Google+ Followers

Kamis, 12 Februari 2015

Mari Budayakan Uluk Salam!


Oleh : AM. Hafs (@am_hafs)

Abdullah bin Amr ra. berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw, “ Amalan Islam apakah yang baik?” Beliau menjawab, “Engkau memberi makan dan mengucapkan salam, baik kepada orang yang engkau kenal maupun yang belum engkau  kenal.” (HR Bukhori dan Muslim)

Memberi makan dan berucap salam, terlihat sepele memang. Namun itulah bagian dari kesempurnaan ajaran Islam. Untuk memotivasi penganutnya, hal yang terlihat sederhana itu disulap menjadi sebuah hal yang mulia. Selain diberi label kebajikan dan diistimewakan dengan iming-iming sebuah pahala, dampak yang dibawa dalam sosial kemasyarakatan pun cukup signifikan.

Hadits tersebut melayangkan ingatanku ke masa lalu. Sewaktu masih tinggal serumah dengan nenek. Dalam rentan waktu mulai menginjak TK sampai menjelang kelas 2 SD, setiap lebaran aku diajak berkeliling oleh nenek ke rumah sanak family yang keberadaannya hampir mencakup seluruh desa. Alhasil, uang saku lebaran pun membuat kantongku tebal. Jadi merasa beruntung punya nenek seperti beliau.

Setelah sanak family yang sedesa dikunjungi, rute pun beralih ke luar desa. Dari yang berdomisili di kecamatan sebelah, sampai yang di kota sebelah. Waktu itu, aku tak ambil pusing mengapa nenek punya banyak saudara. Baru ketika dewasa, karena rasa ingin tahu aku mulai menanyakan hubungan kekerabatan di antara mereka. Mengejutkan, ternyata sebagian besar dari mereka hanyalah kenalan atau pelanggan nenek sewaktu berprofesi sebagai penjual makanan keliling.

Ibuku bercerita jika nenek mempunyai kebiasaan membagikan sisa dagangan pada tetangga atau orang-orang tidak mampu, yang ia temui di jalan. Kebiasaan lainnya, setiap orang yang bertamu ke rumah nenek, pasti diberi hidangan. Hidangan tersebut harus dimakan, jika tidak, sumpah serapah dan ancamannya akan mengudara, “Lek gak gelem mangan, tutuk umah getun lo.”1 atau, “Ojo balik rene lek gak gelem mangan!”2 Terdengar kasar memang, tapi itu hanyalah strategi beliau agar si tamu tak kuasa menolak.

Kini, ketika beliau sudah tak kuat lagi berjalan jauh dan berkeliling seperti dahulu, merekalah yang mendatangi rumah nenek. Tak heran bila saat lebaran, rumah nenek jauh dari kata sepi. Nama beliau pun dikenal seantero desa sebagai orang yang ramah dan pemurah.

Membaca kembali hadits di atas, ingatanku juga terlempar ke masa SMA. Sewaktu menjalani hari terakhir MOS yang bertema penjelajahan. Kami, peserta MOS, diwajibkan mengucapkan salam kepada setiap orang yang kami temui sepanjang rute. Ada perasaan malu dan sungkan yang menyeruak. Kurenungi, rasa itu muncul akibat kebiasaan yang ada. Kebiasaan menyampaikan salam hanya pada seseorang yang dikenal. Itu pun hanya pada waktu-waktu tertentu, semisal ketika memasuki rumah atau menghadiri majelis. Jarang sekali di masa kini yang bertegur sapa di jalan dengan salam. Kebanyakan hanya berucap, “Hai” atau sekadar melambaikan tangan. Ucapan salam seperti telah mengalami penyempitan makna. Mungkin ini tanda bahwa Islam mulai kembali kepada keterasingan sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Saw.

Sebagai upaya kecil mengatasi hal tersebut, aku mulai mencoba mempraktikkan pada anak didik dan orang yang kukenal. Membiasakan mengucap salam ketika bertemu mereka di jalan dan mewajibkan mereka saling mengucap salam ketika bertemu sesama teman atau orang yang dikenal. Semoga saja hal tersebut bisa menjadi teladan dalam mengembalikan budaya islam. Paling tidak meruntuhkan budaya “say hai” yang marak di kalangan remaja. Selanjutnya, tinggal mencari cara untuk menghilangkan rasa malu ketika harus mengucap salam kepada orang asing.

(Kalau gak mau makan, nyesel loh nanti pas pulang)
(Jangan balik ke sini kalau gak mau makan)



2 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI