Google+ Followers

Rabu, 21 Januari 2015

Antara Kemiskinan dan Fitrah Wanita



Hati siapa yang tidak bergetar, menyaksikan pemandangan yang ada di pelataran sebuah mall, di tengah terik panas sinar matahari, tampak seorang wanita sedang mengatur lalu lintas parkir mobil dan motor yang begitu banyaknya. Tak jauh dari situ, seorang anak kecil duduk termangu. Barangkali itu anaknya, yang diajak bekerja oleh si wanita. Entahlah, mungkin karena di rumah tidak ada yang membantu mengasuh sehingga anak kecil pun harus diajaknya bekerja pula.
Ironis. Kalau dulu pekerjaan sebagai tukang parkir hanya dilakukan oleh laki-laki, maka sekarang banyak wanita yang kemudian mengerjakan pekerjaan tersebut. Bahkan tidak hanya sebatas pada tukang parkir saja. Hampir semua pekerjaan telah bisa dikerjakan oleh kaum wanita. Menjadi satpam, kuli, tukang becak, cleaning service, pedagang keliling, dan sebagainya.
Ketika ditanya, mengapa para wanita ini mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar seperti itu, jawabannya rata-rata sama. Mereka ingin membantu perekonomian rumah tangganya. Ada lagi yang justru ekstrem, mereka ‘menggantikan’ tugas suaminya. Entah karena suami tidak mau bekerja, penghasilan kurang mencukupi, ataupun malah disuruh oleh suaminya.
Jika ditelusuri lebih jauh, pergeseran peran ini adalah akibat dari kemiskinan yang berkepanjangan. Meskipun teorinya fakir miskin dan anak-anak terlantar di bawah pemeliharaan negara, namun pada praktiknya tidaklah demikian. Para fakir miskin ini harus menanggung hidup sendiri, betapa pun beratnya. Karenanya, akan terlalu berat jika hanya satu orang saja yang bekerja dalam kehidupan rumah tangga (suami).
Wanita. Mereka sejatinya sudah memiliki peran sendiri, yakni mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak. Itulah peran yang sudah digariskan syari’at. Jika masih harus ikut menanggung beban nafkah, apatah lagi sampai mengorbankan peran yang seharusnya, alangkah ironisnya. Siapakah yang harus menanggung dosa atas semua ini?
Allah Ta’ala telah berfirman, “...dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.” (QS Al Baqarah: 233). Cukuplah ayat ini menjadi dasar tentang kewajiban seorang ayah (suami). Bahwasanya urusan nafkah merupakan urusan laki-laki, bukan wanita. Sebab, para wanita pun punya kewajiban yang harus dipenuhinya. Dari Abdullah bin Umar ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda, “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggungjawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya, dia pun bertanggungjawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggugjawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari)
Sangat jelas sabda Rasulullah saw di atas. Tanggungjawab wanita adalah mengurusi rumah dan anak-anaknya. Kelak, para wanita akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya tersebut. Oleh karena itu, tidaklah dibenarkan bila wanita bekerja mencari nafkah sampai mengorbankan perannya walaupun di atas status kemiskinan. Wallahu a’lam bish showab.


info mengenai percetakan buku murah bisa klik di sini

2 komentar:

  1. Berlabel emansipasi wanita, kaum Hawa kini meninggalkan rumah dan bahkan sebagian telah melampaui kodratnya. Menjadi tanggung jawab pemimpin untuk kembali menempatkan para wanita di makomnya yang tertinggi sebagai pencetak kader umat. Solusinya sederhana, semua perempuan wajib nerimo apa adanya dan setiap laki-laki harus bertanggung jawab pasti beres hehe...

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI