Google+ Followers

Setelah kejadian--yang semula kupikir musibah besar-- sesaat setelah Lebaran kemarin (rumah kemalingan dan burung-burung piaraan diambil orang yang mungkin naksir berat sama makhluk menggemaskan itu, suamiku membeli seekor burung Lovebird. Jangan dipikir burung itu mahal. Tidak .. tidak sama sekali.

Ketika dikeluarkan dari kurungan, suami bertanya, di mana gunting kuku. Aku bingung, buat apa? Masa iya buat motongin kukunya Lovebird. Lalu suami cepat-cepat mengeluarkan suara, "Udah mana dulu, kebanyakan tanya deh, Bunda ini."

Oke, oke, segera kuambil di tempat penyimpanan. Beruntung masih ada, biasanya entah di mana. Hahahah, *istri yang ceroboh.

"Ya Allah, itu burung kenapa?" Sedih nian, mulutnya berot ke kanan.

Suami dengan cekatan, memotongi sedikit bagian mulutnya yang lancip. Alasannya, agar tidak melukai bagian lainnya. *manggut-manggut.

"Bulunya, tak tumbuh-tumbuh. Ya coba aja, dijaga dan dirawat, siapa tahu ia akan tumbuh sempurna." Suami menjelaskan pertanyaanku tentang keadaan burung yang nyaris gundul itu. Eh tapi hanya badannya saja. Kepala mah baik-baik saja.

Burung yang dibeli dengan harga murah itu--keadaannya tidak sempurna-- ternyata punya satu kelebihan ajaib.

Biasanya, burung yang sedang masa tumbuh bulu/ganti bulu, akan kesulitan mengeluarkan kicauan. Ternyata, si Faity, begitu aku memanggilnya, sungguh amat keren. Dia mampu ngekek lebih dari 30 detik. Untuk ukuran Lovebird, itu sudah bagus, banget. Apalagi kalau kepalanya cengklek saat ngekek.

Ajaib banget. Ia juara di antara lovebird lain penghuni rumah ini.

Belajar dari Si Faity, aku menyadari satu hal. Kesempurnaan fisik, bukanlah satu-satunya jalan kesuksesan. Si Faity, yang mungkin bila diikutkan lomba, tentu kalah fisiknya. Tapi sesuatu di dalamnya, bisa gemilang, karena Faity tak berhenti melatih kicauannya. Walau mungkin dia kesakitan.

Sama halnya dengan menulis. Tak sedikit yang curhat, minder, gak bisa nulis, tulisannya amburadul, bla bla bla.

Ayo, belajarlah pada Faity. Buang mindernya, buang takutnya. Bila kau ingin bisa menulis, menulislah. Jangan banyak bertanya, sebab jawabannya adalah, saat kau berani memulai, dan terus lakukan.

Kelak, kau akan tahu, ada bintang yang bersinar terang di dalammu.



Ada apa?? Kenapa teriak-teriak??

Ini lohhh ... tolong aku, kenapa tulisanku gak kelar-kelar? Rasanya buntu dan pengen sembunyi di kolong tempat tidur

Aih, segitunya. Kalau tidak kelar ya dikelarin. Masalahnya apa?
Masalahnya, aku gak tahu mau lanjutin cerita bagaimana. Bisa bantu aku?

Hehehehe. Derita loe. Upss, maaf-maaf ... coba kita urai dulu, kenapa sih harus minta bantuan orang lain.

Ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab.

1. Apa yang kamu tulis itu sesuatu hal yang kamu sukai?

Bila tidak, hentikan. Buang-buang energi. Menulislah apa yang kamu suka. Lebih nyaman lagi, menulis apa yang kamu ketahui, misal dari pengalamanmu sendiri. Itu lebih mudah dijalani, ketimbang harus menuliskan hal yang tidak kamu tahu. Kalaupun memang memaksa ingin menuliskannya, survey dan sedikit riset itu perlu.

2. Apa tujuanmu menuliskan itu?

Sebelum menulis, tentu kamu punya target dan tujuan kan, mau dibawa ke mana tulisan itu. Biasanya, seseorang yang sudah tahu arahnya, akan lebih cepat sampai, tak perlu berputar-putar. Sama halnya dengan menulis, kenapa gak kelar? Bisa jadi karena kamu tak punya tujuan akhir. Sekadar menulis, tanpa punya acuan yang jelas, inilah yang membuat cerita tak punya ujung. Atau malah bertele-tele sampai puyeng mau mengakhirinya bagaimana. Ayo, coba ingat-ingat, dulu, ketika memulai, apa yang kamu harapkan dari tulisan yang tak kelar-kelar itu? Hanya berakhir di folder? Atau segera berbentuk menjadi buku? Ya, apapun tujuanmu, haruslah bermuara. *paham gak ya aku ngomong apa?

3. Masih tak jelas ceritamu mau dibawa ke mana?

Oke, sekarang, ambil selembar kertas, atau buka dokumen baru. Tuliskan lagi dari apa yang kamu mau dalam ceritamu. Ceritakanlah padaku, dalam bentuk tulisan. Separagraf saja (sebebas apa yang ingin kauungkap dalam tulisanmu). Tunggu apa lagi? Ayo tulis!

Sudah?

Baca lagi. Sudah ada awal? Akhir? Kalau sudah, mari menuliskannya kembali. Tuang apa yang sudah kamu buat dalam separagraf itu menjadi berlembar-lembar cerita. Caranya?

Kembangkan imajinasimu. Olah kosakata yang ada di benakmu. Rangkai dengan napas panjang, mengacu pada apa yang kamu buat di paragraf tadi. Jangan melebar, kembangkan hanya dari apa yang kamu tulis. Sampai akhir.

Kalau sudah, selamat! Kau tak perlu bantuan orang lain. Hanya dirimu saja yang mampu menyelesaikan tulisanmu sendiri.

Tahap selanjutnya adalah ... endapkan dulu, baru kita mulai membaca ulang dan siap memperbaikinya.

Selamat menulis.

Pertanyaan itu masuk ke inbox, semalam. Lucunya, kalimat itu nyaris ia tanyakan setiap ngobrol denganku.

Terus aku kudu bilang wow gitu akan konsistensinya bertanya hal yang sama? Hehehe

Mungkin dari sekian banyak yang baca tulisan ini, pernah punya pertanyaan serupa. Merasa pengen nulis, tapi masih tak yakin bakal jadi penulis hebat atau hanya sekadar penulis biasa.

Hebat atau tidaknya seorang penulis, yang bisa mencapainya ya hanya penulis itu sendiri.

Seorang penulis best seller Felix Siauw dalam bukunya: How To Master Your Habits.
"Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian tertentu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan alias habits."

Seorang penulis yang mau hebat, tentulah harus banyak berlatih. Ibarat pilot, akan semakin mahal bila jam terbangnya tinggi, ya sama juga dengan penulis.

Sudah berapa tulisan yang kamu hasilkan? Jangan dulu bicara berapa buku yang diterbitkan. *toh nyatanya aku juga belum banyak buku yang terbit atas nama sendiri. Hehehe Kali ini kita bicara, seberapa sering kamu melatih diri menulis dengan baik. Cobalah dari hal-hal kecil. Misalnya menulis status yang bukan sekadar keluhan kosong. Mengeluh lewat status di jejaring sosial, boleh saja, siapa yang melarang ... tapi, coba ubah keluhanmu itu menjadi sesuatu yang bisa diambil hikmahnya, menjadi pelajaran untuk para pembaca. Gimana caranya tuh? Hehehe Coba apa saja.

Misal, saat ini kamu lapar banget. Tapi ndak bisa ke mana-mana, karena sakit dan berdiam di kamar. Iseng nulis status. "Aih, lapar banget. Gara-gara sakit, gak bisa masak, apalagi beli di warung. Sial banget sih." Kenapa gak bikin status yang lebih berseni--ciye gayanya--. "Menit terus berjalan, sementara kaki tetap terpaku di sini. Ya di sini. Hanya bisa terduduk di sudut ranjang. Ada yang berteriak di dalam perut. Sudah puluhan kali. Namun, aku tak kuasa. Tubuh terlalu lunglai untuk diajak bangkit. Siapa pun yang membaca ini, bisakah menemuiku di kamar ini? Sebentar saja. Tapi tolong, bawakan aku semangkuk bubur ayam. Eh bukan, bukan semangkuk, karena kurasa itu takkan cukup mengenyangkanku. Tolonglah ... NB: Sekalian sama obat ya, persediaan sudah habis."

Hehehe, bisa saja kan ... Selain melatih mengolah kata, iseng-iseng berhadiah, sapa tahu ada yang benar-benar bawain bubur ayam. Hmmm Yummmy ...

Berlatihlah terus menerus tanpa henti. Kehebatanmu, hanya bisa ditentukan oleh dirimu sendiri.

Sudah siapkah berlatih tiada henti?

Bila siap, maka mimpi jadi penulis hebat akan jadi kenyataan.


"Aku tak pernah bermimpi, akan begini jadinya ..."

Di antara sekian banyak orang, pasti pernah mengeluarkan kata-kata di atas sadar ataupun tidak.

Benarkah tak pernah bermimpi akan sesuatu hal yang tengah terjadi, misal sesuatu yang buruk--dalam anggapannya?

Saya punya satu kisah--banyak sesungguhnya-- yang mungkin bisa jadi bahan perenungan kita
bersama.

Dulu, saat saya kecil, di antara empat bersaudara, bisa dibilang saya anak yang tidak punya cita-cita tinggi.

Saat saudari-saudari saya bertukar cita dan angan tentang masa depan, saya tidak muluk-muluk.
Ketiga adik perempuan saling semangat mengungkapkan apa yang mereka inginkan, seperti, kelak akan menikah dengan pesta yang megah, dan segala pernak-perniknya, ingin sekolah yang tinggi, agar bisa bekerja dan menghasilkan uang banyak, mendapat kekasih yang ganteng dan hidup di kota besar dengan rumah wah lengkap dengan perabotnya. Sementara saya, jujur saja sejak kecil tak punya mimpi aneh, dengan bangganya berkata, "Kalau nikah, Mbak pengennya sederhana saja, semacam pesta kebun, dihadiri sanak saudara terdekat. Pengennya menikah dengan orang Sunda, dan punya rumah di pinggir sawah dengan kolam ikan yang bergemericik airnya. Gak mau sekolah tinggi-tinggi, soalnya mama yang sekolahnya tinggi cuma ngedekem di rumah. Buang-buang biaya."

Ya, begitulah Rina kecil 'bermimpi'.

Sekian tahun berjalan, dan kini saya telah menjadi seseorang.

Satu saat, ada seorang teman curhat. Mengeluhkan kehidupannya yang tak seperti harapan. Menikah dengan seorang pemain musik, namun kini ia ditinggalkan.

Dari hasil curhatnya, ada satu kesimpulan. Semua yang ia alami, tidak jauh berbeda dari angan masa kecilnya. Sejak kecil ingin sekali punya suami seorang kontraktor--pikirnya akan mudah dibuatkan rumah, pikiran yang aneh menurutku, tapi maklum masih kecil. Nah, setelah dia menikah, belum ada setahun, ia berkenalan dengan seorang laki-laki dan ajaibnya, kontraktor seperti impian. Dan lucunya lagi, suaminya bertemu dengan cinta pertama, hingga memilih berpisah dari teman saya ini.

Bukan ingin mengomentari persoalannya, tapi menanggapi kata-kata di atas. "Aku tak pernah bermimpi, seperti ini kejadiannya."

Bukan kebetulan, tapi apa yang ia angankan saat masa kecil, terwujud di masa depan (sekarang atau nanti). Sama seperti cita-cita sederhana saya, yang kini bersuamikan seseorang berdarah Sunda, dan menghabiskan hidup di desa, dan ajaibnya pula, untuk saat ini kami dihidupi dari sawah. Heheheh.

Entah bagaimana dengan sahabat saya itu. Semoga ia bisa mengambil keputusan yang bijak demi masa depannya.

Satu hal sebagai reminder kita, segala kejadian yang kita alami di masa kini, bukan semata-mata karena kebetulan. Sadar atau tidak, kehidupan yang saat ini kita jalani adalah bagian dari mimpi kita dahulu.

Benar atau tidak? Meski hanya sebagian kecil, mimpi itu pasti terwujud.

Jangan pernah takut bermimpi.

DR. Keith L. Moore MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden
AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun
1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang
mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan
kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.

Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically
Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris
paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di
seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan,
dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.
Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang
menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan
Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor
melihatnya dan berkata :
“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa
yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah
yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak
mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”
Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu
Mikroskop juga belum ada?”
“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin
Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang
profesor.

“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan
alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang
(berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling
baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]
Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam
pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan
‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu
lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika
Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain
seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.
Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena
memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu
makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang
menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah
dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.
Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan
mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu
tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang
begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah
lalu menulisnya dalam sebuah buku.

Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa.
Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya
memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya
karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian
yang selama ini membuat sang profesor gusar.
Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum
lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang
kurang.

(*/Islampos)

Salam Hangat Penuh Semangat,

Congrats! Bagi anda yang membaca artikel ini adalah berkah. Karena anda dapat turut serta berperan dalam penggalangan buku Perpustakaan Sebuku yang digagas oleh Tim Komunitas Bisa Menulis Regional Malang.

Perpustakaan Sebuku merupakan sebuah perpustakaan non-profit yang dibentuk di kota Malang. SEBUKU, mulanya terinspirasi dari nama Jalan Sebuku, tempat basecamp SEBUKU Berada. Namun, makna Sebuku tentu saja bukan ‘jalan sebuku’, melainkan Sejuta Buku, Semilyar Buku, Sejumlah maksimal tak terbatas Buku, yang kami tampung.

Bermula dari penggabungan banyak mimpi dari Tim Komunitas Bisa Menulis Malang, berdirilah PERPUSTAKAAN SEBUKU yang hingga kini mencapai 4 titik.
1. SEBUKU 1 - Di Malang Kota ( Kutu Seru Melangit - Base Camp ),
2. SEBUKU 2 - Randu Agung (Gubuk Fajar - Sebuku 2),
3. SEBUKU 3 - Wonosari ( Rumah Cahaya Untukmu - Sebuku 3)
4. SEBUKU 4 - Turen ( Keping Buku - Sebuku 4 ).

Selain membaca, kegiatan-kegiatan lain kami adakan adalah mewarna, menggambar, permainan tradisional dan masih banyak kegiatan lain yang penuh edukasi. Perpustakaan Sebuku yang memiliki visi “Mencerdaskan kaum muda hingga tua, di mana pun dan kapan pun”

Selain membaca, impian kami adalah menjadi wadah pemberdayaan warga untuk gemar membaca, menulis dan sebagainya. Bukan tidak mungkin SEBUKU akan memenuhi khasanah jendela dunia di seantero Indonesia.

Di sinilah kesempatan luar biasa bagi anda. Bayangkan jika anda menjadi bagian dari keajaiban mereka yang gemar membaca dan membuka wawasan. Anda menciptakan senyum, binar mata serta membuat sebuah perubahan yang bisa jadi tidak kecil. Karena kita tahu, buku merupakan jendela dunia. Buku, mampu merubah dunia menjadi lebih baik.

Seandainya anda berkenan turut serta dalam mewujudkan Perpustakaan Sebuku, ada beberapa hal yang bisa anda lakukan;

1. Anda bisa mengirimkan buku apapun yang layak dibaca. Mulai dari usia anak-anak hingga dewasa. Tidak harus baru. Karena buku lama sekalipun menjadi buku baru bagi mereka yang belum pernah membacanya.Ada beberapa admin yang bisa dihubungi (terlampir di bawah).

2. Jika tidak ada buku, anda juga bisa menyumbangkan rak, meja, atau kebutuhan lain yang bisa dimanfaatkan di sebuah perpustakaan pada umumnya. Barangkali media audio visual atau perangkat elektronik.

3. Kami juga memberikan peluang bagi anda yang hendak memberi sumbangan dalam bentuk tunai, sehingga dapat dimanfaatkan lebih fleksibel menyesuaikan kebutuhan Perpustakaan Sebuku.

4. Jika anda ingin berperan namun belum dapat memenuhi tiga poin di atas, anda bisa meneruskan pesan ini kepada rekan, atau keluarga anda yang barangkali memiliki buku yang bisa dibagikan kepada Perpustakaan Sebuku.

Apapun hal yang bisa anda lakukan, akan memberi dampak yang baik untuk Perpustakaan Sebuku. Apapun yang bisa anda lakukan, barang kali kecil di mata anda, namun sangat besar bagi kami, dan mereka yang menunggu buku-buku di Perpustakaan Sebuku.

Terima kasih sebelumnya, salam hangat penuh semangat.
Dari Malang,
Co. Perpustakaan Sebuku
Nia Kiena

CP:
1. Sebuku 1 “Kutu Seru Melangit” ( Basecamp ) : Nia Azkina Email: dwisna.22@gmail.com/ TL @niakie_
2. Sebuku 2 “Gubuk Fajar” : Muhammad Agus Riwayanto
3. Sebuku 3 “Rumah Cahaya Untukmu” : Wiwied Kinasih Koesnan
4. Sebuku 4 “Keping Buku”: Rina Rinz
Grup : Perpustakaan Sebuku - https://www.facebook.com/groups/278511978987835/
Fan Page: SEBUKU - https://www.facebook.com/pages/SEBUKU/655542931193303?ref_type=bookmark
·
Sehabis bulan puasa dan lebaran, nafsu makan jadi agak berkurang. Melihat nasi itu rasanya agak eneg. Jadi ingat saat mengandung Bianca. Dari nol minggu hingga tiga puluh dua minggu saat Bianca lahir prematur, nasi nyaris tidak ada dalam menu sehari-hari. Namun, ini tidak berarti aku lagi hamil seperti tiga tahun lalu, heheheh. Cuma agak malas saja menyuapi sesendok nasi ke mulut. Anehnya, sekeluarga jadi malas juga. Nular rupanya. Beberapa kali masak nasi dari pagi hingga ketemu pagi lagi, masih utuh di dalam rice cooker.

Tidak berarti juga kami tak makan, hehehe. Ada yang lebih dirasa pas masuk ke dalam perut.

PISANG!

Seperti yang sudah-sudah, setiap suami pulang dari lahan, sering kali membawa pulang pisang bersisir-sisir. Malah sampai busuk lagi saking numpuknya.

Alhasil, memutar otak buat bikin menu yang ada pisangnya. Tapi teteup, paling oke pisang goreng.

Selain digoreng, anak-anak doyan sekali bila dibikinin brownies kukus pisang.

Ada resepnya di sini

Kayaknya hari ini mesti cari-cari resep lagi yang berbahan dasar pisang. Masih banyak di dapur.
Cerita ini tak lagi samaMeski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain

Bersandar padaku, rasakan hatikuBersandar padaku

Dan diriku bukanlah aku
tanpa kamu tuk memelukku

Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku


Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berartiLuluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari


Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku ooh

Dan diriku bukanlah aku
tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku

Dan diriku bukanlah aku
tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku, kau melegakan aku

Dan diriku bukanlah aku
tanpa kamu tuk memelukku

Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku


Dan diriku bukanlah aku
tanpa kamu menemaniku

Kau menenangkanku, kau melegakan aku
Tiga atau empat hari yang lalu, aku memasak ayam kecap, permintaan Kahpie. Dengan semangat, celup bumbu sana sini. *Asal enak aja pokoknya mah ... hehehe.

Setelah matang, segera kompor kumatikan dan tanpa pikiran macam-macam melanjutkan aktifitas Inem alias cuci-cuci dan beberes rumah.

Setelah satu jam berlalu, aku berniat menyuapi anak-anak. Nasi sudah di piring, tinggal ayamnya aja nih. Loh ... loh ... itu apa di paha ayam? Putih-putih persis nasi, cuma lebih kecil. Karena agak aneh, kuambil pakai sendok, lalu kubuang.

Tanpa pikiran aneh, dengan lahapnya anak-anak kusuapi.

Semalam, saat asyik menjelajah internet, aku tanpa sengaja menemukan gambar yang sama persis dengan apa yang kulihat di paha ayam nan lezat itu.
from gugel. sususejatdotcom

Tahukah sodara-sodara? Itu telur lalat. Iueeeewww jijay ... Pengen muntah deh ngebayangin sesuatu yang kubuang beberapa hari lalu.

Masakan di rumah aja yang seharusnya terjamin kesehatannya, malah tercemar oleh lalat tidak tahu diri itu, karena seenaknya saja nongkrong tanpa permisi. Gimana dengan makanan di luar sana ya?

Mulai sekarang jadi parno kalau lihat makanan terbuka di alam bebas. Makhluk yang satu itu memang tak sopan. Keluar masuk tanpa ba bi bu. Nyebelin banget.

Coba lihat makanan di sekitarmu, apa ada yang tidak tertutup? Hatihati, sebab, si putih hasil lalat tidak tahu diri itu, kadang tidak terlihat. Walau lambung kita punya asam yang mampu membunuh bakteri dan kuman yang masuk, tetep aja jijay kalau kemakan telur lalat yang amitamit ituuuuu ...

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI