Google+ Followers

Jumat, 13 Juni 2014

Aku pun Ingin Pergi Umrah


Tak terasa air mataku menetes. Sungguh apa yang tampak di netra membuat hati berlipat rasa. Seolah tubuh dilingkupi kehangatan yang menggetarkan. Mataku tak berkedip, melihat tayangan yang luar biasa mengharukan.

Sebuah tontonan di televisi saat senja mampu membuatku tak berkutik sedikit pun. Kisah seorang nenek sebatang kara yang mendapat rezeki untuk pergi umrah dari seseorang yang kebetulan mengetahui keinginannya. Betapa beruntungnya ia, terlebih lagi, betapa hebatnya orang yang memberi sukacita padanya, batinku. Kebahagiaan nenek itu terpancar tak terkira, terlihat saat tak hentinya ia mengucap syukur dan berterima kasih telah diberi kesempatan menginjakkan kaki ke Baitullah. Sesuatu yang rasanya tak mungkin ia dapatkan di usia senja yang tinggal menghitung hari.

“Ayah, bisakah Bunda pergi ke sana suatu hari nanti?” tanyaku ke suami yang sedang rebahan.

Ia menoleh. Ada yang jatuh juga dari matanya. Ah, suamiku memang lebih mudah tersentuh hatinya bila menonton tayangan seperti barusan.

“Tentu saja Bunda bisa. Niatkan itu dari dalam hatimu. Terus ucapkan keinginan Bunda dalam doa. InsyaAllah, semua pasti dimudahkan oleh-Nya.”

Aku memeluknya. Ya, suamiku benar. Apapun yang kuinginkan, bila dibicarakan sama suami, ia hanya bisa menyarankan, mintalah pada Allah.

“Sudah, jangan peluk-peluk saja. Mandilah dulu. Sebentar lagi magrib.” Suamiku bangun dan mengambil handuk dari gantungan.

Sembari menunggu suami, aku membuka facebook.

“Ingin pergi ke Tanah Suci.” Tulisku di beranda. Sebuah kalimat singkat namun sangat berarti. Ini serupa doa.

“Bunda, tolong buatin teh hangat, ya!” Seru suami dari dalam kamar mandi. Segera saja aku ke dapur dan menjerang air.

***

“Amin, semoga kelak terwujud, Mbak.”

Satu per satu komentar kubaca. Tentu saja semua mengamini keinginanku. Hati jadi tambah yakin. Bila diamini banyak orang, maka lebih mudah jalanku sampai ke Rumah Allah.

“Bagaimana bila dibuat event menulis, dengan hadiah DP Umrah, Mbak?”

Aku mengeryitkan kening, DP Umrah? Sebuah komentar dari seorang teman yang sudah kuanggap bunda sendiri, Bunda Asih. Tentu saja hatiku riang di tengah kebingungan.

“Subhanallah, Bunda … Serius?”

“Tentu saja Bunda serius, Diajeng. DP Umrah senilai tiga ratus lima puluh dolar. Untuk satu pemenang.”

Ya Allah, sungguh luar biasa jalan-Mu. Hati tak henti mengucap Alhamdulillah. Apalagi respon yang luar biasa datang dari komentar teman-teman. Mereka sangat antusias dengan ide Bunda Asih. Tentulah ini memacu semangatku. Terbayang bila aku bisa memenangkan event menulis itu …

“Eh, sebentar, yang ngadain Bunda?”

“Ya, Bunda sediain satu voucher. Diajeng bisa membuat konsepnya. Bunda ikut saja.”

Aku mengangguk paham membaca komentarnya. Ini lebih luar biasa. Event besar pertama yang dipercayakan padaku. Tunggu dulu, kalau yang bikin acaranya aku, lantas apa yang kudapatkan? Hati kecilku mulai kasak-kusuk. Yang ingin ke Tanah Suci siapa? … Ah, itu tak penting … Coba lihat tanggapan teman-teman, itu lebih membahagiakan sekarang. Lakukan!

“Baiklah, Bunda … segera kubuat konsepnya ya. Boleh ngajak satu orang untuk juri, kan?”

“Tentu saja, Diajeng nyaman bersama siapa? Bunda mendukung.”

Tanpa menunggu lama, aku segera menyusun info sayembara cerpen yang berhadiah DP Umrah itu. Temanya mudah saja, Ingin Pergi Umrah. Rasanya tak percaya, dalam waktu sekian menit, Allah membukakan pintu untuk masuk ke sana. Dengan hati penuh kegembiraan, kukabarkan ini pada suami.

“Memudahkan jalan orang maka Allah akan memudahkan langkahmu  …” ujar suami  dengan suara lembutnya.

Kalimat itu semakin menguatkanku bahwa tidak ada yang sia-sia, apapun yang kulakukan saat ini, pasti akan ada hasilnya.

“Bila bukan saat ini, kelak pasti giliran Bunda. Sekarang jadilah jembatan teman-temanmu untuk ke sana. Selain itu, Bunda bisa lebih banyak belajar dari cerpen-cerpen yang nantinya terkirim. Semua akan lewat Bunda, kan?” tanya suami. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Dengan menyebut nama Allah, aku posting info sayembara itu di grup Menulis. Tak perlu menunggu waktu lama, event ini menggugah ribuan member yang tergabung di grup Menulis. Sungguh mereka menyambut sayembara berkualitas yang rasanya memang baru pertama diadakan. Apalagi sayembara ini gratis dan rencananya akan dibukukan. Rasanya aku ingin memeluk Bunda Asih nun jauh di sana, sebab begitu mulia hatinya membangkitkan semangat menulis teman-teman dengan berlomba menulis kisah terbaik di perlombaan ini.

“Diajeng, bila perlu, Bunda tambahin satu voucher dengan nilai sama untuk juri yang mempunyai cerita terbaik, ya …”

Deg! Jantung ini rasanya mau copot saking kaget membaca komentar Bunda Asih.

“Serius, Bunda?” Ketar-ketir juga, mengingat juri satunya lebih berbobot jika menulis cerita. Ciut pula membayangkannya.

“Iya. Bikinlah cerita yang keren, agar terpilih. Nanti biar Pak Isa yang memilih.”

Wah … belum apa-apa aku sudah merasa kalah duluan. Mas Dekik, juri satunya lagi itu, bagaimana cara mengalahkannya? Putar otak, batinku berkecamuk.

Suami yang melihat ekspresi raut wajahku berubah-ubah ikut bingung.

“Kenapa, Bunda?”

“Ini, Bunda Asih bukan hanya kasih hadiah untuk pemenang, tapi juga buat juri. Hebat, ya Ayah. Tapi …”

“Tapi apalagi?”

“Hehehe … Mas Dekik itu keren, tak bisalah Bunda menang.”

“Sudah, jangan pikirin hadiahnya. Yang perlu Bunda lakukan sekarang, serius! Memegang event itu butuh tanggung jawab. Jangan hanya ngobrol gak jelas di chat. Seperlunya saja. Masih banyak yang penting … misalnya melanjutkan tulisan-tulisan Bunda yang terbengkalai, sambil menunggu teman-teman mengirimkan cerpen umrahnya. Kan lumayan tuh, tulisan Bunda kelar. Siapa tahu bisa menghasilkan juga, buat tabungan. Kali-kali bisa berangkat umrah.”

Aku menghela napas. Lagi-lagi kali ini suamiku benar. Subhanallah, sungguh beruntung aku memiliki seorang pendamping yang selalu mendukung.

“Iya, Yah. Tenang saja … Bunda masih tetap menulis kok. Demi masa depan.”

“Demi, demi … mana? Kayaknya masih segitu-gitu aja.”

Aku tertawa. Memang beberapa hari ini aku meninggalkan tulisan yang seharusnya sudah kelar. Ada satu event menulis  dengan peserta hampir seratus orang yang menyita sebagian waktuku.

“Sabar, Yah. Pasti selesai, bantu Bunda dengan doa, ya.”

“Ya, didoain sih, tapi kalau Bunda gak ngerjain sama aja bohong!”

Ting!

Suara notifikasi laptop menandakan ada pesan masuk.

“Rin, jurinya hanya kita berdua? Bila benar ada voucher untuk juri, biar untukmu saja!”

Aku tersenyum membaca pesan dari Mas Dekik. Tidak, bukan hanya tersenyum … hatiku deg-degan.

“Kalau memang jalan-Nya, pasti dimudahkan. Tenang saja …”

Aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Yang jelas kali ini aku harus bisa menjadi penyelenggara event dengan baik. Membahagiakan orang itu lebih penting. Terbayang kelak saat satu nama berhasil mendapatkan DP Umrah, bahagia rasanya.

***

“Tujuh puluh naskah …” kataku pada suami saat ia bertanya kabar event umrah yang sudah jatuh tempo beberapa hari lalu.

“Wah banyak juga, ya? Sudah dapat pemenangnya?”

“Belum, masih disaring. Sudah ada beberapa yang gugur.”

“Kenapa? Kok bisa gugur?

“Ya karena kebanyakan salah tema. Ide yang tidak nyambung dan cerita umrahnya rata-rata hanya sekadar tempelan.”

“Oh … Terus kalau banyak yang gugur daripada yang disaring bagaimana? Butuh berapa cerita memangnya?”

“Entahlah, mungkin akan nambah cerita lagi. Ini masih proses, jadi belum tahu ada berapa karya yang . layak. Rencananya sih diambil dua puluh tulisan terbaik. Semoga saja cukup. Ayah mau ikutan bikin cerpen?”

“Ah, bisa-bisa menang nanti, kan jadi gak enak,” ujar suami sambil tertawa.

“Ya enggak menang lah. Kan sudah berakhir masa mengirim cerpennya. Cuma buat penggembira saja.” Jawabanku ditanggapi dengan senyum genit.

“Sudah lanjut baca sana. Nanti gak selesai-selesai lagi.”

Aku meneruskan membaca beberapa cerpen yang masuk. Melihat tulisan teman-teman, hati ini semakin menggebu pergi ke Baitullah. Aku ingin semakin mengenal Islam, agama yang belum ada empat tahun ini kupeluk. Apalagi hasratku ingin berkunjung ke sana untuk melihat kakbah secara langsung.

Aku teringat dulu saat kecil di rumah kakek dari ibu. Ada gambar kakbah yang dikelilingi orang banyak. Masih lekat di memoriku pertanyaan ringan yang terlontar dari bibir mungil ini.

“Uwo, itu apa?”

“Oh … itu Rumah Allah di Mekah sana. Tempatnya umat muslim berkiblat dan tawaf sewaktu berhaji dan umrah.”

“Apa itu kiblat dan tawaf?”

“Ah, mau apa kamu tanya-tanya! Mau ke sana kamu? Lihat tuh Papamu sudah mendelik …”

“Uwo sudah pergi ke sana?”

“Sudah … Sayangnya kamu tak bisa ikut, ya …”

Aku tersenyum mengingat kenangan itu. Ya, tentu saja kakekku tidak mau menjelaskan panjang lebar. Sejak ibu menikah dan meninggalkan orang tua, mengunjungi kakek hanya setahun sekali. Kakek tak ingin kunjungan ini diisi dengan keributan kecil. Baginya, cukup sudah kemarahannya meledak saat anak gadisnya memutuskan menikah dengan pria yang beda keyakinan. Ah, seandaikan saja kakek bisa hidup lebih lama, mungkin ia akan mengajarkanku banyak hal tentang islam.

Aku benar-benar ingin pergi umrah. Bukan cuma sekadar membuktikan pada kakek bahwa  bisa pergi ke sana karena sekarang aku seorang mualaf, tapi ingin sekali melihat batu Hajar Aswad dan menciumnya. Bukankah itu sunah Nabi Muhammad SAW? Ah, rasanya aku mulai menangis lagi. Bisakah sebelum ajalku tiba menginjakkan kaki di tanah suci itu?

“Ayah … seandainya Bunda pergi umrah, berarti tidak boleh pergi sendiri, ya?”

“Iya … harus dengan mahramnya.”

“Mahram itu apa, Yah?” Aku asing dengan kata itu.

“Mahram itu … kalau tidak salah, orang yang haram dinikahi.”

Aku makin bingung dengan penjelasan suami.

“Lah … terus, Bunda sama siapa berangkatnya?”

“Ya sama suami. Gitu aja kok repot. Mahram wanita adalah suaminya dan semua orang yang tidak boleh dinikahi selamanya.”

Senyum manis mengembang sempurna di bibirku. Menyenangkan bila bisa beribadah umrah bersama suami tercinta. Hanya saja …

“Kenapa berubah manyun gitu?”

“Hehehe … enggak apa-apa, Yah. Cuma bingung juga, mesti ekstra nabung ya … biar bisa berangkat bareng.”

“Udah coba, lupa ya kapan hari tuh diingatin … jangan terlalu dipikirkan. Usaha jalan terus dan jangan dipaksakan. Semua ada jalannya. Ucapkan terus dalam doa. Allah pasti mendengar. Percaya saja.”

“Baiklah, Yah. InsyaAllah ada jalan.”

“Nah, gitu. Senyum. Jangan cemberut aja.”

Mataku kembali ke layar laptop. Masih ada beberapa tulisan lagi yang harus kubaca. Sepertinya memang banyak yang gugur. Ya memang niatnya mencari cerpen yang terbaik. Semoga saja aku menemukan satu-dua yang bagus.

Dan tak terasa, sebentar lagi tentu akan ada pemenangnya. Siapa pun yang berangkat umrah nanti, akan kutitipi doa, agar kelak aku juga bisa melangkahkan kaki di sana.
credit

3 komentar:

  1. apakah ini kisah nyata Bunda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak Vira Maia, true story

      Hapus
  2. Panggilan neneknya sama dengan sy memanggil nenek "uwo"

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI