Google+ Followers

Jumat, 20 Februari 2015

Menyikapi Fenomena Batu Giok

Batu-batu yang indah itu, bagiku tak lebih dari bejana untuk bertafakur. Menikmati keindahan ciptaan-Nya. Adapun beberapa orang yang menganggapnya berkhasiat, tidak serta merta salah. Kadangkala memang ada benda-benda yang di-wasilah-i, sebagaimana air-air putih yang didoai para Kyai. Kembali, semua itu hanyalah perantara dan perlu ditekankan bahwa semua itu dari Allah SWT. Sebagaimana obat dokter yang 'dianggap' menyembuhkan. Dari situ, perlulah ditarik kehati-hatian dalam hal memusyrikkan seseorang. Karena, jika ternyata yang di-cap kafir ternyata di mata Allah tetap muslim, maka kitalah yang menjadi kafir sebab menuduh seseorang muslim telah kafir.
Jalan terbaik adalah memulai pemahaman yang baik pada diri sendiri. Lalu menuntun dan memproteksi lingkungan sekitar. Jangan terburu-buru berambisi terlalu besar menjangkau yang jauh. Doa saja sudah cukup, untuk mereka yang jauh di sana. Karena penulis yakin, di daerah orang-orang tersebut, telah Allah tugaskan seorang pengemban dan penuntun, yang lebih berhak atas mereka.
Menyimak sebuah kisah dari Majalah AULA. Ada seorang ulama kharismatik yang didatangi seseorang dari luar kota. Selain meminta doa, orang tersebut juga meminta fatwa. Dengan bijak sang Ulama menjawab, "Di desamu gak ada Kyai ta? Sampai bertanya jauh kemari?"
Perlu direnungi, berhadapan dengan orang yang tidak dikenal, beresiko terhadap penyakit hati ingin dikenal, dan ingin dianggap pintar. Begitu pun yang terjadi ketika penulis menyusun tulisan ini. Maka dari itu, pengendalian hati, perlu untuk terus-menerus ditata. Terutama terhadap kemungkinan atas sanggahan yang menjurus kasar, ketika tulisan ini terlempar ke khalayak. Wallahu a'lam.
AM. Hafs
Malang, 20/02/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI