Google+ Followers

Sabtu, 31 Januari 2015

Ow ... Ow ... Siapa Dia? Episode 6


Hai ... hai ... jumpa lagi ....

Maafkan ketidakhadiranku selama beberapa hari ini. Selain penyakit malas menyerang, juga disibukkan oleh tumpukan naskah yang minta dibelai.



 Kali ini siapa ya yang akan kita korek kehidupannya? Aha, kocok arisan dulu. Jreng ... jreng ...

Oh No!!! masa yang keluar namanya si Yayah?! ahahaha No No No.
 Kocok lagi ah. Jreng jreng ... Yippie, inilah dia ... Mau tahu? Apa mau tempe?
Heheh kali ini yang kita ajak ngobrol adalah seorang ibu muda yang lagi giat-giatnya belajar menulis di Kelas Online LRF. Ssst ... setahuku mbak ini agak susah diajak ngobrol. Aku sempat serem soalnya pernah baca krisannya di salah satu postingan sahabat LRF, mbak ini agak pedes juga loh. Tapi mari kita coba yuk kenali lebih dalam lagi seorang Jeli Manalu. Ada yang belum kenal? Yuuuk




Mbak Jeli, banyak nih yang belum kenal siapa sih seorang Jeli Manalu,  bisa cerita sedikit gak tentang diri Mbak?

Aku? Hehe… Aku hanya mau dan akan mau menceritakan tentang diriku kepada seseorang yang mungkin tidak terlalu aktif melihatku. Maksudku-- hanya menceritakan yang pantas aku ceritakan dan menyimpan segala yang pantas untuk disimpan. Tidak dengan mudah mengutarakan isi-isi di hati, mungkin kategori makluk yang tidak terlalu lihai dalam mengutarakan sebuah keinginan. Aku punya prinsip tidak mau terlalu dekat dengan siapa pun. Semua biasa-biasa saja. Sebab terkadang beberapa orang yang terlalu dekat, akan memiliki kerumitan-kerumitannya sendiri. Kau akan merasa rumit untuk ikut-ikutan bahagia. Kau akan merasa rumit untuk menyamai kesetaraan. Mungkin kau akan berhutang ketika teman-temanmu mengajakmu berbelanja, dan sebagainya dan sebagainya. Ibarat kayu yang tumbuh dalam wadah yang sama, ketika angin melanda, maka gesekannya akan menimbulkan bunyi.

Wuih mantap nih, perumpamaannya

Aku lebih cenderung ke keadaan apa adanya. Keadaan yang sesungguhnya. Keadaan yang semestinya.
Serius amat ya, Mbak?

gak-gak, malah seneng serasa berbicara tentang filsafat hidup

Aku ini tipe manusia yang gampang moodi. Ummm, cukup galak tapi suka humor, terkadang cerewet, Tidak suka teh manis tapi suka camilan manis. Aneh gak?

Wah, aku jangan lama-lama nih di sini, bisa-bisa aku dijadikan camilan juga, aku kan manis wkwkwk

Aku juga punya masalah dengan tidur. Lebih suka mendengar musik dari pada menonton. Film yang disukai adalah film-film Korea, Thailand, barat seperti film kolosal-romance, keluarga dan tidak tentang robot-robot atau alien. Dan tidak pada sinetron-sinetron kita.

Wah, sama kita Mbak. Sinetron lebih banyak nonton aku ketimbang aku menontonnya

Memiliki seorang anak perempuan berusia 2,5 tahun yang kata orang-orang sama centilnya dengan aku. Hahahhaah… Penyuka warna-warna natural: Hitam, putih, cream, hijau, warna-warna tanah. Tidak terlalu suka ngumpul-ngumpul Diam-diam suka mempelajari orang-orang. Diam-diam suka merhatikan fasion korea Diam-diam …. Hah, terkadang aku pendiam.

Glodak, ujungnya itu lohhh … Hahhaha ya ampun, detail banget ... ternyata ... Mbak Jeli super juga. Aku mengenal mbak Jeli dari KbM, nah yang jadi pertanyaanku, sejak kapan suka menulis?

Aku juga mengenalmu di KBM, Mbak. Orang-orang bilang fansmu banyak. Yang terakhir kulihat dirimu sangat perhatian dengan orang-orang. Pun kulihat dirimu seseorang yang murah hati. Kau seorang dermawan di zaman ini. Salut padamu!

Hiyaaa, malah nyalutin aku hahhaa

Bicara soal menulis, mungkin sejak SD secara tidak sadar sudah menyukainya tapi tidak ada yang mengarahkan barangkali. Rumitnya kehidupan mungkin. Lalu ketika SMA tepatnya SMK, Mbak aku jurusan desain grafis gitu. Belajar mengenai sejarah percetakan, tentang johannes guttern barg. Cetak datar, cetak tinggi dan sebagainya, akhirnya ketika kelas dua aku magang si salah satu media cetak swasta di Medan selama 6 bulan. Dikarenakan medianya termasuk baru beberapa tahun berdiri, mungkin belum banyak penulis yang mengirimkan karyanya ke sana. Lalu, sekretarisnya bilang, "Adek-adek, jika ada diantara kalian yang mau mengisi rubrik.." apa ya, aku lupa sebab udah 14 tahun lalu, silahkan ditulisan, nanti diedit langsung sama bapak-bapak di bagian redaktur." Ya udah Mbak, aku coba. Kalau tidak salah waktu itu mungkin ada nulis 3 atau berapa cerpen ya dan beberapa puisi. Bahagianya, Mbak. waktu itu ada seseorang yang tidak dikenal ngirim surat padaku. Senang donk, Mbak. Itu kan fans namanya.

Waahhh kereeennnn Ihh gak bilang2 kalo pernah di percetakan, kan bisa bantuin di LovRinz gituuu

Itu udah lama, Mbak. Aku udah lupa. Sudah kutinggali sejak tahun 2009
Tapiiiiiiiiiiiii sejak dari situ, sejak aku tamat hingga bertemu dengan KBM akhir tahun 2013, selama itu pula aku bagai di telan tanah. Aku sudah tidak meneruskannya. Aku tidak memahami apa tujuan dari menulis itu. Apakah aku bisa makan dari menulis, apa bisa melanjutkan hidup dari menulis?

Wuih … pernyataannya bikin jleb banget. Apakah aku bisa makan dari menulis? Apa bisa melanjutkan hidup dari menulis? *mikir keras
Oh ya, aku beberapa kali baca tulisan-tulisan Mbak Jeli, *menurutku daya imajinasi mbak itu tinggi dan punya ruang sendiri yang kadang sulit untuk ditembusi. Siapa sih atau dari mana sih mbak belajar menulis yang kerap ada lompatan2 yang baru bisa kupahami setelah 2-3 kali baca? Seperti teka-teki tulisan mbak ituu

Siapa ya? Kuharap masih banyak lagi yang akan aku sukai dari kawan-kawan sekalian. Pada dasarnya aku lebih tertarik membaca buku-buku nonfiksi walau sesungguhnya buku yang kubaca masih jauh dari kata cukup. Selain itu aku juga suka membaca artikel tentang kesehatan, Mbak. Menurutku tulisan fiksi sekalipun di dalamnya itu tidak semata-mata untuk hiburan, selain pesan tentunya, menurutku akan lebih baik apabila tulisan itu mampu menambah ilmu pengetahuan bagi pembacanya. Misalnya jika dalam kisah tentang seseorang yang sakit kanker, sebutkanlah terapi-terapinya. Hal-hal yang harus kau hindari.
Dari yang sudah kubaca, buku Andrea Hirata, Mira W. cerpen, Norman Erikson Pasaribu, Pringadi Abdi Surya, Seno Gumira, Putu Wijaya, dan beberapa yang aku tidak hapal nama mereka
Tapi, Mbak, aku adalah seseorang yang kurang tekun. Terkadang tanpa sebab atau juga kadang-kadang memiliki sebab, tulisan-tulisanku menjadi tidak kusukai. Biasanya terjadi, ketika aku melihat tulisan-tulisan yang bagus.

Kalau menulis, mbak Jeli ini tipe orang moody-an atau enggak? Kalau iya, gimana cara mbak mengalahkan 'kemalasan' dalam menulis?

Terkadang masalahnya bukan hanya di Mood aja sih, Mbak. Misalnya, sedang tekun menulis lalu orang-orang datang berbelanja padahal ide lagi di ujung jari nih. Lalu, setelah meneliti diri sendiri, kemungkinan tipe seperti diriku adalah, jangan pernah meninggalkan tulisan selagi panas karena jika menjadi dingin ya itu, sama dengan nasi yang menjadi dingin. Kau tahu kan, aku tidak akan mungkin menyukai nasi yang sudah dingin

heheh ya, perumpamaan yang cocok. Siapa sih yang suka makanan dingin heheh
         
             hahahhah, minuman-minuman dingin saja sangat jarang aku konsumsi. Hahaha
           
            Wah, kalau itu mah aku doyan … apalagi dingin, dan manis, cocok banget untuk cuaca
           panas seperti di Cirebon ini hehehe
nah berhubung waktu mbak banyakan di toko--pasti keganggu sama pembeli, ada resep jitu gak buat mensiasati keadaan seperti itu?
 
Pokonya tulisan itu, kalau bisa harus kuselesaikan dalam dua tiga hari. Tapi ada juga lebih dari seminggu, tapi ya itu sudah kehilangan soulnya. Tapi Mbak perlu kau ketahui bahwa hingga kini belum ada karya yang kuciptakan dengan target. Sempat ikut dalam kolaborasi novel sekitar 4 bulan lalu, tapi yah itu, mengambang. Jujur, kepala menjadi pening, dan rada prustasi.Sebab pengalamanku menulis karena terpaksa, tertekan atau ambisi pada keadaan tertentu malah akan membuat otak tidak dapat memproduksi hormon-horman imajinasi. Saat ini, hanya fokus belajar dulu saja. Belajar merangkai kata, belajar menciptakan kata-kata sendiri, belajar membuar perumpamaan-perumpaan (metafora)...

wahhh, butuh perjuangan ektra ya buat jadi penulis beneran. Belajar, dan tak pernah berhenti.
Pernah ada kendala gak dengan suami atau keluarga, saking hebohnya mbak dengan dunia menulis?

Suami? Udah pasti bangetlah, Mbak. Pernah, oh bukan, tapi sering bahkan cukup sering ia memberiku gelar baru si wanita gila, kepala batu. Ketika kukatakan, butuh waktu lima tahun untukku supaya benar-benar dapat menuliskan sesuatu. Dia menjawab, "jangan habiskan waktumu untuk itu". Terkadang beliau mengatakan lagi, "menjadi penulis tidak akan membuatmu kaya." Tapi aku tahu, di sana ketika bertemu dengan teman-temannya bahkan ibu-ibu satu kumpulan kami, dia sering merasa bangga, di saat istrinya mendapat pujian."
Beliau sangat tidak sabar menanti-nantikan karyaku yang sungguh-sungguh muncul, katakanlah di koran. Tapi aku tidak terlalu mengambil pusing, aku malah giat memperkaya ilmu. Sebenarnya, dia hanya mengkritik ketika aku berlama-lama di depan layar. Mungkin bentuk perhatian kali ya, Mbak?

Hehhehe, iya mbak. Itu bentuk perhatian nyata dr suami. Sebelas dua belas lah sama suamiku hahhha. Butuh waktu untuk ia benar2 melepaskan kita buat menulis segila mungkin buat kita hahhaha
Aku yakin kok, dengan modal imajinasi yang mbak punya, media cetak akan membuka pintu buat tulisan-tulisan mbak
Pertanyaan penutup deh sekalian. Ada pesan gak buat sahabat LovRinz yang juga memiliki impian yang sama seperti mbak, dalam menulis?

Apa sudah bisa memberi pesan ya, Mbak. Sebab merasa belum jadi apa-apa. heheh
Mungkin yang bisa kusampaikan sejauh yang sudah aku alami adalah: - Kenali dulu dirimu. Tentu seseorang pergi dikarenakan sebuah tujuan tertentu. Seseorang yang berhasil versiku adalah seseorang yang tahu apa yang dia mau.
Kemudian, ini termasuk saran untukku sendiri yaitu: tangga-tangga tertinggi kau dapatkan setelah melewati tangga-tangga pertama. Ketika kau ingin melompat dengan segera ke ketinggian-- bukan tidak mungkin kau akan terjatuh--lalu kakimu akan remuk

kereeen. *bercermin juga deh aku jadinya.
Dari obrolan kita, aku mengenal mbak Jeli yang lain. Selama ini kesanku mbak Jeli itu rada kritis, agak galakan juga. Hehhehe ternyata mbak Jeli ramah, smart juga. Kata-kata yang keluar itu penuh hikmah. Ini kayaknya cocok buat dijadiin teman tukar pikiran. Hehehhe
Satu pertanyaan terakhir boleh yaaaa
Seberapa besar harapan mbak atas anugerah talenta menulis yang diberikan pada diri mbak? Ada target gak?

Aku orangnya termasuk detail juga, Mbak. kadang humble, kadang-kadang juga kiding-kiding. hahah
Harapan? Harapan adalah ketika kita melakukannya maka ada banyak harapan di sana. Sejauh ini target sih belum ada.
Hanya saja akhir-akhir ini setelah makin menyimak buku-buku, mencoba merenungi diri--Memegang kitab dengan jantung berdetak--menghubungkan yang satu dengan yang lain, tentu aku merasa, begitu banyaklah kelemahanku. Lalu timbul pertanyaan "Maka benarlah, jika dulu orang-orang sebelum kita tidak rela merelakan hidupnya untuk mencatat segenap kejadian semesta-- bisa jadi kita yang sekarang bukanlah kita"

T.T aku selalu takjub dengan kalimat-kalimat mbak Jeli
seriusan. Jempol deh mbak.

Ini berkatmu mbak, Rina. Setiap orang akan menyelamatkan yang lainnya. Setiap orang akan mempengaruhi yang lainnya. 4 jempol buatmu

Aih, mbak jeli bisa aja ... hehehe
eh satu lagi ... hehehe *dari tadi satu lagi satu lagi ...

Satu hal yang perlu kamu ketahui, Mbak Rina. Basicly aku cukup pemalu. Terkadang aku suka menyendiri untuk mendengarkan musik-mencatatnya-lalu menyanyikannya...
Terkadang aku juga suka belajar memasak

wah ... Sama lah ,... aku juga pemalu. Heheheh
Eh aku malah gak bisa masak. BAgi resep dunk... *aku suka malu kalau hari-hari tertentu Yayah tiba-tiba sibuk sendiri di dapur. Maasakannya gak kalah dari masakan resto ... T.T

Aku merasa cukup beruntung, sepertinya orang-orang yang aku temui semunya orang berhati baik.
Hah? Lho, suamiku juga suka protes tentang masakan. Bahkan menurutku beliau tidak akan mau menu yang itu-itu saja. Ada kalanya dia memasakkan Mie lalu membaginya untukku. Terkadang dia sibuk mengulek cabai di dapur. ahahha

hahahha ya ampun suaminya samaan. kayaknya kalo dua suami kita ngumpul pada perang ulekan di dapur hahaha
eh tadi aku mau tanya 1 lagi hahah sampe lupa. Dari sekian banyak genre, manakah yang begitu menggambarkan diri mbak Jeli?

Genre itu apa ya, Mbak? Apakah itu sejenis penghangat tenggorokan?
Mungkin dewasa ya, Mbak?

Ahhahaha itu jenis tulisan mbak. Lebih suka jenis tulisan yang bagaimana?

Tulisan itu yang bagaimana ya? Sering dengar tentang genre tapi tidak begitu memperhatikan. Mungkin yang Romantic-Family
Apakah kepalaku sedang tidak menyimak?

Hehheheh nah itu mungkin ya. Hihihi tampaknya si mbak sudah mulai mengantuk deh.
Oke deh kayaknya cukup segitu untuk wawancaranya. Makasih ya mbak Jeli atas waktu yang sudah diberikan. Sambil jaga-jaga toko, nyambi ngurus anak, dan ditinggal bobo juga hihihi. Sukses selalu untuk mbak Jeli, semoga dalam waktu dekat bisa diberi hadiah istimewa sama suami karena karyanya ada yang masuk Koran. Aamiin.

Amin. 
Jeli Manalu's Family
Mbak Jeli ini fotogenik loh ... *bakat jadi model
Yang mau kenalan lebih dekat, atau sekadar sharing dengan mbak yang ajib banget kata-katanya, silakan ketuk jendela FBnya ya.

*sekarang mau lanjut ngebelai naskah-naskah lagi.

Sampai jumpa di Ow Ow Siapa Dia? edisi selanjutnya.

3 komentar:

  1. kereen. Kalau fiksi bisa masuk kategori dialog cerdas :o

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mAs Agus. Dialog-dialognya cerdas dan berbobot. Bangettt

      Hapus
  2. (h) Amazing Jeli Manalu. Karya2 nya makin bagus, tulisannya makin cemerlang. Keep Spirit. U Can Do It. Karya 1 mu milik ku. Heheheheh :)

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI