Google+ Followers

1. Pukul dan Jam.
Dua kata ini memang punya hubungan sangat dekat tapi sebenarnya berbeda makna. Pukul adalah kata yang menunjuk pada waktu. Misalnya pukul 10 pagi. Sedangkan jam adalah benda yang menunjukkan waktu. Misal jam dinding dan jam tangan. Jadi tidak benar kalau kita menyebut jam 10 pagi. Contoh paling enak sih begini, “Jam dinding itu menunjukkan pukul 10.”

2. Imbau, bukan himbau
imbau /im·bau/ Mk v, mengimbau /meng·im·bau/ v 1 memanggil; menyebut nama orang; 2 meminta (menyerukan) dng sungguh-sungguh; mengajak: pemerintah ~ masyarakat untuk turut menjaga kelestarian hutan;
terimbau /ter·im·bau/ v terpanggil: tidak disangka-sangka ~ lah namanya di antara nama-nama orang terkenal itu;
imbauan /im·bau·an/ n panggilan; permintaan (seruan); ajakan: tiap bulan ia pulang kampung krn ~ sanak saudara dan alam tempat ia dilahirkan;
pengimbauan /peng·im·bau·an/ n proses, cara, perbuatan mengimbau

3. Saksama, bukan seksama

saksama /sak·sa·ma/ a 1 teliti; cermat: surat-surat itu diperiksanya dng --; semuanya dikerjakan dng --; 2 tepat benar; jitu: segala pertanyaan dijawab dng --; kita harus mendidik anak-anak agar biasa mengerjakan hitungan dng --;
kesaksamaan /ke·sak·sa·ma·an/ n kecermatan; ketelitian

4. Utang, bukan hutang
utang n 1 uang yg dipinjam dr orang lain: membayar -- di bank; 2 kewajiban membayar kembali apa yg sudah diterima: -- budi dibawa mati;-- emas boleh dibayar -- budi dibawa mati, pb budi baik orang hanya dapat dibalas dng kebaikan pula; -- selilit (sebelit) pinggang ( -- tiap helai bulu), pb utangnya banyak sekali;
-- budi mendapat kebaikan hati dr orang lain dan wajib dibalas;
-- kayu ara utang yg tidak akan dibayar;
-- nyawa tertolong hidupnya; dapat hidup krn pertolongan orang;
-- piutang (uang) yg dipinjam dr dan yg dipinjamkan kpd orang lain;
berutang /ber·u·tang/ v mempunyai utang (kpd): kpd teman-teman, saya tidak ~ sesen pun;
mengutangi /meng·u·tangi/ v memberi pinjaman uang kpd; memberi pinjaman barang spt memberi pinjaman uang;
mengutangkan /meng·u·tang·kan/ v meminjamkan uang atau benda kpd seseorang; memperutangkan;
utangan /utang·an/ n 1 yg diperoleh krn berutang; 2 yg berutang;
perutangan /per·u·tang·an/ n 1 perihal utang-berutang; 2 yg memberi utang; yg menagih utang;
memperutangkan /mem·per·u·tang·kan/ v mengutangkan;
memperutangi /mem·per·u·tangi/ v mengutangi
Tahukah Sahabat? Part.5

1. Kolaborasi itu artinya perbuatan kerja sama, dengan musuh.
Kenyataannya, kata ini sering disinonimkan dengan kata kerja sama, kooperasi, dan persekutuan.

2. Menyontek, bukan mencontek.
Dari kata dasar sontek.
sontek 1 /son·tek / /sonték/ v, menyontek /me·nyon·tek/ v menggocoh (dng sentuhan ringan); mencungkil (bola dsb) dng ujung kaki: untunglah penjaga gawang itu dapat - bola sehingga selamat;
sontekan /son·tek·an/ n hasil menyontek
Kok bisa jadi contek ya?

3. Toilet adalah peranti untuk berhias, spt bedak, cermin, dan sikat rambut sedangkan WC adalah tempat buang air; jamban; kakus; tandas; peturasan.
Saya mau ke toilet sebentar. Tunggu, ya. ==> ini artinya dia mau berias, hehehe bukan buang air kecil, atau mandi.
Jadi kalau ada temen yang mau numpang ke toilet, ya, kasihlah peralatan make up kamu. Hihihihi.
1. Telanjur, bukan Terlanjur
telanjur /te·lan·jur/ v 1 terlewat dr batas atau tujuan yg ditentukan; teranjur: sedianya ia hendak turun di stasiun Gambir, tetapi -- sampai ke Sawah Besar; 2 terdorong (tt perkataan); sudah terkatakan: ia -- mengatakan rahasianya; menebus kata yg --; mulut -- , perkataan yg terdorong; 3 sudah terdahulu menger jakannya (melakukannya): ia sudah -- membeli karcis untuk berangkat besok; 4 sudah berlebih-lebihan atau terlampau (banyak, sangat, dsb): rupanya semangat rakyat sudah -- berkobar-kobar; 5 sudah terlambat (hingga sukar atau tidak dapat ditarik kembali, diulang, dsb): kalau sudah -- , mau apa lagi;
ketelanjuran /ke·te·lan·jur·an/ n 1 keterlaluan; 2 sesuatu yg sudah telanjur: ia menyesal atas ~ nya mengeluarkan perkataan yg tidak layak itu

2. Realitas, bukan Realita
realitas /re·a·li·tas/ /réalitas/ n kenyataan

3. Dimungkiri, bukan dipungkiri
mungkir /mung·kir/ v 1 tidak mengaku(i); tidak mengiakan: ia tetap -- atas tuduhan yg ditimpakan kepadanya; 2 tidak setia; tidak menepati (janji); menolak; menyangkal: -- akan janjinya;
memungkiri /me·mung·kiri/ v 1 mengingkari; tidak membenarkan: kita tidak - bahwa perjuangan memerlukan pengorbanan; 2 tidak mau mengakui; menolak (tuduhan); tidak menepati (janji): - janji; - tuduhan; 3 menjauhkan diri dr: - perbuatan yg kurang baik

4. Musala, bukan mushola
musala /mu·sa·la/ n 1 tempat salat; langgar; surau; 2 tikar salat; sajadah

5. Rapi, bukan Rapih
rapi /ra·pi/ a 1 baik, teratur, dan bersih; apik: rambutnya selalu disisir --; 2 teratur baik; tertib: deretan rumah itu amat --; 3 serba beres dan menyenangkan (pekerjaan dsb): pekerjaannya ditanggung -- dan memuaskan; 4 siap sedia; siaga: rumah penginapan tamu negara dikawal dng --; 5 sebagaimana mestinya; tidak asal saja: pintu sudah terkunci --;
merapikan /me·ra·pi·kan/ v menjadikan rapi; membereskan: ia berusaha ~ susunan buku di atas meja;
kerapian /ke·ra·pi·an/ n perihal rapi; keapikan
Bagian 2

1. kokoh; kukuh
ku·kuh a 1 kuat terpancang pd tempatnya; tidak mudah roboh atau rusak: benteng yg --; kuat; 2 teguh (tt pendirian, hati, dsb): dl diskusi dia selalu -- pd pendiriannya;
ber·ku·kuh v berteguh hati; tetap berpegang (pd pendiriannya dsb): meskipun disiksa, dia ~ tidak mau memberitahukan tempat persembunyian teman-temannya;~ kata berjanji teguh; ~ negeri memperkuat negeri; ~ pd adat lama tetap memegang teguh adat lama;
me·ngu·kuhi v 1 memegang teguh: ~ pendapatnya semula; 2 meneguhkan dng;
me·ngu·kuh·kan v 1 menguatkan atau memperkuat (supaya tidak mudah roboh atau rusak): kegunaan tiang beton yg besar adalah untuk ~ bangunan; 2 meneguhkan; menetapkan (hati dsb): kita perlu ~ semangat untuk menyukseskan pembangunan; 3 mengesahkan; menetapkan (tt kedudukan, jabatan): senat guru besar di universitas itulah yg ~ beliau sbg guru besar bidang linguistik;
mem·per·ku·kuh v menjadikan lebih kukuh;
pe·ngu·kuh·an n proses, cara, perbuatan mengukuhkan (kedudukan, pangkat, jabatan); peneguhan; penetapan; pengesahan: dia menyampaikan pidato ilmiah pd upacara ~ nya sbg guru besar;
ke·ku·kuh·an n perihal (yg bersifat, berciri) kukuh; keteguhan; kekuatan (hati dsb

2. Resiko; Risiko
risiko /ri·si·ko/ n akibat yg kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dr suatu perbuatan atau tindakan: apa pun -- nya, saya akan menerimanya; dia berani menanggung -- dr tindakannya itu

3. Obrak-abrik; Ubrak-abrik
ubrak-abrik /ub·rak-ab·rik/ v, mengubrak-abrik /meng·ub·rak-ab·rik/ v membuat tidak beraturan (acak-acakan); membuat berantakan

4. Hapal; Hafal
hafal /ha·fal/ v 1 telah masuk dl ingatan (tt pelajaran): saya sudah mempelajari dan juga -- isinya; 2 dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain): banyak orang yg -- nomor telepon barisan pemadam kebakaran;
menghafal /meng·ha·fal/ v berusaha meresapkan ke dl pikiran agar selalu ingat: anak itu rajin ~ nama tokoh pahlawan nasional;
menghafalkan /meng·ha·fal·kan/ v menghafal;
hafalan /ha·fal·an/ n 1 yg dihafalkan: ia selalu mendapat nilai baik untuk pelajaran ~; 2 hasil menghafal: ~ nya baik

5. Cidera; Cedera
cedera 1 /ce·de·ra / n perselisihan; pertengkaran;
bercedera /ber·ce·de·ra/ v berselisih; bertengkar: mereka selalu ~ dng tetangga sebelah;
percederaan /per·ce·de·ra·an/ n perihal bercedera; perselisihan; pertengkaran; percekcokan: tidak lama kemudian timbul ~ di antara mereka;
kecederaan /ke·ce·de·ra·an/ n hal cedera; percederaan
Bagian 1

Tidak Bergeming
Sering kita lihat penggunaan frase ‘tidak bergeming’ dipakai untuk menunjukkan keadaan diam saja, padahal kata ‘geming’ sendiri berarti diam. Kalimat, “Ia tidak bergeming melihat kejadian itu,” berarti justru menunjukkan orang tersebut tidak diam.


Acuh
Kalimat “Doni mengacuhkanku kemarin,” diartikan oleh banyak orang bahwa Doni tidak peduli. Padahal kata ‘acuh’ sendiri sebenarnya bermakna peduli. Jika ingin mengungkapkan ketidakpedulian, kamu bisa menggunakan frase ‘acuh tak acuh’ yang berarti tidak peduli.


Seronok
"Jangan berpakaian seronok!" Menurutmu, apa arti dari kalimat ini? Kalau kamu menjawab ini adalah ungkapan perintah untuk berpakaian sopan, maka kamu termasuk salah kaprah. Kata 'seronok' sendiri artinya menyenangkan hati. Jadi ketika kamu ingin memperingatkan seseorang tentang cara berpakaiannya, sekarang kamu tahu kan cara yang tepat menyampaikannya?


Senonoh
Penggunaan kata ini kadang suka tertukar dengan kata 'seronok'. Orang sering menggunakannya dalam konteks seperti, "Tersangka tersebut melakukan tindakan tidak senonoh." Padahal kata 'senonoh' sendiri sudah berarti perbuatan tidak terpuji. Sehingga kalimat di atas justru berarti tersangka tersebut melakukan tindakan yang terpuji.


Absen
Ironisnya, salah kaprah pemakaian 'absen' justru ditemukan di institusi pendidikan. 'Absen' memiliki makna tidak hadir. Jadi, kalau dulu kamu menemukan buku Daftar Absen, semestinya kamu tidak mengisi buku tersebut karena justru menunjukkan ketidakhadiranmu. Yang tepat buku tersebut bernama "Daftar Hadir".


Nyinyir
Nah, kalau kata ini lagi sering muncul di keseharian kita. Biasanya 'nyinyir' dipakai untuk menunjukan sinisme seseorang. Ssstt... Percaya atau tidak, 'nyinyir' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pernyataan yang berulang atau cerewet. Wah, bisa jauh sekali ya salah kaprahnya.


Kreatif & Kreativitas
Kalau kata ini bukan digunakan dalam konteks yang salah, namun terkadang ejaannya yang tidak tepat. Kata dasarnya adalah kreatif, menggunakan huruh 'f'. Sedangkan ketika ditambahkan imbuhan -itas, huruf 'f' tersebut melebur menjadi 'kreativitas' (menggunakan huruf 'v'). Pola ini juga berlaku untuk kata sportif/sportivitas.


Merubah atau Mengubah?
Kesalahan penulisan kata ini dapat dilihat dari penarikan kata dasarnya. Dalam kata 'mengubah', kata dasar yang dapat ditarik adalah 'ubah'. Coba tarik kata dasar dari kata 'merubah', nah, kamu sudah tahu kan mana yang benar?
Tahukah Sahabat ...

1. Menghunjam, bukan menghujam

hun·jam, meng·hun·jam v 1 menukik lurus-lurus ke bawah: burung itu sebentar-sebentar ~ , kemudian melayang; 2 masuk (menancap) lurus-lurus dan dalam (ke tanah dsb): ia mencabuti pancang-pancang yg ~ di tanah pekarangannya; 3 ki telah mendalam benar (meresap dl hati sanubari): hal itu sudah ~ benar dl hati sanubarinya; 4 ki menusuk hati atau perasaan (tt perkataan): kata-katanya yg pedas ~ perasaan wanita tua itu;
meng·hun·jam·kan v 1 menukikkan lurus-lurus ke bawah: penerbang itu ~ pesawat terbangnya rendah-rendah kemudian baru membelokkannya; 2 menusukkan; menikamkan; menancapkan lurus-lurus dr atas ke bawah: ia ~ lembing ke tubuh babi hutan itu;~ lutut nan dua, ki berlutut;~ pandang melayangkan pandangan yg tajam;
ter·hun·jam v tertancap (ke dl tanah); terpancang: hidung pesawat terbang yg jatuh itu ~ di rawa

2. Pikir, bukan fikir


pikir /pi·kir/ n 1 akal budi; ingatan; angan-angan: ahli -- , ahli falsafah; filsuf; kurang -- , kurang menggunakan akal budi atau kurang mempertimbangkan baik-baik; jangan banyak -- , jangan banyak mengingat atau mempertimbangkan; tak habis -- , tidak dapat mengerti mengapa suatu hal sampai terjadi; 2 kata dl hati; pendapat (pertimbangan); kira: -- saya dialah yg salah;-- dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna, pb bila hendak melakukan atau mengerjakan sesuatu, hendaknya dipertimbangkan lebih dahulu baik buruknya; -- itu pelita hati, pb menggunakan akal budi dan mempertimbangkan segala sesuatu dng baik menjadikan seseorang lebih bijaksana;
 
 
Beberapa waktu ini berkeliling dunia lewat internet. Seru, yang jauh serasa dekat ...

Tahun 2014 segera berakhir. Rasanya waktu cepat bergulir. Sambil minum susu cokelat hangat, saya merenung. Betapa nikmat tahun ini. Satu-satu ingatan berloncatan. Di awal tahun begitu banyak harap ingin ini, ingin itu. Dan detik ini, telah banyak keinginan yang terwujud.

Cukup? Tidak .... saya tak ingin berhenti bermimpi. Masih banyak yang harus saya capai. Semalam mimpi baru mulai mendiami hati.

Ada beberapa sahabat yang mengeluarkan unek-unek. Betapa ingin tulisannya mejeng di toko buku, seperti GR*****A. Saya hanya tersenyum. Bukan hanya dia, saya pun tentu ingin sekali. Seumur-umur tulisan saya--tentu di cover ada RINA RINZ--belum ada di toko itu, kecuali antalogi di sebuah terbitan besar. Jadi pengen ... Karena unek-unek itu, saya jadi kepikiran untuk membuat satu toko buku kecil-kecilan. Dan keliling dunialah saya mencari celah. Apa bisa mewujudkan mimpi itu? Banyak cerita yang saya baca, beberapa orang sukses dengan berbagi lewat toko buku tradisional. Hmmm... tambah ingin.

Banyak buku-buku terbitan indie yang berkualitas, namun karena sesuatu dan lain hal, buku itu tidak bisa nangkring di toko buku modern. Ingin rasanya membuka ruang untuk buku-buku itu bisa mejeng di etalase.

Rasanya tak ada yang tak mungkin. Satu hari nanti, saya harus memiliki ruang itu. Untuk sahabat-sahabat LovRinz And Friends terutama.

Bila buku saya tak mejeng, setidaknya buku-buku karya sahabat bisa tampil di sana ... Suatu hari nanti. Pasti!

Masih, kau tanyakan seberapa merah hatiku untukmu.

Pedih, pedihlah seluruh atmaku. Tentang detik yang berdetak iringi langkah kaki kita. Tentang ribuan tetes air mata yang jatuh luruh dari bening manik cahaya. Tentang urai canda yang terlepas dari bibir. Tentang semua itu, masih saja kau bertanya.

Lalu dengan apa kutunjukkan, semerah apa hatiku untukmu. Tiada kau percaya, bahwa setiap kepingnya adalah milikmu. Dengan apa kutunjukkan?

Kau selalu berkata, tak ada cinta di hatiku untukmu. Bila ini bukan cinta, lantas kauanggap apa aku masih di sini? Kewajiban? Seperti kewajibanmu masih di sampingku selama ini? Apakah itu berarti, sesungguhnya kaulah yang tak pernah memiliki cinta untukku di hatimu?

Pedih, pedihlah aku …

Setiap kali kakiku berjejak, selalu ada retak. Betapa aku mencoba kuat berdiri. Walau di ujung tapak terpancang duri. Ini luka tiada yang tahu. Kusimpan rapat-rapat. Kusulam penuh kasih, hanya untuk menjaganya tetap merah. Merah untukmu.

Merah yang tak pernah sampai ke bola matamu. Merah yang tak pernah terlihat dari hatimu. Seberapa merahkah hatiku untukmu?

Malam ini, bukan hanya kau yang mempertanyakan itu. Aku berulang kali bertanya pada hatiku. Seberapa merahkah ia untukmu.
Oleh: Yuska Vonita
“There are three rules for writing the novel. Unfortunately, no one knows what they are.” (W. SOMERSET MAUGHAM)

Sebelum memutuskan untuk memublikasikan sebuah karya, seorang penulis harus mengetahui faktor pendukung yang paling penting. Di industri mana pun, untuk menjual suatu produk diperlukan kualitas yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Begitu juga dengan penulis. Dengan memperhatikan kualitas karyanya maka ia akan berhasil.
Untuk membuat produk yang marketable, dalam hal ini adalah naskah, ada lima langkah yang bisa kamu ikuti, yaitu:
Step 1: Membaca sebelum menulis. Sebelum menulis novel, kamu harus banyak membaca terlebih dahulu. Penulis terkenal juga melakukan hal ini. William Faulkner mengatakan, “Read, read, read. Read everything—trash, classics, good and bad, and see how they do it. Baca saja. Kamu akan menyerap banyak informasi, teknik menulis, kosa kata juga EYD. Lalu, tulislah. Kamu akan tahu jika tulisanmu baik atau buruk. Kalau belum puas, ulangi langkah-langkah diatas.”
Stephen King menambahkan, “If you don’t have the time to read, you don’t have the time or the tools to write.”
“Saran terbaik yang bisa saya beri,” kata Nancy Yost, agen Lowenstein-Yost Associates, “adalah membaca, membaca, dan membaca lebih banyak lagi. Sangatlah penting untuk membaca karya penulis lain dan mengetahui buku-buku yang orang lain baca juga. Penulis yang baik adalah pembaca yang rakus.”
Membaca karya penulis lain membantumu untuk mendapatkan tools yang dimaksud, loh. Dengan membaca karya penulis lain, tentunya kamu akan mendapat pengertian mendalam tentang apa yang terjadi di luar sana, dan membantu memperbaiki tulisanmu sendiri. Temukan gaya menulisnya, baca isinya tentang apa, dan teknik yang digunakan dalam mendeskripsikan tempat, tokoh, cerita juga dialog. Membaca untuk mengerti ‘pasar’ dan meyakinkan apa yang kamu akan tulis bisa masuk ke dalam kategori marketable tersebut.
Kadangkala saat kita membaca, kita lupa tujuan membaca buku tersebut untuk apa karena kita hanyut ke dalam cerita.
Mantan executive editor Kent Carroll memberi beberapa tips:
“Ambil buku yang kamu suka lalu bacalah lagi sebentar. Bedahlah buku tersebut. Amati bagaimana struktur cerita, bagaimana cara penulisnya bercerita, lalu plotnya juga pelajari. Pay particular attention to how the book is organized. Pasti kamu bisa belajar banyak dari situ. Tapu, jangan meniru atau menjiplak. Biarkan tulisanmu mengalir dari hati, pikiran dan imajinasi.”
Cara kamu membaca juga penting. Banyak-banyaklah membaca, tapi jangan hanya membaca karya penulis ternama saja, seperti Danielle Steele atau John Grisham, misalnya. Make sure to be in touch with what’s new. Bacalah karya penulis baru yang sedang ‘in’. Karya-karya tersebut dan kekuatan apa yang dimilikinya agar dilirik penerbit.
Selain itu, kamu harus jeli dalam mengetahui selera pembaca. Kamu juga harus mampu memberi angin segar pada industri penulisan. Tulislah cerita dengan ide yang belum pernah ada sehingga kamu akan menjadi trendsetter.
Selain membaca karya penulis baru, kamu juga harus familiar dengan ciri khas penerbit. Misalnya, Gramedia banyak menerbitkan buku-buku metropop, Gagasmedia dengan romance-nya, Bukune dengan personal literature yang umumnya komedi, juga yang sedang ngetrend adalah cerita dengan setting Korea, seperti buku-buku terbitan Penerbit Haru.
Marjorie Braman, publishing director dari HarperCollins, menyimpulkan. “Kalau ingin menjadi penulis, hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk diri sendiri adalah banyak membaca. Kamu jadi tahu tema yang sedang in di pasaran, dan bagaimana mengemas karyamu menjadi sesuatu yang diminati pembaca. Selain itu, dengan banyak membaca pengetahuanmu akan teknik menulis semakin terbuka lebar.”
Takut jika banyak membaca karya orang lain, maka tulisanmu akan terpengaruh? Banyak sekali penulis yang menjadi malas untuk membaca karena hal ini. Jangan ikuti. Mindset seperti ini akan menyabotase penulis pemula. Nancy Bereano, mantan editor Firebrand Books mengatakan “Saat penulis bilang pada saya ‘Oh, I never read anyone else because I don’t want to be influenced by them,’ saya terbahak. Alasan yang sangat lucu.”

Step 2: Write for the market. Editor berpesan agar penulis aware akan selera pasar dan menghasilkan karya yang marketable. Tanpa ada produk komersil, maka tak ada yang bisa dijual. “Naskah yang saya cari harus bernilai komersil,” kata Kate Duffy, editorial director dari Kensington Publishing Corporation.
Jika ingin karyamu diterbitkan penerbit, coba browsing website penerbit tersebut. Biasanya mereka mencantumkan daftar genre yang dicari.
Senior editor Jennifer Brehl of Avon Books pun menyetujui hal ini. “Be familiar with the clichés of your genre before submitting.”
Bagaimana cara menulis buku yang komersil? Editor Ginjer Buchanan mengatakan, “Kamu tidak akan pernah berhasil jika kamu mengunci dirimu di kamar. Bacalah majalah kepenulisan. Baca buku-buku dengan genre yang kamu suka. Pelajari pasar sehingga kamu tahu apa yang sedang terjadi. Itu adalah teknik dasar, tapi kamu tidak akan kemana-mana jika kamu tidak memperhatikan hal-hal tersebut. If you don’t work hard at the business end of your writing, you’re just dooming yourself to disappointment.”
Laura Anne Gilman, executive editor Roc at Dutton mengatakan, “Kenalilah pasarmu. Membaca adalah jalan terbaik untuk mempelajari pasar. Kamu harus menyukai genrenya baru bisa menulis. Perhatikan genre yang populer, siapa penulisnya, lalu baca bukunya. Cobalah dan terus berusaha.”

Step 3: Menulis untuk diri sendiri. Langkah ini terlihat kontradiktif dengan step 2, tapi sebenarnya tidak. Writing for the market and writing for yourself can co-exist. Penulis komersil mengerti garis penghubungnya dan bisa melakukan keduanya secara bersamaan.
Tulis apa yang kamu suka untuk baca. Jangan pernah takut menulis genre tertentu. Stephen King dan Dean Koontz merajai pasar horor, tapi bukan berarti tidak ada slot untuk penulis baru. Begitu juga dengan genre yang lain.
Jangan pernah berpikir bahwa ada jalan pintas untuk diterbitkan. Misalnya, kamu tidak suka menulis romance, tapi berhubung pasar romance itu besar, kamu memaksakan diri menulisnya. Untuk menulis romance diperlukan skills khusus dan pengetahuan mendalam. Tidak ada genre yang mudah karena semua sama saja.
Anne Savarese, mantan editor St. Martin’s Press (sekarang dengan Oxford University Press), mengatakan, “Jujurlah pada diri sendiri dan tulislah apa yang kamu suka. Jika kamu punya ide, kembangkan menjadi tulisan dan tulislah sebaik yang kamu bisa. Jangan terpikat untuk menulis genre yang sedang laku dipasaran tapi kamu tidak suka. Jangan pernah memaksakan diri, karena hasilnya tidak akan maksimal.”
Agen Evan Marshall menambahkan: “Don’t try to fake it. Tulislah buku yang benar-benar kamu akan baca. Write only the kind of books you love to read and never deviate from that. Find your niche and stay in it, and believe in yourself. Don’t leave it just because you get rejected. If you’re really good you will be published.”

Step 4: Belajar bagaimana menulis. This seems like such an obvious step, you might be wondering why it’s even included. Namun langkah ini seringkali tidak disadari oleh sebagian besar penulis. Kamu adalah pembaca yang rajin dan siap untuk menulis, tetapi itu saja tidak cukup untuk membawa karyamu ke penerbit.
Mari kita bandingkan penulis dengan mahasiswa kedokteran. Memang benar bahwa mengamati pekerjaan dokter adalah bagian dari training mahasiswa kedokteran. Tapi, sebelum mahasiswa itu diperkenankan berada di rumah sakit atau kamar operasi, ia harus banyak membaca buku teks, menghadiri kuliah, belajar, belajar dan belajar.
Bisa kamu bayangkan jika seorang mahasiswa kedokteran pada hari pertamanya dibawa ke ruang operasi, dihadapkan pada berbagai peralatan kedokteran dan diminta untuk melakukan operasi jantung pada pasien? Tentu ia tidak mungkin melakukannya.
Menulis novel tidak sama dengan operasi otak, dan tidak ada yang mati jika kamu mengetik typo pada naskahmu. Namun intinya adalah belajar untuk menulis tidak terjadi dalam satu hari, atau instan. Menjadi pembaca yang rakus sangat penting dalam proses penulisan, tapi ini adalah proses yang terus berjalan, dan banyak elemen yang harus diperhatikan juga.

Step 5: Polish your product. Banyak penulis baru bersemangat memikirkan namanya tertera di cover buku yang dijual di toko buku besar. Lalu, mereka mengirimkan karyanya dengan terburu-buru ke penerbit. Mengetik kata ‘TAMAT’ bukan berarti seorang penulis sudah selesai dengan naskahnya.
Banyak penulis mengatakan bahwa mereka memiliki karya terbaik, tetapi hanya sebagian kecil saja yang benar-benar mengerjakannya dengan teliti, rapi dan memoles naskah tersebut sebelum dikirim ke penerbit.
Jangan terburu-buru. Diamkan naskahmu sampai beberapa minggu, lalu bacalah kembali. Jika masih ditemukan kesalahan, kamu bisa memperbaikinya, memperindahnya dengan menambahkan detil atau mungkin menghapus yang tidak perlu. Jangan kirim naskah jika belum siap untuk dipasarkan. Semakin sedikit kesalahan, semakin terlihat profesional naskah kamu di mata penerbit.
Self-editing is an important part of the polishing process. “Saya percaya bahwa karya yang baik harus melalui proses rewriting,” kata editorial director John Scognamiglio.
Agen Elizabeth Wales menambahkan. “Kerjakan naskahmu dan perbaiki. Jangan mengirim draft naskah ke penerbit.”
5 langkah diatas bisa kamu jalankan. Ingatlah contoh mahasiswa kedokteran diatas. Pikirkan investasi waktu dan biaya yang dikeluarkan mahasiswa tersebut dalam mempelajari teknik kedokteran. Belilah buku-buku tutorial menulis, majalah, lalu ikuti workshop menulis dan bergabunglah dalam komunitas menulis. Semua itu adalah investasi seorang penulis yang worth it.
Seperti yang dikatakan agen Evan Marshall, “Sebelum kamu mendekati agen atau mengirim naskah ke penerbit, pelajari pasar secara mendalam, dan kuasai tekniknya sebaik mungkin.”

(Disadur dari: Writer’s Digest)
Sumber: http://xposisi.com/2012/03/10/5-langkah-menulis-novel-yang-menjual/



Banyaknya layanan paket TV yang ditawarkan memang membuat konsumen harus jeli. Selain memilih penyedia yang tepat Anda pun harus jeli pula memilih paket program yang ditawarkan secara tepat pula. Salah satu penyedia layanan ini adalah Orange TV. Pilihan paket Orange TV tersedia beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan para konsumennya. Tayangan-tayangan yang ditawarkan juga beraneka ragam. Nah, di sinilah peran Anda selaku orang tua harus jeli memilih tayangan mana yang akan dipilih nantinya. Selain tentunya menyesuaikan jumlah budget yang Anda miliki.

Berikut ini adalah beberapa layanan paket yang ditawarkan Orange TV kepada Anda dari yang termurah sampai termahal:

1.       New Star Junior 16
Paket ini merupakan paket termurah yang disediakan oleh Orange TV. Paket seharga 49 ribu/bulan ini sangat sesuai untuk kebutuhan buah hati Anda tercinta. Karena paket ini menawarkan tayangan seperti:
-       Nick JR
-       Baby First
-       Disney Junior
-       Nickelodeon
-       Jim Jam
-       Dan Disney Channel

2.       Film Box Office 12
Paket yang satu ini ditawarkan seharga 89 ribu/bulan. Sangat sesuai bagi Anda yang suka menonton film, maka pilihan paket ini sesuai untuk Anda. Anda sudah tidak perlu lagi membeli CD film atau pun mendownloadnya dari internet. Karena paket ini akan sangat memuaskan para pecinta film.

3.       New Platinum 07
Paket layanan TV seharga 99 ribu/bulan ini sangat sesuai bagi Anda yang gemar sekali dengan info berita terbaru. Karena salah satu channel yang diberikan adalah BBC World News. Tidak hanya itu saja, dalam paket New Platinum 07 yang ditawarkan orange tv ada pula tanyangan seputar entertainment, film, MTV, dll. Jadi bisa dikatakan paket ini adalah paket keluarga, karena dalam paket ini sudah cukup lengkap yang ditawarkan.

4.       Sporty 18
Anda yang gemar akan tayangan-tayangan olah raga secara lengkap, maka paket layanan yang satu ini sangat tepat untuk anda. Dengan biaya bulanan sebesar 125 ribu/bulan anda sudah dapat menyaksikan beragam tayangan olah raga dari berbagai belahan dunia.

5.       Black Diamond 19
Paket seharga 319 ribu per bulan ini tetap menjadi pilihan paling tepat untuk anda yang tentunya memiliki budget yang cukup serta ingin memberikan hal spesial bagi selluruh keluarga anda. Tentu saja paket orange tv yang paling spesial ini memberikan banyak sekali tayangan-tayangan yang sangat menarik untuk ditonton. Mulai dari tayangan untuk anak, olah raga, film, berita, musik, dan masih banyak lainnya tersedia pada paket ini.

Nah, dari kelima paket yang ditawarkan di atas tentunya anda sudah dapat menentukan bukan. Mana pilihan paket layanan yang tepat untuk anda pilih. Tentunya selain budget anda tentukan pula pilihan program tayangan yang tepat untuk anda dan keluarga anda. Sebagai contoh bila anda memiliki buah hati maka sebaiknya hindari anak-anak menonton film-film dewasa ataupun tayangan-tayangan lainnya yang dapat memberikan efek buruk bagi pendidikan serta karakter dia kelak.

Oleh karena itu kejelian dalam memilih dapat Anda tanyakan pula pada bagian marketing atau teknisi yang nantinya memasang paket dari orange tv tersebut di rumah Anda. Karena biasanya para teknisi tersebut tahu bagaimana cara untuk mengakalinya agar anak-anak tidak bisa untuk membuka tayangan-tayangan yang dewasa dan tidak perlu untuk ditonton. Semoga bermanfaat!


Pertama mengenalnya, aku dalam keadaan kacau balau. Pertengahan 2010 ... musim hujan, yang jatuh deras dari dua bola mataku.

Tak ada yang istimewa selain kata Ningsih yang melekat di ujung nama kami. Begitulah yang kuingat saat percakapan pertama kali ketika mengunjungi kediamannya. Tak ada yang istimewa, sebelum aku masuk ke kamarnya.

Luar biasa. Aku melihat kucing berlompatan dengan riang, menangkap ikan-ikan yang keluar dari lantai kamarnya. Mawar yang tumbuh subur di dinding. Ulat yang bermetamorfosis dengan indahnya menjadi kupu-kupu lalu hinggap di rambut panjangku. MAsih banyak lagi, tak mampu kutulis semua di sini, tapi melekat kuat dalam ingatanku. Bagaimana semua hal ajaib dari ruang kecil, bahkan tak ada 3x3 meter itu, terangkai dari aksara menjadi sebuah kisah yang unik.

Sungguh aku mengaguminya--bukan hanya karena ia sediakan bahunya untukku menangis.

Lama tak berkomunikasi dengannya ternyata diam-diam ia tetap berkarya. Sempat sedih karena tak kutemui ia ber-fb ria seperti dulu, tak bisa curhat-curhatan lagi ..

 Dan ... Suara Sunyi, bisa kubaca sambil memendam kerinduan.

Di antara sekian banyak tulisannya ... kuambil satu buah untuk kusemat di sini ...

Pepatah

Surga di telapak kaki ibuku pasti berdebu. Kubayangkan macam apa rasanya kalau aku jadi ibu, surga menempel di telapak kaki, mungkin lengket macam ampas permen karet, kenyal, berbau manis, berkilau, berwarna pucat, tak mau lepas, membuatku sulit melangkah. Sepatu saja bikin kakiku mengapal kasar, bagaimana dengan surga, terlalu mewah.

Aku tak sanggup. Betapa berat melangkah sambil membawa surga. Kalau terinjak terlalu keras bagaimana? Surga bisa pecah. Tak apa kalau cuma surgaku saja yang pecah, aku pasrah. Tapi bertapa ngeri kalau sampai kupecahkan surga anak-anakku. Dengan apa bisa kuutuhkan lagi. Kakiku pasti juga berdarah-darah, dinding surga mungkin sebening kaca.

Duh, Ibu, siapakah yang pertama menuliskan pepatah itu, surga di bawah telapak kaki ibu. Aku terus berpikir dan bertanya-tanya sambil menggosok sepatu anakku. Lumpur dan debu berjatuhan mengotori tanganku.

2011 - Suara Sunyi Halaman 81.

Kemarin, seorang teman, Pringadi Abdi Surya, mengirimkan pesan WA yang berisi informasi kalau dia sedang ikut Gramedia Writing Project. Berhubung pesannya masuk saat baterai lagi sekarat, tidak kubalas, dan hape pun mati sampai pagi hari (memang malas ngecharge) 

Saat bangun. eh kepikiran tentang apa sih Gramedia Writing Project itu ... segeralah berselancar dan ... jadi kepengen ikutan.

Bongkar-bongkar file, ada CInta Rembulan yang duduk manis. Rencananya ingin diterbitkan publishing sendiri ... eh tapi kenapa tidak dicoba? Siapa tahu kan ...(padahal yang ikut keren-keren ... minder deh)

Kalau Sahabat pengen ikutan, tak ada salahnya ...

Vote dulu punyaku ya ... di sini

Selamat voting :D

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI