Google+ Followers

Kamis, 26 Februari 2015

Sensasi Menulis Hal yang Kontroversial

Menilik semakin berkembangnya media sosial, apalagi berita online. Ternyata berbanding lurus dengan kian mudahnya penyebaran hal-hal yang berbau kontroversial. Berita online dengan rintisan alamat web yang baru biasanya menggunakan judul-judul kontroversial. Tujuannya tidak lain untuk mengangkat 'traffic' pengunjung. Karena hal-hal yang kontroversial mempunyai sifat gula yang kerap memancing banyak semut untuk berdatangan.

Ada beberapa tema yang kerap kali mengundang kontroversi. Mulai dari hal sepele semacam kehidupan artis, club bola, hingga seserius ajaran agama. Biasanya tema itu juga diawali dari judul yang juga kontroversial.

Tulisan kontroversial kerap kali memacing perdebatan. Bagi pembaca yang sering mengunjungi arena debat, pastinya tahu, bagaimana topik "test the water" bisa menjadi jendela untuk melihat, mana pembaca yang cerdas, ingin terlihat cerdas, dan mana yang kurang cerdas.

Beberapa hari ini, aku pun penasaran 'sisi lain' dari menulis kontroversi. Akhirnya kucoba melemparkan umpan.

"Hafal qur'an bukan jaminan kesalehan ... percoyo o talah -Percayalah."

Satu dua menit menunggu tanggapan. Rasanya seperti mengulang masa-masa disuruh presentasi pas jaman SMA. Ada rasa dag dig dug gimana gitu. Dan sensasi itu akan semakin terasa ketika satu lawan muncul dengan segenap argumen. Tak jarang langsung menjudge atau menghujat. Di sinilah kedewasaan juga kesiapan kita diuji. Jika kita tak cukup menguasai materi itu sama saja kita bunuh diri. Tapi jika kita telah membuat kesimpulan dan rekaan-rekaan sanggahan yang akan datang, kita bisa menjadi sopir. 

Berkenaan dengan tulisan  yang kulempar di atas, bagi yang telah mengenalku tentu akan memahami. Tak jarang mereka memberi komentar yang absurd dan menghibur. Itulah perlunya memperhitungkan posisi. Agar kita tidak sendirian. Mirip-mirip bermain catur. Tapi itu hanyalah salah satu amunisi. Berapa banyak pun kawan, kalau tak menguasai materi, tetap saja akan bunuh diri.

Kalau pembaca sendiri, bagaimana menanggapi tulisan di atas? Langsung menjudge, atau merenung untuk mencari jawaban berimbang? Jika langsung menjudge, aku sarankan kepada Anda untuk berlatih mengendalikan emosi. Karena setinggi apapun ilmu, jika tak mampu mengendalikan amarah, dia akan mudah dipermainkan.

Di ujung tulisan yang gak jelas ini, kucoba memberi kesimpulan. Hafal Qur'an bukan jaminan kesalehan. Alasannya, hafal quran hanyalah sebuah aspek dari banyak aspek penentu diantaranya :

1. Akhlak, percuma hafal quran jika akhlak masih buruk. Hafalannya hanya untuk ajang meningkatkan kedudukan di masyarakat misalnya. Hafal Quran hanya karena ingin disebut hafidz. Hafal quran tapi suka mengafirkan muslim lain.

2, 3,dan seterusnya silakan renungkan sendiri. Yang pasti, mengutip kata-kata seorang teman, "Jika yang hafidz saja banyak yang masih kesulitan menjaga akhlak, apalagi yang enggak?"

Sebelum menutup tulisan ini, mohon maaf aku sampaikan pada teman-teman yang sempat menghampiri postinganku tadi. Pesan terakhir, kalau di dunia maya, hindari perdebatan meskipun anda dalam posisi benar. Karena mudharatnya lebih besar daripada manfaat. Jika ingin bertukar pikiran, lebih baik bersulang dulu dengan secangkir kopi susu.

AM. Hafs
Malang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI