Google+ Followers

Kamis, 20 November 2014

Masih, kau tanyakan seberapa merah hatiku untukmu.

Masih, kau tanyakan seberapa merah hatiku untukmu.

Pedih, pedihlah seluruh atmaku. Tentang detik yang berdetak iringi langkah kaki kita. Tentang ribuan tetes air mata yang jatuh luruh dari bening manik cahaya. Tentang urai canda yang terlepas dari bibir. Tentang semua itu, masih saja kau bertanya.

Lalu dengan apa kutunjukkan, semerah apa hatiku untukmu. Tiada kau percaya, bahwa setiap kepingnya adalah milikmu. Dengan apa kutunjukkan?

Kau selalu berkata, tak ada cinta di hatiku untukmu. Bila ini bukan cinta, lantas kauanggap apa aku masih di sini? Kewajiban? Seperti kewajibanmu masih di sampingku selama ini? Apakah itu berarti, sesungguhnya kaulah yang tak pernah memiliki cinta untukku di hatimu?

Pedih, pedihlah aku …

Setiap kali kakiku berjejak, selalu ada retak. Betapa aku mencoba kuat berdiri. Walau di ujung tapak terpancang duri. Ini luka tiada yang tahu. Kusimpan rapat-rapat. Kusulam penuh kasih, hanya untuk menjaganya tetap merah. Merah untukmu.

Merah yang tak pernah sampai ke bola matamu. Merah yang tak pernah terlihat dari hatimu. Seberapa merahkah hatiku untukmu?

Malam ini, bukan hanya kau yang mempertanyakan itu. Aku berulang kali bertanya pada hatiku. Seberapa merahkah ia untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI