Google+ Followers

Sabtu, 01 November 2014

Suara Sunyi, Lahir dari Jemari Seorang Rose Widianingsih

Pertama mengenalnya, aku dalam keadaan kacau balau. Pertengahan 2010 ... musim hujan, yang jatuh deras dari dua bola mataku.

Tak ada yang istimewa selain kata Ningsih yang melekat di ujung nama kami. Begitulah yang kuingat saat percakapan pertama kali ketika mengunjungi kediamannya. Tak ada yang istimewa, sebelum aku masuk ke kamarnya.

Luar biasa. Aku melihat kucing berlompatan dengan riang, menangkap ikan-ikan yang keluar dari lantai kamarnya. Mawar yang tumbuh subur di dinding. Ulat yang bermetamorfosis dengan indahnya menjadi kupu-kupu lalu hinggap di rambut panjangku. MAsih banyak lagi, tak mampu kutulis semua di sini, tapi melekat kuat dalam ingatanku. Bagaimana semua hal ajaib dari ruang kecil, bahkan tak ada 3x3 meter itu, terangkai dari aksara menjadi sebuah kisah yang unik.

Sungguh aku mengaguminya--bukan hanya karena ia sediakan bahunya untukku menangis.

Lama tak berkomunikasi dengannya ternyata diam-diam ia tetap berkarya. Sempat sedih karena tak kutemui ia ber-fb ria seperti dulu, tak bisa curhat-curhatan lagi ..

 Dan ... Suara Sunyi, bisa kubaca sambil memendam kerinduan.

Di antara sekian banyak tulisannya ... kuambil satu buah untuk kusemat di sini ...

Pepatah

Surga di telapak kaki ibuku pasti berdebu. Kubayangkan macam apa rasanya kalau aku jadi ibu, surga menempel di telapak kaki, mungkin lengket macam ampas permen karet, kenyal, berbau manis, berkilau, berwarna pucat, tak mau lepas, membuatku sulit melangkah. Sepatu saja bikin kakiku mengapal kasar, bagaimana dengan surga, terlalu mewah.

Aku tak sanggup. Betapa berat melangkah sambil membawa surga. Kalau terinjak terlalu keras bagaimana? Surga bisa pecah. Tak apa kalau cuma surgaku saja yang pecah, aku pasrah. Tapi bertapa ngeri kalau sampai kupecahkan surga anak-anakku. Dengan apa bisa kuutuhkan lagi. Kakiku pasti juga berdarah-darah, dinding surga mungkin sebening kaca.

Duh, Ibu, siapakah yang pertama menuliskan pepatah itu, surga di bawah telapak kaki ibu. Aku terus berpikir dan bertanya-tanya sambil menggosok sepatu anakku. Lumpur dan debu berjatuhan mengotori tanganku.

2011 - Suara Sunyi Halaman 81.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI