Google+ Followers

Minggu, 15 Juni 2014

Sebening Air Mata

Sebening Air Mata

"Kau gila, Sya! Ini keterlaluan. Aku takkan pernah menyetujui tindakanmu. Sangat tidak masuk akal!" Dimas membanting pintu. Nisya memegang dadanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Mengalir di pipi tirusnya.

"Saya harus melakukan ini, Mas. Demi kamu ...." Nisya bergumam lirih. Nisya membenahi jilbab merah mudanya, memoles pewarna bibir senada dan melihat pantulan diri di cermin. Air mata masih menetes. Nisya mengambil napas panjang lalu mengusap pipinya. Saya pasti bisa, batinnya menyemangati diri.

***

Penonton diam seribu bahasa. Yang terdengar di ruangan hanya isak tangis yang tertahan. Pembawa acara pun hanya bisa menatap Nisya iba. Wanita muda yang masih berusia dua puluh tiga tahun itu tampak berusaha tersenyum di hadapan banyak orang.

"Rasanya kami tidak bisa memenuhi permintaan Mbak Nisya. Itu mustahil ...." Pembawa Acara itu membuka keheningan dengan suara bergetar.

"Bagaimana mungkin tak bisa? Bukankah ini acara 'Wujudkan Impianmu'? Saya sangat berharap mimpi ini menjadi nyata." Nisya bersuara kecil namun lantang.

"Tapi, saya rasa semua yang hadir di sini pun tak akan mampu membantu mewujudkan mimpi yang Mbak pinta." Pembawa Acara itu merasa tak enak hati. Terlihat dari raut wajahnya yang tampak iba.
Nisya berdiri dari sofa lalu mendekat ke kamera satu yang sedang menyala. Ia tahu, sedari tadi kamera itu tak pernah lepas menyorotnya.

"Dengan kekuatan hati, saya berdiri di sini. Hanya untuk sebuah keinginan. Harapan besar, agar suami saya bisa mendapat seorang pendamping yang sehat dan menemaninya hingga kakek-nenek."
Nisya menahan suaranya yang mulai goyah. Sebuah tarikan napas panjang mengisi jeda sepersekian detik.

"Saya tahu, tidak ada yang mustahil untuk menggapai sebuah impian. Melalui acara ini, banyak mimpi diwujudkan. Bantulah saya ..., ini permintaan terakhir dalam hidup saya."

Seisi ruangan mulai bereaksi. Seratus orang yang punya kuasa memberi jawaban agar impian peserta di acara yang disiarkan langsung ini mulai memencet tombol merah, satu per satu.

Nisya terisak. "Kumohon, berikanlah hijau untukku. Kumohon!"

Nisya terduduk lemas di lantai. Penonton mulai berdatangan, memeluknya.

"Saya hanya ingin suami merasakan indahnya punya keluarga. Hanya itu ...."

***

"Turuti saja kemauan istri pilihanmu itu, Dimas. Untuk apa kau pertahankan. Sudah tidak ada waktu lagi."

"Pa, jangan bicara seperti itu. Sampai kapan pun, Nisya akan tetap jadi istri Dimas. Walau ...."

"Sadar, Dimas. Nisya itu penyakitan. Napasnya tinggal tunggu waktu. Sejak awal, Papa dan Mama tidak setuju kau menikahi wanita yang tak jelas itu."

"Pa, sudah. Nisya itu wanita yang baik. Dia hanya sedang sakit. Dan akan segera pulih."

Dimas menggepalkan jemarinya. Dia tahu, Nisya tak sekuat itu. Dokter sudah angkat tangan. Kanker otak yang diderita Nisya sudah tidak dapat diatasi lagi. Dan sisa umurnya, membuat Nisya nekat mengikuti acara realita Wujudkan Impianmu. Dengan harapan, akan diberikan seorang wanita bagi Dimas. Namun, harapan itu sia-sia. Penonton tidak bisa mengabulkan, hanya berharap Nisya pulih dan tetap bersama Dimas hingga senja menghampiri.

"Dimas, Papa hanya ingin masa depanmu bahagia. Lepaskan Nisya, ikuti kemauannya. Kali ini Papa sependapat dengan istrimu itu."

Dimas tak menghiraukan perkataan papanya. Dengan hati kesal ia meninggalkan orang tuanya dan menuju ke ruang Flamboyan.

Nisya terbaring lemah. Sejak kepulangannya dari acara itu, Nisya melemah. Dokter menjadwalkan lagi operasi, namun keberhasilannya hanya dua puluh persen. Dimas menyemangatinya. Dimas begitu mencintai Nisya, wanita yang ia temui dari jejaring sosial. Wanita yang begitu memikatnya. Dimas melihat kecantikan yang sejati terpancar dari wajah pucat Nisya, saat mereka pertama kali bertemu, di rumah sakit ini, setahun yang lalu. Pertemuan yang benar-benar tak sekadar kebetulan.

"Aku sedang dirawat karena kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?"

"Seperti biasa, saya masih terbaring di tempat yang sama. Di mana kau dirawat?"

Dan begitulah, pertemuan awal setelah sekian minggu berkenalan di dunia maya. Jodoh memang tak jauh. Dimas menikahi Nisya tanpa persetujuan orang tua. Sedang Nisya, dinikahkan oleh pamannya karena kedua orang tua Nisya telah tiada.

"Nisya, kau sudah siap?"

Wanita muda berkulit putih itu tersenyum tipis. "Saya siap, Mas ..., Tapi, bagaimana jika ...."

"Sst, sudah. Jangan pikirkan apa-apa. Aku akan selalu di sisimu. Apapun yang terjadi setelah operasi, aku siap. Asal, jangan lagi kau punya pikiran untuk mencari penggantimu untukku."

Nisya menatap suaminya haru. Betapa dalam cinta yang diberikan lelaki yang menikahinya itu. Diam-diam kekhawatirannya muncul kembali. Bagaimana bila operasinya gagal, bagaimana jika berhasil tapi ia lumpuh seperti kata dokter, pertanyaan itu berkecamuk dalam hati Nisya.

Dimas seolah membaca kegelisahan hati Nisya. Direngkuh wanita rapuh itu ke dalam pelukannya.

"Sayang, percayalah ..., keadaanmu tak mengubah kasih dan sayangku sebagai suami. Percayalah."
Nisya membalas bisikan lembut suaminya dengan suara syahdu. "Semoga saya bisa hidup lebih lama lagi, bersamamu, menjadi istri dan ibu buat anak-anak kita kelak."

Untuk pertama kali setelah menikah, bulir jatuh dari bening mata lelaki itu.

Terinspirasi dari kisah nyata Ying dan Haibin

credit

2 komentar:

  1. waa ada kisah nyatanya ternyata huhuhu...

    BalasHapus
  2. sangat menarik sekali ulasannya... dan sangat bermanfaat,, saya senang membacanya... salam kenal dari ikhram.com situs booking dan cari paket umroh lengkap di indonesia.

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI