Google+ Followers

Selasa, 24 Juni 2014

Belajar Menulis - Menulislah Semaumu, Tapi Jangan Asal!

Selasa sore yang menyenangkan … Seorang sahabat mengetuk jendela kamar sambil berbisik.

“Boleh tanya, Mbak?”

Saking pelannya, aku tak mendengar suara sahabatku itu.

“Ndak jadi. Hehe”

“Lah gimana sih? Hehehe Lah sori abis mandi,” jawabku sekian menit kemudian.

“Tanya apa?” Aku menunggu pertanyaan yang sepertinya penting. Jarang-jarang ia serius berbicara padaku.

“Begini, beberapa orang pernah bilang, ‘kalo pengen bisa nulis, ya tuliskan apa saja yg ingin kamu tulis’, itu maksudnya gimana, ya?”

“Kalau menurutku ... Menuliskan apa yang ingin kukisahkan. Tanpa tekanan dari siapa pun atau apapun. Lupakan dulu editing dan sebagainya. Hehehe menulislah dulu. Editing ada masanya.”

“Oh gitu … berarti menulis bebas? Atau gimana?”

“Ya Mas mau nulis apa? Menulislah tapi jangan asal nulis bila ingin dinikmati tulisannya. Bagaimana orang tertarik baca tulisan kita bila nulis asal hehehe.” Tanpa pikir panjang, aku belagak sok tahu.

“Biar bagaimana juga, menulis itu sama dengan bercerita. Bila tidak runut, bagaimana orang bisa menikmatinya dengan nyaman. Ya tooohhhh?!” Lanjutku lagi sambil menikmati sereal coklat hangat.

“Nah, ini yang bikin aku dan mungkin yang lain agak bingung, 'nulis apa saja tapi kok asal jangan asal nulis?' sementara ragam jenis tulisan itu sendiri ada banyak, jadi mummett ... maklum orang awam.” Kubayangkan sahabatku itu garuk-garuk kepala atau ujung hidungnya.

“Hahahaha. Maka menulislah menurut hatimu. Lama-lama akan dapat gayamu sendiri.” Kayaknya ini jawaban yang gak nyambung dariku. Ah biarlah, yang penting jawab (nyengir kuda).

“Gaya batu aja ndak bisa kok ... jelasnya, apa yang harus dilakukan saat nulis, misal novel, pusi, surat, dan seterusnya, masing-masing kan berbeda, Mbak?”

“Yup tentulah beda. Heheh sementara ini, aku juga masih terus belajar kok. Masih terus menggali potensi, menulis yang benar itu bagaimana.”

“Ya kalo asal nulis apa aja ya agak rancu juga …,” ujarnya lemas.

“Pertama yang kulakukan adalah berlatih menulis dengan baik. EYD dan teknis dasar saja dulu. Masalah rasa dan gaya bertutur tentu akan mengikuti. Proses itu tak berhenti. Aku menerapkan prinsip tak pernah puas dalam menulis. Hehehe. Maksudnya gini …” Tarik napas …
“Pertama apa yang ingin kita tulis. Catat di benak atau tuliskan di kertas. Aku ingin menulis tentang .... Lalu bagaimana caranya? Oke, tentukan dulu mau nulis tentang (misal ibu hamil) dalam bentuk apa? Puisi, oke Cerpen, oke Novel, ayo Artikel, boleh. Opini? Yuuk mari ...”


“Caranyaaa?? Dari tadi ditanya caranya kok muter aja sih, Mbak?”

“Oke sudah ditentukan mau nulis apa? Puisi? Ayo ...”

“Tuh kan bener brarti ndak asal nulis. Akakaakak.”

“Lah iya ... Tuliskan inginmu apa, tapi jangan asal nulis.
Kecuali, hanya untuk koleksi pribadi. Kwkkw.”

“Hahaha.... oke, sebenarnya aku paham, cuma pengen tau pendapat Mbak aja ... iseng gitu ... ckckck”

“Hahaha Iseng yeee,” ujarku rada sewot tapi senang juga, setidaknya jadi terangsang lagi ingin menulis.


“Horeeee ... aku dapet tambahan ilmu.” Sahabatku itu kegirangan tapi tetap menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi, memang itu perlu diluruskan kok. Karena memang, banyak pernyataan yang kadang ndak jelas arahnya (masih ambigu). Ya satu contoh pernyataan kayak gitu ‘nulis ya nulis aja, nulis apa saja’  ini kan masih butuh penafsiran.”

“Oke kalau gitu, kapan-kapan kita ngobrol lagi tentang ini.”

Aku menutup jendela kamarku lalu kembali buka buku atau catatan tentang dunia menulis. Takut kalau tiba-tiba sahabatku itu datang lagi dengan pertanyaan baru. Jaga-jaga saja, hehehe serem, suka nanya yang tidak-tidak soalnya.

2 komentar:

  1. mbak buat tulisan tentang tips buat novel sama dongeng dong...buat pemula...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, baiklah, nanti kupanggil ya kalau sudah jadi, hehehe

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI