Google+ Followers

Rabu, 21 Januari 2015

Putus Asa

Ini kali pertama Bimo keluar rumah. Dua minggu terakhir, bocah sebelas tahun itu mengurung diri di kamar. Kepedihan akan kepergian bunda tercinta membuatnya enggan melakukan apa-apa, berangkat sekolah pun tak pernah. Anto, teman sekelasnya sekaligus tetangga sebelah rumah, mengajaknya ke lapangan. Bermain layang-layang, seperti sore yang sudah-sudah sebelum Bimo meringkuk dalam kesunyian. Dengan berat Bimo mengikuti kaki kecil Anto yang berlari-lari menuju teman-teman lainnya yang tampak dari kejauhan sedang asyik menatap langit, ada banyak layang beradu diterpa angin.


“Kenapa? Sudahlah jangan sedih terus. Ini, mainkan!

Bimo bungkam. Tangannya mengambil bol dan mulai mengulurnya. Tanpa menunggu hitungan menit, angin sudah membawa layangnya terbang. Begitu juga dengan layang-layang milik Anto.

“Konon katanya, bila kau menuliskan sebuah permintaan lewat surat untuk orang yang sudah tiada, beberapa hari ke depan, permintaanmu akan terkabul.”

Bimo menatap Anto penasaran. Bola matanya menyala-nyala.

“Benarkah?”

“Buat apa aku berbohong. Bulan lalu, kau ingat kan? Ulang tahunku … Kuminta sebuah buku tulis … pada ibu … tiga hari kemudian, aku menemukan apa yang kuminta di bawah bantal.”

“Ah, itu ayahmu yang membelikan.”

“Mana peduli ayah padaku? Yang ia tahu hanyalah pergi pagi pulang malam. Kau tahu … buku tulis itu sekarang hampir penuh. Setiap malam aku menulis surat untuk ibu. Buku itu terbuka lebar … dan aku bisa leluasa meminta … ada lagi yang mesti kau tahu … aku menuliskannya hanya dalam mimpi … sebuah tangga menghantarkanku menuju ibu.”

“Lama-lama kau gila ya, Anto …
Bimo mengalihkan pandangan. Layang-layang menari tertiup angin. Mata Bimo menatap ke langit biru. Manik matanya membayang wajah wanita yang sangat ia rindukan.

“Aku tak gila. Kau bisa mencobanya. Kau kangen bundamu, kan?”

“Sesungguhnya, ya …”

“Aha … nanti kuberi selembar kertas dari buku yang diberikan ibuku. Kau tulislah pakai kertas ajaib itu.”

Bimo melihat Anto sambil tersenyum.

“Kenapa?”

“Tidak … hanya … aku yakin kau benar-benar sudah gila.”

“Kenapa begitu?” Anto menatap bingung ke arah Bimo. Angin bertiup agak kencang. Layang-layang Anto mulai goyah.

“Ibumu tak ada di tempat yang sama dengan bundaku. Ibumu tak ada di surga dan tak sedang membaca surat-suratmu. Ibumu pergi sama laki-laki yang bukan ayahmu!”


“ …”

Layang-layang Anto putus seketika.


#Mencoba menulis kembali ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI