, Mas. Aku cuma bantu di sini. Sambil nyelesaikan qiro'ah sab'ah."

"Wah, aku dulu cuma dapat dua rowi satu Imam. Hafsh sama Su'bah dari Imam 'Ashim. Gak kuat. Bayangin aja, 7 Imam, tiap imam punya dua perowi dengan khilaf yang berbeda. Sama aja kayak belajar 14 quran. Puyeng."

Aku hanya terkekeh, "Kamu itu kalau kok mau bohongi aku. Sejak kapan di kamusmu ada kata puyeng? Palingan juga gak betah sama tempatnya. Ngambil di Sab'ah di Ponorogo to?" Lalu menyeruput kopi yang tersaji.

"Kok tahu?"

"Dua hari lalu Dalebo mampir."

"Dalebo? Rohmat Fais? Dimana anak itu sekarang?"

"Jadi dosen sekarang di Jombang."

"Weh? Dalebo? Dosen?" Dia tertawa, "Cah edan jadi dosen, apa mahasiswanya gak edan juga?"

Giliran aku yang tertawa. Dalebo memang dulu terkenal sebagai santri yang di atas normal. Baik tingkah maupun kelakuannya.

"Buku hutangnya dulu masih ada lho!"

"Buku sampul hitam 300 halaman, yang katanya buku hutang"

"Iya," aku tertawa lepas. "Kemarin akhirnya ditunjukkan ke aku."

"Eh, beneran? Bukannya pas di pondok ada gemboknya? Sudah berapa banyak hutangnya?"

Lagi, aku tertawa, "Sudah terisi seperempat lebih. Ternyata itu buju hutang budi."

"Hutang budi?"

"Iya, siapa-siapa yang pernah berbuat baik ke Dalebo namanya ditulis di sana. Tiap sebulan sekali di-fatihah-i sebelum memulai khotmil quran."

"Subhanallah."

AM. Hafs
Malang, 31 Maret 2015

Seri La Tahzan 1

Ibnu Rumi berkata,
"Ketamakan mendekatkan kendaraan untuk orang yang sengsara.
Ketamakan adalah kendaraan orang-orang yang menderita.
Selamat datang kecukupan yang datang dengan tenang,
dan setiap kelelahan akan mendapatkan kebaikan."

Dan, sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih, mereka itulah yang mendapatkan balasan berlipat ganda disebabkan apa yang mereka kerjakan; dan mereka senantiasa aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (di surga)  QS. Saba : 37  

Dale Carnegie mengatakan, " Angka statistik menyebutkan bahwa depresi adalah pembunuh utama nomor 1 di Amerika. Di sala-sela Perang Dunia II telah terbunuh sekitar 1/3 jutta pasukan perang. Dan, pada saat itu juga penyakit jantung telah memakan korban sedikitnya 2 juta jiwa. Di antara dua juta itu, kematian mereka disebabkan karena depresi dan gangguan syaraf."
Penyakit hati ini adalah penyebab utama yang mendorong Dr. Alexis Carlyle mengatakan, "Para pekerja yang tidak tahu bagaimana menghadapi kesedihan akan mati lebih cepat."
Penyebabnya masuk akal, dan permasalahan ajal memang telah Allah tetapkan:

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ktetapan yang telah ditentukan waktunya. QS. Ali Imran : 145  
Sangat sedikit orang Indian Amerika dan orang-orang Cina yang mengidap penyakit gangguan hati. Mereka adalah orang yang menjalani hidup dengan santai dan enteng. Sebaliknya, Jumlah dokter yang mati karena serangan liver jauh lebih banyak 20 kali lipat dibandingkan para petani yang mati dengan penyakit yang sama. Sebab para dokter itu menjalani hidup yang sangat depresif. Mereka juga harus membayar biaya perawatan dengan sangat mahal. Sangat ironis, dokter yang mengobati orang lain, namuin dia sendiri sakit. 
Bahasan sebelumnya ada di sini

-Lebih murah daripada video games, lebih sehat daripada eskrim-

Pertanyaan yang paling sering muncul dalam benak jutaan orangtua  setiap hari dapat diajukan dengan satu kata saja

MENGAPA

Mengapa anak-anak selalu bermain dengan sangat aktif dan berlebihan? Mengapa mereka selalu menjelajahi tempat-tempat yang justru dilarang untuk dijelajahi? Mengapa mereka melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan--berkelahi, usil, membangkang, bikin gara-gara, mendebar, mengacak-acak barang, dan sepertinya selalu ingin bikin repot ibu dan ayahnya? Mengapa ada anak-anak yang kelihatan jelas senang melibatkan diri dalam masalah?

Di buku The Secret of Happy Children bagian kedua ini, Steve Biddulph memaparkan apa yang terjadi dalam diri anak-anak "yang nakal", dan menjelaskan bagaimana perilaku "yang buruk" sebetulnya merupakan akibat dari dorongan yang baik (dan sehat) yang salah alamat.

Hanya ada satu alasan mengapa anak-anak selalu ingin bermain dengan sedemikian aktif: mereka punya kebutuhan yang belum terpenuhi. "Kebutuhan yang mana?", "Apa yang belum saya penuhi bagi anak-anak saya?", "Saya memberi mereka makan, mengenakan pakaian yang layak, membelikan mereka mainan, membuat mereka tetap hangat dan bersih ... Apa lagi??"

Tahukah bahwa ada kebutuhan ekstra (yang ternyata tidak mahal untuk mendapat semua kebutuhan ekstra itu) yang jauh melebihi kebutuhan-kebutuhan dasar yang disebutkan tadi. Kebutuhan ekstra yang "misterius" ini bersifat sangat menentukan bukan hanya dalam membentuk kepribadian anak-anak yang bahagia, tapi juga memelihara hidup itu sendiri. 

Hidup anak-anak dimulai dari bayi. Bayi membutuhkan cinta untuk hidup dan berkembang.  Cinta yang bagaimana?
- Semakin sering bayi bersentuhan fisik, paling sedikit oleh dua atau tiga orang yang paling istimewa baginya
- Timangan yang hati-hati tapi mantap dan hangat. Menggendong sambil mengayun-ayun, mendudukkan di lutut sambil menggoyang-goyangkan, dan sebagainya.
- Saling menatap mata, mengajak tersenyum, dan menciptakan suasana yang cerah serta riang.
- Bunyi atau suara seperti nyanyian, obrolan, dan bisikan sayang
- dan masih banyak lagi tindakan "cinta" untuk sang buah hati.

Bayi membutuhkan kasih sayang (afeksi) dari manusia lainnya. Tak cukup hanya diberi makan, diberi tempat nyaman dan dijaga kebersihannya. Bila tidak memperoleh kebutuhan dasar manusiawi itu, bayi takkan berumur panjang.

itu bagi bayi, bagaimana dengan anak-anak?
Biasanya, sentuhan fisik yang diterima anak berkurang saat:
- pemberian susu (ASI maupun botol) berhenti.
- hadirnya bayi baru dalam keluarga.
- menginjak usia remaja
- naik lagi saat menerima perhatian/kasih sayang dari teman dekat/teman spesial
- naik dan turun  sesuai pasang surut kebahagiaan hidup perkawinan.

Semua bayi senang disentuh, begitu pula anak-anak yang lebih besar. Ketika beranjak remaja, agak segan untuk diperlakukan begitu, namun mereka juga senang bila disayang dan diperhatikan (memperoleh sikap afektif). Dan ketika anak-anak berada di akhir usia remaja, akan mencari dan membutuhkan bentuk-bentuk perhatian dan kasih sayang (afeksi) secara istimewa dengan energinya yang meluap-luap.

Selain sentuhan fisik, Steve juga mengungkapkan ada beberapa cara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Di antara cara-cara itu, yang paling mencolok adalah penggunaan kata-kata.
Mendapat pujian yang tulus. Dilibatkan dalam percakapan.

Bila kita memenuhi semua kebutuhan fisik anak-anak kita, tentu masihlah kurang. Sebab anak-anak juga punya kebutuhan psikologis. Anak-anak butuh rangsangan manusiawi dari manusia lainnya.

Tapi anak-anakku sudah remaja, sangat terlambat untuk itu ...
Tidak ada kata terlambat. Karena masih ada kesempatan untuk menjadikannya lebih baik.

Mau tahu lebih lanjut tentang apa yang sesungguhnya didambakan anak-anak kita?

Baca bukunya sekarang juga ... :)

bersambung ke bab 3 ... :D


                                                                      ilustrasi dari google

Akan sangat menyiksa malam-malam si Buah hati ditemani oleh batuk, tidur nyenyak pun seakan hanya mimpi.
Bahkan di siang hari, makan pun bisa jadi muntah atau tersedak. Jika ini terus berlanjut bukan tidak mungkin kondisi badannya akan menurun, sehingga penyakit lainnya akan datang.
Batuk dalam jangka panjang juga bisa menyebabkan peradangan, segera bawa ke dokter jika hal ini terjadi.
Secara umum terdapat 3 jenis batuk yang sering kita jumpai
- Batuk berdahak
- Batuk tidak berdahak
- Batuk bedahak dengan gangguan pernafasan
Untuk mengobati batuk di atas, digunakan jenis obat yang berbeda. Tidak ada satu jenis formula yang bisa digunakan untuk mengobati semua batuk di atas.
Batuk pada balita lebih banyak terjadi akibat infeksi saluran nafas dan alergi. Batuk karena alergi sering terjadi pada penderita asma.
Ada juga batuk yang disebabkan oleh sinusitis, yakni radang di rongga sinus yang merupakan rongga dilubang hidung.
Penanganan yang benar pada semua gejala batuk dapat menghindari dari hal yang tidak kita inginkan.

Baca juga ini
Bayi sejak dalam kandunganpun sudah memiliki gerak reflek. Reflek ini yang membantu bayi bertahan hidup ketika di rahim.

Bisa dibayangkan jika bayi tidak memiliki reflek bernafas misalnya.
Setelah lahir, bayi dikaruniai oleh Allah reflek menyusu. Ketika mulut bayi didekatkan pada payudara sang ibu, maka secara otomatis ia akan mencari letak puting susu si ibu. Bila pipinya dielus, ia akan menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu sambil membuka mulutnya.
Bayipun memiliki reflek menggenggam. reflek ini dapat berfungsi sebagai indra peraba, selain itu juga berfungsi sebagai alat penting bagi bayi untuk mengenal dunia.
Suka lihat kan bayi yang meregangkan tangan dan kakinya sesaat ketika kaget, ternyata itu gerak reflek juga, namanya reflek moro.
Satu lagi, bayi juga saat belajar berdiri, akan berusaha untuk berjalan.

Lagi iseng berselancar, menemukan berita ini. Ah, ingin sekali bisa seperti mereka. Pertanyaan pertama yang terlintas di benakku, bagaimana caranya? Apa kerjaan mereka?

Hebatnya lagi, semua perjalanan itu kini jadi sebuah buku. ckckck. Salut ....

from kaskus


Mau tahu ceritanya ... di sini
Ada yang pernah membaca buku itu?
Kali ini saya akan mengulas poin-poin penting yang ditulis Steve Biddulph di buku terbitan Gramedia itu.

1. Yang tertanam dalam benak anak.
    -Setiap hari Anda menghipnotis anak-anak Anda-

Ungkapan yang dilontarkan begitu saja oleh orang tua menjadi semacam pola pembentukan yang dialami oleh banyak anak dalam proses pertumbuhan mereka.
Anak-anak, dengan kemampuan mereka ang luar biasa serta mudah mencerna banyak hal, biasanya akan berkembang menjadi seperti yang kita "harapkan".
Kebanyakan pola pembentukan itu cenderung negatif dan terjadi secara halus atau lebih tak kentara.
misalnya ...
Saat anak-anak sedang bermain sambil manjat pohon, si ibu berteriak, "Hei, nanti jatuh! Awas! Nanti kamu terpeleset!"

Atau seorang ayah habis berantem sama istrinya sambil setengah mabuk ia mengomel pada anaknya.
"Begitulah, Nak, jangan pernah percaya perempuan. Mereka cuma mau enaknya saja." Si anak lelakinya yang masih kecil mengangguk dan berkata, "Ya, Ayah."

Atau ungkapan-ungkapan seperti di bawah ini ...
"Ya ampun, malas betul kamu!"
"Dasar geblek, hentikan itu!"
"Bodoh!"

dan tentunya masih panjang lagi daftar yang tanpa kita sadari pernah atau bahkan sering terlontar.

Omongan semacam itu tidak sekadar membuat seorang anak merasa dirinya buruk hanya oada saat itu saja. Cemoohan, atau berbagai ungkapan yang merendahkan orang, bahkan punya pengaruh hipnotis dan bekerja secara tidak disadari--seperti benih yang tertanam di dalam benak, benih yang kelak akan tumbuh dan membentuk gambaran diri seorang anak yang akhirnya akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Lalu bagaimana kita menghipnotis anak-anak?
Sejak lama hipnotis dan sugesti sangat menarik minat manusia.
Kenyataannya hipnotis dan sugesti diterima baik secara ilmiah. Sudah banyak orang menyaksikan bentuk nyata dari dua teknik tersebut. Misalnya sebagai pertunjukan dipanggung, atau sebagai cara untuk menghentikan kebiasaan merokok, atau dalam bentuk kaset reakamn sebagai panduan cara hidup yang rileks.



Yang tidak kita sadari adalah kenyataan bahwa hipnotis berlangsung sehari-hari. Setiap kali kita menggunakan serta melontarkan pola-pola bicara tertentu, sebetulnya kita masuk ke dalam dunia bawah sadar anak-anak kita sehingga membentuk mereka, sekalipun kita sama sekali tidak bermaksud demikian.

Orang tua pada umumnya--tanpa menyadarinya sedikit pun-- menanamkan pesan ke dalam benak anak-anak mereka, dan semua pesan yang tertanam itu akan hidup dan bergema sepanjang hidup kecuali ada perlawanan atau tangkisan yang hebat terhadap pesan-pesan tersebut.

Benak seorang anak penuh dengan pertanyaan. Di antara semua pertanyaan itu, yang paling penting adalah: ""Siapa aku?", "Orang seperti apakah aku ini?", "Aku cocok dengan siapa?".

Pertanyaan yang mengarah pada definisi-diri atau pembentukan diri atau identitas.



Tak peduli apakah isi pesan yang tersampaikan adalah "Kamu anak malas" atau "Kamu anak hebat", pernyataan semacam itu yang disampaikan orang "besar" punya arti penting bagi si anak akan tertaman dalam-dalam dan kuat di dalam alam bawah sadar anak.

Maka tak jarang kita mendengar orang dewasa yang mengalami krisis dalam hidupnya, mengucapkan kata-kata yang pernah mereka terima saat mereka masih anak-anak: "Aku memang orang tak berguna, begitulah aku".




YANG JANGAN DILAKUKAN
Bila hendak menerapkan disiplin, jagan guankan kata-kata yang menekan atau menghina kalau satu perintah yang biasa saja sudah cukup untuk itu.
==>"Kembalikan itu, dasar kampret kecil mau menang sendiri!"

Juga jagan gunakan kata-kata yagn menekan atau menghina sekalipun itu dilontarkan dengan baik dan dengan maksud baik pula
==>"Hei, pentol korek api! Ayo makan!"

Jangan membanding-bandingkan!
==>"Kamu brengsek seperti ayahmu. Kenapa sih kamu tidak bisa bersikap manis dan baik seperti adikmu itu?"

Memberi contoh.
==>"Bisa diam gak sih kamu ini? Kamu pukul dia lagi, ibu BUNUH kamu!"


Jangan pernah bicarakan kepada orang lain tentang kesalahan anak kalau ia bisa mendengarkannya.
==>"Dia pemalus ekali. Nggak tahujadi apa dia nantinya!"


Jangan tunjukkan rasa bangga yang nantinya jsutru akan merugikan.

==>"Dia betul-betuk menghajarnya. Benar-benar Tommy kecil dia itu."

Jangan gunakan rasa bersalah untuk mengatur anak-anak.
==>"Minta ampun, kamu bikin Ibu capai sekali! Ibu benar-benar gak tahan lagi, sampai rasanya ingin mati saja. Tuh lihat akibat perbuatanmu terhadap ibumu!"


Pernyataan-pernyataan berikut itu seharusnya dibuang saja selamanya dari gaya pengasuhan Anda sebagai orangtua, sebab semua pihak akan merasa lebih baik jadinya.




Bersambung ...





Anakku sudah tiga, tapi aku baru pertama mengalami proses kehamilan dan melahirkan. Hehehe, kayaknya kurang pas bila ngomongin masalah kehamilan--kurang pengalaman. Tapi tak ada salahnya bila sedikit berbagi pengalaman. Berhubung banyak banget sahabat yang sedang hamil pertama hehehe.

Kehamilan adalah pengalaman yang paling luar biasa dan mendebarkan, apalagi bila baru pertama. Sensasinya bukan hanya bagi sang calon ibu, tapi juga bagi suami dan keluarga. Sebab tentunya mereka belum juga mengalami ini sebelumnya. Kadang bila ada sedikit gangguan, paniknya bukan main dan sering kali melakukan tindakan yang salah.

Bagaiman menjalani kehamilan dengan santai?

Jangan pusingin hal-hal kecil
Fokuslah pada kesehatan diri dan janin. Jangan pusing mikirin bentuk badan, perubahan hormon, timbul jerawat, kulit menjadi tampak tak terawat dan hal-hal kecil lainnya. Jalani saja, semua akan kembali normal setelah proses melahirkan.

Jangan membaca terlalu banyakZaman sekarang, ingin tahu apa saja, terutama tentang kehamilan bisa didapat dari dunia internet. Namun, tetap konsultasikan pada dokter tiap keluhan yang dirasa. Membaca saja tak cukup. Sebab bisa jadi kita salah mendiagnosa.

Menyaring nasihat yang masuk
Mendengar nasihat dari yang berpengalaman memang perlu. Namun, bukan berarti semua nasihatnya harus kita lakukan. Apalagi bila menyangkut mitos yang belum jelas kebenarannya.

Jangan Membeli terlalu banyak
Memang menyenangkan bila kita mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Namun, membeli ini itu yang dirasa tidak akan digunakan, sebaiknya ditahan-tahan. Belilah yang diperlukan saja.

Tidur Siang yang cukup
Beristirahat di siang hari jangan ditunda. Ini baik dilakukan teratur agar kesehatan bayi berkembang dengan baik.

Mengambil foto
tak perlu malu mengambil foto saat kehamilan. Itu momen indah yang belum tentu dialami semua orang. Mengabadikan momen indah saat kehamilan adalah memori yang dapat kita ceritakan ke anak kita kelak, bagaimana kita menjalani selama mengandung dirinya.

Melakukan hal yang menyenangkan.
Semasa kehamilan, lakukanlah hal-hal yang menyenangkan untuk mengusir kecemasan. Jalan santai, berenang atau berlatih pernapasan akan membantu hati lebih tenang. Itu juga bermanfaat ketika proses persalinan.


Sumber Kompas.com 
Keriuhan anak sekolah menjadi musik pengiring kehidupan kerjaku. Tak ada kata bising, ketika telah mampu menikmatinya. Begitu pula dengan masalah yang hadir. Tak ada kata berat jika bisa menyikapinya. Seperti judul lagu Jason Mras, "The World As I See It."
Aku bersyukur ditakdirkan menggeluti dunia kepenulisan. Melalui aksara-aksara yang tercoret, aku membebaskan pikiran dalam pantauan tanggung jawab, menerapi jiwa, dan meluaskan pikiran.
Pernah kubaca sebuah tulisan yang melarang untuk menulis ketika marah. Alasannya emosi dalam tulisan jadi tidak terkontrol. Tapi menurutku sebaliknya. Tuliskan! Tulis sampai emosi mereda. Tapi jangan dipublikasikan. Setelah tulisan itu rampung, biarkan mengendap bersama emosi yang ada.
Di lain waktu atau lain hari, bacalah kembali tulisan tadi. Maka dari sana, hati akan menemukan hal-hal salah yang sebelumnya teranggap benar.
Ahad kemarin, aku pulang ke rumah. Alhamdulillah, kakak sepupu tengah berkunjung. Dari luar terdengar sebuah obrolan yang nampak seru.
Setelah uluk salam, aku mulai duduk, mengikuti diskusi dan mencermati.
Kakakku yang seorang single parent bercerita. Suatu hari ketika kakakku yang bekerja sambilan sebagai penjual jamu tengah melayani pembeli, seorang ustadzah tiba-tiba mendatanginya dan berkata, "Ra, kamu itu haram berjualan reng usuk. -bambu yang telah dipotong menjadi seukuran tongkat panjang. Biasa digunakan untuk alas genting rumah- Soalnya, yang beli bukan muhri. Lalu, pas ngangkat dari tempat rendaman, baju kamu basah dan lekuk tubuhmu tercetak."
Karena posisinya di hadapan orang banyak, Kakakku bukannya sadar, malah merasa dipermalukan. Tak ayal, ia pun membalas dengan frontal dengan mengatakan kalau dia gak kerja apa si ustadzah yang mau membiayai kehidupannya. Lagian yang namanya mengangkat bambu dari tempat yang basah ya pasti basah. Toh niatnya gak buat ditampangkan. Pakaiannya juga berlengan panjang dan berhijab. Si Ustadzah langsung meninggalkan tempat tanpa bisa menjawab.
Ketika hendak menanggapi, aku terlebih dahulu memisahkannya sebagai dua masalah yang harus disikapi berbeda.
Setelah mengambil napas panjang. Aku mulai menanggapi, "Mbak, di sini ada dua masalah yang perlu dipisah. Yang pertama mengenai ketidak bolehan berinteraksi dengan bukan muhrim itu kalau interaksinya berbuat yang maksiat. Tapi kalau ada keperluan yang dibenarkan syariat, ya gak papa."
Yang kedua, apa yang disampaikan ustadzah tentang keharaman tubuh yang tercetak, itu benar. Tapi, cara penyampaian yang dilakukan di depan banyak orang, itu salah. Seharusnya ustadzah tadi bertandang ke rumah, Mbak dan berbicara empat mata."
"Lha yang namanya masuk ke air, baju apapun ya pasti tetep tercetak! Emang punya caranya biar gak tercetak, gimana?" potongnya dengan sedikit emosi.
"Sebentar, begini. Aku belum punya solusi. Tapi sementara ini hanya saran. Mbak Mira jangan menganggap hal tersebut benar, dan harus diikuti usaha untuk menemukan solusi. Sembari ikhtiar, di tiap selesai salat Mbak memohon ampun kepada Allah. Kata-katanya kira-kira seperti ini, Ya Allah, ampunilah hamba atas kenampakan tubuh tersebut. Engkau tahu hal tersebut tidak hamba lakukan dengan sengaja. Dan hamba memohon, berikanlah jalan terbaik untuk mengatasinya. Dengan begitu, harapannya kekhilafan Mbak bisa dimaafkan oleh Allah SWT."
Dia tampak manggut-manggut. Bersamaan dengan itu, Pakdhe mengetuk pintu. Menjemput Mbak Mira untuk pulang. Tak lupa sebelum berpisah, kami saling bermaafan dan berterima kasih.
AM. Hafs
Malang, 30 Mar 2015
Secara medis, menyusui bayi yang benar adalah :
- Cuci tangan sebelum dan sesudah menyusui
- Payudara dipijat agar lemas
- Ibu duduk atau berbaring santai
- Tekan areola oleh sela ibu jari dan telunjuk sehingga keluar beberapa tetes ASI, oleskan ASI tersebut puting dan areola sekitarnya sebelum menyusui.
- Letakan bayi di pangkuan jika dalam posisi duduk dan di sebelah ibu jika berbaring.
- Ibu harus memegang memegang payudara dengan ibu jari dibagian atas dan keempat jari lainnya di bagian bawah payudara.
- Sebagian besar areola harus masuk ke dalam mulut bayi. Saat pertama kali menyusui, bantu bayi menemukan puting susu kita.
- Susui bayi pada kedua payudara secara bergantian sesudah payudara pertama kosong.
- Bila akan melepaskan mulut bayi dari puting susu, masukan jari kelingking antara mulut bayi dan payudara
- Sesudah menyusui oleskan kembali ASI pada puting dan sekitar areola biarkan kering oleh udara.
- Bayi digendong di bahu atau dipangku tengkurap supaya dapat bersendawa.
- Susui bayi setiap kali ia menginginkannya.
Pakailah bahan penyerap ASI di balik BH, di luar waktu menyusui.
sumber : Penyakit, Menuju Keluarga Sehat Prima.
ilustrasi by google

Sebelum mengandung berat badanku di angka enam puluhan.
Ketika mengandung, perlahan-lahan berat badanku menurun. Loh kok bisa?
Ya saat itu, aku tak bisa makan. Jangankan makan, ketika masak saja sudah mual-mual tak keruan mencium aromanya. Dan itu berlangsung hingga Bianca lahir. Makananku sehari-hari hanya kacang hijau, buah mangga (bukan muda, tapi masak) dan tape. Hahaha.
Setelah melahirkan (ketika Bianca brojol berat badanku 54 kg), pelan tapi pasti angka di timbangan terus menerus meninggi. Tentu saja ini beriringan dengan melebarnya kembali tubuhku.
Sempat berpikir, ingin hamil lagi biar langsing #Plakk

Nah ... yang jadi masalah sekarang adalah, susah mau pakai baju. Apalagi kalau mau keluar rumah. Di rumah mah cuek saja pakai daster heheheh.

Duduk di depan monitor nyaris tiap jam, kadang ditemani camilan nikmat, membuatku lupa bahwa lemak-lemak membandel sudah tertimbun dalam tubuhku. Dan baru sadar ketika mengangkat tubuh dari kursi. Kok berat banget ya ...

Cari-carilah, apa yang harus kulakukan untuk mengurangi berat badan yang makin lama makin menggila gendutnya ini.

Aha ... ketemu, Beras Merah!

Tapi beras merah kan mahal, Bu ...

Ashhh tak mengapa. No Camilan, Beras Meras sajo ... Kan bisa tuh uang buat beli jajanan yang manis-manis dan lezat menggiurkan dialihkan buat beli beras merah.

Menurut hasil penelusuran di dunia pergugelan, beras merah itu banyak khasiatnya loh.
Mungkin kebanyakan sudah pada tahu, tapi ada baiknya aku ulas di sini. *buat catatan juga sih.

Beras Merah memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dari beras yang biasa kita konsumsi.BEras Merah tidak melewati proses penggilingan atau pelepasa kulit. Inilah yang memiliki kandungan nutrisi dan serat yang penting untuk kesehatan. Kalau beras putih, jelas, mengalami proses yang membuat seratnya hilang.

Kenapa sih, kita pilih Beras Merah?

1. Berasa kenyang lebih lama.
    Beras Merah mengandung karbohidrat kompleks yang mampu menyuplai energi lebih lama. Tidak melulu ada pada beras merah. Kita bisa juga mengkonsumsi Gandum atau Oatmeal. Beras merah cocok untuk yang sedang berdiet.

2. Meningkatkan sistem imun
    Sistem imun yang baik mempengaruhi kualitas diet yang sedang kita jalani. Bila daya tahn tubuh baik, otomatis proses diet tak terganggu. Beras merah memiliki kandungan zat besi, mangan dan zinc. Zat besi berperan dalam pembentukan sel darah merah. Ini membuat kita terhindar dari anemia. Zinc meningkatkan daya tubuh, dan mangan mengaktifkan enzim penting dalam pembentukan tulang.

3. Baik untuk pencernaan
    Menurut penelitian, beras merah memiliki kandungan serat 6 kali ketimbang beras putih.  YAng bermanfaat untuk melancarkan pencernaan, mengurangi risiko kanker colon, mencengah timbunan plak kolesterol jahat, mengendalikan insulin dan gula darah, mengurangi risiko wasir dan iritasi usus, dan tentu saja memiliki indeks glikemik lebih rendah.

4. Produksi sel-sel DNA
    Selain kandungan nutrisi yang sudah disebutkan di atas, beras merah juga diperkaya mineral penting dan kaya akan vitamin B6 yang diperlukan untuk  menjaga keseimbangan hormon serotonin, produksi sel DNA dan sel darah merah.

Nah, yuk dicoba ganti beras putihmu dengan beras merah.
Selain itu tentu, diimbangi dengan haya hidup sehat. Mengkonsumsi buah-buahan juga penting loh. Jangan lupa juga olahraga ringan rutin setiap hari. *ah ini yang susah hahah, paling tidak aku sudah melakukan jalan sehat setiap pagi--keliling rumah saja, bolak-balik dapur, kamar, dan ruang tamu hahaha.

Yuk kita diet bareng.

gambar from gugel
 





Antalogi Puisi

Judul Buku : Manzilah-Manzilah
Penulis : Ida Fitri, Nawaites Pesa, Rinidiyanti Ayahbi
Penulis Tamu: Ananto Sidohutomo, Dimas Joko, Sri Shasmita, Bhak Ti, Nasir Ali
Jumlah halaman: x +144 halaman; 14x21 cm
Terbitan : LovRinz Publishing
ISBN : 978-602-72035-5-6
Harga : Rp. 35.000,-

====

" Saya sudah membacanya. Komentar saya tentang puisi-puisi (tiga penyair) di dalam buku ini cukup menarik, jarang sekali saya membaca puisi lebih dari lima judul secara runtun. Tapi di buku antologi ini saya berhasil menuntaskan sampai pada halaman terakhir. Harapan saya semoga buku ini tidak hanya sampai pada pembaca (penikmat sastra/puisi) saja. Tapi bisa dibaca pelajar sebagai pembelajaran di sekolah sekolah yang dari dulu kalah selalu siswa diperkenalkan puisi puisi yang itu itu saja "
Bambang Sugianto, Sutradara, Deklamator, Pemuisi, Pembuat film puisi.

**

Testimoni Sajak-Sajak Indonesia.

1. Ida Fitri.

Gaya Ida Fitri memang sejak awal, sering memanfaatkan gaya bahasa yang kuat seperti perlambangan-perlambangan dan alur cerita yang menjurus kepada tema sajak-sajaknya. Perlakuan sebegini sangat bagus demi memelihara “kehidupan” bercerita lewat puisi kepada audiens. Kita tidak berasa gusar menikmati isi karyanya kerana walau apapun permainan bahasanya, ia tetap menjurus kepada persoalan-persoalannya.

Warkat Pada Puan Ayu , isinya berbau patriotisme yang digarab dengan lambang-lambang sementara lewat puisi Tsunami Itu dan Wewarna Asa lebih kepada balada. Melalui puisi Bayar Hutangmu Putri ternyata sarat dengan perlambangan menyeluruh di samping kaya dengan permainan gaya bahasa yang terdiri daripada simili ( seperti angin) , personifikasi ( punggung bukit, menyibak dahan-dahan, lambaian pelepah kelapa) , unsur dialog dan metafora ( baris terakhir).

Sukacita ditegaskan bahawa, seseorang pengarang yang “tahu” melanggamkan gaya bahasanya lewat puisinya dengan bagus, akan membolehkan audiens menikmati puisi-puisinya dengan senang dan “berfikir.” Rata-rata puisi-puisi Ida Fitri segar untuk dinikmati.

2. Nawaites Pisa.
Ada unsur Repitasi lewat sajak Ini Tentangmu yang bertujuan memberi penegasan terhadap sesuatu isu. Manakala tema fenomena sosial ditemui melalui sajak Aku melihat Dan Aku Pulang. Sajak mirip-mirip sajak abstrak dan perlu dibaca berulang-ulang kali untuk mendalami maksud yang tersirat seperti dalam sajak Ini Tentangmu dan segores Khilaf. Sementara lewat puisi Kapan Waktuku, penulis lebih bersahaja mengungkapkan temanya sambil diperkayakan dengan permainan bahasa yang lancar dan enak dinikmati.
Apa yang jelas di sini ialah pengarang dengan begitu teliti memilih kata-kata dalam membentuk bait-bait puisi yang indah untuk dipersembahkan kepada audiensnya. Dan itu tidak datang dengan semudahnya. Pasti pengarang sudah banyak membaca atau membuat rujukan untuk memperkayakan kosa kata did alam karya beliau. Dan pasti yang bagusnya tentang karya-karya beliau ialah sajak-sajaknya sedap dideklamasikan.

3. Rinidiyanti Ayahbi.
Kegemaran pengarang ialah bermain dengan kalimat-kalimat pendek. Kebanyakan sajak beliau begitu sifatnya. Unsur ini adakalanya bagus, adakalanya menimbulkan tanda tanya di kalangan pembacanya. Lihat sahaja sajak Pelangi Hilang. Yah, kadangkala kita harus mengakui juga dengan pendirian seseorang itu dalam menggarab puisi. berlainan pula di dalam sajak Berang Dalam Diam di mana kalimat-kalimatnya panjang-panjang dan banyak makna tersirat. Ada waktunya penulis memasukkan unsur perlambangan yang besar di dalam bercerita lewat sajak-sajaknya seperti di dalam Puisi Cintaku Sederhana.
Pengarang juga gemar berbalada seperti yang diungkapkan lewat sajak-sajak Di Bawah Payung Kenangan dan sajak Hingga Kereta Terakhir, serta unsur Religi , seperti di dalam sajak Semesta Penuh Tasbih.
Ternyata pengarang boleh melontarkan ide-ide menarik melalui sajak-sajak yang berbagai tema. Dan ada daripadanya yang senang untuk dideklamasikan.

Nasir Ali, Ketua perhimpunan penulis perlis dan penerima anugerah : PJB – 1996 Al-Marhum DYMM Tuanku Syed Putra, Raja Perlis.

**
Sebuah Untaian Pengantar
----------------------

“Bagaimana caramu menulis?”
Pertanyaan yang paling sering hinggap di telinga. Tentu saja. Tak sedikit orang bertanya. Mengingat saya adalah seorang ibu rumah tangga yang punya dua balita dengan segudang aktivitas dan tetek bengek urusan rumah.
Saya menulis di sela-sela kerjaan lain. Menulis di benak terlebih dahulu. Dan ketika santai seperti siang ini, saat anak-anak tidur, baru mulai otak-atik hape atau lepie.
“Gimana ya, saya hanya bisa menulis saat galau. Tapi kalau lagi riang malah gak bisa nulis.”
Jujur saja, saya menulis dalam kondisi hati apa pun. Saat galau, saat senang. Tinggal bagaimana menenangkan hati agar bisa menulis dengan emosi yang tepat. Misal gundah, tak ingin membabi buta. Tulisan gundah gulana bisa apik bila kita menuliskannya dengan emosi yang baik. Dulu tulisan saya emosional tapi gak jelas muaranya. Kini walau tulisan yang saya ciptakan penuh emosi, jelas akhirnya bagaimana. Ada sebuah pesan dan moral yang bisa diambil.
So, walau marah sekali pun, dengan ketenangan hati tulisan bisa lebih elegan dan manis. Walau di dalamnya tidak menggunakan bahasa langit atau nyastra.
Itulah yang saya temukan di Manzilah-manzilah. Sebuah kumpulan puisi yang terlahir dari tiga penyair--kalaupun mereka tak ingin disebut begitu, tetaplah saya sebut penyair-- di dalam buku ini benar-benar terlihat jelas ketenangan hati saat mereka menuliskan apa yang ingin mereka sampaikan lewat bait-bait puisinya.
Bila saja saya tak mengenal keseharian mereka, terutama seorang Ida Fitri yang amat ringan dalam bertutur, saya ragu puisi-puisi yang namanya tertulis di bawah judul adalah buat karya indahnya. Siapa yang menyangka seorang yang ceplas-ceplos dalam berkata mampu merangkai bait-bait yang dalam--semula saya pikir ia hanya berbakat di cerpen. Ida Fitri mampu menyihir saya untuk mengalahkannya kelak di jalur puisi--meskipun saya ragu akan melewatinya satu hari nanti.
Lain halnya dengan Ida Fitri, umy Rinidiyanti Ayahbi, dalam namanya terpancar sebuah kedalaman hati yang tenang bagai di pinggir danau dan pepohonan hijau yang menyegarkan. Dan keindahan dirinya lahir dari syair-syair memukau. Semacam refleksi diri seorang hamba. Berbagai kontemplasi hati bisa didapat dengan membaca untaian kata yang diciptanya. Selalu saja aku menemukan keteduhan dari balik puisinya.
Nawaites Pesa. Sosok lelaki sederhana yang dapat kukenal dari barisan kata-katanya. Tidak muluk-muluk. Hanya sebuah kerinduan yang tak berkesudahan. Barangkali pada nasib, atau takdir. Yang kutangkap, ia tak ingin hanya segini. Ia ingin merengguk lebih banyak bentuk kebahagiaan. Semua terangkum dalam puisi-puisinya.
Selain tiga penyair istimewa yang saya sebut, juga ada sastrawan lain yang ikut tergabung di sini. Terima kasih Bpk. Ananto Sidohutomo untuk rangkaian indah bagi perenungan kami. Juga kangmas Dimas Joko yang menyempurnakan Manzilah-manzilah dengan syairnya. Mbak Sri Shasmita dengan kesederhanaannya yang memukau, terim kasih telah mengajarkan kami makna sebuah tulisan. Mas BhakTi yang berhasil memikat hati Manzilah-manzilah dengan desain sampul buku ini dan juga beberapa rangkaian yang tercipta di dalamnya, terima kasih. Tak lupa pula sahabat nun jauh di sana, Bpk. Nasir Ali dari negeri Perlis. Semoga persaudaraan yang tercipta lewat aksara terus terikat erat penuh nuansa bahagia.
Akhir kata, saya hanya mampu berucap bangga, sebab Manzilah-manzilah terlahir lewat LovRinz Publishing. Sebuah kumpulan puisi yang layak dinikmati siapa saja.
Selamat menikmati.
~Rina Rinz, bukan seorang pemuisi, apalagi penyair~
LovRinz Publishing

===

Pemesanan dapat dilakukan melalui akun penulisnya, atau tim LovRinz Publishing.

Membuka Rahasia Hati Suami, di bahasan Rahasia Sai, aku menghela napas panjang banget.

Membaca paragraf pembuka saja di situ aku merasa sedih. Eh ...

Hehehhe. Paragraf dibuka dengan kalimat yang menegaskan bahwasannya lelaki kebanyakan memilih wanita pendamping yang sangat cantik di matanya.

*tutup cermin.

Tidak salah memang. Bukankah dalam hadist juga disebut salah satunya wanita dinikahi karena parasnya?

Bagaimana dengan wanita yang merasa dirinya kurang cantik? Seperti aku misalnya ... (X_X)

Fitrahnya, lelaki itu suka sesuatu yang sedap dipandang mata. Kalau kata bang Safar Ubaknomminakbai di dalam Rahasia Sai ini begini ...
Memiliki istri ynag cantik, memberikan ketenangan jiwa. Memandangnya penuh gelora. Menjalani hidup pun penuh rasa bahagia. Namun Cinta, jangan dikau salah memberi makna. Cantik di mata pria itu relatif adanya

Sebagai wanita (istri apalagi) haruslah cerdik mempercantik dirinya. Cantik wajah, cantik penampilan, dan yang paling penting adalah cantik  hati dan akhlak.

Sudahkah aku begitu?

Masih jauh rasanya ...
Kadang keseharian di rumah saja, jarang memperhatikan diri. Rambut tak disisir--kadang mandi pun ogah-ogahan ---- haaaa. Dulu, apa yang membuatnya memilihku ya? Kalau kupandang cermin, wajah tak cantik-cantik amat. (Duh Rahasia Hati Suami ini malah lebih banyak membongkar Rahasia Istri, jadi malu)

Membaca Rahasia Hati Suami -- mungkin lebih tepatnya Rahasia Suami Istri -- mengajarkanku banyak hal. Ini baru Rahasia Sai (rahasia satu) bagaimana dengan rahasia-rahasia lainnya?

Yuuk siap-siap menunggu kehadirannya di toko buku kesayanganmu di bulan April.
Atau, pesan saja sama LovRinz Publishing
WA: 085933115757 atau 083834453888







Judul buku : Saujana Hati
Penulis : SuEff Idris
Jumlah halaman : 298+xiii halaman ; 14x21 cm
Terbitan : Februari 2015
ISBN :  978-602-72035-4-9
Harga Normal : Rp. 54.900,-

===

Apakah cinta? Cinta barangkali memang bukan untuk dijelaskan, tapi dibiarkan mengalir apa adanya. Seperti dalam novel Saujana Hati; kisah tentang dua orang yang saling mencintai, tapi mereka tak saling mengungkapkan perasaan. Suatu saat ketika keduanya bertemu kembali, semua sudah terlambat. Tokoh-tokoh dalam novel ini terbawa arus takdir yang tidak bisa mereka tolak. Beragam persoalan hidup; dari penyakit kronis yang diderita tokoh “aku”, cinta segitiga yang melibatkan kakak-adik, keterikatan pada nilai-nilai agama, hingga kematian, diramu dalam bahasa yang cair, menyentuh, indah, dan ditutup dengan akhir tak terduga. SuEff Idris seolah sengaja menjebak pembaca untuk tersesat dalam liku-liku cerita (cinta) yang rumit sampai kemudian menemukan sebuah pintu keluar—meski bukan pintu yang benar-benar lebar dan terang.
Sebuah kisah yang manis sekaligus mengharukan.

(Yetti A.KA, penulis)


....


"Buku ini bagus sekali, sebagai bahan perenungan dan motivasi bagi yang mendambakan rumahtangga yang Sakinah, Mawaddah, Warrahmah."
Habiburrahman El Shirazy, Penulis buku bestseller Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Judul : Rahasia Hati Suami
Penulis : Safar Ubaknomminakbai
Jumlah Halaman : xxiv + 300 halaman; 14x21 cm
ISBN : 978-602-72035-6-3
Penerbit : LovRinz Publishing
Harga : Rp. 59.000,-

====

Sungguh, suami istri itu satu. Bukankah istri itu diciptakan sang Maha Cinta itu dari tulang rusuk suaminya. Itu artinya hati, pikir, rasa dan asa yang ada pada istri juga sama dengan yang suami rasakan.
Hanya saja suami dalam menyikapi sesuatu hal yang terjadi, penuh dengan pemikiran. Mengutamakan dampak ke depan ketimbang menuruti perasaan sesaat.

Mengapa demikian, Duhai Cinta?

Agar ia mampu menyanggamu ketika kau rapuh.
Agar ia bisa menyeka air matamu ketika kau menangis.
Agar ia bisa membawamu terbang meski sayapmu yang satu patah.
Meski sebenarnya ... Ia pun terkadang pula rapuh, juga memiliki air mata yang ingin mengalir, bahkan sayapnya juga telah lelah mengepak.
Tapi ... itu tidak ia tunjukkan padamu. Agar engkau terus tersenyum bahagia di sampingnya. Cukuplah itu semua menjadi rahasia hatinya yang tersimpan rapi.
Karena memang ia diciptakan begitu adanya.

Lewat buku ini, kan terungkap rahasia hati itu. Sehingga kau mampu menyempurnakan segala kekurangannya. Menjadikannya istimewa dan sempurna di matamu.

RAHASIA HATI SUAMIMU ADALAH JAWABAN KEBAHAGIAAN YANG MENANTIMU!! MAKA TEMUKAN RAHASIA ITU DAN YAKINLAH SUAMIMU AKAN BERKATA : “SANG MAHA CINTA CUKUPLAH ISTRIKU DI DUNIA INI MENJADI ISTRIKU KELAK DI SYURGA NANTI!” Dan saksikanlah bidadari akan cemburu padamu.

“Membaca buku ini, membuatku ingin segera pulang menemui suamiku dan meminta maaf atas segala perasaanku yang salah selama ini padanya!” (Elya, seorang istri)

“Setelah membaca buku ini, aku sadar Mas Waliman adalah suami yang sempurna yang telah Allah kirim dalam hidupku dan berjanji tidak akan banyak menuntut padanya!” (Maryati, seorang istri)

“Alhamdulillah, membaca buku ini membuatku sadar menjadi suami seperti apa yang diinginkan istriku, Dan aku berjanji menjadi suami baik buat cintaku.” (Muslim, seorang suami)

“Untuk pertama kalinya aku melihat dan membaca buku yang membahas problematika rumah tangga dari kacamata hati seorang suami, wah, ... ini bisa menjadi penyeimbang buku Catatan Hati Seorang Istri miliknya Asma Nadia. Kerennnn.” (Abdullah, seorang suami)

====
Selain mendapat apresiasi dari Kang Abik, bacaan wajib bagi suami istri ini juga mendapat apresiasi dari Ustadz Cahyadi Takariawan dan Bunda Pipiet Senja.

Layak dimiliki. Berikan sebagai kado istimewa untuk orang terkasih di sekeliling Anda.
Sejak kecil aku terbiasa melihat mereka. Berlarian di halaman rumah. Atau di kebun pisang dekat kamar mandi.

Waktu kukatakan pada kekasihku--hampir jam sembilan malam waktu itu-- ada yang mendengar obrolan kami, ia tak percaya. Kubilang, tunggulah sesaat lagi.

Lampu teras mati hidup. Aku tersenyum. Ia merinding. Aroma melati semerbak. Bagaimana rupanya? Ia bertanya.
Cantik, sepertinya ia menyukaimu, jawabku.

Seketika ia pamit pulang. Aku sendirian. Di kamar yang berukuran kecil. Dan menyuruh wanita tadi untuk tidak menggangguku.

Beberapa kali mereka lewat atau terlihat mataku. Hingga aku mengandung dan melahirkan Bianca, mereka tidak pernah hadir di bola mataku. Hingga kepindahanku ke rumah di depan pohon sawo itu. Ah kalau kuceritakan panjang pula.

Aku hanya ingin bercerita bahwa hari ini aku melihat mereka lagi. Sepertinya itu mereka. Bianca sempat bilang, jangan lepasin tangannya. Karena mereka mau bawa Bianca pergi. Dan Bianca pun menangis histeris sambil memelukku erat.
...
Sejak semalam aku berpikir. Ini semua gara-gara aku gagal mengambil hati seorang tutor yang membimbingku menulis sebuah novel.

"Masih jauh dari ekspektasiku, Rin! Bacaan terakhirmu apa?"

Kau tahu, saat itu aku menggigit kabel mouse. Baru Bab 1, sodara-sodara. Hampir satu bulan. Ini luar biasa merosot. Beruntungnya aku punya alasan jelas. Menulis untuk novel yang diminta hanya sepersekian waktu dalam 24 jam. Berhubung aku sibuk mengurus naskah yang antre di meja redaksi LovRinz.

"Bacaan terakhirku, Cantik itu Luka."

Hening, tutor yang galak tapi baik itu tak merespon. Tapi ...

"Coba cari buku ini ... (sensor-Red)"

Aku manggut-manggut. Dijelaskan, kenapa aku harus membaca buku itu. Aku harus mendapatkannya.

Kembali ke pikiranku semalam. Penulis macam apa aku ini? Baru mau menulis saat dilecut? Atau memang menulis itu napasku, seperti yang dulu kugaung-gaungkan?

Pagi ini aku membuka beberapa file berisi catatan penyemangat diri--catatan diri sendiri maksudku. Betapa dulu mudah sekali menuangkan tulisan apa saja. Mengapa saat ini seret?

"Kamu terlalu banyak baca naskah yang biasa." Begitu kata seorang sahabat.

Benarkah begitu?

"Coba ambil waktu setiap hari membaca yang berbobot. Sebab itu mampu merangsang otakmu untuk menulis lebih bagus. otak juga butuh nutrisi aksara loh." Sahabatku itu benar-benar bisa aja ya.

Ya, baiklah ... sepertinya memang harus dilecut lagi. Adakalanya kita butuh seseorang/sesuatu untuk menghidupkan kembali gairah menulis dalam diri.

Waktu untuk setor novel tinggal dua bulan. Sanggupkah?

#Sepertinya aku harus cuti dari redaksi LovRinz.

Selamat pagi, Negeri. Sungguh rahmat Allah masih melingkupimu. Kalau tidak, pasti setiap orang akan berlomba memakai parfum.  Berharap bau dosanya tertutupi.

Selamat pagi, Negeri. Sungguh rugi yang masih mendewakan keluh dan enggan bersyukur. Sebab dosa tidak berbau dan masih bisa ditebus dengan istighfar.

Astaghfirullaahal 'adhiim.

Selamat pagi, Negeri. Kondisimu saat ini adalah ujian bagi kami. Apakah ini karena kesalahan mereka, dia, kita dan kalian? Atau ... malah ini kesalahan diriku sendiri, yang belum mampu berbuat banyak untuk menghapus tangismu, Ibu Pertiwi.

Aku tengah berpikir, apakah akan terus menyalahkan orang lain dan merasa menjadi korban kebiadaban penguasa, atau mulai memperbaiki diri dari hal kecil? Bukankah perubahan itu dimulai dari yang kecil? Ya, seperti menulis status dengan lebih bijak lagi. Menulis hal-hal kecil yang bermanfaat. Jangan tanya kenapa. Sebab kudengar, tiap hurufnya kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sedang ... aku tak tahu sampai dimana umurku akan diberikan.

Selamat pagi, Negeri. Di pelukmu jasad para pahlawan dan ulama mungkin tengah merintih. Melihat anak cucunya saling memusuhi.

Selamat pagi, Negeri. Lantunan, "Assalamu'alaikum," untuk seluruh muslim yang menginjak tubuhmu. Semoga sebutan buih yang pernah disabdakan oleh Rasulullah beribu tahun silam, bukanlah untuk zaman ini.

Selamat pagi, Negeri.

AM. Hafs
28-Mar-2015
Ketika kesibukan memangkas waktu untuk beraksara, hati terkadang terenyuh. Jemari terasa geli. pikiran menerawang jauh. Dada bergemuruh. Rindu ... itulah yang terasakan. Apalagi melihat banyaknya teman yang kian hari kian giat menulis. Rasa sesak kian membuncah. Karena tulisan adalah napas bagi penulis.

Istiqomah, itulah yang sangat diharapkan. Tak perlu banyak. Sehari satu tulisan saja. Tapi sulitnya minta ampun. Akhirnya yang tertulis hanya satu-dua kalimat. Kalimat kerinduan yang butuh penawar. Karena keyboard sudah seperti kekasih bagi jemari.

Berhari-hari ketika vakum, yang kutulis hanya ungkapan kerinduan. Dan di tiap ujungnya kuberi identitas sebagai lukisan rindu. Lalu, ketika kemarin kujelajahi kembali beranda facebook, diri ini tercengang, ternyata tulisanku sudah terkumpul banyak dan terjajar rapi di bawah ini.

Sebuah kumpulan catatan kecil, bertajuk lukisan rindu.


Rinduku tergerus senyummu. Rasaku rapuh, antara ada dan tiada. Sebab resah tunggangi harap. -AM. Hafs

Setelah semua tawa, lalu timbul ragu, getir dan resah di antara rasa; dua hati. Sedang bagiku semua itu inspirasi. - AM. Hafs

Cinta itu lucu. Ada yang tengah saling merindu; menanti pesan. Namun yang tercipta malah kesunyian. -AM. Hafs

Sebagai pembelajar, aku lebih suka dengan kemampuan menulisku yang sekarang. Tapi sebagai pembaca, aku lebih suka 'aku' yang dulu. Enggak terganggu typo, atau teknis tulisan apapun. Yang kutahu, hanya ada dua macam tulisan. Ceritanya jelek atau bagus. -AM. Hafs

Setiap nafas lain yang ditemui adalah hikmah dan inspirasi. Berusaha untuk tak merasa lebih baik dari orang lain. Lalu hidup seperti air. Di gelas ia mampu memenuhi rongga gelas, tapi tidak menjadi gelas. Dan sedang menginginkan untuk jadi cahaya agar mampu memberi sinar wawasan bagi sekitar. Meski sekarang masih bukan apa-apa dan banyak kekurangan. Teringat dawuh guruku kemarin, "Tak perlu ilmu yang banyak. Sedikit yang penting diamalkan. Bisanya alif ya ajarin alif. Soalnya kalau kalian mesti belajar imrithi, jurumiyyah, alfiyah sudah bukan kelasnya. (Maklum, ngaji kampung-santri kalong pula) Dan sedikit itu harus dilaksanakan penuh tanggung jawab juga istiqomah." -AM. Hafs

Duhai para penulis atau calon penulis. Perhatikanlah! Dunia tak cukup luas untuk menyembunyikan identitas tulisan copas. -AM. Hafs

Selamat Pagi, Pujangga pengunyah rindu. Sudahkah luruh, atau masih kau coba buatnya patuh? Ah, Rindu. Dibuang sayang, ditelan susah. -AM. Hafs

Penantian akan bermuaranya cinta, hanyalah sebuah drama yang berjudul Rindu. -AM. Hafs ‪#‎PelukisRindu‬

Sebuah senyum sebelum perpisahan hanyalah nama lain dari kerinduan. Kenapa tak tinggal saja, Cinta? -AM. Hafs

Syukurlah aku dulu mencintainya. Jadi sekarang bisa mengerti betapa sakit ketika cinta tak ditempatkan di tempat yang tepat. AM. Hafs

Tak seperti cinta yang terlalu sering berkisah. Rindu lebih memilih diam di sudut relung terdalam. Menunggu pertemuan di salah satu sudut alam. -AM. Hafs

Tak ada kata terlalu pagi tuk merindu. Karena embun enggan menunggu. Padahal ia penyejuk sendu. -AM. Hafs

Memang, Rindu mudah dimengerti. Namun waktu-waktu yang ia dampingi tahu, betapa sepi yang ia sesap terlalu pedih diresapi. -AM. Hafs

Cinta lebih membutuhkan kepastian daripada kesabaran. Karena cinta tak bisa dinanti tanpa kepastian. Meski rindu meraung di tepi harap. ♥♥ -AM. Hafs

Pagi ini, Rindu duduk bersama embun di jaring laba-laba. Mencoba menangkapi rasa yang mungkin tersesat. Atau tak punya muara. -AM. Hafs

Tidak cukup dikatakan. Harus dirasakan dan diwujudkan dalam perbuatan. Tidak untuk dinanti karena tak pernah tahu di mana kan bermuara : CINTA. -AM. Hafs

SUKUR

"Tong, Nggih, Kyai. Oleh Suket pirang sak iki mau?"

"Namung setunggal, Kyai. Suket e katah ingkang pun garing."

"Tong ...."

"Nggih, Kyai."

"Ojo muni, "namung" isih sukur oleh sa' sak. Sak cilik opo ae nikmat, kudu mbok syukuri. Tanpo pilih-pilih."

"Inggih, Kyai. Insya Allah."

AM. Hafs

Suatu ketika, guruku berpesan, "Perhatikan terus bagaimana kualitas ibadahmu. Jika suatu ketika kamu merasakan begitu nikmatnya ibadah, pada saat itu ... mohonlah sebanyak-banyaknya agar nikmat itu dilanggengkan ke dalam hatimu." ~AM. Hafs

Gemerintik rintik. Mengalun bak tuts piano ditekan cantik, ciamik. Mengapa bosan? Sedang hujan saja tak bosan menyirami angan. Angan tentang renjana di malam sendu. Aku ... masih membingkai wajahmu, Rindu. Di kalbu, utuh dengan selengkung senyummu. -AM. Hafs

Kecewa itu pasti. Tapi jauh lebih baik untuk menata hati. Satu pelajaran yang bisa kuambil. Jangan menuntut penghargaan dari sebuah kebaikan. Namun, jangan sampai lupa memberi panghargaan untuk sebuah kebaikan. -AM. Hafs

PENDEKAR

"Gung, coba tengok hidupmu. Berapa banyak mereka yang masih ban putih suka berkelahi dan ban hitam malah lebih banyak diam," ujarku pada Agung yang masih memegangi pipinya yang lebam. ~AM. Hafs comot dengan perubahan dari tweet @iwan_madari

Dunia ini, adalah bagaimana cara memandangnya. ^^ Yang pasti semua rasa jangan sampai berlebihan. Berimbanglah. smile emotikon ~AM. Hafs

Quote pagi ini, "Kita adalah masing-masing. Tak perlu menjadi satu sama lain hanya untuk berjalan beriringan. " ~AM. Hafs ^^

Ketika diri sendiri mengatakan, "Sepertinya akan gagal." Itu artinya sudah gagal. Gagal membangun kepercayaan diri. ~AM. Hafs

Selamat malam diriku, sang pecandu perhatian! Sudah sekeras apa kamu menarik perhatian Tuhanmu hari ini?

Selamat malam diriku yang tengah risau sebab hilangnya sebuah nama. Apakah di sana terselip risau atas sedikitnya nama Tuhanmu yang kausebut?

Selamat malam diriku. Apakah masih merisaukan mimpi atau bekal mati yang tak mencukupi? Aku rindu bercengkerama dengannya; hati  -AM. Hafs

Semua dicuri kunang-kunang malam tadi. Di gigil kembar senja kini, yang tertinggal hanya puing-puing kenang. Berserak di antara renung akan sebuah masa, Di mana takdir terasa begitu bengis. Membiarkan tubuh yang ku-aku limbung di antara hujan tangis dan kerinduan.

-AM. Hafs



Sekali lagi kuulangi, jangan pernah berhenti belajar menjadi orang baik. Meski dunia memusuhimu karena kebaikan tersebut. Karena pada saatnya nanti, kamu akan dipertemukan dengan banyak orang baik yang membuatmu kuat, berharga dan terharu. Seperti yang kualami hari ini. Berbuat baik agar memperoleh kepercayaan dan imbalan itu tidak sama dengan berbuat baik karena merasa sebagai muslim yang meneledani sosok uswatun chasanah. smile emotikon

Terima kasih kepada orang-orang baik yang kutemui hari ini. Semoga keberkahan hidup senantiasa menyelimuti. Mari merindu, merindui jiwa-jiwa yang baik.


AM. Hafs
Tips Jitu Ala Durroh Fuadin K.

Sambil ngademin badan, izinkan aku memanfaatkan waktuku yang selo ini untuk berbagi tips menulis. Walau sebenarnya aku tuh apa gitu... penulis tapi kok gini-gini aja (eaaaa sinetron mode on)

Baiklah, langsung saja ya.

Tips Menulis Luwes

Beberapa kawan pernah menanyakan bagaimana sih cara menulis yang luwes? Menulis yang luwes di sini maksudnya mungkin enak dibaca, mudah dipahami dan mengalir kali ya? Nah, meski aku ga luwes-luwes amat, tapi gara-gara dikatain pelit kemarin aku jadi tersulut! Maka ini dia tips yang bisa kubagi untuk kawan-kawan di Lovrinz and Friends tercinta. Yuuuk.

1. Asupi otak kita dengan banyak-banyak baca koran.
Membaca itu baik untuk asupan otak. Nah, baca koran bisa membantu kita terbiasa dengan tulisan yang runtut dan mengalir. Selain disajikan dengan jelas dan terang, berita di koran memiliki aspek 5W1H (Apa, Kapan, Di mana, Mengapa, Siapa, Bagaimana) yang membantu pembaca memahami alur kejadian suatu perkara. Nah, selain beritanya baru, cara penyajian berita di koran sesungguhnya memiliki daya pikat tersendiri. Cara jurnalis menyampaikan berita bisa dijadikan acuan untuk menulis dengan luwes dan enak dibaca.

2. Berceritalah Seperti Berbicara.
Cerita yang ditulis tak ubahnya seperti berbicara dengan rangkaian huruf. Maka, bila ingin tulisan kita luwes, cara yang bisa dicoba adalah membaca nyaring cerita kita. Apakah cerita itu enak saat dibunyikan ataukah lebay dan membuat napas ngap-ngap? Selain itu, coba bacakan cerita kita pada orang-orang yang ada di sekitar kita, bisa suami, anak, orang tua, atau teman. Bila mereka bosan dengan cerita yang kita bacakan, bisa jadi tulisan itu memang kurang luwes dan perlu disempurnakan.

3. Cintai Tulisanmu.
Cara yang paling mudah untuk melakukan segalanya adalah dengan cinta. Begitu juga dengan menulis luwes.Bila kita mencintai tulisan kita, maka apapun akan kita lakukan untuknya. Mulai dari riset, memberi sentuhan yang indah, hingga memoles tulisan kesayangan itu secara berulang-ulang setelah proses perendaman yang bertubi-tubi. *kejengkang
Intinya, menulislah dari hati. Menulislah bukan sekadar untuk bermain-main atau malah demi pulsa yang tak seberapa. Menulislah dengan cinta, maka tulisanmu bisa menyentuh hati siapa saja. *eaaaaaaaa

4. Teruslah Belajar Menulis dan Tantang Dirimu untuk Melampaui Pencapaianmu Sendiri.
Rasanya tidak perlu dijelaskan ya. Tentu segala hal berhubungan dengan motivasi. Jika motivasi kita baik, maka tujuan kita akan tercapai dengan baik. Nah, sekarang tinggal kita tanyai saja diri kita sendiri, sebenarnya apa sih motivasi kita menulis? Terkenal? Biar kelihatan keren? Biar banyak duit? atau Biar kita lebih bermanfaat?

*mendadak suasana hening
Aku melihat suamiku menyesap sebatang rokok. Kepulan asap dihembuskan perlahan, keluar meliuk dari mulut dan hidungnya. Aku tak habis pikir, apa enaknya merokok? Apa yang dihisapnya? Belum lagi puntung dan debu kerap bertebaran, baunya pun aku tak suka. Sudah lelah bibirku ini berceloteh agar ia berhenti merokok karena batuk kian parah dan bibir pun menghitam.

"Pak, berhenti merokok dong, gak kasihan sama diri sendiri ya?" 

Suamiku hanya tersenyum dan ini membuat hatiku gemas, penuh dengan rasa jengkel.

"Pak ... ditanya tuh, ya dijawab. Bapak kan masih ada tiga anak yang masih kecil-kecil. Mama juga masih butuh Bapak." Aku berkata dengan harapan didengar olehnya barang secuil.

"Mama nyumpahin Bapak mati, ya?" Suamiku bertanya sembari menghembuskan asap rokoknya untuk ke sekian kali.

Gara-gara rokok aku kerap mengomel namun ia sepertinya sudah kebal dengan ocehanku. Rasa kesal kupendam saja. Tak pernah tahu kapan suamiku terketuk hatinya untuk tak lagi menyentuh barang tak ada gunanya itu. Seribu pertanyaan ingin kulontarkan dan berharap jawaban yang memuaskan. Apakah kau akan merasa lebih jantan? Padahal kau akan lebih keren kalau tak merokok. Asap yang kauhembuskan dari benda itu membahayakan kami, Pak. Juga membahayakanmu. Kadang kuperhatikan, kau lebih memilih merokok dari pada makan. Sebegitu cintakah kau pada rokok? Kau tak cinta kami ya, Pak? Batinku semakin jengkel.

"Ma, ini hanya iseng. Biar lebih fresh," ujar suamiku dengan tenang seraya mengambil satu puntung lagi dan siap membakarnya.

"Baiklah, Mama juga mau fresh. Seharian capek urus rumah dan anak-anak." Aku berkata dengan santai seraya ikut-ikutan mengambil satu batang rokok.

"Jangaaaaan, gak boleh!!" Tiba-tiba ia menyambar rokok yang kuambil barusan.


Jakarta, 2015
Hai ... hai ... hai ... Sahabat LovRinz di mana pun kalian berada. Semoga selalu penuh semangat dan tak kehilangan gairah untuk menulis ya.

Kali ini LovRinz ingin mengajak sahabat semua untuk lebih dalam mengenal LovRinz.

Kapan sih LovRinz lahir?

LovRinz Publishing berdiri enam bulan yang lalu, tepatnya 19 September 2014, di Malang. Berhubung si empunya pindah kota ke Cirebon (konon sih gak pengen LDR-an sama suaminya) maka terhitung awal Januari 2015, LovRinz resmi berdomisili di Cirebon, dan insyaAllah tidak akan berpindah kota lagi.

Hmmm ... berarti sudah 1 tahun lebih ... Sudah banyak dong terbitan LovRinz?

Alhamdulillah, berkat kerja keras tim redaksi yang selalu enggan disebutkan namanya satu per satu, LR kini sudah lebih dari 180 judul, dan insyaAllah akan terus bertambah seiringnya waktu.

Sebenarnya, LovRinz Publishing ini penerbit apa sih? Mayor? Indie? Self?

Hahaha, boleh kan bila LovRinz memborong semuanya. Masalah mayor, indie dan self itu sebenarnya hanya di masalah pembiayaan saja kok. Kami hadir ingin memenuhi semua golongan --eh bukan kampanye ini--
Maksudnya, bila kami merasa naskah yang masuk patut untuk diproduksi masal, maka akan kami upayakan dan akan didistribusikan ke toko-toko besar. Ini yang orang sebut mayor ya ... Untuk indie, kami juga menyeleksi beberapa naskah untuk kami terbitkan (penulis tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mencetak bukunya). Bahkan kami juga memberikan royalti untuk itu. Hanya saja, di indie, oplah tak sebesar ke toko buku. Penjualan tetap kami lakukan secara online dan offline. dan untuk Self, tentu semuanya sudah paham banget kalau ini. Penulis membayar jasa untuk penerbitan bukunya.

oooh gituu ... Untuk Self biayanya mahal gak sih?

Alhamdulillah lagi ah ... LR dijamin murah, menyenangkan dan memuaskan. Sebisa mungkin LR memberikan pelayanan terbaik dengan harga yang terjangkau.

Seriusan?

Iya ... cobalah baru kau bisa berkomentar. :) tentu saja semua pelayanan akan terus dikembangkan dan tentunya menjadi lebih baik masa ke masa.

Kalau ingin bertanya lebih jauh dalam penerbitan naskah ke mana harus dihubungi?

Cukup WA saja ke 085933115757 atau kirimkan email ke redaksilrph@lovrinz.com cc lovrinzpublishing@gmail.com untuk bertanya lebih jauh. InsyaAllah akan dilayani.

Ditunggu naskah terbaiknya ...

Salam Netra
LovRinz Publishing






Baru saja, ujian menghadapi rasa takut usai. Perlahan tapi pasti, kuanggap semua adalah bagian dari pelajaran. Dari sana aku memelajari posisi. Kapan waktu menyerang dan kapan waktu bertahan. Karena hidup tak ubahnya sebagai perjuangan. Di samping untuk memelajari tabiat manusia.
Di usia muda, takut gagal adalah kebodohan. Karena itu, aku mulai mengesplorasi hal-hal yang selama ini kuhindari karena rasa takut.

Syahdan, dari percobaan itu, kesalahan-kesalahan yang kuanggap kecil menjadi terlihat lebih jelas. Dari situ pula keinginan untuk lebih baik kian menggebu. Tentunya, semoga saja tak berakhir hanya dalam keinginan. Karena bergulat dengan rasa malas adalah hal yang lain lagi.

Aku tak pernah ingin menjadi tua dan keras kepala. Maka jalan satu-satunya ya terus belajar melunakkan hati. Memperbesar penerimaan terhadap kekurangan dan kesalahan diri. Agar ketika tua, aku bisa membimbing dengan bijak. Memberi pandangan yang luas pada yang bertanya. Bukan seperti pahlawan kesiangan, yang seringkali berandai.

Lalu satu hal yang patut kusyukuri. Semakin aku menantang dunia, penaku menjadi kian tajam. Dengan senyum, sekali lagi kukatakan, "Masalah adalah ladang emas bagi penulis." Buktinya, tiap hari wartawan berkeliling untuk mencari "masalah." Sedang kenikmatan menjadi penulis, di kala masalah itu gagal kuhadapi, maka pada karya cerpen atau puisi, aku bisa membuat tokoh yang akhirnya mampu mengatasi masalah tersebut dengan menjauhkan keidentikan tokoh 'aku' dari 'aku' si penulis.

Kesalahan terbesar penulis adalah ketika kemampuannya dipakai untuk memutar balikkan fakta dalam bentuk pembelaan diri, sungguh itu tindakan pengecut. Tengok saja berapa banyak penulis yang hari-hari ini gencar menulis berita yang ke'valid'annya diragukan. Lucunya, ketika pada akhirnya berita yang ditulis terbukti tak sesuai, tak ada satu pun kata maaf yang keluar. Miris. Semoga jika memang sebagian dari kita jalannya menjadi penulis, semoga mampu menulis dengan jujur. Menambah wawasan pembaca, bukan sebaliknya. Aamiin.

AM. Hafs
210515, Singosari
Aku ingin begini, Aku ingin begitu
Ingin ini, Ingin itu, banyak sekali ...

Siapa pun manusia di dunia ini, pastilah punya keinginan. Hanya saja, apakah semua keinginan itu patut diwujudkan?

Kali ini LovRinz ingin berbagi 3 buku gratis bagi penulis Flash True Story terbaik tentang "Keinginan".

Tulis FTS-mu maksimal 1500 kata dan posting di blog cantikmu. Jangan lupa backlink ke postingan ini, ya.

Setor link postingan blogmu ke kolom komentar.

DL 6 April 2015






Kata wajib : PUNGGUNG


MISCALL TENGAH MALAM
Punggungnya tak henti bergetar. (Ajeng Maharani)

DI HARI KETIKA IA MATI
Ia memberikan tulang punggungnya pada sang putra sulung. (Annisa Azzarah)

LAWAKAN ADIK
Ibu gendut tertawa saat adik berkata punggungnya sebesar bis kota. (Eva Sholiha)

SEMENJAK BERPISAH
Tulang rusukku menjelma tulang punggung. (Cahaya Qolbu)

SETELAH WANITA ITU PERGI
Aku mencuri punggung suaminya. (Dee Chie)

SOP TERLEZAT
Warung itu bertuliskan, ‘Tersedia sop tulang punggung. Khusus untuk para wanita.’ (Ademia Nurul Fuada)

SOP IGA
Bik Yem memotong punggung majikannya. (Siti Chafidoh)

AYAM TIREN
Setelah dada dan paha turun harga, sekarang giliran punggung tak bertulang diobral. (Maya Madu)

NASIB TKI di NEGERI TETANGGA
“Ini baru permulaan.” Sang majikan menempelkan setrika panas di punggungnya. (Riebuan Cahaya)

NOMOR GILIRAN
“Jon, tahun depan giliranmu,” ujarku sambil menempelkan nomor di punggungnya. Tahun depan, dia dibawa ke tukang jagal. (Rosi Ochiemuh)

MALU
Dia memindah wajah ke punggungnya. (Durroh Fuadin Kurniati)

MATEMATIKA
Dia belajar penjumlahan dari punggung bapaknya. (Durroh Fuadin Kurniati)

KONER
Tak punya gitar, dia membetot punggung temannya. (Durroh Fuadin Kurniati)

ZAMAN LUTH
“Sebenarnya aku menyukai punggung, bukan rusuk,” batin lelaki itu. (Rinidiyanti Ayahbi)

KATANYA AYAH CINTA IBU
Ibu menangis terharu. Setiap malam ayah selalu membelai punggungnya dengan sabuk kulit. (Eva Sholiha)

ANAK BARU BAPAK
"Sana ikut, nanti ngambil yang ginian!" perintah Mbah Darmo sambil menunjukkan lembaran seratus ribu. Anak kecil botak melompat ke punggung pria pilihan mbah Darmo. (Reema Mifta)

KANGEN
Aku selalu menyimpan potongan punggungmu, agar kau tak hilang dari pandangan. (Yannah Akhras)


-oOo-
Tema : MUSIM


PACEKLIK
Buka dompet, tiba-tiba ingat mantan suami. Dialah sang penyelamatku. (Rina Rinz)

MUSIM UJIAN
Para pelajar kenyang makan soal. (Sang Bayang)

SEMI
Teringat senyummu, tiba-tiba dada dipenuhi bunga merekah. (Naura Yani)

MUSIM GUGUR
Banyak wanita Indonesia meninggal saat melahirkan. (Lina Agustiani)

MUSIM PEMUTIH WAJAH
Ochin mandi pakai Bayklin. (SuEff Idris)

MUSIN KAWIN
Seorang Naib pingsan setelah menikahkan sekampung. (Lina Agustiani)

MUSIM EVENT
Banyak penulis tewas di garis kematian—dead line. (Lina Agustiani)

MUSIM PILU
Ratusan kain kafan mengantri, menanti para pelopor kebenaran. (Rosi Ochiemuh)

MUSIM GUGUR
Hari ini pacarku tinggal dua. (Ika Marwah)

MUSIM BEGAL
“Jangan sampai kita dibakar massa!” (Riebuan Cahaya)

GARA-GARA PIL KB GRATIS
Musim kawin tiba, suasana kampung mendadak lengang. (Durroh Fuadin Kurniati)

MUSIM KAWIN
“Mak, ane siap!” teriak Ocid meninggalkan kandang si japrik. (Maya Madu)

MUSIM KAWIN YANG SALAH
Tarjo terkulai karena keracunan susu expired milik Surti. (Asih Wardhani)

HARGA CABE MELAMBUNG
Kekurangan stok semenjak muncul cabe-cabean yang tak jelas. (Aceha Kenji Fauzi)

MUSIM BEGAL
Tak mau motornya dibegal, totong menelannya bulat-bulat. (Ademia Nurul Fuada)

SIBUK PANEN
Emak, Juminten dan kutu rambut. (Ajeng Maharani)

"JAGA LILINNYA, DIK."
Musim panen telah tiba. Dia berubah wujud. (Ajeng Maharani)

KEMARAU PANJANG TELAH LEWAT
"Syukurlah, sekarang air di Jakarta melimpah ruah." (Ajeng Maharani)

MUSIM JAMAN EDAN
Pak Penghulu menelan ludah, ngeri melihat kedua mempelai, Doni dan Dono. (Siti Chafidoh)

MUSIM MANCING
Mamat menyiapkan semua perlengkapan. Pasukan keamanan siaga menghadapinya. (Anggarani Ahliah Citra)

TREND
“Rajin benar nggosok akik.” | “Iya, mau aku tempel di gigi, jadi kawat akik.” (Asiah Ahmad)

MUSIM PANEN
Keramas tiap hari, Jeni dan suami kejar produksi. (Damar Hening Sunyiaji)

BECEK
Rika menjinjing sepatunya, kedua kaki tertinggal di dalam lumpur. (Siti Chafidoh)

GARA-GARA MUSIM KAWIN
Ia mengakhiri masa lajangnya di tiang rumah. (Zahraa Senja)


-oOo-
Menangis! Itulah yang kulakukan selama membuka lembar demi lebar buku Rahasia Hati Suami, terbitan LovRinz yang akan segera hadir di toko buku. Buku karya Bang Safar Ubaknomminakbai ini patut diacungi jempol.

Sebuah kumpulan catatan dari kisah-kisah rumah tangga yang dikupas secara apik. Dengan gaya bertutur seolah-olah sedang berbicara langsung dengan pembaca ini, benar-benar akan mengubrak-abrik perasaan. Sebagai seorang istri, aku malu. Malu betapa banyak hal yang luput dari pandangan mata hati tentang lelaki yang menjadi pendampingku. Selama ini aku beranggapan, sebagai suami harusnya selalu memahami dan mengerti kemauan istri. Nyatanya, yang memiliki hati untuk dipahami dan dimengerti bukan cuma wanita. Tapi pria juga.

Jarang ada pria mau berterus terang apa yang ada di hatinya. Manalah kita, kaum wanita, bisa juga ikut memahami dan mengerti isi hatinya bila tak diungkapkan. *nah loh, ini sebenarnya berlaku juga buat wanita. Ada wanita yang juga tak mampu mengeluarkan uneg-uneg. Nrimoan aja di depan suami. Yang begini ini justru akan menimbulkan riak-riak kecil, bahkan bisa membesar dan berdampak tidak sehat buat lingkungan rumah tangga.

Sebenarnya apa sih isi hati kaum lelaki yang telah menyandang predikat Suami?
Buku Rahasia Hati Suami, akan membuka satu per satu yang ingin diketahui para istri. Buku yang tak hanya mengupas sudut pandang suami saja, namun istri juga diajak untuk ikut merenungi bersama bahwa sebuah rumah tangga yang kukuh, adalah tugas berdua. Tak boleh hanya suami, tak boleh hanya istri. Sebab ya begitulah namanya rumah tangga.

Ketika membacanya, aku tak mengambil tempat di pojok kamar dan menikmatinya sendiri. Tapi kuajak serta suami untuk ikut meresapi tiap kisah yang layak diambil hikmahnya. Ketika aku menangis, suami menghapus air mata di pipiku. Ada kalanya pula, ia yang tertunduk sedih, seperti menyesali sesuatu. Barangkali ikut trenyuh dan merasa diri belum sempurna menjadi pasangan, sama sepertiku yang kerap menyalahkan diri sendiri bila satu dua kali melakukan kesalahan di depannya. Setelah membaca sampai habis, barulah kami sadari, bahwa tidak ada satu pun pasangan di dunia ini yang sempurna. Namun, sudah pasti, Allah punya rencana dalam mempersatukan dua insan yang sama-sama tak sempurna ini untuk saling menyempurnakan. Bukankah itu indah?

Dan Rahasia Hati Suami, kini bukan lagi menjadi rahasia. Sebab, aku tahu, bahwa sesungguhnya suami juga punya hati yang bisa diselami. Bila kata Ari Lasso, Sentuhlah dia tepat di hatinya, untuk para perempuan juga berlaku. Sentuhlah suami tepat di hatinya. InsyaAllah, kehidupan rumah tangga akan lebih penuh makna. Bahwa menikah bukan hanya pertemuan dua raga. Tapi jiwa juga menyatu. Selamanya.


*dapatkan dengan harga spesial, hubungi 085933115757

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI