Google+ Followers

Jumat, 10 Oktober 2014

Fulana dan Si Nyonya

Alkisah, Si Fulana pagi-pagi sudah nongkrong di teras rumah tetangganya, sambil menggendong bayinya yang masih berusia satu tahunan. Si Fulana hafal betul, jam segini ini, pasti nyonya rumah membuka pintu dan memegang sapu, mulai menyapu halaman.

"Eh, Mbak ... sudah lama?"
"Enggak, Bu ... baru setengah jam."

Si Nyonya tersenyum malu-malu. Semalam ia terlambat memejamkan mata. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dan baru tidur lepas tengah malam.

"Ada apa nih, pagi-pagi sudah di sini?"

Si Fulana itu mendekat sambil cengar-cengir tak keruan.

"Begini, Bu ... kalau boleh ... pinjam berasnya dua-tiga cangkir. Anak-anak belum makan."

Si Nyonya tersenyum lagi ...

"Ambil saja nasi yang sudah masak di belakang. Lauknya sekalian."

Si Fulana pun tersenyum bahagia. Ia sudah tahu pasti nyonya rumah akan berkata begitu. Dan pastinya pula ketika ia pamit pulang, dibawakan sekantung beras.

"Suamiku itu loh, Bu, kalau kerja milih-milih. Sudah beberapa hari ini nganggur. Aku bingung mau kerja apa. Jadi buruh cuci, kasihan anak-anak masih pada kecil, siapa yang jagain."

Si Nyonya pun sudah paham dengan cerita Si Fulana. Matanya melihat ke ujung jalan, rumah berpagar cokelat tua tempat tinggal si Fulana. Tertangkap bola matanya, suami Fulana sedang asyik ngobrol dengan seseorang. Asap rokok mengebul.

"Bilang sama suamimu, Mbak ... Daripada uang habis dibakar, belilah beras. Tidak dapat penghasilan tapi merokok jalan terus. Mbak juga, harus bisa mencari penghasilan untuk jaga-jaga. Kalau semisal, saya gak ada pagi ini, Mbak mau makan dari mana?"

Si Fulana tertunduk malu.

"Sudah, ambil nasinya, kasihan anakmu. Yang gede mau berangkat sekolah kan?"

Kaki Fulana kaku. Berat ia melangkah. Ke dapur ataukah keluar pagar? Pikirannya dipenuhi kata-kata si Nyonya.





---

Kisah di atas hanya fiksi belaka, namun tak bisa menutup mata dan telinga, terjadi di sekeliling kita. Bisa terjadi pada kita sendiri, atau orang di sekitar kita.

Sosok Fulana, bukanlah wanita yang lemah. Ia bisa saja mencari penghasilan sendiri. Namun, karena di rumah, ia memiliki bebrapa anak yang memang masih kecil-kecil dan tak memungkinkan untuk dititipi, maka ia hanya pasrah saja di rumah. Menunggu suaminya pulang dari kerja serabutan, dan tak tentu penghasilannya. Sang suami pun, terbilang egois. Mementingkan kesenangan diri sendiri, daripada mengutamakan kebutuhan keluarga.
Sosok Nyonya, mau tak mau, ikut menghidupi. Kebetulan ada, maka bisa ia berbagi, bila tidak?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI