Google+ Followers

Rabu, 15 Oktober 2014

Yang Hilang Bersama Kepergianmu

Yang Hilang Bersama Kepergianmu

: Seseorang yang tidak mau disebutkan namanya di sini

Kanda yang menunjuk ke arahku
Ini waktuku
Aha... beranjak aku, padamu

Kubawa tuhan di saku kananku
Kau memintaku untuk mencarinya di kolong-kolong mendung
Sejak perpisahan kita, detik yang retak itu

Ini aku, Kanda
tuhan kini dalam genggam tangan kecilku
tersodor dengan gemetar ke wajahmu

mengapa berpaling, Kanda?
Susah payah aku mencari tuhan
Kubawa padamu
Kini kaupalingkan wajahmu dariku
-dari tangan yang menggenggam tuhan-

tuhan pun lenyap bersama dirimu yang tiba-tiba menjauh dariku


====

saya ingin mengutip ucapan seseorang yang masyhur, "aku berpikir maka aku ada." manusia adalah mahluk yang diberikan kelebihan dengan pikiran, katakanlah fungsi otak secara fisik. dengan pikiran kita bisa menjangkau apa saja, termasuk kebenaran itu sendiri dengan cara mencari-cari pembenaran berdasarkan fakta yang dibenarkan pikiran kita. meskipun dalam dimensi lain kita sering menyebut hati untuk yang berurusan dengan keyakinan. seolah dalam jasad kita itu ada dua hal tersembunyi yang memimpin kita dalam hidup; pikiran dan hati. bisa jadi hati dan pikiran itu sebenarnya satu jika melihat fungsi dan letak dari keduanya yang tidak bisa dilihat secara visual itu. tapi kita akan buat itu dua hal sebagaimana umumnya yang diyakini.

apa yang tercetus dari pikiran, kita endapkan ke dalam ruang tersendiri yang kita namai hati. kemudian cetusan pikiran itu menjadi keyakinan dari suatu kebenaran.

puisi ini mencoba memberikan sudut pandang dari keyakinan akan suatu kebenaran: tuhan. ini termasuk puisi bengal, sebagaimana saya menilai puisi chairil anwar ketika bersentuhan dengan medan yang sama: area ketuhanan. saya tidak mengatakan ini puisi yang kurang ajar, meremehkan, sok kenal tuhan, tidak. puisi adalah bahasa hati, apa yang dirasakan itulah yang dituangkan dalam bentuk bahasa. seperti apresiasi seorang maestro sastra internet kita; hudan hidayat, seorang camus merasa bahwa tuhan itu berdiam diri dengan keadaan buruk yang menimpa manusia saat itu.

bukan berarti camus menghina tuhan, tidak; dalam pandangan saya. tapi apa yang dirasakan oleh manusia terhadap tuhan itu adalah bahasa hatinya. yang sudah sepantasnya dia tuangkan dengan apa adanya ke dalam bahasa dengan gayanya sendiri. di dunia sastra, saya rasa itu bukan suatu hal yang tabu. bukankah tuhan itu tidak pensiun walaupun semua manusia tidak menyembahnya? apalagi sekedar merasa dekat dan seolah kurang menempatkan tuhan sebagai sosok sesembahan. melainkan layaknya teman bermain seperti yang dilakukan chairil anwar atau sesuatu yang lebih dekat seperti dalam puisi ini.

"Kubawa tuhan di saku kananku
Kau memintaku untuk mencarinya di kolong-kolong mendung"

puisi ini begitu menyentuh saat kita mengayunkannya lebih jauh lagi dari sekedar suara perasaan aku terhadap sosok kau disana. dalam dunia pada umumnya, tuhan dan agama adalah sesuatu yang sangat sakral. orang boleh menghujat presiden kemudian bebas tertawa dengan santainya di tengah masyarakat. coba saja seandainya menghujat tuhan suatu golongan di tengah kaum fanatiknya. dengan jelas dapat kita bayangkan luapan kemarahan kaum tersebut terhadap penghujat tadi. dalam puisi ini, ada sesuatu yang hendak di dobrak disana. kekakuan kita dalam mengenali dan memposisikan tuhan sepertinya hendak digoyang. kita seperti diajak melihat sisi lain yang jauh lebih luas tentang ketuhanan itu sendiri.

"sang aku" seolah menggenggam kebenaran dari tuhan yang telah dicarinya kemudian ditunjukkan kepada sosok "kau." ini adalah penawaran visi lain dari pandangan asal terhadap tuhan yang didapati oleh "aku" tadi kepada sosok "kau" yang disebutnya "kanda," sebuah kedekatan yang bisa dikatakan tak berjarak. begitu yakinnya aku dengan kebenaran yang telah atau baru saja didapatkannya itu sehingga dia sampaikan dengan bahasa yang tenang dan akrab,
"Ini aku, Kanda
tuhan kini dalam genggam tangan kecilku"

jika dilihat dari dunia kebendaan, mustahil tuhan itu ada dalam genggaman kecil "aku." tapi dalam dunia puisi umumnya bahasa. makna tuhan yang sejak tadi di bawa puisi ini bukan wujud tuhan sebagaimana dia. melainkan dari kebenaran tentang pencarian tuhan tadi. inilah bahasa, semua menjadi sangat mungkin terayun dan ditempatkan, bahkan yang paling sulit sekalipun: tuhan.

"mengapa berpaling, Kanda?
Susah payah aku mencari tuhan
Kubawa padamu
Kini kaupalingkan wajahmu dariku
-dari tangan yang menggenggam tuhan-"

kebenaran yang dibawa sosok "aku" ini tampaknya tidak mendapatkan respon positif dari sosok "kau" disana. "kau" memilih untuk berpaling dari kebenaran yang didapati aku." ini gambaran dari keumuman manusia, seperti kita tahu, keyakinan itu harga mati. benar atau tidak sudah bukan parameter yang digunakan oleh umumnya penganut keyakinan itu. seperti contoh isu kiamat yang begitu diyakini oleh penganutnya ternyata tidak terjadi sebagaimana yang mereka duga. ya, saya juga sadar. apa yang dikatakan kebenaran disini menurut subyektifitas sosok aku yang menjadi aktor utama dalam kisah pembeberan kebenaran itu. tapi bukan itu yang sedang kita bicarakan disini, melainkan sekenario yang sedang berjalan dalam puisi ini dengan apa adanya.

setelah kita ikuti alur keyakinan yang disajikan oleh sang "aku" dalam puisi ini, kita tersentak dengan akhir yang mengejutkan. ternyata kebenaran yang digenggam aku ini bukan sebuah kebenaran akut sebagaimana yang kita ketahui; bahwasanya teroris itu rela mati demi kebenaran yang dia yakini; bahwasanya para penganut budha itu rela mati demi untuk tidak menambah hilangnya nyawa dengan mengorbankan dirinya; bahwasanya penganut sekte kiamat itu rela mati demi keyakinnya pada kedatangan kiamat itu. tapi disini kebenaran tentang ketuhanan yang didapatkan oleh sang "aku," tidak bisa dikatakan keyakinan yang akut. lalu keyakinan macam apa yang telah didapati oleh "aku" disini? bisa saja itu hanya semacam penalaran tentang apa itu tuhan dengan kemampuan yang dimiliki oleh sang aku dengan pikirannya. secara agamis, mungkin ini belum bisa dikatakan keyakinan sempurna dan belum bisa dikatakan sebuah kebenaran hakiki. tapi dari segi keyakinan bahasa, ini cukup mengejutkan. bisa juga kita simpulkan, apa yang dibawa si "aku" disini hanya sekedar main-main belaka. itu bisa kita tarik dari sini;

"tuhan pun lenyap bersama dirimu yang tiba-tiba menjauh dariku"

kebenaran yang dicari "aku" hanya sebatas karena tuntutan "kau," bukan karena dia ingin mencari kebenaran itu sendiri dengan dorongan hatinya. maka saat kau berpaling dari sosok aku entah dikarenakan sesuatu apa, lalu aku dengan mudahnya melenyapkan keyakinan itu dari dalam hatinya. begitu mudah gambaran yang dia katakan tuhan itu, lenyap dari genggamannya, seperti lenyapnya kunang-kunang dari dalam genggaman. ini sebuah pembelotan yang menggoyang tubuh puisi seluruhnya. bahwa apa yang hendak didobrak di dalam puisi ini; pandangan tentang tuhan, hanya berdasarkan sesuatu yang main-main saja. kita tidak mendapatkan sosok chairil yang bengal tapi tetap berpegang teguh dengan kebengalannya itu. bahwa apa yang melesat dari hatinya tentang tuhan itu sehingga dia berlaku bengal, tetap dia yakini sampai mati. kita tidak mendapatkan keyakinan bahasa seperti yang seharusnya kita temui sampai akhir puisi. ini menunjukkan kebimbangan yang dihadapi sosok aku dalam menemukan kebenaran itu sendiri.

saya rasa setiap induk yang hendak melahirkan bahasa harus melahirkan sesuatu yang benar-benar kuat diterima pembacanya, apalagi ini menyangkut sesuatu yang sangat sangkral. sesuatu yang bisa dijadikan pegangan hidup dan tuntunan bagi orang lain, bukan sekedar main-main seperti yang ditunjukkan oleh baris akhir pada puisi ini.
bahkan sosok camus di atas jauh lebih memiliki ketetapan hati. setidaknya camus lebih kuat dalam meyakini bahwa tuhan berdiam diri saja, sampai ajal menjemputnya.

kajitow elkayeni
filsuf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI