Google+ Followers

Melihat keceriaan burung-burung di sangkar. Berpikir keras ... Tidak ada gundah, sebab burung-burung itu selalu berkicau dengan riang dan merdu. Sangat luar biasa, menurutku. Makan tinggal makan, tiap hari ada menu spesial, buah atau sayuran. Minum pun begitu. Kadang diberi larutan yang gambarnya tiga kaki itu, agar suaranya merdu. Kadang pula diberi madu. Pokoknya dijamin sehat dan bergizi.

Ajaibnya, burung-burung itu tahu bagaimana harus berterima kasih. Alih-alih kesal karena dikurung dan tak bisa terbang bebas layaknya burung lainnya, mereka justru memberikan suara terbaiknya. Nyaris tak pernah melewatkan konser burung, dan selalu pulang membawa penghargaan.
Pagi ini, aku dikejutkan dengan kabar seorang sahabat. Bosan di rumah. Ingin kembali merasakan dunia luar. Seperti masa mudanya, keliling Indonesia bahkan sampai ke luar negeri. Suaminya yang pejabat itu tidak memperbolehkan ia merasakan kegembiraan masa mudanya. Konon katanya, ini itu pun dilarang.

Aku heran saja, padahal, apapun yang ia mau, pasti dituruti suami. Dimanja bak tuan putri. Baru saja ia mengirimkan pesan, "Ingin sembunyi di rumahku."

Aku tertawa ... bukan mengejeknya, tapi ... apalah rumahku ini bila dibanding dengan kediamannya yang megah layaknya istana.

Dia tetap ngotot ingin merasakan kebebasan dari dinding yang kokoh namun membuat hatinya rapuh.

"Aku ingin rumahku ramai canda tawa anak-anak, lagi ..., seperti di rumahmu, Rin ..."

Kata-katanya terakhir itu membuatku pilu. Bagi wanita, apa saja boleh hadir, namun, kekayaan yang paling diinginkan adalah hadirnya seorang anak yang tentu saja obat dari segala kebosanan.

Biar bagaimana juga, wanita bukan burung. Seekor lovebird mampu bersuara merdu dan mendapat juara A, tanpa pasangannya, namun, wanita tanpa kehadiran buah hati, kebanyakan akan bersedih. Nyanyiannya lagu pilu.

Sahabatku, tak tahukah kau, buah hatimu menyanyikan lagu suka untukmu di Surga. Ia tak ingin kau bersedih. Datanglah ke rumahku bila kau ingin ...

from gugel
Mungkin kau akan kembali riang mendengarkan nyanyian anak-anakku diiringi kicauan burung.
Satu lagi hadir di dunia literasi, sebuah perpustakaan kecil yang dibentuk di kota Malang. 

SEBUKU, mulanya terinspirasi dari nama Jalan Sebuku, tempat basecamp RUMAH SEBUKU Berada. Sebuku, singkatan Se-Buku. Bermakna Sejuta Buku, Semilyar Buku, Sejumlah maksimal tak terbatas Buku, yang kami tampung. 

Bermula dari penggabungan banyak mimpi dari Tim Komunitas Bisa Menulis Malang, berdirilah RUMAH SEBUKU yang hingga kini mencapai 4 titik. Di Malang Kota ( Base Camp ), Randu Agung  (Sebuku 1), Wonosari ( Sebuku 2) dan Turen ( Sebuku 3 ). Beranggotakan 13 orang, tim yang dikoordinatori Mbak Nia Kiena dengan admin Rina Rinz, Wiwid Kinasih dan Am Hafs, Sebuku bukan hanya menggalang donasi, juga membuka perpustakaan untuk umum. 

Seperti halnya sahabat kami, Perpustakaan Anak Bangsa yang sekaligus inspirasi kami, SEBUKU tidak memberi batasan untuk para pembaca. Baik berupa jumlah buku yang dipinjam maupun waktu peminjaman. Selain itu, kegiatan-kegiatan lain kami adakan. Mewarna, menggambar, dan masih banyak kegiatan lain yang penuh edukasi. 

Rumah Sebuku yang memiliki visi mencerdaskan kaum muda hingga tua, di mana pun dan kapan pun ini juga mempunyai semangat untuk menumbuhkan gairah minat baca dan tulis sejak dini. Selain membaca, impian kami adalah menjadi wadah pemberdayaan warga untuk gemar membaca, menulis dan sebagainya. Bukan tidak mungkin SEBUKU akan memenuhi khasanah jendela dunia di seantero Indonesia. 

Rumah Sebuku yang akan diresmikan bulan Agustus 2014 ini membutuhkan sumbangan buku-buku ataupun dana operasional lainnya yang bisa disalurkan dengan menghubungi akun fanpage Sebuku.


Gambar-gambar diambil dari grup Sebuku.







Baru saja menjelajah, menemukan artikel ini. Yup, dia yang akrab dipanggil Kudo ini lah yang membuat cover Keping Hati yang keren itu.

Barangkali pengen bikin cover juga, sila hubungi dia. Dijamin memuaskan.



Tentang Ilustrasi dan Kaver Buku | Chris Atherside

Nyaris semua orang suka mendengar cerita. Bagi yang suka membaca, tentu saja cerita yang digemari adalah kisah yang apik tertuang dalam tulisan.

Kamu sendiri, apa yang membuatmu bertahan membaca sebuah cerita sampai tuntas?

Terkadang, dalam membaca sebuah tulisan, apalagi cerita fiksi, kebanyakan orang tidak sekadar menikmati isi cerita, namun keindahan dari penyajian cerita itu juga menjadi nilai penting. Secara umum, pembaca menikmati cerita, apakah isinya menarik, memberi inspirasi atau unik. Namun perlu juga diingat, fiksi bukan hanya cerita saja, tapi tentang keterampilan dalam menyajikan cerita. Misalnya, tata bahasa, gaya bahasa, pemilihan diksi dan mengolah kata serta hal lainnya.

Dalam menuangkan ide ke dalam cerita, ada beberapa hal yang harus dihindari.

Bahasa yang rumit.

Menulis sebuah cerita, agar mudah dipahami, alangkah baiknya gunakan bahasa yang tidak bertele-tele dan pilihlah diksi yang juga dimengerti kebanyakan orang. Kadang kutemui, cerita dengan gaya bahasa bak penyair. Tentulah beda, gaya bahasa untuk puisi dengan cerita. Perlu juga diketahui, fiksi tidak selalu memuisi. Jika dalam puisi, bahasa yang digunakan kadang menggunakan simbol-simbol, pemilihan katanya singkat dan kadang bahasanya rumit demi selaras dengan makna yang ingin disampaikan ke pembaca. Dalam cerpen, tentulah bahasa yang digunakan lebih luwes dan lebih mengutamakan isi cerita. Gunakan deskripsi yang tidak membuat pembaca memutar otak memikirkan makna kalimatnya. Demikian juga dalam menulis novel, tentu rentang kalimatnya lebih luas. Bebaskan imajinasimu mengolah kata dengan diksi yang pas, namun tidak bertele-tele.

Lebih baik menulis cerita dengan bahasa yang mudah dipahami, agar pesan yang ingin disampaikan ke pembaca tepat, ketimbang menulis cerita dengan pemilihan kata-kata yang asal nempel/diksi yang dipaksakan menyatu ke dalam cerita, namun tidak dibaca sampai habis. Mubazir, kan ...

Cerita yang tidak logis.

Punya ide unik, boleh saja. Namun, dalam bercerita, kelogisan sebuah alur itu penting sekali. Cerita fantasy saja, walau temanya tidak masuk akal, alur ceritanya logis. Runut dan ada sebab akibat yang walau tidak masuk akal bagi kehidupan nyata, asal penulis bisa menceritakannya dengan kelogisan alur yang baik, itu tidak jadi soal.

Selain alur yang tidak logis, tentang pendeskripsian tokoh/penokohan pun harus logis dan sejalan dengan isi cerita. Misal, tentang seorang ibu yang dideskripsikan penyabar dan selalu menerima apa yang terjadi dalam kehidupannya. Bila satu plot tiba-tiba si ibu marah karena tetangga memetik bunga mawar yang baru saja mekar di halaman rumahnya, tentu saja ini tidak logis. Bagaimana bisa seseorang dikatakan sabar, tiba-tiba marah?

Demikian pula dalam menuliskan kalimat dialog untuk tokohnya. Harus disesuaikan dengan usia/latar belakang si tokoh. Misal, seorang anak usia 7-8 tahun, dalam ucap dan tingkah lakunya di dalam cerita bak orang dewasa, dan percakapannya menggunakan bahasa yang sewajarnya dipakai orang dewasa. Ini tidak logis. Kalaupun harus 'dewasa', penulis menjelaskan kenapa si tokoh bisa bertingkah laku seperti itu.

Sebelum dibagikan, alangkah baiknya baca ulang cerita yang ditulis. Sudah tepatkah ide yang dikembangkan itu menjadi cerita yang utuh? Atau masih ada ketimpangan?

Gaya bahasa dan tanda baca yang amburadul.

Tak jarang saat kita membaca sebuah cerita, mood sudah rusak duluan karena gaya bahasa yang tidak pas, ditambah dengan tanda baca yang tidak keruan. Kerapian tulisan penting sekali. Belajarlah mendisiplinkan diri untuk menggunakan EYD yang tepat dan tanda baca yang sesuai, agar tulisanmu enak dibaca.

Pesan yang ingin disampaikan.

Bila poin-poin di atas sudah dipenuhi, maka secara tidak langsung, pesan yang ingin disampaikan ke pembaca akan terbaca/tersirat. Bagaimana agar pesan itu mengena? Pastikan tulisanmu benar-benar nyaman dibaca.



Mengembangkan ide, bukanlah hal yang susah bila sudah tahu ingin menuliskan apa, ceritakah? Puisikah? Lalu gunakan bahasa yang tepat dan poin-poin di atas.

Selamat menulis.


Sumber: Kompasiana dan gugling.
Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.
- See more at: http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/cara-mengembangkan-ide-cerita-dalam.html#sthash.PPzASD4r.dpuf
Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.
- See more at: http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/cara-mengembangkan-ide-cerita-dalam.html#sthash.PPzASD4r.dpuf
Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.
- See more at: http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/cara-mengembangkan-ide-cerita-dalam.html#sthash.PPzASD4r.dpuf
Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.
- See more at: http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/cara-mengembangkan-ide-cerita-dalam.html#sthash.PPzASD4r.dpuf
Secara umum orang menilai fiksi dari ceritanya, apakah menarik, menginspirasi atau unik. Tapi, secara keseluruhan fiksi bukan hanya tentang cerita, tapi tentang keterampilan menyajikan cerita, semisal: tata bahasa, gaya bahasa, alur, pemilihan diksi, dll.
- See more at: http://smartbookpenyair.blogspot.com/2013/05/cara-mengembangkan-ide-cerita-dalam.html#sthash.PPzASD4r.dpuf
Banyak cara untuk menulis sebuah novel. Bagi LovRinz, cukup mudah, bukan cuma teori, namun sudah dipraktekkan, dan pasti teman-teman juga bisa mengikutinya.

Apa saja?

Yuk, kita tilik satu per satu.

Pertama, hadirkan pembuka yang menyajikan konflik. Tak perlu detail ini itu, paragraf pembuka berikan rasa penasaran pada pembaca agar terus membuka halaman selanjutnya. Pembaca kebanyakan lebih suka dengan kisah yang langsung menuju permasalahan.

Contoh, dalam serial Leha.


"Pulang malam lagi kau, Bang? Tak bosan kau mbalon?[1] Tak ada kapoknya. Kusumpah meletus anumu, Bang!" Leha melengos pergi melihat Bang Togar masuk kamar. Aroma alkohol merebak ke seluruh kamar membuat Leha memutuskan tidur di kamar Ucok.

Pembaca tentu penasaran, pulang malam karena apa? Benarkah karena 'mbalon'? Kenapa sampai Leha menyumpahi Bang Togar seperti itu ... Tentu, pembaca akan lanjut ke kalimat/lembar selanjutnya.


Kedua, hadirkan karakter tokoh dengan cara memvisualisasikan tokoh tersebut di benak pembaca lewat deskripsi penampilan, tingkah laku atau pemikiran-pemikiran si tokoh yang ada di dalam cerita.



Sudah lebih dari seminggu Bang Togar berperangai aneh. Pulang sebelum magrib dan selalu rapi duduk di depan televisi. Leha tidak berani bertanya. Wanita gemuk itu hanya sesekali berucap, "Rusak tipi tu, Bang. Kau pencet sana sini remotenya. Apalah yang ingin kau tonton?" Bang Togar hanya tersenyum dan membuat Leha bergidik sendiri. Geli melihat suaminya senyum-senyum tak jelas menatapnya.
"Dek, duduklah sini. Abang ingin berbicara."
"Aih, Abang kenapa pula jadi bermanis gini? Kesambet jin mana, Bang?"
"Sudahlah. Jangan banyak tanya kau, Dek. Sinilah dulu."
Leha mengikat rambut panjangnya lalu duduk di samping Bang Togar. Hatinya mulai berdegup lebih kencang. Sudah lama ia tidak berduaan seperti ini.
"Mau bicara apa kau, Bang?"
"Dek, kau sayang sama Abang?"
"Bah, pertanyaan apa pula itu, Bang? Kita sudah bukan abege lagi. Ucok tuh yang pantas ngomong gitu sama pacarnya. Kita sudah tua." Leha tertawa kecil mendengar pertanyaan suaminya.
"Abang cuma ingin tahu, Leha. Abang rasa kau sudah tak cinta lagi sama suamimu ini."
"Eh, bukannya Abang yang tak cinta lagi sama Leha? Itu, tiap malam kau keluar sama siapa?"
"Aih, abang keluar karena tak tahan kaucuekin terus. Mana ada yang tahan lihat bini sibuk sendiri dengan hapenya tiap pagi, siang, sore, malam. Daripada stress abang lihat kau sama facebookmu itu, lebih baik abang tiap malam ngeronda di pos kamling sama teman-teman."

Dalam novel, tentu tokohnya lebih dari satu. SUdah menjadi tugas penulis untuk menggambarkan karakter tokohnya masing-masing. Karakter utama si tokoh haruslah sejalan dari awal hingga akhir cerita. Perubahan karakter/sikap dan sifat tokoh bisa saja terjadi tergantung jalan ceritanya. Hanya saja tentu tiap tokoh punya satu karakter kuat yang berbeda antara satu tokoh dengan yang lainnya.

Ketiga, tulislah ceritamu menggunakan sudut pandang yang konsisten. Bisa saja menggunakan sudut pandang pertama, di mana penulis berperan sebagai orang pertama dan cerita menggunakan aku, saya, kami atau kita. Atau bisa juga penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga (seperti serial Leha).

Keempat, gunakan bahasa yang tidak bertele-tele, mutar tak keruan yang membuat pembaca bingung. Biasakan menulis dialog yang tepat, penting-penting saja, dan langsung pada permasalahan. Kurangi basa-basi seperti pengucapan salam, bertanya kabar dan dialog sepele lainnya. Usahakan agar dialog yang dibuat memiliki arti.

Kelima, gunakan setting yang mendukung cerita di dalam novel. Setting bisa seting waktu dan seting tempat. Deskripsikan seting yang penting dan mendukung ceritamu. Buatlah seting itu dapat dinikmati oleh pembaca (bukan hanya dinikmati oleh mata, tapi juga hati).

Keenam, aturlah plot dalam ceritamu agar kisah bisa dinikmati dari awal hingga akhir. Plot adalah peristiwa cerita yang berurutan disertai sebab akibat. Plot yang berkembang, akan membuat pembaca semakin ingin mengetahui apa yang terjadi pada keseluruhan cerita. Alur cerita yang memiliki sebab akibat inilah yang disebut plot. Tatalah plot dengan baik dan logis, agar pembaca menyukai ceritamu.

Ketujuh, tentukan klimaks yang pas dan tepat untuk ceritamu.  Klimaks adalah puncak atau titik balik cerita. Ia adalah bagian yang paling dramatis dari cerita. Klimaks, terjadi ketika protagonis memahami apa yang sebaiknya dilakukan atau menyadari tindakan terbaik apa yang seharusnya diambil. Ketegangan yang mengganggu protagonis mengharuskan protagonis mengambil tindakan terbaik yang berujung pada konflik akhir atau klimaks.

Kedelapan, tulislah ending ceritamu. Ending adalah penyelesaian atas masalah. Kita bisa menulis ending yang terbuka atau ending yang tertutup. Ending tertutup adalah akhir cerita yang menunjuk pada penyelesaian masalah yang sudah tuntas. Sedangkan ending terbuka adalah ending yang konfliknya belum sepenuhnya selesai dan membuka peluang untuk berbagai penafsiran dari pembaca.

Kesembilan, setelah semua sudah, maka buatlah judul novelmu. Judul yang menarik dan merupakan inti dari ceritamu. Tidak ada yang baku tentang menulis judul, hanya saja buatlah semenarik mungkin dan jangan lebih dari 2 kata (kalau bisa).

Kesepuluh, yang paling penting dari semua itu adalah, mulailah menulis. Tanpa lembar pertama, novelmu tidak akan jadi. So, mari menulis :)


sumber: Serial Leha dan caramenulisnovel(dot)com
Beberapa kali suami pulang sambil membawa pisang. Enaknya pisang yang merupakan buah favorit keluarga ini dikasih sama temannya. Baik banget. Ngasihnya tak tanggung-tanggung, sekali pulang sekarung, dan sudah berkarung-karung banyaknya.

Pisang yang dibawa bukan hanya satu jenis. Ada pisang candi, pisang nangka, pisang susu, pisang gajih tapi tidak ada pisang-pisangan, hehehe.

Waktu pertama kali dapat, karena masih mentah-mentah, suami semangat sekali bikin kripik pisang. Pagi ini, kulihat yang digantungan (sudah kayak orang jualan aja) sudah pada menguning alias matang. Putar otak, tak mungkin disimpan beberapa hari ke depan. Kolak, mungkin akan bikin banyak lalu dibagikan untuk takjil.

Sambil mutar otak lagi, kepikiran untuk bikin brownies. Lihat bahan di dapur, kurang terigu sama cokelat.

Berlarilah ke warung depan rumah. Yaaah, tak ada cokelat bubuk. Aha, aku punya ide. Energen coklat siap digunakan.

Dan inilah bahan-bahannya.
  • 3 sendok makan mentega, lelehkan
  • 2 butir telur, kocok ditambah 2 sendok makan gula pasir
  • 4 sendok makan terigu
  • 1 sendok teh baking powder
  • 1 sendok teh vanili
  • 3 bungkus energen coklat
  • sedikit garam
  • 3 buah pisang nangka dihaluskan.
caranya, campur terigu, baking powder, vanili, energen serta garam, aduk rata. Setelah itu masukkan pisang yang sudah dihaluskan tadi. Lalu tambahkan kocokan telur. aduk rata. Terakhir lelehan mentega tadi diaduk rata lagi.

Lebih enak di atasnya taburi parutan keju atau meises. Berhubung tidak ada di dapur, jadi plain sajalah. hihihi.

Siap dikukus!

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI