Google+ Followers

Jumat, 20 Februari 2015

Adab Pembaca Menyikapi Perbedaan

Adalah berbahaya, ketika memaknai kata tidak pada tempatnya. Yang seharusnya dimaknai dangkal, malah didalamkan, yang seharusnya butuh pendalaman, dibaca secara dangkal. Maka dari itu, memahami isi, sangatlah penting, sebelum komentar terlontar. Apalagi jika hanya terpancing judul. Andai pun menemukan sesuatu yang bertentangan, cobalah jadikan cermin. Lalu mulai melihat diri sendiri di seberang sana.
Seringnya, apa yang ditulis memang dari pemahaman. Maka pertentangan itu perlu jadi pertimbangan. Terutama karakter 'lawan' dalam menghadapi sanggahan. JIka dirasa terlalu beresiko, dalam artian sanggahan hanya mengakibatkan permusuhan. Maka perlu dicari cara lain yang lebih efektif. Sehingga ketika kedua pikiran beradu, yang diniati adalah pencarian titik temu. Bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang menang. Jika belum mempunyai pondasi yang kokoh, berdoa saja. Paling tidak untuk perlindungan diri dan keluarga dari ajaran dan pemahaman yang menyimpang.
Menengok kedua hal tersebut, pentinglah kiranya memiliki guru spiritual, yang jelas sanad keilmuaannya. Yang bisa menjadi bahan rujukan di kala kebuntuan menyapa pikiran. Karena guru yang semisal itu, ketika tak mampu menemukan jawab, beliau akan lari pada gurunya. Jika sang guru telah tiada, beliau akan bertanya guru yang lain atau pada kawan seperjuangan yang memiliki tingkat keilmuan yang lebih tinggi. Sejauh pengalaman penulis, seorang guru yang unggul, biasanya tahu bagaimana 'kebatinan' murid. Wallahu a'lam.
AM. Hafs ‪#‎merenung‬
20/02/2015

1 komentar:

  1. setuju sekali, terkadang kita membaca tulisan berdasarkan judulnya.. bisa ketebak isinya apa :D

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI