Google+ Followers

InsyaAllah Awal tahun 2015 buku ini akan tersedia di toko buku
Buruan pesan dengan harga promo. cc Safarudin Ubak Pakminakbai, Roguan AlHabsyi, SuEff Idris, Ademia Nurul Fuadah, Ida Fitri, Ajeng Maharani, Dany Ykb

Bismillahirahmanirahim ….
Segera hadir … Skenario Maha Cinta
Sebuah kumpulan cerita inspiratif penuh makna dan hikmah yang bisa dipetik sebagai pelajaran hidup berumah tangga.
Judul Buku : Skenario Maha Cinta
Penulis : Safar Ubaknomminakbai
Cetakan Pertama : Oktober 2014
Ukuran Buku : 14 x 21 cm
Jumlah Halaman : x + 223 Halaman
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-71451-4-6
Harga : Rp. 45.000,- (Normal)
Rp. 39.900,- (Harga Pre Order)
 

Ada banyak cara untuk menyampaikan hikmah, pelajaran, nasehat, petuah dan apapun namanya. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan sebuah karya sastra ternyata mampu melakukan itu semua.
 

Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima masukan dari seseorang secara langsung. Namun ketika membaca sebuah cerita yang menarik hatinya, ternyata mampu mempengaruhi dan mengubah egonya.
 

Begitu pun harapan dan keinginan penulis dalam buku kumpulan kisah inspiratif yang terangkum dengan apik. Ada begitu banyak hikmah, petuah serta inspirasi, sebagai jalan buat kita untuk mengubah diri.
 

Kumpulan Cerpen buah karya Safar Ubaknomminakbai ini layak dibaca siapa saja. Jadikan buku ini sebagai hadiah istimewa untuk orang-orang yang Anda sayangi.
 

***
 

Beberapa Testimoni untuk Skenario Maha Cinta
 

Telah lahir seorang cerpenis,yang karya-karyanya begitu manis dan memiliki ketajaman perspektif yang menawan. Selamat berenang di lautan kata kumpulan cerpen menarik ini.
(Afifah Afra, penulis buku Tetralogi De Winst)
 

Membaca cerpen ini membuat terharu. Inilah kisah-kisah yang penuh dengan Ibroh. Diambil dari kisah-kisah yang bisa menjadi guru dalam kehidupan kita nantinya. Sebuah karya yang sangat menyentuh jiwa,sangat baik untuk dibaca oleh semua kalangan sebagai inspirasi terhadap fenomena dalam kehidupan berumah tangga. Memotivasi pembacanya untuk berani dan tidak mudah menyerah atas segala bentuk ujian yang datang dari Allah demi meraih cinta-Nya. Satu kata untuk kumpulan cerpen ini ... Luar Biasa!!
(Derry Agustina, Enterpreuner Muslimah TOP Ten Leader HPAI.)
 

Sebagai karya perdana, antologi yang berisi cerpen-cerpen untuk renungan ini, cukup bagus. Bahasanya mengalir dan layak untuk diapresiasi.
(Habiburrahman Al-Shirazy, Sastrawan Indonesia. Penulis buku Best Seller Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih)
 

***
 

Jika Kang Abik, Afifa afra, dan Derry Agustina sudah membaca buku ini …, tunggu apa lagi. Dapatkan hikmah tanpa membuat kita merasa digurui.
 

Ayo, jangan ketinggalan. Dapatkan dengan harga khusus selama promo.
Baca sebelum ini di sini

Yang Datang Setelah Kepergianmu

: Sesaat setelah kau berlalu dan cahaya itu hilang dari genggam tanganku

sendiriku di bawah payung awan mendung
lalu
gemuruh suara kudengar gegap gempita dari mulut langit
hatiku seketika terlonjak dari kediamannya
gigil mendera begitu hebat
taufan dan tetes air menghujaniku teramat dahsyat

menghampiri aku kala kulelah susahpayah menggenggam(nya) lalu hilang bersama kepergian kekasih duniaku
sungguh datang dari sebelah utara
tiba-tiba merangkulku

siapakah aku ini hingga dilingkupi aku dengan teduh pelukan
tak peduli betapa kotornya aku berkubang
jiwaku yang lesu dan mengidap kerontangan disegarkan
aku pulih

Cahaya ini nyata
Sukmaku bergetar


=====

perjalanan batin adalah cara terampuh dalam memahami hidup. puisi di atas telah mencerminkan sebuah perenungan yang ditempuh sosok aku disana. setiap kita adalah pencari jalan, setiap kita adalah pengintai misteri tuhan dalam kehidupan. tidak sidarta, tidak marx, semua manusia berhak untuk mencari sendiri tentang sesuatu yang sakral yang kita sebut keyakinan. apa pun yang kita temukan disana adalah ruang sangat pribadi yang tidak bisa diintervensi oleh pihak manapun. mungkin ini makna "tuhan itu lebih dekat dari urat leher.."

puisi di atas hanya sebuah jendela dari ruang hati yang luas tak berperi, hati yang tak tersekala oleh ukuran manapun yang dibuat manusia. hanya hati yang sanggup memasukkan kebesaran tuhan yang jauh lebih besar dari alam raya ini. hati yang entah itu adalah kunci menemukan arti keyakinan dari hidup dan ketuhanan.

kebahagian dalam hidup itu bukan hanya serba cukup saja dari segi materiil. kebahagian hidup itu bahkan sebenarnya bersumber dari kefahaman diri tentang hidup itu sendiri. siapa kita, dari dan hendak kemana kita, kenapa kita ada, dsb. jika setiap orang telah sampai pada hakikat hidup ini, saya rasa agama apa pun dan tuhan model apa pun sudah tidak terlalu perlu diperdebatkan.

pencapaian dari makna hidup adalah hak setiap manusia, apa pun yang telah didapatkan seseorang itu mencerminkan tuhan pribadinya. dia boleh berbeda dari yang disorot oleh banyak agama dan kredo manusia. beginilah tuhan, begitulah tuhan, seperti yang banyak dipatenkan oleh pihak-pihak itu. tapi tuhan tetaplah bagaimana dia adanya. tak terjamah oleh kredo manapun, melainkan dia hanya tercapai dengan perjalanan batin dari setiap manusia yang ingin mencapainya. setiap orang tentu memiliki batas pencapaian sendiri-sendiri, agama dan tuntunan hanya pintu masuk yang mengarahkan manusia menuju pencipta jagad raya. selebihnya semua itu bergantung dari olah batin dari perjalanan menuju pencapaian tuhan itu sendiri.

hendaklah setiap orang membebaskan jiwanya untuk sampai pada apa itu hidup, bukan hanya berdiam dalam kotak sempit kredo manusia itu sendiri. ini hak mutlak setiap individu, bagi orang lain tentu harus menghormati pencapaian yang bersifat sangat pribadi ini. yang penting kita ini adalah para pengintai misteri tuhan dalam kehidupan, kita tidak perlu bersitegang dengan keyakinan tertentu yang berdasarkan pencapaian seseorang. karena hakikatnya, tuhan itu sangat misterius dan tidak bisa ditunjuk; begini tuhan, begitu tuhan..

puisi yang bagus dan sarat renungan. ini memotifasi siapa pun untuk membebaskan diri dari kungkungan ego dan kredo. seperti sutardji yang ingin melepaskan kata sebebas-bebasnya mencapai makna tertinggi dalam bahasa. seperti itulah puisi ini ingin membebaskan diri untuk sampai pada puncak pencapaian tentang misteri hidup itu sendiri: tuhan.

kajitow elkayeni
gembel bahasa


from gugel
 

Yang Hilang Bersama Kepergianmu

: Seseorang yang tidak mau disebutkan namanya di sini

Kanda yang menunjuk ke arahku
Ini waktuku
Aha... beranjak aku, padamu

Kubawa tuhan di saku kananku
Kau memintaku untuk mencarinya di kolong-kolong mendung
Sejak perpisahan kita, detik yang retak itu

Ini aku, Kanda
tuhan kini dalam genggam tangan kecilku
tersodor dengan gemetar ke wajahmu

mengapa berpaling, Kanda?
Susah payah aku mencari tuhan
Kubawa padamu
Kini kaupalingkan wajahmu dariku
-dari tangan yang menggenggam tuhan-

tuhan pun lenyap bersama dirimu yang tiba-tiba menjauh dariku


====

saya ingin mengutip ucapan seseorang yang masyhur, "aku berpikir maka aku ada." manusia adalah mahluk yang diberikan kelebihan dengan pikiran, katakanlah fungsi otak secara fisik. dengan pikiran kita bisa menjangkau apa saja, termasuk kebenaran itu sendiri dengan cara mencari-cari pembenaran berdasarkan fakta yang dibenarkan pikiran kita. meskipun dalam dimensi lain kita sering menyebut hati untuk yang berurusan dengan keyakinan. seolah dalam jasad kita itu ada dua hal tersembunyi yang memimpin kita dalam hidup; pikiran dan hati. bisa jadi hati dan pikiran itu sebenarnya satu jika melihat fungsi dan letak dari keduanya yang tidak bisa dilihat secara visual itu. tapi kita akan buat itu dua hal sebagaimana umumnya yang diyakini.

apa yang tercetus dari pikiran, kita endapkan ke dalam ruang tersendiri yang kita namai hati. kemudian cetusan pikiran itu menjadi keyakinan dari suatu kebenaran.

puisi ini mencoba memberikan sudut pandang dari keyakinan akan suatu kebenaran: tuhan. ini termasuk puisi bengal, sebagaimana saya menilai puisi chairil anwar ketika bersentuhan dengan medan yang sama: area ketuhanan. saya tidak mengatakan ini puisi yang kurang ajar, meremehkan, sok kenal tuhan, tidak. puisi adalah bahasa hati, apa yang dirasakan itulah yang dituangkan dalam bentuk bahasa. seperti apresiasi seorang maestro sastra internet kita; hudan hidayat, seorang camus merasa bahwa tuhan itu berdiam diri dengan keadaan buruk yang menimpa manusia saat itu.

bukan berarti camus menghina tuhan, tidak; dalam pandangan saya. tapi apa yang dirasakan oleh manusia terhadap tuhan itu adalah bahasa hatinya. yang sudah sepantasnya dia tuangkan dengan apa adanya ke dalam bahasa dengan gayanya sendiri. di dunia sastra, saya rasa itu bukan suatu hal yang tabu. bukankah tuhan itu tidak pensiun walaupun semua manusia tidak menyembahnya? apalagi sekedar merasa dekat dan seolah kurang menempatkan tuhan sebagai sosok sesembahan. melainkan layaknya teman bermain seperti yang dilakukan chairil anwar atau sesuatu yang lebih dekat seperti dalam puisi ini.

"Kubawa tuhan di saku kananku
Kau memintaku untuk mencarinya di kolong-kolong mendung"

puisi ini begitu menyentuh saat kita mengayunkannya lebih jauh lagi dari sekedar suara perasaan aku terhadap sosok kau disana. dalam dunia pada umumnya, tuhan dan agama adalah sesuatu yang sangat sakral. orang boleh menghujat presiden kemudian bebas tertawa dengan santainya di tengah masyarakat. coba saja seandainya menghujat tuhan suatu golongan di tengah kaum fanatiknya. dengan jelas dapat kita bayangkan luapan kemarahan kaum tersebut terhadap penghujat tadi. dalam puisi ini, ada sesuatu yang hendak di dobrak disana. kekakuan kita dalam mengenali dan memposisikan tuhan sepertinya hendak digoyang. kita seperti diajak melihat sisi lain yang jauh lebih luas tentang ketuhanan itu sendiri.

"sang aku" seolah menggenggam kebenaran dari tuhan yang telah dicarinya kemudian ditunjukkan kepada sosok "kau." ini adalah penawaran visi lain dari pandangan asal terhadap tuhan yang didapati oleh "aku" tadi kepada sosok "kau" yang disebutnya "kanda," sebuah kedekatan yang bisa dikatakan tak berjarak. begitu yakinnya aku dengan kebenaran yang telah atau baru saja didapatkannya itu sehingga dia sampaikan dengan bahasa yang tenang dan akrab,
"Ini aku, Kanda
tuhan kini dalam genggam tangan kecilku"

jika dilihat dari dunia kebendaan, mustahil tuhan itu ada dalam genggaman kecil "aku." tapi dalam dunia puisi umumnya bahasa. makna tuhan yang sejak tadi di bawa puisi ini bukan wujud tuhan sebagaimana dia. melainkan dari kebenaran tentang pencarian tuhan tadi. inilah bahasa, semua menjadi sangat mungkin terayun dan ditempatkan, bahkan yang paling sulit sekalipun: tuhan.

"mengapa berpaling, Kanda?
Susah payah aku mencari tuhan
Kubawa padamu
Kini kaupalingkan wajahmu dariku
-dari tangan yang menggenggam tuhan-"

kebenaran yang dibawa sosok "aku" ini tampaknya tidak mendapatkan respon positif dari sosok "kau" disana. "kau" memilih untuk berpaling dari kebenaran yang didapati aku." ini gambaran dari keumuman manusia, seperti kita tahu, keyakinan itu harga mati. benar atau tidak sudah bukan parameter yang digunakan oleh umumnya penganut keyakinan itu. seperti contoh isu kiamat yang begitu diyakini oleh penganutnya ternyata tidak terjadi sebagaimana yang mereka duga. ya, saya juga sadar. apa yang dikatakan kebenaran disini menurut subyektifitas sosok aku yang menjadi aktor utama dalam kisah pembeberan kebenaran itu. tapi bukan itu yang sedang kita bicarakan disini, melainkan sekenario yang sedang berjalan dalam puisi ini dengan apa adanya.

setelah kita ikuti alur keyakinan yang disajikan oleh sang "aku" dalam puisi ini, kita tersentak dengan akhir yang mengejutkan. ternyata kebenaran yang digenggam aku ini bukan sebuah kebenaran akut sebagaimana yang kita ketahui; bahwasanya teroris itu rela mati demi kebenaran yang dia yakini; bahwasanya para penganut budha itu rela mati demi untuk tidak menambah hilangnya nyawa dengan mengorbankan dirinya; bahwasanya penganut sekte kiamat itu rela mati demi keyakinnya pada kedatangan kiamat itu. tapi disini kebenaran tentang ketuhanan yang didapatkan oleh sang "aku," tidak bisa dikatakan keyakinan yang akut. lalu keyakinan macam apa yang telah didapati oleh "aku" disini? bisa saja itu hanya semacam penalaran tentang apa itu tuhan dengan kemampuan yang dimiliki oleh sang aku dengan pikirannya. secara agamis, mungkin ini belum bisa dikatakan keyakinan sempurna dan belum bisa dikatakan sebuah kebenaran hakiki. tapi dari segi keyakinan bahasa, ini cukup mengejutkan. bisa juga kita simpulkan, apa yang dibawa si "aku" disini hanya sekedar main-main belaka. itu bisa kita tarik dari sini;

"tuhan pun lenyap bersama dirimu yang tiba-tiba menjauh dariku"

kebenaran yang dicari "aku" hanya sebatas karena tuntutan "kau," bukan karena dia ingin mencari kebenaran itu sendiri dengan dorongan hatinya. maka saat kau berpaling dari sosok aku entah dikarenakan sesuatu apa, lalu aku dengan mudahnya melenyapkan keyakinan itu dari dalam hatinya. begitu mudah gambaran yang dia katakan tuhan itu, lenyap dari genggamannya, seperti lenyapnya kunang-kunang dari dalam genggaman. ini sebuah pembelotan yang menggoyang tubuh puisi seluruhnya. bahwa apa yang hendak didobrak di dalam puisi ini; pandangan tentang tuhan, hanya berdasarkan sesuatu yang main-main saja. kita tidak mendapatkan sosok chairil yang bengal tapi tetap berpegang teguh dengan kebengalannya itu. bahwa apa yang melesat dari hatinya tentang tuhan itu sehingga dia berlaku bengal, tetap dia yakini sampai mati. kita tidak mendapatkan keyakinan bahasa seperti yang seharusnya kita temui sampai akhir puisi. ini menunjukkan kebimbangan yang dihadapi sosok aku dalam menemukan kebenaran itu sendiri.

saya rasa setiap induk yang hendak melahirkan bahasa harus melahirkan sesuatu yang benar-benar kuat diterima pembacanya, apalagi ini menyangkut sesuatu yang sangat sangkral. sesuatu yang bisa dijadikan pegangan hidup dan tuntunan bagi orang lain, bukan sekedar main-main seperti yang ditunjukkan oleh baris akhir pada puisi ini.
bahkan sosok camus di atas jauh lebih memiliki ketetapan hati. setidaknya camus lebih kuat dalam meyakini bahwa tuhan berdiam diri saja, sampai ajal menjemputnya.

kajitow elkayeni
filsuf


Tulisan keren ini kubaca di majalah Noor, Desember 2003.
Tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin dibaca oleh teman-teman sekalian sebagai bahan perenungan.
from gugel



Andai Al-Qur'an "Berbicara"!

Waktu engkau masih kanak-kanak, laksana kawan sejatiku
Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari

Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkau pun selalu menciumku mesra

Sekarang, engkau telah dewasa ...
Nampaknya kay sudah tak berminat lagi kepadaku ...
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah ...?
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rap sekali,
hingga kadang engkau lupa di mana menyimpannya.
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu saja.
Kadangkala aku dujadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa.
Atau kau buat penangkal, untuk menakuti hantu dan syetan.
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian.
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu ... pagi-pagi ... surat-surat yang ada padaku engkau baca beberapa halaman.
Sore harinya, engkau baca beramai-ramai bersama teman-temanmu di surau ...

Sekarang, pagi-pagi sambil minum kopi ...
Engkau baca koran pagi, atau nonton  berita TV.
Waktu senggang ... engkau sempatkan membaca buku karangan manusia.
Sedang aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa, engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan ...

Waktu berangkat kerja pun, kadang engkau lupa baca pembuka surat-suratku (basmalah).
Di perjalanan engkau lebih asyik menikmat musik duniawi.
Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu.
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu.
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatku kadang kau abaikan.

Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.
BEnarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.
Bila malam tiba negkau tahan berjam-jam di depan TV.
Menonton pertandingan Liga Italia, musik film, dan sinetron laga.

Waktu pun cepat berlalu ... aku menjadi semakin kusam di dalam lemari.
Mengumpul debuh, dilapisi abu, dan mungkin dimakan kutu.
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali, itu pun hanya beberapa lembar dariku.
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu.
Engkau pun kini terbata-bata dan kurang lancar setiap membacaku.

Apakah koran, TV, radio, komputer, dapat memberimu pertolongan?
Bila engkau dikubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba.
Engkau akan diperiksa oleh malaikat suruh-Nya.
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya!
Setiap saat berlalu ... kuranglah jatah umurmu ...!
Dan akhirnya kubur senantiasa menunggu kedatanganmu ...!
Engkau busa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat mau mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati ...
di kuburmu nanti ...
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan.
Yang akan membantu engkau membela diri.
Bukan koran yang engkau baca yang akan membatumu.
Dalam perjalanan di akherat nanti.
Tapi akulah "Q U R A N" kitab sucimu.
YAng senantiasa setia menemani dan melindungimu.

PEganglah aku lagi ... bacalah kembali aku setiap hari.
KArena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci. Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah saw.

Sentuhlah aku kembali ...
Bacalah ... dan pelajari aku lagi.
Setiap datangnya pagi dan sore hari.
Seperti dulu .... dulu sekali.
JAngan aku engkau biarkan ssendiri...
dalam bisu dan sepi
Maha benar Allah, Yang Maha PErkasa lagi Maha Bijaksana.
Semoga bermanfaat,
Amin ya Robal Alamin

Wabillahi -taufiq Walhidayah
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

MT."Fathiyatul HUda"

Tak Sedikit orang mengira, bahwa melakukan sesuatu yang secara normatif berjalan pada relnya, akan mendatangkan kebahagiaan. Pdahal, tak selamanya rutinitas seperti itu menjamin perubahan besar yang positif pada diri Anda. Apalagi jika hanya logika yang semata bicara.

Hidup memang harus berpikir. Tapi Anda perlu tahu bahwa bertapa intuisi ata kata hati menjadil hal yang tak kalah pentingnya. Kata hati adalah petunjuk Anda meraih segala impian dan tujuan hidup Anda.  Beranikah Anda? Berikut ini beberapa cara yang mungkin saja bisa membawa Anda pada sebuah perubahan besar dalam kehidupan.
from gugel

  1.  Berpikirlah Jernih dan Optimis.  Coba bayangkan, bagaimana kehidupan Anda jika semua yang Anda inginkan terwujud? Terkadang, di tengah perjuangan hidup ada hal-hal yang tidak kita inginkan, kita kerap melupakan pertanyaan ini. Jadi berpikir optimis dan yakinlah bahwa sesuatu yang indah akan Anda dapatkan.
  2. Dengarkan Intuisi Anda. Intuisi atau kata hati adalah pedoman Anda meraih segala kesuksesan. Intuisi akan membawa Anda pada ssituasi mengetahui sesuatu tapi Anda tidak tahu bagaimana Anda mengetahuinya. Terdengar  aneh, memang. Tapi, Anda harus segera menangkap intuisi yang hanya datang dan melintas sekejap. Kehadiran intuisi bisa melalui perasaan, emosi, terkadang ada getar di pencernaan atau melalui suara dan dorongan yang seakan meminta Anda melangkah dalam kehidupan. Biasanya intuisi ini akan membawa Anda pada sesuatu yang baru (pekerjaan), menemukan mitar yang serasi dalam bisnis, atau mendorong Anda membuka lembaran buku yang membawa pada sebuah pengetahuan baru guna meningkatkan kehidupan anda.
  3. Gunakan Selalu Pernyataan Positif. Jernikah pikiran dan cobalah untuk menuliskan apa yang menjadi target, visi, bahkan impian dalam hidup Anda. Tulislah kalimat singkat bernada positif tentang apa yang menjadi keinginan Anda dengan pena bertinta biru atau hitam. Misalkan saja, "Uang akan mudah mengalir dalam kehidupanku karena aku melakukan hal-hal yang memang aku cintai." Atau kalimat yang lebih tegas lagi, "Aku yakin, uang sebesar Rp. .... per bulan akan mudah aku dapatkan!" Atau jika Anda mengharapkan pasangan cinta, cobalah tulis, "Come to me and be my bride." dengan secari kertas warna pink dan harum. Ucaokanlah keinginan Anda itu berulang-ulang dalam sehari. Cukup dalam hati, karena Anda tak mau dianggap tak waras, tentunya. Atau, tak ada salahnya jika Anda menempelkan keinginan itu pada dinding kamar. Cara lain, Anda bisa memasukkan secarik kertas tadi dalam boks kecil dengan corak kesukaan.
  4. Bayangkan Keinginan Anda.  Tak ada salahnya jika Anda sesekali membayangkan keinginan itu terwujud. Cara ini akan menjadikan Anda mengukur seberapa jauh ANda telah melangkah. Ya, Anda bisa membayangkan apakah satu atau dua bayangan indah itu sudah diperoleh dalam kehidupan.
  5. Berdoa dalam Perenungan.  Doa adalah Mutlak! Segala angan adalah kosong belaka tanpa adanya campur tangan Tuhan sang Maha PEmbimbing. Cobalah merenung dan memusatkan pada apa yang Anda cari. Mintalah pertolongan pada Sang Penolong agar Anda dimudahkan dalam meraih dan dijauhi dari segala rintangan. Sisakan waktu dalam kehidupan Anda untuk-Nya. "Listen for God's wisdom, as it's the best intuition you've ever had." Manfaatkanlah lima waktu dalam sehari ... :)
  6. KEndalikan rasa Takut, Do It Anyway! Melakukan suatu perubahan dalam hidup kerap membuat Anda merasa tak nyaman. Anda tak perlu takut, terus lakukan perubahan secara bertahap yang bisa membawa positif pada diri. Manfaatkanlah energi di sekitar untuk melakukan hal-hal baru. YAkinlah alam pun akan merespon sikap Anda. Keberanian adalah kekuatan sekaligus keajaiban yang bisa membawa apa yang Anda lakukan dan impikan menjadi kenyataan.
  7. Jangan Anggap Remeh Logika.  Anda harus mendengarkan logika atau pikiran tentang situasi kehidupan. Cobalah untuk lebih memperhatikan keyakinan Anda tentang uang  atau material lainnya. Jika suatu saat Anda berpikir pesimistis tentang keuangan, tanyalah diri Anda, "Adakah pikiran selain ini (uang)?" atau "Aoa sih sebenarnya yang ingin aku ciptakan dalam hidup?" Setelah itu And tinggal pilih, apakah Anda ingin hidup secara benar, atau Anda ingin hidup bahagia?
  8. Pahami Bahwa Hidup ada Pasang Surut. Hidup tak selalu berjalan lurus sekalipun Anda merasa telah melakukan hal-hal yang dianggap benar. Hidup laksana alam yang mempunyai iklim, perputaran dan pasang surut. Cobalah untuk mengenali dan mengoptimalkan keadaan ini. Pastilah dalam siklus kehidupan, Anda akan menemukan waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang positif, baik itu dalam menciptakan networking, berpromosi, mengikuti kelas atau kursus, memberikan ceramah, hingga menciptakan bisnis baru. Namun, ANda juga harus sadar, bahwa hidup tak selamanya beraksi. Anda pun melakukan introspeksi, menciptakan impian, menuliskan pengalaman pada diary atau jurnal kehidupan Anda, hingga kalau perlu merenung. YAkinlah bahwa pasang surut waktu akan selalu memberikan sesuatu pada Anda dalam meilih jalan kehidupan.
  9. LEpaskan Beban.  Orang dan situasi negatif bisa menghambat dan menjatuhkan Anda. Nah, jika Anda pengusaha, adakah klie yang saat ini terlalu menguras energi dan tak sebanding dengan uang yang Anda dapatkan? LAlu adakah ketidak tentraman dalam hidup ANda hingga menyulitkan untuk melakukan yang terbaik? Anda harus berani berkata, "STOP!". Sebaliknya sudah saatnya bagi Anda untuk berani menggapai yang terbaik.
  10. PErhatikan Apapun yang Membangkitkan Gairah.  TAnyalah pada diri, apa yang menyenangkan Anda. lalu, apa pula yang membuat Anda tertarik dan bergairah. Intuisi ini akan memberikan gambaran apa tujuan hidup Anda. Yakinlah bahwa saat Anda melangkah ke depan, alam akan membuka pintu lebar-lebar pada apapun yang  Anda bayangkan. Bukankah kegagalan itu kecil terjadi jika Anda yakin takkan gagal?
Nah, sekarang tinggal bagaimana Anda memandang kehidupan. Mulailah Anda sedikit berani melakukan perubahan dalam hidup. Hidup adalah dinamis, dan itu bukanlah dosa.


Sumber: FH For Modern Living Volume 6 halaman 55-57
Bagi sahabat LovRinz yang ingin menerbitkan naskahnya di LRPH, LovRinz menerima naskah genre apapun.

Apakah LovRinz tidak menolak naskah?

Selama naskah masih dalam jalur visi dan misi LovRinz, maka naskah akan kami proses.

Apa saja yang menjadi landasan LovRinz dalam menerima naskah?
  1. Naskah Anda tidak mengandung unsur-unsur pornografi atau isu SARA. Definisi SARA adalah hal-hal yang bersifat mengarah ke permusuhan atau menyebarluaskan kebencian antargolongan, atau hal-hal negatif lainnya yang bisa merusak kerukunan hidup di tengah perbedaan.
  2. Naskah Anda tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama – khususnya Islam – dan/atau hukum/peraturan/perundang-undangan Negara Republik Indonesia. 

Apa sih Self Publishing itu?

Sahabat yang menerbitkan buku secara self publishing. Semua biaya penerbitan buku ditanggung oleh Anda. Namun untuk menangani hal-hal teknis yang berkaitan dengan penerbitan buku (editing, mendesain isi dan cover buku, mengurus ISBN, mencetak buku, mendistribusikan buku, dan sebagainya) diserahkan kepada perusahaan tertentu yang menyediakan layanan self publishing.

Lantas LovRinz bertindak sebagai apa?

LovRinz Publishing adalah sebuah publisher dari CV. RinMedia, sebuah badan usaha yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakan serta pendistribusian buku-buku dan sejenisnya. Sahabat LovRinz bisa menggunakan jasa LovRinz sebagai publisher.

Apakah buku yang dipublish oleh LovRinz juga ber-ISBN?

Tentu saja. ISBN diberikan kepada penerbit yang sudah berbadan hukum/berbadan usaha. Kode ISBN ada numerik unik dari suatu penerbit berbadan hukum. Dan LovRinz mendapatkan numerik unik tersebut, resmi.

Jadi bagaimana caranya bila ingin menerbitkan naskah dengan cara ini? Bagaimana proses pembayarannya?Untuk paket self bisa dibaca di sini

Untuk pembayaran, setelah naskah Sahabat diterima meja redaksi LovRinz, naskah akan dihitung. Kemudian akan dikomunikasikan, bila deal, naskah dikerjakan (10 hari kerja). Setelah tampilan pracetak jadi, baru proses pembayaran, kemudian masuk percetakan (10-14 hari kerja.

Tertarik? Segera kirimkan naskah terbaikmu :)

Selamat menulis.
Salam Netra


Alkisah, Si Fulana pagi-pagi sudah nongkrong di teras rumah tetangganya, sambil menggendong bayinya yang masih berusia satu tahunan. Si Fulana hafal betul, jam segini ini, pasti nyonya rumah membuka pintu dan memegang sapu, mulai menyapu halaman.

"Eh, Mbak ... sudah lama?"
"Enggak, Bu ... baru setengah jam."

Si Nyonya tersenyum malu-malu. Semalam ia terlambat memejamkan mata. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan dan baru tidur lepas tengah malam.

"Ada apa nih, pagi-pagi sudah di sini?"

Si Fulana itu mendekat sambil cengar-cengir tak keruan.

"Begini, Bu ... kalau boleh ... pinjam berasnya dua-tiga cangkir. Anak-anak belum makan."

Si Nyonya tersenyum lagi ...

"Ambil saja nasi yang sudah masak di belakang. Lauknya sekalian."

Si Fulana pun tersenyum bahagia. Ia sudah tahu pasti nyonya rumah akan berkata begitu. Dan pastinya pula ketika ia pamit pulang, dibawakan sekantung beras.

"Suamiku itu loh, Bu, kalau kerja milih-milih. Sudah beberapa hari ini nganggur. Aku bingung mau kerja apa. Jadi buruh cuci, kasihan anak-anak masih pada kecil, siapa yang jagain."

Si Nyonya pun sudah paham dengan cerita Si Fulana. Matanya melihat ke ujung jalan, rumah berpagar cokelat tua tempat tinggal si Fulana. Tertangkap bola matanya, suami Fulana sedang asyik ngobrol dengan seseorang. Asap rokok mengebul.

"Bilang sama suamimu, Mbak ... Daripada uang habis dibakar, belilah beras. Tidak dapat penghasilan tapi merokok jalan terus. Mbak juga, harus bisa mencari penghasilan untuk jaga-jaga. Kalau semisal, saya gak ada pagi ini, Mbak mau makan dari mana?"

Si Fulana tertunduk malu.

"Sudah, ambil nasinya, kasihan anakmu. Yang gede mau berangkat sekolah kan?"

Kaki Fulana kaku. Berat ia melangkah. Ke dapur ataukah keluar pagar? Pikirannya dipenuhi kata-kata si Nyonya.





---

Kisah di atas hanya fiksi belaka, namun tak bisa menutup mata dan telinga, terjadi di sekeliling kita. Bisa terjadi pada kita sendiri, atau orang di sekitar kita.

Sosok Fulana, bukanlah wanita yang lemah. Ia bisa saja mencari penghasilan sendiri. Namun, karena di rumah, ia memiliki bebrapa anak yang memang masih kecil-kecil dan tak memungkinkan untuk dititipi, maka ia hanya pasrah saja di rumah. Menunggu suaminya pulang dari kerja serabutan, dan tak tentu penghasilannya. Sang suami pun, terbilang egois. Mementingkan kesenangan diri sendiri, daripada mengutamakan kebutuhan keluarga.
Sosok Nyonya, mau tak mau, ikut menghidupi. Kebetulan ada, maka bisa ia berbagi, bila tidak?






Terhitung 19 September kemarin, LovRinz resmi jadi sebuah publishing.
Dan hingga hari kesembilan di bulan Oktober ini, LovRinz sudah memublish 4 buah buku. Sementara masih ada 4 buku lagi yang sedang proses.

Perkembangan yang cukup memuaskan, mengingat ini adalah mimpi yang tadinya hanya menjadi bunga tidur semata. Ternyata mimpi itu berteriak-teriak minta diwujudkan.
Dengan doa dan usaha para sahabat LovRinz, segalanya tak lagi menjadi peneman tidur.

Semoga LovRinz terus berjaya dan menyemarakkan dunia literasi di negeri ini.

Salam Netra,

LovRinz


Bismillahirahmanirahim ….

Oktober penuh cinta.

Dengan senang hati dan riang gembira, LovRinz mempersembahkan satu lagi buku istimewa buah karya sahabat-sahabat tercinta.

Judul                     : Rengkuh Aku, Kekasih
Penulis                 : Asih Wardhani, dkk
Jumlah Halaman   : x + 300 Halaman
ISBN                    : 978-602-71451-3-9
Cetakan Pertama : Oktober 2014
Harga                   : Rp. 49.900,- (Normal)
                              Rp. 39.900,- (Kontributor)

Rengkuh Dunia dengan Kisahmu. Impian yang tak berkesudahan. Menarikan jemari, menguntai aksara menjadi kisah yang apik. Rengkuh Aku, Kekasih, tercipta karena kasih. Dari saya untuk teman-teman, dari teman-teman untuk saya. Rengkuh Aku, Kekasih seri pertama ini tak hanya sekadar barisan kata-kata. Temukan arti dari setiap cerita, rengkuh ia dalam hatimu.~Asih Wardhani~

Untuk pemesanan PreOrder dibuka mulai sekarang sampai 13 Oktober 2014 dengan harga Rp. 44.900. Kontributor harga tetap.

Silakan menghubungi LovRinz Publishing
CP: Ida Fitri & Ajeng Maharani

Masing-masing kontributor akan mendapat 1 (satu) buah buku terbit gratis (tidak termasuk ongkos kirim). Dimohon kepada para kontributor yang ingin mendapatkan bukunya untuk mengirimkan alamat ke inbox Rina Rinz

Wassalam,
Salam Netra,
LovRinz Publishing
Masih ingat dengan kisah Faity?
Si Faity, LoveBird yang luar biasa


Coba baca ini

Faity ternyata sangat luar biasa. sampai detik ini, bulunya belum juga tumbuh sempurna. Tampaknya memang tidak pernah akan tumbuh seperti burung lainnya. Selalu gugur sebelum waktunya (bayangin, bulu-bulu muda berjatuhan setiap pagi dari tubuhnya).

Faity, burung lovbird yang cacat. Mulutnya petot, Untuk ukuran burung lovebird, gak ada bagus-bagusnya tampilan si Faity.

Yayah sempat putus asa, apa bisa burung ini berjaya seperti burung lainnya di rumah ini. Burung yang nyaris tak dilirik siapa pun di bedak. Dibeli Yayah semula karena kasihan.

Eh eh ... ternyata, semakin hari, si Faity makin gemilang. Suaranya yang dahsyat itu membuatku berkaca-kaca.

Satu hari diberanikanlah si Faity dibawa ke medan pertempuran eh medan kontes burung.

Kebayang gak apa tanggapan orang-orang saat melihatnya.

"Iso kerjo tah manuk iku?"

"Ora iso menang manuk koyok ngunu iku."

dan lain sebagainya.

Eh eh ... ternyata lagi ... Si Faity tak berkecil hati dihina-dina seperti itu. Mungkin pula burung-burung lainnya pada mencibir. Seperti orang-orang yang melihatnya. Tapi ia tak peduli. Dengan senyum yang merekah di mulut petotnya *kali dia senyum, kayaknya sih begitu, soalnya manis banget kalau dilihat heheheh* Faity bersikap tenang dan santai.

"Tunggu masaku..." Mungkin itu yang ia katakan.

Ketika naik di gantangan, suara kicaunya menarik perhatian para juri. Dan taraaa ... walau belum bisa jadi juara 1, Faity sudah membuktikan, di balik kelemahannya, ia memiliki sesuatu yang berharga. Usahanya tak sia-sia. Faity menjadi bintang di konser kemarin.

***

Faity saja bisa, apalagi kita. Kadang kita sudah merasa down duluan dengan kelemahan yang kita miliki. Minder, merasa tak berarti apa-apa. Lalu enggan mengusahakan sesuatu. Padahal, kalau saja kita mau diam sejenak, dan menggali potensi diri, kelemahan yang tadinya kita anggap masalah besar, bukan apa-apa.

Malu ah sama Faity ... yang tak kenal kata menyerah. Hehehe. Faity sudah menemukan bintang di dalamnya. Aku yakin, kamu juga punya bintang di dalammu. Yukk buatlah ia bersinar.

Selamat ya Faity ... Bunda bangga padamu. Eh* Faity anakku juga kan hahahah
Piagam Penghargaan untuk Faity, si Cepoth


Kura-kura saja sudah tak lagi berpura-pura tidak tahu di dalam perahu. Sedang aku masih saja berharap cepat sampai ke tepian dengan angin sebagai dayung. Hatiku tiba-tiba jadi dungu. Dan Kura-kura semakin cerdas saja dengan cuap-cuapnya walau kepala di dalam tempurung. Ia menjadi sangat mengerti tiap-tiap milimeter sketsa tubuhku. Tak ada yang tidak ia pahami. Dungu sudah seluruh aku.

Ombang-ambing di sini membuatku semakin mual bersama Kura-kura yang tak lagi berpura-pura. Aku seperti ditelanjangi oleh gelombang. Ingin kusumpal mulut si Kura yang sungguh tak lagi berpura-pura. Angin semakin kencang. Membawaku begitu menjauh dari tepian.

Sungguh tak dapat kutahan. Aku pun tak sanggup lagi berpura-pura. Mulutku pun menjadi tombak. Menusuk Kura-kura yang tak lagi berpura-pura tidak tahu itu lalu menariknya keluar dari tempurung.

Lalu kini aku berdiam di rumahnya … berpura-pura telah sampai ke tepian. Senyap lebih lelap. Cukup aku yang tahu, bahwa aku masih bisa berpura-pura tidak tahu. Bahwa aku benar-benar telah dungu.
: Handiko Seno

Langit masih terang benderang saat sebuah benda berputar di atas sudut kiri langit-langit kamarku yang berkaca bulat lonjong, seperti telur bebek di lemari makan yang tak pernah kusentuh sejak pertama ia dibawa pulang mama dari warung sebelah. Berwarna putih keemasan perlahan mendekat memantul-mantul dengan ketukan yang berirama ceria. Mengetuk langit-langitku.

Aku Alien, begitu kamu mengenalkan diri. Berteman setia dengan langit yang penuh dengan bintang tersenyum. Berkawan air yang gemericik dengan bernada suka dan selalu ditemani angin yang berembus sesuka hati. Entah dari belahan galaksi mana kau muncul. Justru sekarang sedang mengembara mencari asal jiwamu hingga nyasar ke lubang bumi ini.
 

Alien yang pintar, batinku, saat kau celotehkan kisah kasih langit yang terbawa angin jauh dari pelukanmu. Kadang ketakmengertian melanda alam pikirku saat sisi-sisi logikamu melebar ke seluruh ruang kamarku; sesak dan aku hanya bisa mengandalkan rasa.

Terpaku aku saat jemarimu - juga lima jari seperti jariku - menuliskan dan menggambarkan titik-titik tempat persinggahanmu selama mengembara. Semua itu jalan Tuhan, katamu. Mengernyit pula keningku. Alien pun mengenal Tuhan. Sungguh ajaib. Lagi-lagi lengkung itu tercipta ketika kupasang muka bengong. Kau sangat suka lengkung, mengingat kekasih anginmu yang selalu memberi cinderamata lengkung setiapbertemu  di persimpangan langitmu, dia yang selalu kaurindukan

Lantas kau selalu mengitari orbit; sejak itu mencari kekasihmu. Mampir di setiap langit-langit yang tersingkap. Siapa tahu Ninamu ada di dalamnya. Namun nyata bahwa Ninamu tersebar bagai bintang-bintang yang berserakan di galaksi luas sedang kauharap hanya satu.

Kukatakan Nina tak di sini. Tak ada di langit-langit kamarku, yang memang selalu terbuka menatap indahnya langit yang benderang. Aku juga mencari orang sepertimu. Tapi bukan alien yang kutunggu. Mungkin pangeran berkuda dari atas sana berkenan singgah di langitlangitku tapi tidak dengan alien, bukan alien

Sudah saatnya kau berkemas, Alienku. Bulat lonjong itu telah memanggilmu. 

Aantena kecilnya berbunyi panjang, menandakan kehadiran Nina di suatu tempat. Mungkin itu persinggahan terakhir. Semoga berakhir

Note :... kudedikasikan untuk sahabatku si Alien ... Only God knows ....
Sepatu Tua

Aku mencaricarimu di penjuru rumah. Seingatku tak pernah berpindah. Tapi hingga matahari di atas kepala, kau belum juga kutemui.

Sepasang cokelat muda itu memanggilmanggil dari balik pintu. Sudah saatnya berangkat, ujarnya. Aku masih enggan berdiri. Ini hari istimewa. Aku takkan berlalu tanpamu. Tujuh tahun berlalu, setiap tahun di hari ini, aku selalu bersamamu ke tempat itu. Pastilah ia kecewa bila tiada kau saat bertamu.

Aku mencaricarimu di penjuru rumah. Mengapa kau berpindah? Ini sudah lewat dari jam berkunjung. Tampaknya hari ini tak lagi istimewa.

Suara telepon mengagetkanku.

Sayang, kau tak datang? Bungaku layu. Taburi yang baru. Cepatlah, hari ini akan berakhir.

Katakata itu kubaca. Sesak.

Sepasang cokelat muda tersenyum saat kudekati.

Tujuh tahun, pengingat itu baru sekali berbunyi.

Kekasihku pasti menunggu. Dan ia pasti kecewa, kau tidak bersamaku.

Sepatu cokelat muda pemberian istriku ini, akankah membuatnya tambah kecewa?

Sepatu tua, di mana kau?

RR, 2014

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI