Google+ Followers

Sabtu, 24 Januari 2015

Aliran-aliran dalam Sastra

   Selamat pagi, kali ini penulis akan mengenalkan beberapa aliran dalam sastra, sambil menikmati secangkir kopi dan teh atau menikmati suasana pagi yang terang benderang tanpa mega mendung sepertinya asyik jika diselingi dengan membaca. Hemz tarik napas dulu, biar ngak syok nanti bacanya (hehehe),okey kita mulai, bersedia siap, action :  aliran dalam sastra ini merupakan sikap jiwa dan pandangan hidup yang menjadi haluan dan dasar penciptaan karya sastra yang dimiliki oleh setiap pengarang. Aliran sastra ini sangat ditentukan oleh corak jiwa dan sikap hidup dari masing-masing pengarang. Dapat pula dikatakan bahwa aliran sastra merupakan keyakinan yang dianut golongan pengarang yang sepaham, yang diciptakan untuk menentang paham dan aliran lama.  Berikut aliran-aliran tersebut, kita intip yuks dan kita pahami termasuk kedalam aliran mana karya-karya kita ;) baik karya sastra cerpen, puisi, pantun, dan lain sebagainya  :
1. Realisme
    Realisme adalah salah satu aliran dalam sastra yang memperlihatkan seni yang objektif dengan pelukisan sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, secara teliti, tanpa dicampuri tangan oleh tafsiran, gagasan, atau wawasan dari pengarangnya.  Dalam hal ini pengarang tidak akan menaruh simpati atau memperbagus maupun antipati, memperjelek orang dalam keadaan yang dilukiskan, seperti terlihat pada cerpen "Pada Titik Kulminasi" karya Satyagraha Hoerip.
             Dalam aliran realisme masih dibagi menjadi empat aliran lagi, yaitu :
a. Impresionisme
Impresionisme adalah realisme yang berusaha melukiskan suatu kesan umum atau sepintas yang diperoleh tanpa menyelami inti isinya. Kesan sesaat berupa gambaran kasar terhadap yang diamati oleh pengarang atau pelukis. Impresionistis tergambar pada cerpen karya Ras Siregar berjudul "Air".
b. Naturalisme
Naturalisme adalah lukisan realisme yang berkisar pada keburukan-keburukan yang dijumpai dalam masyarakat. Aliran ini berusaha melukiskan kehidupan manusia dengan segala seluk-beluknya, bahkan sampai pada segi hewani dari pribadi manusia yang jorok dan mesum. Naturalisme ini cenderung mengungkapkan keburukan dan kebobrokan yang terjadi dalam masyarakat, hal-hal yang dahulu dianggap tabu diangkat dalam aliran ini. Tokoh dalam aliran ini adalah seorang Perancis bernama Emile Zola (1840-1912) dengan salah satu karyanya yang terkenal yaitu "Germani" (Tambang), sedangkan tokoh dari Indonesia adalah Armin Pane (Angk. PB), selain itu ada W.S.Rendra dengan karya "Nyanyian Angsa".
c. Neo-naturalisme
Aliran baru ini berusaha mengungkapkan segi positif dari kehidupan manusia, disamping segi-segi negatifnya.Tokohnya ialah Idrus dengan karya berjudul "Hati Nurani Manusia" dan "Tak Putus Dirundung Malang" karya STA.
d. Determinisme
Aliran realisme yang melukiskan jalan hidup manusia yang ternyata sangat dipengaruhi oleh nasibnya. Nasib dalam determinisme adalah  dipengaruhi oleh kondisi masyarakat sekitar, bencana alam, penyakit, kemiskinan, darah keturunan, dsb.
2. Ekspresionisme
           Aliran ekspresionisme mengutamakan pengungkapan jiwa pengarang. Dalam aliran ini, pengarang akan mengungkapkan apa yang bergejolak dalam dirinya, sehingga bahan utama dalam aliran ini adalah gejolah batin pengarang itu sendiri. Pada puisi yang bercorak ekspresionisme, penyair tidak sekedar bercerita tetapi berteriak. Hal itu terlihat dalam puisi Chairil Anwar berjudul "Pelarian".
                Cabang-cabang aliran ini adalah :
a. Romantisme
Lebih mengutamakan perasaan, pengucapan cenderung diwarnai pada hasrat terhadap alam yang luas, tempat yang masih suci bersih (H.B.Yassin), salah satu ciri romantisme menurut Aoh Karta Hadimadja adalah tokoh-tokonya suka membunuh diri karena terlalu kuat dihinggapi perasaan. Tokoh-tokoh romantisme dunia yang sangat mengagumkan adalah Victor Hugo, Daniel Defoe, Wolter Scott, Shelly terkenal karena romantisme merekea tidak hanya berlandaskan perasaan, tetapi berakar pada pikiran, ilmu pengetahuan, dan pandangan hidup yang luas dan dalam. Di Indonesia sendiri, romantisme nampak pada karya-karya angkatan Balai Pustaka.
b. Simbolisme
Aliran yang melukiskan sesuatu secara tersembunyi atau dengan terselubung. Pengarang-pengarang zaman Jepang senang memakai gaya simbolik karena kondisi politik saat itu. Misalnya Marya Amin, Ajib Rosidi, dan M.S.Ashar, dll.
c. Idealisme
Aliran yang bertumpu pada cita-cita demi kemajuan bangsa, negara, dan tanah air di masa mendatang. Kadang-kadang cita-cita terlampau membumbung tinggi. Idealisme karangan yang berkelana dalam cita-cita dan bayangan masa depan yang indah. Tokohnya adalah STA dengan karya "Layar Terkembang".
d. Surealisme
Aliran yang tidak hanya mengungkapkan realita alam benda saja, tetapi juga alam bawah sadar untuk mengemukakan suatu kenyataan secara lebih luas, meliputi kesadaran dan ketidaksadaran, seperti objek-objek dalam mimpi keadaan jiwa antara tidur dan jaga. Ada dalam karya Yudhistira ANM Massardi.
e. Mistisisme
Sastra yang berusaha melukiskan suatu keadaan jiwa kepada wujud keilahian atau kebenaran yang paling akhir, persatuan dengan yang paling tinggi. Jadi, aliran ini aliran yang mendekatkan diri dan jiwanya ke alam ketuhanan. Pada karya A.A. Navis dalam "Robohnya Surau Kami" dan"Kemarau" karya M.Ali.
f. Psikologisme
Mengungkapkan suatu kisah berdasarkan gerak-gerikjiwa para tokohnya.Contoh karya-karyanya dalam "Jalan Tak Ada Ujung" dan "Harimau-harimau" (Mochtar Lubis), "Belenggu" (Armin Pane), "Atheis" (Achadiat Kartamihardja), dan "Korupsi" (Pramoedya Ananta Toer).
g. Eksistensialisme
Aliran yang berpendapat bahwa manusia membentuk dirinya sendiri sesuai dengan jalan hidup yang dipilihnya sendiri, sebab itu manusia harus bertanggug jawab pada keberadaan dirinya sendiri. Terdapat pada karya-karya Chairil Anwar.
3. Humanisme
          Aliran zaman Renaissanse yang menjadikan sastra klasik (dalam bahasa Latin dan Yunani) sebagai dasar dari keseluruhan peradaban . Aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan kehidupan yang lebih baik. Secara khusus, humanism adalah aliran intelektual di Eropa Barat selama abad ke-15 dan ke-16. Humanis yang terkenal di zaman itu adalah Erasmus dan Thomas More. Mereka menekuni karya-karya filsafat dan sastra. Baru pada abad ke-18, humanism mulai memutlakkan keotonomian manusia.
4. Dadaisme
             Gerakan seni dan sastra awal abad ke-20 yang berdasar pada kebebasan total dan pertentangan terhadap aturan, cita-cita, dan tradisi. Mula-mula muncul di Swiss sekitar 1913. Dadaisme berasal dari omongan seorang bayi yang belum terartikulasi. Dianut oleh sejumlah seniman di Eropa Barat antara 1916-1925. Dadisme sama sekali tidak mau menghasilkan apapun. Sama seperti puisi kontemporer.

sumber : makalah sejarah sastra.


info percetakan buku klik di sini

2 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI