Google+ Followers

Jumat, 20 Februari 2015

Pesan Seribu Makna

Sampai detik ini, aku masih berusaha memahami pesan dari seseorang, yang telah kuanggap seperti kakak juga guru. Tulisnya dalam sebuah komentar, "Semakin ke atas, jangan kau angkat kepalamu tinggi-tinggi. Sebab hal indah terpampang buanyak banget di bawah. Lihatlah ... Bawalah keindahan itu ke atas juga. Bila kau angkat kepalamu tinggi-tinggi, kau akan sendiri.

Percayalah ...
Bila kau tak percaya yang kukatakan, coba tanya yang di samping sana ... yang tak pernah mau melihat ke bawah. Sekarang dia hanya bisa menyesali, sebab lehernya pegel karena mendangak terus ke atas."

Awalnya aku memahaminya sebagai peringatan agar menjaga hati dari kesombongan. Tapi, pemahaman itu tak serta merta memuaskan kalbu. Hari ke hari, berusaha mencari. Aku merasa ada sesuatu yang lain. Renungan demi renungan berlarian di pikir juga hati. Hingga pagi ini aku mendapati jawaban baru.

Dimulai dari renungan tentang ketika aku melihat kesuksesan orang lain. Ingin rasanya lekas-lekas seperti mereka. Merasa diriku tertinggal jauh. Membuat semua prosesku seolah tak berarti. Seperti halnya ketika melihat tulisan-tulisan cantik berbaris memukau. Serta merta kubandingkan dengan tulisanku, ah, jadi terasa kacau balau.

Aku khilaf karena telah melihat kesuksesan mereka tanpa melihat proses. Termasuk melihat jalan terjal yang telah mereka lalui. Hingga akhirnya bisa seperti sekarang. Dari sini akhirnya aku menangkap makna lain, dari pesan itu, "Jangan terlalu berambisi, jika memang belum bisa berlari. Jangan terlalu melihat orang lain, meski kemilau mereka silaukan pandangan. Setiap orang berbeda dalam mendatangi mimpi. Tak perlu memaksa. Cobalah berjalan santai. Menengok kanan-kiri lebih dalam dan khusyuk lagi, menikmati cermin-cermin kehidupan yang menghiasi langkah. Ingat, setiap orang unik, cobalah menunduk. Galilah keunikan itu dari dalam diri juga orang sekitarmu. Hargai tiap proses yang terlewati. Tak perlu risau, jika kini tak ada yang melihatmu. Karena itu bukanlah tujuan inti kecuali hanya bonus sisi kiri. Nanti, ketika waktunya telah tiba. Sinarmu akan terang sendiri. Tanpa listrik dan tanpa ada yang mampu menutupi. Jagalah niat, juga hati. teruslah berbagi setulus hati."

Itulah dua hal, yang tertangkap hingga detik ini. Tak menutup kemungkinan, seiring tambah dewasanya pikiran, akan ada lagi hal yang bisa kugali. Terima kasih, Mbak, karena telah memberiku alat pancing juga umpan. Bukan memberiku ikan goreng yang siap makan. Semoga kebaikan juga keberkahan menaungi kehidupan Mbak sekeluarga. Aamiin Ya Rabbal 'alamiin.

AM. Hafs
Malang, 20/02/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI