Google+ Followers

Sabtu, 14 Februari 2015

When I Say, Yes!

Ketika aku berkata, "Ya", terkadang itu adalah suara keterpaksaan. Keterpaksaan yang timbul dari rasa sungkan. Terkadang, jawaban dari sisi psikologi yang lemah. Sehingga lebih memilih ya daripada membuat gaduh suasana. Terkadang juga, itu lahir dari keadaan yang memaksa. Hanya aku yang mampu di antara banyak kepala yang ada.

Ketika aku harus menerima konsekuensi dari kata "Ya" yang terpaksa. Aku harus mengembuskan nafas panjang. Sebelum akhirnya mencoba tersenyum dan mulai bekerja. Karena mengeluh pun takkan menyelesaikan masalah. 

Sialnya, ketika hal tersebut dihadapkan pada otak berakal picik. Ketidakberdayaanku menjadi ajang kesempatan. Dimanfaatkan dengan sekehendak hati. Aji mumpung. Segala yang mereka sebenarnya mampu, diberikan padaku. 

Setahun pertama, aku menikmatinya. Setahun kedua aku mulai muak. Semua api yang tersimpan, menggumpal menjadi lahar panas yang muntah sewaktu. Mulailah berani berkata tidak dengan nada kasar menantang. Hingga akhirnya terjadilah konfrontasi demi konfrontasi. Namun tetap saja, sistem hierarki di kantor ini yang muda yang mengalah.

Kembalilah aku menjadi seorang di tahun pertama. Sami'tu wa atho'tu. Lalu kucoba menata hati, lebih bersabar dan berpositif thinking. Meski agak berat dijalani. Namun semua itu tidak lama, sebelum akhirnya jalan cerah itu menghampiri. Sebuah buku, hadiah dari seorang yang jauh. Kutatap nanar di meja kerja. Kenapa tak kucoba menuliskannya? Batinku kala itu.

Di kala senggang, di kala sepi aku mulai menulis. Duniaku menjadi gempita. Kutulis tentang taman bunga dengan wangi semerbak. Berderet seperti kebun tulip di Belanda. Seketika imaji melayangkan segalanya. Senyumku terbit sempurna. Ah ada yang terlupa, kutulis pelangi tanpa hujan. Ternyata lebih indah yang setelah hujan.

Di kala gemuruh keterpaksaan kembali menyerang dada. Aku menuliskannya. Aku membuat cerita tentang pemuda yang akhirnya berani berkata tidak. Seorang pemuda yang mampu menjelaskan keinginannya dengan gamblang. Bukan pemuda cengeng yang hanya tahu patuh dan cari aman.

Dari menulis kutemukan teman-teman sejati. Se-visi dan misi. Mereka merangkul dan mengangkat mentalku tanpa henti. Membuatku berani melambungkan mimpi yang mulai meragu.  Mereka menuntun dengan santun, menampar dengan diksi indah nan menggugah, dan menasehati dengan ilmu. Bait demi bait yang kuukir pun akhirnya menjadi obat. Tumbuh menjadi buku-buku yang menginspirasi sekitar. Berdiri pula sebuah museum dari rak kayu. Atas semua karyaku yang terbit.

Kini, ketika mereka yang memintaku untuk maju menjadi motivator, dengan semangat kujawab, "Yes!" Dan melakukan semuanya dengan riang.

Dalam renung, akhirnya kusadari, merekalah warna pelengkap bagi pelangi di hidupku. Hadir setelah badai kehidupan melanda. Terima kasih, Sahabat. Kutulis ini di detikku yang tengah menuju nol. Sebelum mataku terpejam selamanya.

Gio menutup matanya dengan iringan sepi dan sebait syahadat. 

AM. Hafs
Malang, 14/02/2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI