Google+ Followers

Sabtu, 14 Juni 2014

Belajar Menulis - Menentukan Karakter Tokoh Dalam Cerita

Hai, jumpa lagi ...

Hari ini aku ingin mengulas sedikit tentang bagaimana sih membuat karakter untuk tokoh dalam cerita. Kebanyakan kuambil dari internet dan kutuliskan kembali. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi pembelajaran kita bersama.





Kenapa harus 'Karakter'?

Cerita menjadi hidup karena ada karakter yang menggerakkannya. Bila kita sudah menyiapkan karakter untuk tokoh yang akan kita pakai dalam cerita, pastilah kisah kita mengikuti karakter itu.

Karakter yang kuat bisa mengendalikan cerita. Jadi, si karakter tidak akan menyesuaikan diri dengan cerita melainkan, ceritalah yang akan menyesuaikan diri dengan karakter.
Itulah yang sering terjadi sehingga inkonsistensi karakter akan terhindari.

Tapi perubahan karakter dari awal cerita sampai akhir itu perlu. Semacam metamorfosis atau transformasi karakter. Maksudnya hanya, hasil pembelajaran si karakter dari kehidupan.


Catatan: Dalam membuat karakter, perlu juga diperhatikan tingkatannya. Maksudku, saat kita membuat karakter tokoh orang yang biasa-biasa saja, tinggal di pedesaan, dengan lingkungan yang seadanya, sangatlah wajar bila pemikirannya juga selevel. Tak mungkin tokoh seperti itu memiliki pemikiran seperti orang sekolahan apalagi sarjana. Kecuali, adal lanjaran lain dalam cerita, misal si tokoh lama bekerja di kota dan memiliki majikan yang cerdas, sehingga menularkan kecerdasannya pada si tokoh. Buang dulu pemikiran kita sebagai penulis. Tokoh kita bukan kita, tapi kita harus menjadi tokoh yang kita ciptakan. Bila memilih menjadi orang desa, ya berpikirlah seperti orang desa pada umumnya.  

Jenis Karakter

1. Flat, karakter ini ada di tokoh-tokoh yang muncul sekilas. Misalkan pelayan restoran, supir taksi, atau apa saja yang hanya sekali lewat. Bisa saja mereka berdialog, dideskripsikan fisiknya, tetapi hal detail lain tentangnya tak perlu diketahui. 

2. Round, karakter yang sepanjang cerita digambarkan utuh dalam tiga dimensi: fisiologi, sosiologi dan psikologi. Karakter seperti ini yang digunakan untuk karakter tokoh utama.

Bagaimana proses menciptakan karakter?
 
1. Buat biografinya mulai dari kecil hingga saat cerita berlangsung. Mulai dari hal sederhana seperti nama, tanggal lahir, tempat lahir, tempat tinggal, hingga hal-hal yang menarik untuk dielaborasi pada novel, seperti kejadian paling menakutkan di masa lalu, ada anggota keluarga yang pergi selamanya, dan lain-lain.
2. Lakukan wawancara imajiner antara penulis dengan si karakter. Lakukan seakan-akan memang ada seseorang yang belum kita kenal duduk di depan kita, dan kita ingin mencari tahu sebanyak mungkin tentang dia. Pastikan dia orang yang menarik bagi kita. Selain data hidupnya, kita juga bisa membayangkan bagaimana cara dia berkomunikasi.

Dalam buku Creative Writing karya A.S. Laksana juga ada penjelasan dan contoh untuk menciptakan karakter lewat wawancara. 

Apa saja yang harus dimiliki oleh karakter?
1. Karater utama harus memiliki “ruling passion/burning passion.” Seperti manusia nyata, mereka digerakkan dengan hasrat akan sesuatu yang membuatnya bertahan hidup. Karakter utama dalam sebuah novel haruslah seseorang dengan keinginan, kebutuhan, atau impian yang memaksanya untuk melakukan sesuatu. Cerita dengan tokoh yang menjalani kehidupan sekadar seperti air mengalir tentu akan menjadi cerita yang membosankan. 
 
2. Pilih keinginan yang menantang bagi karakter, tidak mudah begitu saja dicapai. Adalah tugas penulis untuk meletakkan penghalang bagi karakter dalam mencapai keinginannya tersebut. Bisa dengan menciptakan lingkungan yang tidak cocok dengan passion karakter atau seorang antagonis yang menghalangi niat karakter.
 
3. Karakter harus bertindak/berpikir dalam batas kapasitas kemampuannya dalam menghadapi sesuatu. Kapasitas harus masuk akal, sesuai dengan kriteria dirinya yang tiga dimensional.
Contohnya: jika ada karakter anak SMA dihadapkan dengan masalah dipelonco oleh kakak kelas, jangan buat dia sekadar diam dan tidak mencoba melawan. Tidak mungkin anak pintar bisa dibodohi seperti itu. Dia pasti punya harga diri. 
Contoh lain: karakter yang bertindak sesuai kapasitasnya tidak akan tetap berada di rumah berhantu, berkeliling penuh ketakutan selama dua jam, huft. (Sudah jelas itu tempat seram kenapa dia malah masuk?)
 
4. Karakter harus berusaha mencapai keinginan/kebutuhan/impiannya, dan dalam prosesnya bertindak serta berpikir sesuai dengan kriteria dirinya yang tiga dimensional tersebut. Kalau karakter tidak bergerak demi mencapai keinginannya, tentu ceritanya akan membosankan. 
Contoh: ada karakter cewek malu-malu naksir seorang cowok. Kalau sepanjang cerita dia tidak pernah berusaha agar bisa berinteraksi dengan si cowok, dia tidak perlu dituliskan ceritanya. Sebaiknya, buat karakter yang mau melakukan sesuatu demi burning passion-nya.




Sumber : Opini pribadi, Internet, Goodreads Forum, jasonabdul.blogspot.com.

7 komentar:

  1. Mau komen malah lihat emoticon lucu. Nyomot dulu ah (c) (f)

    Terima kasih ya Mbak Rina. Tambah ilmu gratis lagi.

    BalasHapus
  2. Iya mbak Kamubhica hehehe selamat menikmati.

    BalasHapus
  3. (f) terimakasih mbak, bermanfaat sekali buatku

    BalasHapus
  4. Maksih ilmunya kak
    Sangat bermanfaat
    Izin share ya

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI