Google+ Followers

Jumat, 15 Agustus 2014

Jangan Pernah Takut Bermimpi

"Aku tak pernah bermimpi, akan begini jadinya ..."

Di antara sekian banyak orang, pasti pernah mengeluarkan kata-kata di atas sadar ataupun tidak.

Benarkah tak pernah bermimpi akan sesuatu hal yang tengah terjadi, misal sesuatu yang buruk--dalam anggapannya?

Saya punya satu kisah--banyak sesungguhnya-- yang mungkin bisa jadi bahan perenungan kita
bersama.

Dulu, saat saya kecil, di antara empat bersaudara, bisa dibilang saya anak yang tidak punya cita-cita tinggi.

Saat saudari-saudari saya bertukar cita dan angan tentang masa depan, saya tidak muluk-muluk.
Ketiga adik perempuan saling semangat mengungkapkan apa yang mereka inginkan, seperti, kelak akan menikah dengan pesta yang megah, dan segala pernak-perniknya, ingin sekolah yang tinggi, agar bisa bekerja dan menghasilkan uang banyak, mendapat kekasih yang ganteng dan hidup di kota besar dengan rumah wah lengkap dengan perabotnya. Sementara saya, jujur saja sejak kecil tak punya mimpi aneh, dengan bangganya berkata, "Kalau nikah, Mbak pengennya sederhana saja, semacam pesta kebun, dihadiri sanak saudara terdekat. Pengennya menikah dengan orang Sunda, dan punya rumah di pinggir sawah dengan kolam ikan yang bergemericik airnya. Gak mau sekolah tinggi-tinggi, soalnya mama yang sekolahnya tinggi cuma ngedekem di rumah. Buang-buang biaya."

Ya, begitulah Rina kecil 'bermimpi'.

Sekian tahun berjalan, dan kini saya telah menjadi seseorang.

Satu saat, ada seorang teman curhat. Mengeluhkan kehidupannya yang tak seperti harapan. Menikah dengan seorang pemain musik, namun kini ia ditinggalkan.

Dari hasil curhatnya, ada satu kesimpulan. Semua yang ia alami, tidak jauh berbeda dari angan masa kecilnya. Sejak kecil ingin sekali punya suami seorang kontraktor--pikirnya akan mudah dibuatkan rumah, pikiran yang aneh menurutku, tapi maklum masih kecil. Nah, setelah dia menikah, belum ada setahun, ia berkenalan dengan seorang laki-laki dan ajaibnya, kontraktor seperti impian. Dan lucunya lagi, suaminya bertemu dengan cinta pertama, hingga memilih berpisah dari teman saya ini.

Bukan ingin mengomentari persoalannya, tapi menanggapi kata-kata di atas. "Aku tak pernah bermimpi, seperti ini kejadiannya."

Bukan kebetulan, tapi apa yang ia angankan saat masa kecil, terwujud di masa depan (sekarang atau nanti). Sama seperti cita-cita sederhana saya, yang kini bersuamikan seseorang berdarah Sunda, dan menghabiskan hidup di desa, dan ajaibnya pula, untuk saat ini kami dihidupi dari sawah. Heheheh.

Entah bagaimana dengan sahabat saya itu. Semoga ia bisa mengambil keputusan yang bijak demi masa depannya.

Satu hal sebagai reminder kita, segala kejadian yang kita alami di masa kini, bukan semata-mata karena kebetulan. Sadar atau tidak, kehidupan yang saat ini kita jalani adalah bagian dari mimpi kita dahulu.

Benar atau tidak? Meski hanya sebagian kecil, mimpi itu pasti terwujud.

Jangan pernah takut bermimpi.

1 komentar:

  1. Berani bermimpi lebih besar lagi ga mbak? Mampir yuk www.nunuymarkunuy.blogspot.com

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI