Google+ Followers

Jumat, 13 Juni 2014

Detik Kesekian

Tak ada yang bisa menyelami isi hatiku saat ini.

Resah kerap hadir tiap aku mulai menyadari bahwa waktu terus berjalan. Belakangan, kucoba untuk tidak melihat jam di dinding--yang sengaja kucabut baterainya-- atau sengaja berkutat di dalam kamar agar tak melihat terang atau gelap di luar sana. Hanya suara azan saja yang membuatku tahu bahwa waktu setia berdetak.

Pagi ini tampak berbeda. Ya, kutahu ini pagi karena ayam jago tetangga membangunkanku sesaat sebelum azan subuh berkumandang dari mushala yang tak jauh dari rumah. Ah, waktu memang tak bisa menunggu. Rasanya baru beberapa helaan napas kupenjamkan mata ini. Aku masih lelah. Heran, bagaimana bisa mimpi semalam membuatku terasa begitu letih.

Satu per satu sahabat lama hadir di satu tempat. Seperti sedang merayakan sesuatu. Yang wanita kebanyakan mengenakan baju hitam panjang dan bercadar. Tentu saja aku kebingungan. Rasa malu menderaku. Mengapa aku berbeda?

"Kau harus pakai pakaian seperti kami," ujar seseorang yang sangat dekat denganku sewaktu masa abu-abu.

"Tapi, bukankah aku juga seperti kalian? Hanya saja warnanya yang berbeda." Aku mengamati pakaian yang kukenakan. Putih gading.

"Tidak, kau harus ganti. Lihat di sana." Tangannya menunjuk tempat seperti pasar tradisional. "Carilah baju serupa, bila sudah kau boleh masuk ke sini."

Aku mengernyitkan kening. Mata tertuju ke dalam pintu gerbang. Sahabat-sahabat lama berkumpul. Ada yang tersebar di kanan dan kiri. Masing-masing melambaikan tangannya ke arahku. Apa yang sebenarnya mereka lakukan di sini?

"Cepatlah! Sebelum acaranya dimulai."

Aku mengangguk dan berjalan menjauh menuju ke pasar yang tadi ditunjukkan padaku.

"Mama? Ngapain di sini?" Aku tersentak saat menemukan mama ada di depan pintu masuk pasar.

"Mama akan menemanimu. Baju itu tidak dijual. Kamu hanya akan menemukan bahannya saja. Biar mama yang jahitkan untukmu."

Satu per satu kios di pasar kudatangi. Tak ada satu pun yang menyediakan bahannya.

"Lebih baik, jangan ke situ. Apakah penting?" Pertanyaan mama membuatku berpikir. Apa harus ke tempat itu?

"Kita pulang saja ya, Nak!"

"Tapi ... Bukankah aku ditunggu, Ma?"

"Belum waktunya kamu ke sana. Kita pulang saja ..." Senyum mama membuatku luluh.

Baru beberapa meter keluar dari pasar, beberapa orang keluar dari gerbang tempat sahabat-sahabatku berkumpul. Suara mereka beradu memanggil namaku.

"Rina! Rina! ... Jangan pulang!"

Aku melihat mereka yang semakin lama terlihat berbeda. Seram.

"Pulanglah, Nak." Mama tiba-tiba menjauh. Aku panik.

Sementara mereka yang berbaju hitam itu berlari ke arahku. Sontak saja kaki ini ikut berlari. Menjauh.

"Rinaaaa!"

Tidak ... tidak ..., jangan kejar aku.

Aku terus berlari dan berlari. Letih. Lelah. Di mana harus kubersembunyi? Mengapa mereka mengejarku? Ke mana mama? Aku berhenti sejenak. Melihat sekeliling. Kosong. Di mana aku?

"Pulanglah ... Pulanglah ..." Suara itu terus menggema.

Aku berlari lagi. Hingga ayam jago itu membangunkanku.

Detik kesekian yang lalu, aku merasa ada di satu tempat. Dan aku tak mengerti apa yang terjadi.










3 komentar:

  1. Kalau saya masukkan komen itu, back link-kah?

    BalasHapus
  2. kok di sini langsung keluar komennya, kalau di kamubicha tadi, tunggu approval. Kenapa, Mbak Rina?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu karena settingan mbak Kamubicha yang butuh moderasi komen, Bunda.

      Kalau komen bukan backlink hehehe,

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI