Google+ Followers

Sabtu, 27 September 2014

ANIMUS, AWAL DARI SEBUAH IMPIAN - Secuil Kisah Animus dari Ajeng Maharani


Ketika seorang Rina Rinz mengajak para sahabatnya untuk mengikuti sebuah program menulis dengan konsep 'Menulis Novel Satu Bulan, BISA!', aku ragu kalau aku mampu melakukannya.
Helloooo, siapa aku?? Mana bisa menulis novel dengan target 150 halaman dalam waktu sebulan, sedangkan nulis cerpen untuk event saja butuh waktu seminggu untuk menyelesaikan 7-8 halaman? Yuhuuu... Sadar diri dong!

Hikss...

"Bisa, pasti bisa. Dicoba dulu," kata wanita yang telah lama kukenal dari Komunitas Bisa Menulis itu. Maka, dengan keraguan aku pun ikut masuk ke dalam LovRinz and Friend.

Di awal-awal keikutsertaan kami, Rina Rinz menyuguhkan artikel tentang NaNoWriMo (National Novel Writing Month). NaNoWriMo adalah sebuah kegiatan menulis novel dalam satu bulan (30 hari) yang telah berlangsung sejak tahun 1999 hingga sekarang.

Saat membaca artikel tersebut, semangatku bangkit. Sudah banyak yang membuktikan bahwa bukanlah hal yang mustahil melakukannya. Jika mereka bisa, mengapa aku tidak? Mengapa tak kucoba? Maka kukatakan pada Rina Rinz dengan mantap, "Mbak, OK aku ikut progam menulis novel sebulan!"

Setelah menyiapkan tema, konsep cerita, penokohan dan tujuan akhir cerita, aku pun memulai menulis tepat pada tanggal 1 Juli 2014. Hari pertama, lancar kutulis 15 halaman pembuka. Berikutnya pun demikian. Dalam hati kutargetkan diri sendiri untuk menulis minimal 8 halaman sehari.

Dengan semangat yang menggebu, aku menulis setiap pagi hingga siang, kulanjutkan setelah bangun tidur hingga menjelang maghrib. Kemudian tengah malam, kalau mampu bertahan dari rasa kantuk, aku lanjutkan kembali. Selalu begitu. Aku harus konsisten dengan waktu, toh walaupun itu aku harus menulis di antara sela-sela memasak, menyapu, mengepel, mencuci baju, menjaga ketiga anakku, antar jemput sekolah, antar jemput mengaji, menemani mereka main atau belajar, dan seabrek tugas ibu rumah tangga lainnya, semua harus kulakukan. Sebuah notebook yang berdiri kokoh di atas lemari es selalu setia menyala. Tulis, lanjut kerja sambil berpikir kalimat-kalimat berikutnya, tulis lagi, kerja lagi ... demikian seterusnya.

Awalnya api semangat itu berkobar terus. Namun, ketika di akhir minggu kedua, aku mulai merasakan kejenuhan (ketika itu naskah terhenti pada kisah kedua--Yana dan Nora). Seminggu aku berhenti menulis. Iya, benar-benar berhenti! Tak menjamah naskah sama sekali!

Hingga akhirnya, suatu malam aku bertanya pada diri sendiri, "Apa yang ingin kau raih? Apa mau terus menjadi alasan bagi terhentinya perkembanganmu sendiri? Terhentinya sebuah mimpi untuk memiliki sebuah buku sendiri? Ingatlah semboyan Pak Isa, 'Satu Buku Sebelum Mati!'. Ayo bangkit! Kamu harus lanjutkan, HARUS BISA!"

Setelah itu, naskah pun kulanjutkan. Kukatakan pada Rina Rinz, "Mbak, maaf aku tak posting naskah dulu ya di LovRinz. Aku juga akan menjauhi online FB dulu. Aku mau fokus selesein Seven Days, Mbak."

"Oke, Mbak, tak apa. Fokuslah!"

Lanjut tulis, tulis dan tulis. Fokus, fokus, dan fokus. Hingga akhirnya, lebaran tiba dan naskahku pun selesai ... Alhamdulillah.

Tapi perjuangan tak berhenti hingga di situ. Setelah berlebaran selama seminggu, aku memulai self editing. Berkali-kali naskah kubaca, mencari titik kesalahan. Lalu 190 halaman itu kuserahkan pada Rina Rinz, untuk diedit ulang dan layout. Setelah selesai, dikembalikan padaku untuk diedit kembali, baru setelahnya kukembalikan padanya untuk dibenahi dan diedit sekali lagi.

(Ribet ya .... Hehehehe)

Memang, perjuangan mewujudkan impian itu tak mudah. Butuh pengorbanan dan ketekunan. Namun, begitu berita ISBN yang sempat galau selama sebulan karena suatu masalah itu telah keluar tiga hari lalu, dan cover bukuku terpampang di FB, rasa bahagia yang tak terkira pun menjamah hati. Apalagi melihat respon sahabat-sahabat yang sangat mengharukan bagiku. Tangis pun leleh. Melihat beberapa dari mereka menshare cover buku dan menggunakannya sebagai profile picture akun mereka.

Subhanalloh ... Amaizing! Perasaan yang tak ada duanya! Aku tahu ini bukan akhir, ini adalah sebuah awal. Sebuah titik bagiku untuk melanjutkan langkah maju ke depan. Animus bukanlah suatu pembuktian bahwa aku lebih mampu dari yang lainnya, lebih lihai dan keren dari mereka.

Tapi, Animus adalah bukti kalau aku bisa menaklukkan diriku sendiri. Menaklukkan kelemahanku, keraguanku. Itu yang paling penting. Sebuah perjalanan waktu yang merubah jiwa dan cara pandangku. Sebulan dengan banyak pelajaran tentang tekad dan semangat.
Rasa syukur kupanjatkan kepada Allah SWT yang telah menuntun aku ke jalan ini. Tak ada hal yang bisa terjadi pada diriku jika tanpa seijin-Nya. Terima kasih pula kepada para pembimbing Komunitas Bisa Menulis yang telah mengajarkan semua ilmunya tanpa pamrih.

Terima kasih kepada Rina Rinz yang telah menemukanku dari ketiadaan hingga menjadi ada. Terima kasih kepada seluruh sahabat KBM dan LovRinz tercinta, untuk doa, dukungan dan semangatnya yang telah diberikan padaku. Semoga Allah membalas semuanya dengan kebajikan yang berlimpah, aamiin aamiin ya Robal'alamiin.

“Kita takkan bisa tahu apa yang mampu kita lakukan jika kita tak memulai sesuatu!”

Salam Netra!

Bismillah, kita pun PASTI BISA!

Catatan: Animus terinspirasi dari pertemuan KOPDAR dengan Pak Isa Alamsyah di Surabaya (Teras Bidadari) Beliau menceritakan novel trilogi dari Stephen King, yang membuatku takjub dan ingin membuat novel seperti itu. Terima kasih teramat sangat kepada beliau.

1 komentar:

  1. Mabruuuuuuuuuuuukkkkkkkkkkkkkkk, semoga aku bisa cepat nyusul ya ...

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI