Google+ Followers

Senin, 30 Juni 2014

Belajar Menulis - Poin-poin Penting Dalam Fiksi

Belajar menulis sebuah cerita, tidak bisa asal menulis. Mengapa? Sebab ada poin-poin penting sebagai dasar sebuah tulisan menjadi nyaman dibaca.

Apa itu?

Ada beberapa elemen utama yang digunakan untuk mengembangkan Cerita dan Tema (isu, inti, pokok pikiran, subyek, topik) sebuah karangan, yaitu:


Plot (alur cerita/jalan cerita)

Plot atau alur cerita, adalah, cara Pengarang menceritakan dan menggerakkan adegan awal pertengahan hingga akhir sehingga menjadi sebuah rangkaian kejadian yang menarik untuk ditelusuri di dalam sebuah karangan. Plot merupakan elemen yang penting karena bertugas untuk menarik Pembaca membaca sebuah cerita sejak halaman pertama hingga halaman terakhir. Plot diibaratkan sebagai umpan yang membuat Pembaca terus membalik halaman karena ingin tahu apa yang terjadi pada halaman berikutnya dan bagaimana penyelesaian di akhir cerita.
Walaupun penting, plot bukan merupakan elemen terpenting. Plot yang disalah-gunakan dapat kita lihat pada sinetron-sinetron umumnya. Plotnya begitu luar biasa, namun Penonton diajak untuk kehilangan kelogisan dari cerita itu sendiri. Walaupun plot adalah senjata yang ampuh, Pengarang harus mempergunakannya dengan tepat agar mutu cerita dapat dipertahankan dan tidak terkesan mengada-ada atau palsu.

Penekanan pada pendalaman dan perkembangan karakter serta konflik cerita, dipadukan dengan plot yang longgar, dapat menjadikan sebuah cerita lebih baik daripada plot yang ketat, penuh kejutan tetapi mengakibatkan konflik dan karakter di dalamnya tidak berkembang dan dangkal.

Setting (tempat, waktu, tahun, kultur-budaya) 


Sebuah cerita memiliki dua macam setting, yaitu: setting secara fisik dan setting secara kronologis (berurutan).
Setting secara fisik adalah tempat di mana cerita terjadi. Di mana (where) ini dapat di mana saja, misalnya, di sebuah sekolah, atau bisa juga lebih spesifik, misalnya, di Universitas Trisakti, pada tahun 1998.
Demikian pula setting secara kronologis atau kapan (when) dapat saja dikatakan “pada bulan Januari di malam hari yang dingin mereka memutuskan untuk bertemu” adalah bentuk penceritaan setting yang generik. Sedangkan secara spesifik, “pada tanggal 17 agustus 1945, teks proklamasi dibacakan di Jakarta”, misalnya.
Pilihan Pengarang untuk mempergunakan setting yang seperti apa, sangat penting untuk dicermati. Apakah Pengarang sengaja tidak mempergunakan setting yang spesifik agar ceritanya menjadi lebih universal dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, ataukah Pengarang secara sengaja mempergunakan setting yang spesifik karena cerita menuntut demikian.

Karakter (tokoh cerita)

Tipe-tipe individu seperti apa yang dipertontonkan oleh tokoh-tokoh utama dalam cerita? Pemberani, pengecut, membosankan, menyebalkan? Apabila, Pengarang memutuskan tokoh utamanya pemberani, Pengarang harus dapat menceritakan pada bagian tertentu dalam ceritanya darimana Pengarang memperoleh persepsi tersebut.
Dalam cerita rekaan seperti juga dalam cerita nyata kehidupan, kita dapat mengevaluasi sebuah karakter melalui 3 cara: perkataannya, perbuatannya dan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya.

 

Konflik (bentrokan, cedera, friski, kelahi, konfrontasi, percekcokan, pergesekan, perpecahan, perselisihan, pertengkaran, pertikaian, sengketa, rivalitas, antagonisme, inkompatibilitas, kontradiksi, paradoks, pertentangan)


Dua macam konflik yang biasanya terjadi: Eksternal dan Internal.
Konflik Eksternal misalnya, manusia melawan alam (kisah bagaimana situasi penduduk tepi pantai saat menghadapi tsunami) atau manusia melawan manusia (kisah melawan penjajahan atau persaingan bisnis). Walau konflik internal nampak tidak semenarik konflik eksternal, tetapi dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak terjadi konflik internal dibanding konflik eksternal.

Film dan fiksi, seringkali lebih menekankan konflik eksternal karena konflik semacam itu tidak hanya lebih menarik, juga lebih mudah untuk diceritakan.

 

Simbol (sinyal, tanda, kiasan)


Simbol adalah faktor x di dalam cerita yang memberikan aksentuasi untuk menambah kedalaman sebuah cerita atau membuat cerita menjadi lebih menarik. Simbol biasanya merupakan sebuah benda yang dapat dilihat, diraba, dipegang, tetapi mengandung arti yang tidak dapat dilihat, diraba dan dipegang. Misalnya, sekuntun mawar merah untuk menyatakan aku mencintaimu.

 

Point of view (Sudut pandang penceritaan)

 

Point of view (POV) atau sudut pandang penceritaan adalah bagaimana cerita diceritakan, lebih spesifiknya, siapakah yang bercerita?

Ada dua tipe penceritaan dengan variasinya sendiri-sendiri.

Tipe pertama adalah: Penceritaan Orang Pertama atau POV 1, cerita diceritakan oleh seorang tokoh yang terdapat di dalam cerita. Tokoh ini mepergunakan sebutan bagi orang pertama, aku atau saya.

Apabila sang narator ini adalah tokoh utama cerita, maka POV-nya adalah POV sang protagonis. Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi-nya mempergunakan POV semacam ini, Haikal menjadi narator kisah tersebut.

Apabila naratornya adalah tokoh pendamping, maka POV1-nya adalah POV pengamat, seperti yang dipergunakan oleh Arthur Conan Doyle dalam novel serial kondangnya, Sherlock Holmes. Dalam serial Sherlock Holmes, Dr. Watson-lah narator yang menceritakan seluruh cerita tentang Sherlock Holmes sang tokoh utama.

Tipe kedua adalah: Penceritaan Orang Ketiga atau POV3, penceritaan bukan oleh tokoh di dalam cerita tetapi oleh narator yang tidak kelihatan dan tidak terlibat dalam cerita. Karena itu, apabila dalam POV1, narator berkata, “Aku melihat bulan begitu terang malam ini.” Dalam POV3, akan tertulis, “Ia melihat bulan begitu terang malam itu.”

Apabila, narator POV3 memberitahukan kepada Pembaca apa yang ada di dalam pikiran sebuah karakter, misalnya “Di dalam hatinya, ia merasa sangat heran mengapa gadis itu membencinya..” maka sang narator POV3 ini dikatakan sebagai POV3 omniscient atau maha tahu.

Apabila, narator POV3 ini hanya memberikan informasi melalui apa yang dapat dilihat dari luar, tanpa memberikan keterangan tentang apa yang dipikirkan oleh masing-masing karakter, maka POV3 yang dipergunakan adalah narator dramatis atau terbatas.

Kesimpulannya, terdapat beberapa tipe POV, yaitu:  POV1: protagonis dan observer. POV3: maha tahu (omniscient) dan terbatas (dramatis).

Masing-masing pilihan POV memberikan penekanan pada hal-hal yang berbeda. POV1 protagonis dapat memberikan informasi kepada Pembaca untuk mengetahui segala sesuatu yang dipikirkan oleh karakter utama. Sebaliknya, apabila Pengarang secara sengaja tidak ingin Pembaca mendapatkan akses langsung apa yang dipikirkan oleh karakter utamanya, pilihan terbaik yang ditempuh adalah mempergunakan POV1 observer atau POV3 dramatis.


TEMA (isu, inti, pokok pikiran, subyek, topik)


Tema bukanlah sebuah elemen dalam fiksi, ia merupakan penentu hasil keseluruhan sebuah cerita. Tema adalah: pokok pikiran dari sebuah cerita, ia merupakan inti cerita, sebuah subyek yang menjadi fokus utama cerita, pernyataan tentang topik, isu utama yang ingin dikemukakan oleh Pengarang untuk dimengerti dan diingat oleh Pembaca ceritanya.

Misalnya: Cinta, adalah sebuah topik, bukan Tema. Tema adalah: “cinta dapat mengalahkan segala rintangan.”

Walaupun Tema seringkali dikaitkan dengan “moral” tetapi hal ini tidaklah tepat. Moral mengimplikasikan ide positif atau hasil positif, sedangkan sebuah tema tidak selalu bernuansa positif. Misalnya, cinta yang berakhir tragis seperti dalam cerita Romeo dan Juliet, tema utamanya adalah cinta yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun juga (perseteruan keluarga dan maut).


From: gratcianulis.blogspot.com

1 komentar:

  1. mampir perdana di blog mbak rinz ni..... jozz gandhozz dueh

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI