Google+ Followers

Sabtu, 07 Februari 2015

Pilihan Tiara

Pilihan Tiara
Sebuah tulisan lama yang penuh dengan kesalahan EYD, banyak "serangan", salah tanda baca. Dan sampai sekarang belum sempat diedit. hehehe

Kalau bukan karena rasa sayangnya pada wanita yang melahirkannya itu, sudah tentu Tiara akan cepat-cepat berkemas dan angkat kaki dari rumah orangtuanya ini. Kembali ke kota kecil
tempat ia mencari sekotak harapan setiap harinya. Tiara masih mendengar ocehan Ibunya. Tangan Tiara sibuk menyapukan bedak di wajah halusnya. Entah sudah berapa lapis.

“Tiara, coba dengar Ibu bicara… dan kamu sudah cantik jadi tutup bedakmu. Dari tadi gak selesai-selesai...,” ujar Ibu kesal.

Tiara melenguh, “Bu, sedari tadi juga Tiara dengar, tapi Ibu sebenarnya mau Tiara berbuat apa?... Ibu juga bicaranya mutar-mutar… gak jelas intinya….”. Ditutupnya bedak dan dimasukan ke
dalam tas merah pemberian Tanti, adiknya, sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke 26 beberapa bulan yang lalu.

Tiara lalu menatap wajah Ibunya yang kini memerah. Ada genangan air dimatanya.

“Bu…sudahlah. Jangan menangis lagi.” Tiara lalu mendekat ke Ibu dan membasuh air mata Ibu yang jatuh dipipinya yang kian mengendur karena waktu.

“Tak ada yang perlu Ibu sedihkan. Semua pasti baik-baik saja.” Tiara mendekap Ibunya semakin dalam.

“Bagaimana Ibu bisa tenang, Tiara. Semua anak-anak Ibu tidak ada yang mau mengerti."
Ibu melepaskan dekapan Tiara dan duduk menyamping menjauh dari Tiara.

“Ibu bicara apa sih. Kalau Tiara tak mengerti, Tiara tidak ada di sini sekarang. Dan ini hari Senin, seharusnya Tiara sudah berangkat pagi-pagi ke Kandangan… kalau sudah begini, Ibu masih bilang tidak mengerti…,” Tiara ikut-ikutan menjauh. Menuju meja makan dan mulai menuang semangkuk sup jagung kesukaannya yang sudah dihangatkan Ibu.

“Sekarang apa yang Ibu pikirkan?. Masalah Tanti yang sampai sekarang belum dapat kerja?. Atau masalah Tanti dengan Vino kekasihnya itu?. Atau masalah apa lagi?”

“Tiara, kecilkan suaramu. Ibu masih belum tuli,” tegas Ibu. “Lagipula adikmu masih tidur,” lanjutnya.

“Gila, jam segini masih dikamar….gimana mau dapat kerjaan..?”, ujar Tiara kesal dengan nada suara yang tambah dibesarkan.

“Ya, Ibu juga tidak mengerti, apa mau adikmu itu… apa Ibu turuti saja keinginannya menikah…, tapi kamu belum juga menikah, Ibu gak mau ada yang melangkahi kamu. Usiamu sudah matang, Tiara…, apalagi yang kamu nanti..?”

“Ibuku sayang… Tiara gak usah Ibu pikirkan. Tiara sudah besar, sudah bisa urus diri sendiri. Tiara sudah memilih, untuk dipilih saja.” Kata Tiara manja sambil memeluk Ibunya dari belakang.

“Kalau memang Tanti mau menikah ya silahkan saja. Tiara gak papa kok…tapi apa Ibu yakin…? Mau dibawa kemana pernikahan mereka, Tiara gak jamin Ayah akan merestui…”

* * *

Keberangkatan Tiara ke Kandangan diantar ibunya sampai ke depan pagar. Tiara enggan meninggalkan rumah yang baru saja ditempati 3 bulan terakhir di pinggiran kota Malang. Tiara harus kembali ke Kandangan. Kembali meneteskan keringatnya demi membebaskannya dari rasa suntuk akibat terjepit di antara tuntutan keluarganya. Setelah mengecup kedua pipi Ibu yang basah karena masih melanjutkan tangisnya yang nyaris tak terdengar. Tiara langsung meluncur dengan motor kuningnya.

Perjalanan kali ini dilalui dengan sangat lama. Laju motor tak lebih dari limapuluh kilometer perjam, satu hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Biasanya sampai angka seratus. Cuaca yang
sedikit mendung membuat Tiara betah berlama-lama menikmati perjalanan sembari mengingat kejadian yang sebelumnya. Pikiran Tiara melambung jauh pada kisah-kisah yang telah ia lalui
beberapa waktu yang telah lewat. Problema kehidupan anak gadis yang paling tua dalam rumahnya. Beribu tuntutan yang tak sanggup ia jalani sebagai seorang anak yang penurut. Yang
terbelenggu bukan hanya karena adat dan juga mengatasnamakan agama. Satu kesatuan yang tak bisa diganggu gugat dalam keluarganya. Sekarang, itu dihadapi oleh Tanti, adik perempuannya.

Memiliki kekasih yang tak seiring sejalan keyakinannya membuat Ayah dan Ibunya berang. Untuk yang kedua kalinya. Ya, setelah sebelumnya Tiara sempat terbuang dari rumah, hanya karena memilih untuk menjalani masa depan bersama Dion, kekasihnya yang memiliki keyakinan berbeda dari apa yang selama ini dianut keluarganya, meskipun sama-sama percaya pada Gereja, namun menurut Ayah Tiara, gereja mereka berbeda dan tentu segala apa yang ada didalamnya pun tak sama. Sedang Vino, adalah seorang lelaki yang terlahir dalam keluarga muslim yang sudah tentu berseberangan dengan keluarganya.

Tiara sesak. Airmatanya yang sedari tadi tertahan meluncur dengan suksesnya. Tiara tak ingin apa yang dulu ia alami terjadi pula pada Tanti.

“Kalau Tiara tetap ingin pergi bersama lelaki itu, Ibu saja yang urus, ayah tak peduli. Dia bukan anak Ayah lagi.” Suara Ayah begitu menggelegar di siang bolong. Tiara hanya menangis tersedu di balik pintu kamarnya.

“Yah, ayah gak boleh bicara seperti itu. Biar bagaimanapun Tiara tetap anak kita. Coba Ayah bicara dulu baik-baik dengan mereka. Ayah selalu berkepala bara. Ibu sedih setiap kali angkat suara selalu saja seperti ini. Kapan lagi kebahagiaan itu ada di rumah kita ini?” ujar Ibu menenangkan Ayah yang seakan tak peduli dengan suara hati Tiara.

“Ayah selalu keras. Baik, kalau Ayah memang tak menganggap Tiara anak lagi, maka Tiara akan pergi dari rumah ini!” tiba-tiba Tiara pun berhamburan ke luar kamar dengan membawa tas birunya yang berisi baju seadanya.

“Tiara… Ra… sudahlah nak, jangan kamu ikut-ikutan keras seperti Ayahmu. Duduklah, bicarakan semua…ka..” Ibu menarik tangan Tiara mencegahnya keluar pintu.

“Sudahlah Bu, Ayah tak pernah mau mendengar. Tidak pernah. Ayah selalu benar… Tiara pergi…” Tiara melepaskan genggaman tangan Ibu dan beranjak pergi.

* * *

Suara tangis Ibu empat tahun yang lalu, masih terngiang di telinga Tiara. Lebih hebat dari isak Ibunya pagi tadi. Jalanan sudah dipadati kendaraan besar seperti truk. Biasanya Tiara selalu ingin menyalip truk-truk itu satu persatu, tapi kali ini hasratnya lemah. Dinikmati perjalanan dengan penuh pikiran yang menyesakkan.

Terlahir sebagai wanita pertama di tengah-tengah keluarga yang tak ada lelaki satupun, kecuali sang Ayah yang keras, benar-benar membuat Tiara letih. Terlalu banyak aturan yang memenjarakannya. Termasuk dalam hal mencari pasangan hidup. Prinsip Ayah Tiara yang memegang taat kekristenannya selalu berpegang teguh pada keyakinannya, bahwasannya terang tak dapat bersatu dengan gelap. Prinsip yang selalu ia tanamkan kepada anak-anak perempuannya. Bahwa apapun akan ia lakukan untuk tetap teguh termasuk “membuang” anaknya, Tiara, empat
tahun yang lalu.

Namun disinilah Tiara, dengan penyesalan, merelakan cintanya dan kembali kepada pangkuan Ayah dan Ibunya. Tiara kalah dalam peperangan. Tak ingin terus terpuruk, maka berdirilah Tiara di kedua kakinya yang rapuh mencoba kokoh.

Perjalanan menuju Kandangan masih jauh. Lewati pegunungan batu dan persawahan, membuat Tiara menghentikan perjalanan sesaat. Menikmati sejuknya angin pegunungan dan menatap kota dari ketinggian. Sepertinya mendung semakin mengalungi langit. Jam di ponselnya sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Sudah terlambat dua jam untuk sampai di kantornya. Tiara masih duduk di atas motor kesayangannya. Lembar-lembar kenangan mulai terbuka satu persatu.

“Dulu Ibu menikah dengan Ayah tak perlu pacaran. Hanya tiga bulan setelah Ayahmu meminta Ibu untuk menjadi istrinya,” Ibu Tiara menuturkan awal kisah terbentuknya keluarga Tiara.

Ibu Tiara seorang wanita minang yang terlahir di Padang Panjang dan menghabiskan masa sekolah hingga dewasa di Cengkareng. Lulusan sebuah perguruan tinggi agama di Jakarta dan sempat mengajar pendidikan agama di sebuah sekolah menengah atas. Jiwa petualang Ibu Tiara yang enerjik selalu membuat Ibu Tiara ingin melangkahkan kaki lebih jauh berkelana.

Awal tahun 80-an, lagi musim-musimnya pekerja sosial yang bekerja sama dengan pemerintah untuk dikirim ke beberapa tempat di seluruh Indonesia. Ibu Tiara mendaftarkan diri dan akhirnya diterima sebagai TKS – Butsi dan langsung ditempatkan di Lampung. Dengan berat hati kedua orangtua Ibu Tiara melepaskan.

Ibu Tiara seorang wanita mungil yang cantik, berkulit putih dan disukai teman-temannya terutama para lelaki. Tiara selalu tersenyum ketika Ibu bercerita bahwa semasa mudanya banyak pria yang mengejar-ngejar cintanya. Dan tentu saja, bakat itu menular ke anak-anaknya, termasuk Tiara.

Setelah satu tahun pertamanya di Lampung, para pekerja sosial berhak menentukan daerah penempatan yang diinginkan di seluruh nusantara. Irian Jaya -waktu itu- menjadi sasaran Ibu Tiara.
Bukan karena semata-mata ingin tempat yang baru, tapi juga karena hati yang patah karena kekasihnya menikah bersama wanita lain, sesaat setelah mereka justru telah bertukar cincin.
Maka berangkatlah Ibu Tiara menuju Jayapura, dan meneruskan perjalanan ke Wamena. Akhir 81, untuk pertama kalinya Ibu Tiara menginjakan kaki ke bumi Indonesia bagian timur ini. Dengan harapan baru dan dengan doa yang baru, ”Tuhan, berilah hamba seorang pendamping yang taat beribadah, dan semoga hamba menemukannya di tempat ini.”

Singkat cerita Ibu Tiara bertemu dengan lelaki yang memang taat beribadah yang tidak neko-neko, sama-sama pekerja sosial namun berbeda wadah, lelaki yang menjadi Ayah Tiara kini. Niat tulus lelaki ini disambut baik oleh Ibu Tiara, namun tidak dengan orangtuanya. Di Jakarta, orangtua Ibu Tiara mati-matian menolak lamaran lelaki ini. Lelaki yang mencoba menarik hati calon mertuanya. Namun apa daya, perbedaan keyakinan membuat orangtua Ibu Tiara menutup pintu dan mengusir Ibu Tiara dari daftar penerima warisan kelak dan dikeluarkan dari adat lebih-lebih tak lagi dianggap anak oleh orangtua sendiri.

Akhirnya dengan ketulusan keduanya, Ibu dan Ayah Tiara menikah di hadapan orang banyak dengan diberkati pendeta. Di sebuah lembah di salahsatu pegunungan tertinggi di Irian Jaya. Dengan dihadiri beribu-ribu orang dari pedalaman yang menjadi daerah binaan mereka. Masing-masing membawa hasil bumi dan ternak sebagai kado pernikahan. Tanpa restu orangtua dengan mengundang segala kontroversi.

Kadangkala foto-foto pernikahan mereka yang menggambarkan betapa dahsyatnya pernikahan itu masih sering dilihat. Tiara kagum, betapa hebatnya cinta kedua orangtuanya itu hingga berani mengambil langkah yang cukup ekstrim di masa itu. Dan betapa banyaknya orang-orang yang mengasihi mereka pada jaman itu.

Namun semua itu menjadi kebencian di hati Tiara. Benci karena dirinya tak bisa senekad itu untuk berontak dari lingkaran yang begitu kuat mengurungnya. Jika kedua orangtuanya dulu mampu, mengapa empat tahun yang lalu ia tidak melakukannya.

Hujan rintik menjadi alasan Tiara untuk tetap duduk menikmati angin yang semakin dingin menusuk tulangnya. Kejadian pagi tadi masih terngiang.

”Jangan menjadikan masalalu Ibu untuk jadi patokan Tiara. Ibu punya alasan untuk memilih Ayah.Memilih jalan lurus...,” ujar Ibu marah karena Tiara memakai kejadian Ibunya ketika akhirnya
melepaskan keyakinannya.

”Ibu meminta pada Tuhan dan Dia memberikan jalan lurus itu..., berapa kali Ibu bilang, hanya dengan percaya padaNya kita beroleh keselamatan... hanya di dalam Dia...”

”Iya Ibu, Tiara paham itu. Tapi...bagaimana jika, salah satu dari kami, tak usah jauh-jauh, Tanti, juga punya doa yang sama seperti Ibu, tentu dia juga meminta pada Tuhan untuk diberikan yang taat beribadah, cinta Tuhan dan embel-embelnya...dan jika memang Vino orangnya, apakah Ibu dan Ayah tetap berkeras?”

Ibu terdiam. Tiara mengerti apa yang sedang Ibu pikirkan. Berulangkali kisahnya didengar Tiara. Bahwa ketika memilih Ayah, Ibupun dalam berontak mengikuti hatinya. Namun tentu, pemberontakannya tak ingin ia tularkan pada anak-anaknya. Dan Tiara sangat paham itu.

”Ibu, seandainyapun saat ini, Tiara datang bersama seorang laki-laki yang Tiara yakin datang dari jawaban doa seperti apa yang Ibu lakukan dulu, apakah Ibu mau menerima?”

”Tiara tak yakin. Hal yang dulu pasti akan terjadi lagi. Tiara sungguh akan sangat memberontak lagi, jika dengar kata-kata yang dulu pernah Ayah keluarkan. Dan mungkin hal itu akan terjadi sama Tanti,” lanjut Tiara.

”Mengapa pikiran kita dipersempit sama koridor keyakinan yang tak habis-habisnya. Bukankah kita semua sama. Mengapa harus terjadi pengokatakan untuk masalah cinta?” ujar Tiara yang sudahmulai berkaca-kaca.

”Ya, Ibu tahu, semua yang kamu katakn itu benar. Kamu sudah dewasa, sedewasa Ibu ketika menikah dengan Ayahmu dulu. Tapi memang ini yang benar, jalan ini yang benar...,” ujar Ibu lirih.

”Jika semua berkata bahwa jalannya masing-masing adalah yang benar, lantas seperti apa kebenaran itu sesungguhnya. Sesuatu yang arg... tak ada habisnya, Bu...” Tiara mulai kesal dan capek dengan pokok bahasan yang tiada habis-habisnya.

”Yang jelas, Bu, jika itu terjadi, jangan sesalkan jika salah satu dari kami mengikuti jejak Ibu...” ujar Tiara beranjak pergi meninggalkan Ibu yang kembali menangis.

* * *

Tak terasa hampir sejam Tiara menikmati udara pengunungan seraya membuka lembaran kisah lalu. Hujan mulai turun. Membuat tubuh Tiara yang terbungkus jaket tebal sedikit mengigil kedinginan. Sudah hampir jam sebelas. Sebuah panggilan di ponsel membuyarkan lamunannya.

”Kamu dimana dek?” suara laki-laki dari seberang menyapa.

”Tiara masih di Batu, mau ke kantor. Sudah telat mas. Masih hujan. Tiara masih menepi...” jawab Tiara.

”Oh. Kok telat...? ya sudah hati-hati, dari tadi sms ku gak dibalas, mas pikir kamu kenapa-napa... ya sudah kalau kamu gak papa. Mas kerja lagi... nanti sore mas telpon lagi yah... I love You, like I always do...” lanjut laki-laki itu, yang tak lain adalah kekasih Tiara.

Tiara menutup pembicaraan. Hatinya tambah perih. Aryo, lelaki yang menjadi kekasihnya selama beberapa waktu belakangan ini, yang tidak ada seorangpun tahu, bahkan Ibu dan Ayahnya. Aryo, seorang lelaki muslim yang taat beribadah. Doa Tiara yang diam- diam selalu dipanjatkan terkabul, mendapatkan seseorang yang taat dan menyayanginya apa adanya. Dan semua itu kini menjadi
peperangan batin yang cukup kuat.

Tiara sudah nyaris mengungkapkannya pada Ibu pagi tadi. Dan kali ini Tiara bertekad, apapun nanti yang terjadi, Tiara ingin memenangkan peperangan ini. Tak ingin kalah seperti empat tahun
yang lalu. Meski harus mengulang kisah yang sama seperti Ibunya.

Perjalanan dibawah hujan semakin membuat hati Tiara sejuk. Ada Aryo diujung sana yang selalu menyemangatinya. Berjuang bersama.

Karena cinta harus memilih...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI