Google+ Followers


Ketika seorang Rina Rinz mengajak para sahabatnya untuk mengikuti sebuah program menulis dengan konsep 'Menulis Novel Satu Bulan, BISA!', aku ragu kalau aku mampu melakukannya.
Helloooo, siapa aku?? Mana bisa menulis novel dengan target 150 halaman dalam waktu sebulan, sedangkan nulis cerpen untuk event saja butuh waktu seminggu untuk menyelesaikan 7-8 halaman? Yuhuuu... Sadar diri dong!

Hikss...

"Bisa, pasti bisa. Dicoba dulu," kata wanita yang telah lama kukenal dari Komunitas Bisa Menulis itu. Maka, dengan keraguan aku pun ikut masuk ke dalam LovRinz and Friend.

Di awal-awal keikutsertaan kami, Rina Rinz menyuguhkan artikel tentang NaNoWriMo (National Novel Writing Month). NaNoWriMo adalah sebuah kegiatan menulis novel dalam satu bulan (30 hari) yang telah berlangsung sejak tahun 1999 hingga sekarang.

Saat membaca artikel tersebut, semangatku bangkit. Sudah banyak yang membuktikan bahwa bukanlah hal yang mustahil melakukannya. Jika mereka bisa, mengapa aku tidak? Mengapa tak kucoba? Maka kukatakan pada Rina Rinz dengan mantap, "Mbak, OK aku ikut progam menulis novel sebulan!"

Setelah menyiapkan tema, konsep cerita, penokohan dan tujuan akhir cerita, aku pun memulai menulis tepat pada tanggal 1 Juli 2014. Hari pertama, lancar kutulis 15 halaman pembuka. Berikutnya pun demikian. Dalam hati kutargetkan diri sendiri untuk menulis minimal 8 halaman sehari.

Dengan semangat yang menggebu, aku menulis setiap pagi hingga siang, kulanjutkan setelah bangun tidur hingga menjelang maghrib. Kemudian tengah malam, kalau mampu bertahan dari rasa kantuk, aku lanjutkan kembali. Selalu begitu. Aku harus konsisten dengan waktu, toh walaupun itu aku harus menulis di antara sela-sela memasak, menyapu, mengepel, mencuci baju, menjaga ketiga anakku, antar jemput sekolah, antar jemput mengaji, menemani mereka main atau belajar, dan seabrek tugas ibu rumah tangga lainnya, semua harus kulakukan. Sebuah notebook yang berdiri kokoh di atas lemari es selalu setia menyala. Tulis, lanjut kerja sambil berpikir kalimat-kalimat berikutnya, tulis lagi, kerja lagi ... demikian seterusnya.

Awalnya api semangat itu berkobar terus. Namun, ketika di akhir minggu kedua, aku mulai merasakan kejenuhan (ketika itu naskah terhenti pada kisah kedua--Yana dan Nora). Seminggu aku berhenti menulis. Iya, benar-benar berhenti! Tak menjamah naskah sama sekali!

Hingga akhirnya, suatu malam aku bertanya pada diri sendiri, "Apa yang ingin kau raih? Apa mau terus menjadi alasan bagi terhentinya perkembanganmu sendiri? Terhentinya sebuah mimpi untuk memiliki sebuah buku sendiri? Ingatlah semboyan Pak Isa, 'Satu Buku Sebelum Mati!'. Ayo bangkit! Kamu harus lanjutkan, HARUS BISA!"

Setelah itu, naskah pun kulanjutkan. Kukatakan pada Rina Rinz, "Mbak, maaf aku tak posting naskah dulu ya di LovRinz. Aku juga akan menjauhi online FB dulu. Aku mau fokus selesein Seven Days, Mbak."

"Oke, Mbak, tak apa. Fokuslah!"

Lanjut tulis, tulis dan tulis. Fokus, fokus, dan fokus. Hingga akhirnya, lebaran tiba dan naskahku pun selesai ... Alhamdulillah.

Tapi perjuangan tak berhenti hingga di situ. Setelah berlebaran selama seminggu, aku memulai self editing. Berkali-kali naskah kubaca, mencari titik kesalahan. Lalu 190 halaman itu kuserahkan pada Rina Rinz, untuk diedit ulang dan layout. Setelah selesai, dikembalikan padaku untuk diedit kembali, baru setelahnya kukembalikan padanya untuk dibenahi dan diedit sekali lagi.

(Ribet ya .... Hehehehe)

Memang, perjuangan mewujudkan impian itu tak mudah. Butuh pengorbanan dan ketekunan. Namun, begitu berita ISBN yang sempat galau selama sebulan karena suatu masalah itu telah keluar tiga hari lalu, dan cover bukuku terpampang di FB, rasa bahagia yang tak terkira pun menjamah hati. Apalagi melihat respon sahabat-sahabat yang sangat mengharukan bagiku. Tangis pun leleh. Melihat beberapa dari mereka menshare cover buku dan menggunakannya sebagai profile picture akun mereka.

Subhanalloh ... Amaizing! Perasaan yang tak ada duanya! Aku tahu ini bukan akhir, ini adalah sebuah awal. Sebuah titik bagiku untuk melanjutkan langkah maju ke depan. Animus bukanlah suatu pembuktian bahwa aku lebih mampu dari yang lainnya, lebih lihai dan keren dari mereka.

Tapi, Animus adalah bukti kalau aku bisa menaklukkan diriku sendiri. Menaklukkan kelemahanku, keraguanku. Itu yang paling penting. Sebuah perjalanan waktu yang merubah jiwa dan cara pandangku. Sebulan dengan banyak pelajaran tentang tekad dan semangat.
Rasa syukur kupanjatkan kepada Allah SWT yang telah menuntun aku ke jalan ini. Tak ada hal yang bisa terjadi pada diriku jika tanpa seijin-Nya. Terima kasih pula kepada para pembimbing Komunitas Bisa Menulis yang telah mengajarkan semua ilmunya tanpa pamrih.

Terima kasih kepada Rina Rinz yang telah menemukanku dari ketiadaan hingga menjadi ada. Terima kasih kepada seluruh sahabat KBM dan LovRinz tercinta, untuk doa, dukungan dan semangatnya yang telah diberikan padaku. Semoga Allah membalas semuanya dengan kebajikan yang berlimpah, aamiin aamiin ya Robal'alamiin.

“Kita takkan bisa tahu apa yang mampu kita lakukan jika kita tak memulai sesuatu!”

Salam Netra!

Bismillah, kita pun PASTI BISA!

Catatan: Animus terinspirasi dari pertemuan KOPDAR dengan Pak Isa Alamsyah di Surabaya (Teras Bidadari) Beliau menceritakan novel trilogi dari Stephen King, yang membuatku takjub dan ingin membuat novel seperti itu. Terima kasih teramat sangat kepada beliau.
Buku Baru!!!

Dengan senang hati, LovRinz Publishing meluncurkan sebuah karya keren.

Judul : Animus, Seven Days
Pengarang : Ajeng Maharani
Ukuran : 14 cm x 21 cm
Tebal : xviii + 301 halaman
Cover : Soft cover
ISBN : 978-602-71451-0-8
Harga : Rp. 69.000,-


Sejatinya manusia tak cukup hanya memiliki hati. Karena terkadang, hati manusia pun bisa terluka. Tersayat lalu berdarah.
Saat amarah dan kebencian yang tercipta masih terpancang kuat di dalamnya, perlahan-lahan melahap hati itu sendiri, bagaimanakah manusia akan menghapus deritanya? Ke manakah mereka akan berlari mencari keadilan?
Animus, novel yang memuat empat kisah manusia yang terbelenggu oleh kebencian. Amarah dan dengki yang membawa mereka ke Danau Sinabu, sebuah danau penuh angkara.
Selamatkah mereka mengalahkan kebencian dalam hati? Atau justru makin tenggalam dalam pekatnya dendam yang mematikan jiwa?

===***===

Dapatkan harga spesial Rp. 47.900 (Belum termasuk OngKir) dengan PO mulai hari ini sampai tanggal 27 September 2014.

Hubungi FB Ajeng Maharani atau Rina Rinz untuk melakukan pemesanan.
Atau WA/SMS ke 0856-0660-6007 CP. Ajeng Maharani
Transfer ke BCA 01-825-831-01 AN. Ajeng Maharani

Tunggu apalagi? Jangan ragu untuk memilikinya sebuah atau hadiahkan pada orang terkasihmu.

Salam Netra!

LovRinz Publishing



Life Stories seri pertama. Writer's Soul




Menjelang sore, seorang sahabat mengirim pesan padaku. Meminta informasi mengenai sebuah event bertajuk life stories yang beberapa waktu lalu diumumkan admin cantik kita Mbak Ajeng Maharani.

Si pengirim pesan yang juga cantik ini meragukan dirinya yang ingin ikut namun tidak yakin tulisannya akan lolos. Diksi minim dan teori menulis yang payah. Kirakira begitu anggapannya.

Oke, aku ingin berkisah sedikit, kenapa ingin sekali mengangkat Life Stories. Bukankah itu tema yang biasa, dan rasanya mustahil sekali dipasarkan?

Hmm... izinkan aku berbagi tentang ini ...
ini kukutip dari www.oneminuteonline.wordpress.com.

“…Seorang pria bernama Jack bermimpi untuk menulis buku. Bukan buku biasa. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, pada waktu itu. Buku itu akan berisi kumpulan kisah yang menggugah, d...itulis dengan singkat dan padat, namun mengena. Dan yang membuat buku itu istimewa karena semua kisah dalam buku itu didasarkan pada kisah nyata. Jack percaya buku itu akan disukai karena akan menginspirasi banyak orang yang membacanya. Setelah menemukan hasratnya, ia mulai menulis dengan penuh semangat.

Ketika buku itu telah selesai ditulis, naskah itu pun diajukan ke penerbit. Jack optimis akan mendapat respon positif. Tapi di luar dugaan, penerbit menolaknya. Tapi, masih ada banyak penerbit lain. Jack pun kembali mencoba memasukkan naskahnya ke penerbit lain. Dan ia ditolak lagi. Ia mencoba lagi untuk ke tiga kalinya, dan ditolak lagi. Ia tetap tak kenal menyerah. Ia mencoba lagi dan lagi, dan penolakan demi penolakan terus saja diterimanya. Tak tanggung-tanggung, ia telah mendapatkan penolakan sebanyak 124 kali!

Ya, 124 kali! Bukan jumlah yang sedikit. Bisakah Anda bertahan atas penolakan sebanyak itu? Pada penolakan yang ke berapakah kira-kira Anda akan memutuskan utnuk berhenti dan menyerah? Pada penolakan ke-100 kah? Pada penolakan ke-50 kah? Atau jangan-jangan daya tahan Anda hanya pada penolakan ke-10?

Seandainya Jack memutuskan untuk menyerah pada penolakan ke-10, ke-50 atau ke-100 atau bahkan ke-124 dunia tidak akan pernah mengenal sebuah buku yang paling menginspirasi orang dari berbagai belahan bumi selama bertahun-tahun. Buku itu kita kenal dengan “Chicken Soup for the Soul”. Pada usahanya yang ke-125 akhirnya sebuah penerbit menerima naskahnya dan menerbitkannya. Dan ternyata buku itu laris manis, dan berhasil masuk dalam 150 top best seller sepanjang 15 tahun.

Serial Chicken Soup menjadi buku motivasional yang sangat digemari di berbagai belahan bumi. Ada lebih dari 200 judul dari setiap serial buku ini yang telah dibuat oleh Jack Canfield, dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, dan terjual lebih dari 112 juta copy…..”
Buku-buku seri Chicken Soup mendulang sukses justru karena kekuatan ceritanya. Kekuatan cerita tersebut bukanlah terletak pada tema-tema yang berat, melainkan pada kesederhanaan kisah, kalimat-kalimat yang mengalir runut, menceritakan sebuah kisah sederhana yang pada akhir cerita akan membuat mulut kita ternganga saking takjubnya atau mungkin hanya sekedar menarik napas panjang dan berpikir, “Wah.. ceritanya gue banget nih…”

Berangkat dari situ, bukan latah, tapi benarbenar ingin memiliki sesuatu yang bisa dibagi untuk orang banyak, maka Life Stories bisa terwujud. Bahkan ide pertamanya yang tercetus dari Writer Wanna Be, sebelum Lovrinz and Friend terbentuk.

Kisah-kisah yang ditampilkan di buku sejenis Chicken Soup itu singkat, ringan, namun membawa banyak hikmah dan inspirasi bagi siapa pun di berbagai belahan dunia ini. Begitulah harapan di Life Stories.

Jadi, bagi temans yang ingin ikut namun merasa kurang teori, abaikan. Menulislah dari hati. Maka ia akan sampai ke hati pembaca juga. Namun, jangan melupakan EYD dan kerapian lainnya, itu nilai plus untuk naskahmu dan pastinya akan dilirik tim editor untuk masuk ke dalam buku.

Nah, untuk seri kedua Life Stories yang sedang dinanti ini adalah tentang kehidupan berumahtangga. Pikirkan satu cerita kecil dalam periode kehidupan kita yang sesuai dengan tema tulisan yang akan kita buat. Galilah cerita tersebut secara mendalam, dan temukan hikmah apa yang bisa kita bagikan kepada orang lain dari cerita tersebut. Mungkin cerita tersebut bukan kisah yang luar biasa, bukan pula kisah yang mampu menggetarkan banyak hati.
Tapi setidaknya, cerita itu membawa dampak dalam kehidupan kita di kemudian hari.
Kalau Jack saja bisa, aku, dan kamu juga bisa!

Selamat menulis.
Setelah berjuang dengan semangat yang tak pernah padam, akhirnya LovRinz Publishing hadir. 

Maraknya penerbit indie tidak mematahkan semangat Lovrinz untuk ikut meramaikan dunia buku indie. LovRinz ingin membantu teman-teman yang mau mempublikasi bukunya secara mandiri. Jangan ragu untuk berbagi naskah Anda lewat LovRinz Publishing.

Lovrinz Publishing menerima naskah apa saja, asal tidak mengandung SARA.

  • LovRinz Publishing membantu menerbitkan buku Anda dalam jumlah sesuai dengan keinginan. Mulai 20 eksemplar.
  • Penulis boleh mendisain sendiri cover buku dan layout isi serta EYD. Jika memakai jasa LovRinz Publishing untuk  disain cover dan layout serta editing EYD ada biaya tambahan yang besarnya tergantung pada spesifikasi bukunya.
  • LovRinz memberikan fasilitas ISBN atas nama LovRinz Publishin.
  • Ukuran buku standar 13×19 cm, 14×20 cm, 14×21 cm atau 16×24 cm, jenis kertas standar yang dipakai bookpaper, HVS 70/80 gr, cover doff/glosy, shrink (segel plastik).
  • Buku dijual langsung oleh penulis dan semua keuntungan penjualan 100% untuk penulis. Jika buku dititipjualkan kepada LovRinz, maka akan ada hitungan sendiri yang akan dibicarakan selanjutnya


Makna di Balik Logo

Warna biru itu adem ... selain itu, menganalogikan luasnya imajinasi seperti luasnya angkasa biru ....

Lengkung separuh serupa hati yang tampak bersinar dengan taburan bintang itu menganalogikan imajinasi yang keluar dari hati akan terus bersinar.

Elips yang membingkai LR itu menganalogikan netra (sesuai dengan slogan LovRinz and Friends).

Mengapa hatinya tergambar tak utuh? Sebab separuhnya lagi adalah milik pembaca karya LovRinz. Biar pembaca menyelami dengan kedalaman hati lewat dasyatnya netra yang menangkap tiap akrasa yang terjalin.

So, jangan ragu menghubungi LovRinz dan wujudkan tulisanmu bersama kami.

Untuk info lebih lanjut bisa hubungi akun facebook Rina Rinz.
Tentang lembarlembar yang katanya bisa membeli cinta. Aku dan seraut wajah penuh tanya. Duduk di teras sembari menanti gerobak yang penuh sayur mayur.

Dilipatlipatlah yang rapat, keluarkan saat yang tepat ... Begitu katamu.

Aku dan seraut wajah penuh tanya. Lembarlembar yang bisa membeli cinta masih tersimpan di balik kutang. Gerobak telah lewat satu dua. Kaki enggan melangkah. Bukan saat yang tepat, benakku menganggukangguk.

Apa yang kaudapat? suaramu mendatangiku.

Senyum merekah, tanya dari wajahku mendadak buyar.

Kau ikut tersenyum.

Terlalu lama di teras, kau bisa gila. Kau tertawa.

Masak apa?

Tidak.

Lah?

Aku memilih melipat lembar itu rapatrapat. Tak tepat saat ini.

Lalu? Kita makan apa?

Kupikir, lebih baik buat beli bahan bakar motormu saja.

Tapi aku lapar.

Jangan gundah, nasi goreng sudah tersedia.

Lagi?

Tentang lembarlembar yang katanya bisa membeli cinta. Aku dan seraut wajah penuh tanya. Ah, kini kau pun ikut bertanyatanya.

Tenang ... kulipat rapatrapat, dan keluarkan saat yang tepat, persis seperti katamu.

#FiksibelakaTentangIbuibudikampungyangributmaumakanapahariini

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI