Google+ Followers

Senin, 16 Februari 2015

Bersebab Canda, Kebahagiaan?

Bahagia itu sederhana. Ah basi, tapi bener sih. Sesederhana mengintip kilau embun dengan syukur. Memerhatikannya yang kemudian menguap ke langit, bersama dedoa para pejuang kehidupan. Sesederhana beranjak ke dalam rumah sembari menyanyikan lagu riang. Dan ... sesederhana menatap wajah ibu, yang tersenyum melihat anaknya sarapan dengan lahap.

Namun, banyak orang yang masih terus mencari-cari kebahagiaan. Hingga rela menghamburkan uang, waktu, juga pikiran. Tak jarang yang akhirnya terjerumus pada dunia hitam. Hanya karena ingin mendapatkan kebahagiaan dengan instan. Padahal semua tahu, barang yang diperoleh dengan instan, biasanya juga terlepas dengan cara yang instan.

Perlombaan mencari kebahagiaan juga turut disemai oleh para motivator. Dengan iming-iming kesuksesan finansial, khalayak seolah dibombardir dengan jargon, "Kaya materi itu, bahagia!" Alhasil, semua turut berlomba menumpuk harta. Dengan berbagai cara. Tak lagi peduli apakah itu bersih atau kotor.

Menghadapi persoalan kebahagiaan yang terdoktrin sedemikian. Mari sejenak merenung. Kebahagiaan, hakikatnya merupakan ketenangan hati, bukan? Lantas, jika ditempuh dengan cara-cara kotor, apakah ketenangan hati itu akan diperoleh? Katanya, yang haram saja susah, apalagi yang halal? Eits, itu hanya mind set. Coba tengok kisah nyata berikut,

Di hari pertama kerja, seorang temanku yang bernama Hendik mendapat pertanyaan dari rekan kerjanya, "Ke sini 'dimasukkan' siapa?" Temanku yang hobi fotografi itu pun mengernyitkan dahi. Dengan raut bingung dia menjawab, "Gak dimasukkan siapa-siapa." Sekarang, ganti rekan kerjanya yang mengernyitkan dahi.

Usut punya usut, ternyata di perusahaan tersebut bila tak punya kenalan orang dalam akan sulit terrekrut. Terutama orang-orang yang bermukim di sekitar perusahaan. Akhirnya, mind set yang berkembang di sana adalah, 'Kalau tidak ada yang membawa, jangan harap bisa masuk.' Sedangkan temanku tak mengerti itu. Mind set-nya 'Mari berikhtiar terbaik, mengirim lamaran sebaik mungkin. Masalah diterima atau tidak, dipasrahkannya dalam doa.'

Selain bahagia diartikan harta, ada juga yang mengartikannya dengan canda tawa. Berbagai acara hiburan yang mampu mengocok perut pun menjamur. Bahkan tak jarang yang sampai menggunakan humor-humor kasar menjurus saling ejek. Padahal, humor cerdas selayak Abu Nawas atau Nasruddin Hoja lebih berseni dan berhikmah untuk dinikmati. Ah iya, kalau produk dalam negri, coba tengok sinetron Preman Pensiun.

Ada pula orang-orang yang suka bercanda. Sampai berlebihan, hingga tak mampu membedakan mana yang bercanda, mana yang serius. Alih-alih ingin membuat tertawa, yang ada malah 'garing' dan bikin gondok atau 'illfeel'. Gara-gara salah mengartikan kebahagiaan.

Jika kembali ke makna kebahagiaan adalah ketenangan hati. Maka sebenarnya menangis pun merupakan kebahagiaan. Menangis dalam doa yang terpanjat. Menangis dalam syukur yang menguatkan hati.

Tapi tunggu, apakah memang kebahagiaan yang harus kita cari di dunia ini?
Menilik lebih jauh sebuah doa dari ayat Alquran, "Robbana aatinaa fiddunyaa chasanah, wafil aakhiroti chasanah, wa qinaa adzaabannaar." yang maknanya, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[127].

Selain diciptakan untuk beribadah, ternyata manusia juga dianjurkan untuk mencari kebaikan. Mencari kebaikan? Ya, mencari kebaikan, jika diumpamakan seperti memancing, maka memancing kebaikan umpannya tentu dengan melakukan kebaikan. Sedang bahagia itu hanyalah bonus tersendiri. Kebaikan akan selalu menawarkan ketenangan. Walaupun kebaikan itu membuat kita termusuhi. Apa ada? Banyak! Salah satunya, seseorang yang jujur seringnya tersisihkan. Tapi dia terbebas dari ketakutan akan dosa yang membayangi dan mampu tidur nyenyak di malam hari. Sebuah quote penutup, "Tawa demi tawa yang merajai waktu. Jangan sampai membuatmu khianati tangis." Selamat berawal pekan.

AM. Hafs
Malang, 16/02/2015




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI