Google+ Followers

Kamis, 12 Juni 2014

Catatan yang Tertinggal - Tujuh Keping Hati




Aku agak kecewa membaca pesan Hafid di grup chat. Sudah hampir dua bulan ini kami bersama lima orang lainnya mengerjakan novel pertama. Sebagai pioner, tentu saja aku merasa resah. Semangat yang kutanamkan di masing-masing anggota tim seolah menguap. Ini tak boleh terjadi. Semangat yang kendur itu bisa saja menular ke teman-teman yang lain.

“Kita takkan berhasil, Mbak Rin. Saya ragu kita mampu melakukannya. Sementara saya sendiri sedang butuh makanan bergizi untuk otak yang lagi buntu ini.”
 
“Apa kendalamu, Hafid? Coba ceritakan. Siapa tahu aku dan yang lain bisa membantu.” Aku mencoba mengorek kegelisahannya. Hafid tak boleh patah arang. Dia orang kedua di tim ini. Karena duetku dengannya, kami bisa meneruskan cerpen Keping Hati menjadi sebuah novel. Tentu saja, Hafid harus tetap menulis.

“Sebenarnya tak ada masalah, Mbak. Hanya saja, aku mengalami yang namanya writer’s block. Apa yang tertuang dari jemariku, tak lebih dari lima kalimat. Ini penyakit yang sungguh membuat sesak para penulis. Apalagi pemula sepertiku.”

Aku menghela napas menyelami kata-kata yang dituliskan Hafid. Memang kuperhatikan akhir-akhir ini, dia jarang sekali menulis. Kupikir ia sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, writer’s block? Oh, tidak!

“Ha, maaf bila kata-kataku sedikit keras. Dalam pikiranku, yang namanya writer’s block itu tak ada. Yang ada itu hanya malas. Mungkin aku memang nyeleneh, tapi kalau malas menyerang, aku tidak memilih untuk diam dan tak menulis. Berhenti sejenak, itu harus. Namun otak tetap harus bekerja mengumpulkan ide yang tak perlu jauh-jauh kita cari. Lihat sekelilingmu. Banyak yang bisa diolah jadi cerita. Tak usah buru-buru menuangkannya di dalam kertas atau media tulis lainnya. Mainkan dulu di benakmu. Berulang-ulang. Seperti mereka-reka cerita, bedanya disimpan dalam otak.”

“Tapi ini tak mudah bagi saya. Mbak tahu sendiri, betapa gemetarnya saya menuliskan cerpen duet itu di awal. Dan ketika melanjutkannya jadi lebih lebar, otak saya buyar.”

“Itu karena kamu belum menyelami tokoh yang kamu buat dalam kisahmu.”

“Maksud Mbak apa?”

“Begini, tokohmu Ruly, kan. Kamu harus menjadi dia tanpa harus menjadikan dia itu kamu. Karakter Ruly seperti apa, kamu harus belajar memerankannya. Bedanya kita tidak sedang direkam kamera. Tapi karakter itu terekam dalam tiap tulisan kita. Kalau kamu bisa masuk ke tokohmu sendiri, berarti itu artinya berhasil juga membuat pembacamu merasakan kehidupan tokoh dalam cerita yang mereka baca.

“Ah, Tapi ini sungguh tak mudah. Saya tak tahu ke mana tokoh Ruly berjalan. Ini tambah rumit sebab kita menulis cerita ini dengan banyak kepala. Jalan cerita yang kuinginkan tentu tak sama dengan teman-teman yang lain.”

Apa yang Hafid katakan memang benar. Tapi inilah tantangannya. Aku memutar otak untuk menjelaskan dengan bahasa yang baik. Aku sadar, kadang kala kata-kataku sangat keras. Mungkin juga membuatnya dan teman-teman yang lain tersinggung.

“Begini, Hafid. Makanya, kita selalu berkomunikasi, kan ..., jalan cerita kita seperti apa. Ambil benang merahnya, kita satukan alur cerita jadi utuh. Memang susah menyatukan tujuh isi kepala kita. Tapi tak ada yang tak mungkin bila kita mencoba.”

“Mbak Rina, saya mengerti dan paham maksudnya. Namun, saya masih merasa belum bisa terjun ke dalamnya. Rasanya ingin mundur saja.”

“Mundur? Bagaimana mungkin, kita sudah separuh jalan. Lagi pula ini kesempatan bagusmu untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis.” Aku tak habis pikir Hafid mengeluarkan kata-kata putus asa seperti itu. Aku memilihnya pertama kali untuk menjadi rekan duet karena melihat kisah yang dia tulis. Sang Pemimpi, cerita kehidupannya tentang keinginan terbesar seorang pemuda yang tak lulus SMU namun bermimpi menjadi seorang penulis hebat.

“Aku tak mau kamu mundur! Kamu tak sendiri, kita punya lima teman lainnya yang saling bergenggaman tangan. Ayo kita raih puncak bersama-sama. Kita sama-sama memulainya dari awal. Tidak ada yang lebih pintar di antara kita. Ini tempat yang sudah disediakan Allah buat kita. Tempat kita belajar. Kalau kamu mundur, sungguh kamu menyia-nyiakan kesempatan baik ini.”

“Kok gitu sih, Mbak? Saya hanya merasa kebuntuan ini penyakit parah. Mungkin lebih baik saya mundur, agar tak menghambat teman-teman yang lain.”

“Penyakit parah? Tidak, selama kamu bisa mengatasi kemalasanmu, buntu tidak jadi soal. Sini kukasih tahu, tiga penyakit penulis yang justru lebih parah dari sekadar writer’s block.

“Emang ada?”

“Ada, ini juga kudapat dari membaca. Mungkin kamu pernah juga menemukannya di internet, tapi tak ada salahnya kubagikan. Penyakit pertama, Kudis. Kurang Disiplin. Nah ini, bisa dikaitkan sama kemalasanmu tadi. Kalau di hatimu sudah ada tekad, aku harus teratus menulis. Ibarat makan obat, tiga kali sehari, menulislah minimal sehari satu kali. Membiasakan diri menulis kisah, mau panjang atau pendek terserah. Yang penting kamu berusaha untuk disiplin. Bukan hanya disiplin waktu, tapi disiplin juga membiasakan diri menulis dengan baik dan benar.”

“Kayak penyakit kulit aja, Kudis, hahaha.”

“Tunggu dulu, yang kedua, Kurap. Nah penyakit kulit lagi ya? Hehehe, Kurang Rapi. Bagaimana sih menulis yang rapi? Yang tidak asal menulis, paragraf yang baik, tanda baca yang benar, dan lain-lain yang menunjang kerapian tulisanmu. Alur yang baik juga masuk di sini.”

“Ya ya, saya mulai paham.”

“Jangan hanya mulai, tapi memang harus memahami ini. Yang ketiga, Kutil. Kurang Teliti. Coba, ini penyakit yang paling sering kita derita. Tak teliti. Typo, ejaan yang salah dan banyak lagi yang menyangkut ketelitian kita. Salah ketik bisa berakibat fatal. Ya masih banyak sih penyakit lainnya, cuma bagiku, ketiga penyakit ini memang tak jarang kita alami. Bahkan penulis yang sudah punya nama saja masih sering menderita salah satu di antaranya.”

“Hmm. Benar juga ya. Tapi, Mbak ...”

“Apalagi? Masih berkeras hati ingin mundur?”

“Hmm ...”

“Aku yakin, teman-teman yang lain juga tak ingin kamu mundur. Kita sudah berjanji, ingin berdiri bersama di puncak. Kalau ada yang jatuh, kita saling mengangkat. Keputusan memang di tanganmu, tapi coba pikirkan kembali. Saat kamu bermimpi, ada yang membangunkanmu dan mengajak mewujudkan impian, kamu justru berhenti. Tidakkah impianmu menguap begitu saja? Tinggal beberapa langkah lagi. Aku tak bisa memaksa. Tapi sukses menjadi penulis tidak akan kau raih bila tidak kau kejar.”

“Benar, Mas Hafid. Kami, khususnya Sa, tidak akan rela bila Mas Hafid mundur.”

Aku terharu begitu membaca pesan dari Susie Salwa. Ya, aku tahu, apa yang kukatakan sudah bisa mewakili teman-teman. Seharusnya Hafid tahu, kami takkan lengkap tanpanya. Perjuangan selama beberapa hari, siang malam, tak adil rasanya bila tiba-tiba salah seorang dari kami harus berakhir dan menyudahi perjuangannya.

Kata-kata yang sama ditulis oleh anggota tim yang lain. Mila, Uni Dona, Mbak Nie dan Dek Hana. Kami semua tak mau ini usai begitu saja. Kami bukan penulis ternama, tapi ingin menjadi penulis sukses dan hebat.

“Maafkan saya teman-teman. Jangan dulu merasa kehilangan. Saya masih di sini kan? Saya hanya rehat sejenak. Tak ingin cerita novel ini terhenti hanya karena ketidakhadiran saya beberapa hari ini.”

“Mas Hafid, saya yang harusnya mengucapkan itu. Saya menyadari kontribusi saya pada kebersamaan ini sangatlah sedikit. Saya yang merasa tak pantas berada di tengah-tengah kalian.”

Waduh, tuh kan, merembet. Sekarang malah Mbak Nie yang merasa tak enak hati. Memang Mbak Nie paling jarang muncul, tapi itu bukan tanpa alasan. Menjadi tenaga kerja wanita di Kuwait memang terkendala waktu.

“Hei, hei, hei ..., tak boleh ada yang punya pikiran tak pantas lagi di dalam sini. Siapa pun, punya andil dalam karya besar kita ini. Tidak ada yang lebih tidak ada yang kurang. Semua sama. Mulai sekarang, ayo buang semua pikiran negatif dari benak kita. Satu hal saja yang harus terus tumbuh, kita harus bisa, karena kita mampu.” Aku mencoba kembali membakar semangat teman-teman.

Satu per satu kalimat penyemangat jiwa muncul di grup chat. Aku tersenyum puas. Aku yakin teman-teman di mana pun mereka berada juga mengembangkan senyuman di bibir. Perjuangan belum usai. Perjalanan masih panjang. Walau naik ke puncak itu tertatih-tatih, tapi kami saling berpegang erat.

~00~
             
  Dua bulan setelahnya.
  
             “Hai, dengan gembira, aku mengabarkan, walau diterbitkan indie, kita berhasil membuktikan bahwa kita benar-benar seorang penulis.” Kukirimkan cover novel Keping Hati di grup. Tanggapan sukacita tumpah ruah di sana.

Aku menangis. Ini impianku selama enam tahun terakhir. Dan lebih bahagia lagi hatiku, karena mampu membawa beberapa teman untuk bersama-sama memetik buah keberhasilan kami.

“Mbak Rina, terima kasih telah memberi kesempatan ini kepada kami, tepatnya saya. Saya tak tahu lagi harus berkata apa. Ini benar-benar hadiah terindah buat saya.”

“Ssst, aku yang berterima kasih pada kalian semua. Tanpa kalian, Rina tetaplah Rina. Seorang ibu rumah tangga yang hanya bisa menulis untuk dirinya sendiri. Tapi ada kalian, aku berani bangun dan menjadikan impian ini nyata. Terima kasih.”

Sekarang, aku juga teman-teman sedang menantikan cetakan pertama buku kami. Buku yang di dalamnya tersirat betapa besar perjuangan kami. Betapa banyak pelajaran yang bisa mendewasakan kami.

Tidak ada guru paling hebat selain pengalaman kita sendiri. Sebagai ucapan syukur kami, semua keuntungan dari seratus penjualan pertama, akan kami berikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Tak hanya itu, kami bertekad, membagikan apa yang kami dapat selama proses belajar ini kepada siapa pun yang juga ingin mewujudkan impian menjadi penulis. Ilmu yang kami punya takkan sia-sia.

  Terima kasih teman. Tanpamu, ilmuku beku.

2 komentar:

  1. Mantap Mbak.
    Salut dengan tim ini.
    Maju terus. Smangat! ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, terima kasih mbak Ade ... :)

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI