Google+ Followers

Jumat, 03 Oktober 2014

Catatan Langit

: Handiko Seno

Langit masih terang benderang saat sebuah benda berputar di atas sudut kiri langit-langit kamarku yang berkaca bulat lonjong, seperti telur bebek di lemari makan yang tak pernah kusentuh sejak pertama ia dibawa pulang mama dari warung sebelah. Berwarna putih keemasan perlahan mendekat memantul-mantul dengan ketukan yang berirama ceria. Mengetuk langit-langitku.

Aku Alien, begitu kamu mengenalkan diri. Berteman setia dengan langit yang penuh dengan bintang tersenyum. Berkawan air yang gemericik dengan bernada suka dan selalu ditemani angin yang berembus sesuka hati. Entah dari belahan galaksi mana kau muncul. Justru sekarang sedang mengembara mencari asal jiwamu hingga nyasar ke lubang bumi ini.
 

Alien yang pintar, batinku, saat kau celotehkan kisah kasih langit yang terbawa angin jauh dari pelukanmu. Kadang ketakmengertian melanda alam pikirku saat sisi-sisi logikamu melebar ke seluruh ruang kamarku; sesak dan aku hanya bisa mengandalkan rasa.

Terpaku aku saat jemarimu - juga lima jari seperti jariku - menuliskan dan menggambarkan titik-titik tempat persinggahanmu selama mengembara. Semua itu jalan Tuhan, katamu. Mengernyit pula keningku. Alien pun mengenal Tuhan. Sungguh ajaib. Lagi-lagi lengkung itu tercipta ketika kupasang muka bengong. Kau sangat suka lengkung, mengingat kekasih anginmu yang selalu memberi cinderamata lengkung setiapbertemu  di persimpangan langitmu, dia yang selalu kaurindukan

Lantas kau selalu mengitari orbit; sejak itu mencari kekasihmu. Mampir di setiap langit-langit yang tersingkap. Siapa tahu Ninamu ada di dalamnya. Namun nyata bahwa Ninamu tersebar bagai bintang-bintang yang berserakan di galaksi luas sedang kauharap hanya satu.

Kukatakan Nina tak di sini. Tak ada di langit-langit kamarku, yang memang selalu terbuka menatap indahnya langit yang benderang. Aku juga mencari orang sepertimu. Tapi bukan alien yang kutunggu. Mungkin pangeran berkuda dari atas sana berkenan singgah di langitlangitku tapi tidak dengan alien, bukan alien

Sudah saatnya kau berkemas, Alienku. Bulat lonjong itu telah memanggilmu. 

Aantena kecilnya berbunyi panjang, menandakan kehadiran Nina di suatu tempat. Mungkin itu persinggahan terakhir. Semoga berakhir

Note :... kudedikasikan untuk sahabatku si Alien ... Only God knows ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI