Google+ Followers

Belajar menulis sebuah cerita, tidak bisa asal menulis. Mengapa? Sebab ada poin-poin penting sebagai dasar sebuah tulisan menjadi nyaman dibaca.

Apa itu?

Ada beberapa elemen utama yang digunakan untuk mengembangkan Cerita dan Tema (isu, inti, pokok pikiran, subyek, topik) sebuah karangan, yaitu:


Plot (alur cerita/jalan cerita)

Plot atau alur cerita, adalah, cara Pengarang menceritakan dan menggerakkan adegan awal pertengahan hingga akhir sehingga menjadi sebuah rangkaian kejadian yang menarik untuk ditelusuri di dalam sebuah karangan. Plot merupakan elemen yang penting karena bertugas untuk menarik Pembaca membaca sebuah cerita sejak halaman pertama hingga halaman terakhir. Plot diibaratkan sebagai umpan yang membuat Pembaca terus membalik halaman karena ingin tahu apa yang terjadi pada halaman berikutnya dan bagaimana penyelesaian di akhir cerita.
Walaupun penting, plot bukan merupakan elemen terpenting. Plot yang disalah-gunakan dapat kita lihat pada sinetron-sinetron umumnya. Plotnya begitu luar biasa, namun Penonton diajak untuk kehilangan kelogisan dari cerita itu sendiri. Walaupun plot adalah senjata yang ampuh, Pengarang harus mempergunakannya dengan tepat agar mutu cerita dapat dipertahankan dan tidak terkesan mengada-ada atau palsu.

Penekanan pada pendalaman dan perkembangan karakter serta konflik cerita, dipadukan dengan plot yang longgar, dapat menjadikan sebuah cerita lebih baik daripada plot yang ketat, penuh kejutan tetapi mengakibatkan konflik dan karakter di dalamnya tidak berkembang dan dangkal.

Setting (tempat, waktu, tahun, kultur-budaya) 


Sebuah cerita memiliki dua macam setting, yaitu: setting secara fisik dan setting secara kronologis (berurutan).
Setting secara fisik adalah tempat di mana cerita terjadi. Di mana (where) ini dapat di mana saja, misalnya, di sebuah sekolah, atau bisa juga lebih spesifik, misalnya, di Universitas Trisakti, pada tahun 1998.
Demikian pula setting secara kronologis atau kapan (when) dapat saja dikatakan “pada bulan Januari di malam hari yang dingin mereka memutuskan untuk bertemu” adalah bentuk penceritaan setting yang generik. Sedangkan secara spesifik, “pada tanggal 17 agustus 1945, teks proklamasi dibacakan di Jakarta”, misalnya.
Pilihan Pengarang untuk mempergunakan setting yang seperti apa, sangat penting untuk dicermati. Apakah Pengarang sengaja tidak mempergunakan setting yang spesifik agar ceritanya menjadi lebih universal dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat, ataukah Pengarang secara sengaja mempergunakan setting yang spesifik karena cerita menuntut demikian.

Karakter (tokoh cerita)

Tipe-tipe individu seperti apa yang dipertontonkan oleh tokoh-tokoh utama dalam cerita? Pemberani, pengecut, membosankan, menyebalkan? Apabila, Pengarang memutuskan tokoh utamanya pemberani, Pengarang harus dapat menceritakan pada bagian tertentu dalam ceritanya darimana Pengarang memperoleh persepsi tersebut.
Dalam cerita rekaan seperti juga dalam cerita nyata kehidupan, kita dapat mengevaluasi sebuah karakter melalui 3 cara: perkataannya, perbuatannya dan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya.

 

Konflik (bentrokan, cedera, friski, kelahi, konfrontasi, percekcokan, pergesekan, perpecahan, perselisihan, pertengkaran, pertikaian, sengketa, rivalitas, antagonisme, inkompatibilitas, kontradiksi, paradoks, pertentangan)


Dua macam konflik yang biasanya terjadi: Eksternal dan Internal.
Konflik Eksternal misalnya, manusia melawan alam (kisah bagaimana situasi penduduk tepi pantai saat menghadapi tsunami) atau manusia melawan manusia (kisah melawan penjajahan atau persaingan bisnis). Walau konflik internal nampak tidak semenarik konflik eksternal, tetapi dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak terjadi konflik internal dibanding konflik eksternal.

Film dan fiksi, seringkali lebih menekankan konflik eksternal karena konflik semacam itu tidak hanya lebih menarik, juga lebih mudah untuk diceritakan.

 

Simbol (sinyal, tanda, kiasan)


Simbol adalah faktor x di dalam cerita yang memberikan aksentuasi untuk menambah kedalaman sebuah cerita atau membuat cerita menjadi lebih menarik. Simbol biasanya merupakan sebuah benda yang dapat dilihat, diraba, dipegang, tetapi mengandung arti yang tidak dapat dilihat, diraba dan dipegang. Misalnya, sekuntun mawar merah untuk menyatakan aku mencintaimu.

 

Point of view (Sudut pandang penceritaan)

 

Point of view (POV) atau sudut pandang penceritaan adalah bagaimana cerita diceritakan, lebih spesifiknya, siapakah yang bercerita?

Ada dua tipe penceritaan dengan variasinya sendiri-sendiri.

Tipe pertama adalah: Penceritaan Orang Pertama atau POV 1, cerita diceritakan oleh seorang tokoh yang terdapat di dalam cerita. Tokoh ini mepergunakan sebutan bagi orang pertama, aku atau saya.

Apabila sang narator ini adalah tokoh utama cerita, maka POV-nya adalah POV sang protagonis. Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi-nya mempergunakan POV semacam ini, Haikal menjadi narator kisah tersebut.

Apabila naratornya adalah tokoh pendamping, maka POV1-nya adalah POV pengamat, seperti yang dipergunakan oleh Arthur Conan Doyle dalam novel serial kondangnya, Sherlock Holmes. Dalam serial Sherlock Holmes, Dr. Watson-lah narator yang menceritakan seluruh cerita tentang Sherlock Holmes sang tokoh utama.

Tipe kedua adalah: Penceritaan Orang Ketiga atau POV3, penceritaan bukan oleh tokoh di dalam cerita tetapi oleh narator yang tidak kelihatan dan tidak terlibat dalam cerita. Karena itu, apabila dalam POV1, narator berkata, “Aku melihat bulan begitu terang malam ini.” Dalam POV3, akan tertulis, “Ia melihat bulan begitu terang malam itu.”

Apabila, narator POV3 memberitahukan kepada Pembaca apa yang ada di dalam pikiran sebuah karakter, misalnya “Di dalam hatinya, ia merasa sangat heran mengapa gadis itu membencinya..” maka sang narator POV3 ini dikatakan sebagai POV3 omniscient atau maha tahu.

Apabila, narator POV3 ini hanya memberikan informasi melalui apa yang dapat dilihat dari luar, tanpa memberikan keterangan tentang apa yang dipikirkan oleh masing-masing karakter, maka POV3 yang dipergunakan adalah narator dramatis atau terbatas.

Kesimpulannya, terdapat beberapa tipe POV, yaitu:  POV1: protagonis dan observer. POV3: maha tahu (omniscient) dan terbatas (dramatis).

Masing-masing pilihan POV memberikan penekanan pada hal-hal yang berbeda. POV1 protagonis dapat memberikan informasi kepada Pembaca untuk mengetahui segala sesuatu yang dipikirkan oleh karakter utama. Sebaliknya, apabila Pengarang secara sengaja tidak ingin Pembaca mendapatkan akses langsung apa yang dipikirkan oleh karakter utamanya, pilihan terbaik yang ditempuh adalah mempergunakan POV1 observer atau POV3 dramatis.


TEMA (isu, inti, pokok pikiran, subyek, topik)


Tema bukanlah sebuah elemen dalam fiksi, ia merupakan penentu hasil keseluruhan sebuah cerita. Tema adalah: pokok pikiran dari sebuah cerita, ia merupakan inti cerita, sebuah subyek yang menjadi fokus utama cerita, pernyataan tentang topik, isu utama yang ingin dikemukakan oleh Pengarang untuk dimengerti dan diingat oleh Pembaca ceritanya.

Misalnya: Cinta, adalah sebuah topik, bukan Tema. Tema adalah: “cinta dapat mengalahkan segala rintangan.”

Walaupun Tema seringkali dikaitkan dengan “moral” tetapi hal ini tidaklah tepat. Moral mengimplikasikan ide positif atau hasil positif, sedangkan sebuah tema tidak selalu bernuansa positif. Misalnya, cinta yang berakhir tragis seperti dalam cerita Romeo dan Juliet, tema utamanya adalah cinta yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun juga (perseteruan keluarga dan maut).


From: gratcianulis.blogspot.com

Jangan Meniup Makanan dan Minuman Yang masih Panas –
Biasanya ketika kita makan makanan atau minuman yang panas
maka kita meniupnya agar makanan atau minuman yang masuk
ke mulut kita menjadi dingin. Hal ini dapat berisiko terhadap
kesehatan kita dikarenakan makanan atau minuman yang masih
panas tersebut akan mengeluarkan uap air yang mana kitatahu
uap air adalah H2O(aq).Jika kita meniupnya, maka kita akan
mengeluarkan gas CO2 dari dalam mulut. menurut reaksi kimia,
apabila uap air bereaksi dengan karbondioksida akan
membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid) yang
bersifat asam.H2O CO2 => H2CO3Perlu kita tahu bahwa didalam
darah itu terdapat H2CO3 yang berguna untuk mengatur pH
(tingkat keasaman) di dalam darah. Darah adalah Buffer
(larutan yang dapat mempertahankan pH) dengan asam
lemahnya berupa H2CO3 dan dengan basa konjugasinya berupa
HCO3- sehingga darah memiliki pH sebesar 7,35 – 7,45 dengan
reaksi sebagai berikut:CO2 H20 HCO3- H Tubuh menggunakan
penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap
perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalam pH darah.
Adanya kelainan pada mekanisme pengendalian pH tersebut,
bisa menyebabkan salah satu dari 2 kelainan utama dalam
keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis.Asidosis
adalah suatu keadaan dimana darah terlalu banyak mengandung
asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering
menyebabkan menurunnya pH darah.Sedangkan Alkalosis adalah
suatu keadaan dimanadarah terlalu banyak mengandung basa
(atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang
menyebabkan meningkatnya pH darah.Kembali lagi ke
permasalahan awal, dimana makanan kita tiup, lalu
karbondioksida dari mulut kita akan berikatan dengan uap air
dari makanan dan menghasilkan asam karbonat yang akan
mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah kita sehingga
akan menyebabkan suatu keadaan dimana darah kita akan
menjadi lebih asam dari seharusnya sehingga pH dalam darah
menurun, keadaan ini lebih dikenal dengan istilah
asidosis.Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan
menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk
menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara
menurunkan jumlah karbon dioksida.Pada akhirnya, ginjal juga
berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara
mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih.Tetapi kedua
mekanisme tersebut tidak akan berguna jika tubuh terus
menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi
asidosis berat. Sejalan dengan memburuknya asidosis,
penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa, rasa
mengantuk, semakin mual dan mengalami kebingungan. Bila
asidosis semakin memburuk, tekanan darah dapat turun,
menyebabkan syok, koma dan bahkan kematian.

Alhamdulillah ...

Setelah berjuang keliling kampung mencari rumah baru, akhirnya ketemu juga yang pas di hati, nyaman di kantong. Hehehe

Sebuah rumah mungil tak jauh dari Pasar Gedog menjadi pilihan kami. Ya, sebenarnya sebagai pendatang, pindah-pindah itu sangat tidak menyenangkan. Selain capek tentu saja, juga perasaan sedih karena harus berpisah dengan rumah yang sudah menjadi sahabat kami selama setahun terakhir. Maklum, teman terdekat ya dinding dan lantai rumah.

Semula aku sudah berkecil hati, sebab bila tidak juga menemukan rumah, akan kembali ke Cirebon. Di sana tidak perlu susah-susah cari tempat tinggal, sebab suami sudah diberikan sebuah rumah yang nyaman di Belawa. Mertua sangat ingin dekat dengan kami. Apalagi sudah tiga kali lebaran, kami tidak merayakannya bersama.

Kembali ke rumah baru, meski harusnya kami pindah dari rumah ini beberapa hari yang lalu, kami harus juga menunggu hari baik menurut hitungan jawa. Jumat adalah pilihan terbaik. Sebab kalau ditunda, maka lepas lebaran baru bisa menemukan hari baik lagi. Ya, bagiku, semua hari baik, namun, tidak ada salahnya mengikuti adat dan kebiasaan si empunya tempat. Toh itu untuk kebaikan juga.

Ada yang baru di pindahan kali ini.

Aku baru tahu, bahwa sudah menjadi adatnya, bantal harus ditinggalkan atau diberikan pada orang lain, jangan dibawa pindah juga. Senang juga sih, beli bantal baru. Hehehe. Mitosnya begitu, entah apa maksudnya.

Selain itu, ternyata sebagai ucapan syukur, harus membuat jenang merah putih dan dibagikan ke tetangga. Ya setidaknya buat berkenalan dengan tetangga sekitar.

Sudah tidak sabar untuk menempati rumah baru. Semoga berkah dan membawa kebahagiaan untuk keluarga kecilku.
from gugel

Sore ini, ingin sekali menulis tentang betapa menyenangkannya kegiatan yang satu ini. Menulis tentu saja.

Beberapa teman bilang kalau menulis itu susah. Ah, tidak kok ... cobalah lepaskan kata 'susah' itu. Menulislah tanpa beban.

Begini, anggap layar di hadapanmu atau kertas adalah lawan bicaramu. Curhatlah padanya. Ungkapkan apa yang ingin kaukatakan lewat jari-jarimu. Biarkan jemarimu membuat layar itu penuh. Mengalirlah ... Anggap kau sedang berbicara.

Susah?

Oke, begini saja. Sekarang, coba pilih seorang dari ribuan daftar temanmu. Ajak dia ngobrol. Mulailah dengan bercerita tentang kejadian hari ini, yang kauanggap sedikit berbeda.

Komunikasi dua arah, bagiku cukup bermanfaat untuk merangsang otak. Dengan berbicara, walau hanya lewat inbox, ada banyak hal yang bisa dikembangkan.

Cobalah teruskan 'curhat' lalu tanpa kausadari, curhatanmu itu bisa jadi sebuah cerita pendek.

Teruslah berlatih lewat cara seperti itu. Bermain-mainlah dengan kata itu menyenangkan.

Bisa juga berlatih saling berbalasan paragraf. Iseng-iseng, bisa jadi cerpen duet kan.

Tak percaya? Ayo dicoba dulu, asyikloh ... Daripada ngobrol yang tidak jelas, buatlah karya dari obrolanmu.

Hanya sekadar info, Keping Hati mulanya berawal dari curhat, lalu tantangan untuk meneruskannya menjadi sebuah cerita pendek. Ajaibnya, dari main-main melanjutkan jadi cerita bersambung, Keping Hati malah jadi novel.

So, tidak ada salahnya dicoba.


Tak sedikit yang ingin menjadi penulis novel. Namun, banyak pula yang hanya sekadar ingin, tapi tidak mulai menulis. Coba mulailah menulis. Novelmu tidak akan jadi bila kata di halaman pertama tidak ada. Hehehe.


Lalu Bagaimana Memulainya?

Kalau ditanya bagaimana memulainya, jawabanku cukup satu kalimat. Sekarang, gerakkan jemarimu. Itu caranya memulai.

Caraku menulis novel agak menyimpang dari kebiasaan teman-teman lainnya dalam menulis novel. Jujur saja, setiap menulis, aku tidak membuat outline atau kerangka tiap bab-nya.

Ah, becanda? Kok bisa?

Bisa saja. Dengan langsung menulis apa yang ingin kuceritakan, aku tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan sebuah novel.

Wah, berarti sekarang Mbak sudah punya banyak novel ya?

Belum. Sedang akan, karena setiap hari aku menulis.

Paling mudah menulis novel berdasarkan pengalaman pribadi. Tulislah apa yang kita tahu. Bagiku itu lebih gampang. Tentu saja, kita lebih tahu pengalaman kita daripada orang lain. Bukan tidak mungkin dari perjalanan hidup sekian tahun, ada hal menarik yang patut dibagikan dalam bentuk cerita. Tinggal membumbui dengan rasa romantis atau kisah lain yang bisa menggugah pembaca hingga tertarik membaca tiap lembarnya.

Bila tidak pakai outline, bisakah tetap fokus?

Oke, begini ... kebiasaanku, memainkan cerita di benak lebih dulu. Kupejamkan mata. Misal ingin bercerita tentang seorang anak yang tidak diinginkan orang tua, harus berjuang sendiri hingga dewasa. Lalu saat usia matang ia membuktikan bahwa sebagai anak terbuang ia sangat berharga dan berhasil menjadi orang hebat. Nah, kubayangkan pula apa yang terjadi padanya selagi memperjuangkan hidup. Apa saja tantangan yang ia hadapi, bagaimana ia melaluinya. Siapa saja yang ia temui dan membawa pengaruh dalam perjalanannya, bla bla bla.

Sudah dapat membayangkannya? Bila sudah, coba pikirkan lagi, apa endingnya. Jika kau rasa takkan mengingatnya bila tidak ditulis, tuliskanlah poin-poin itu dalam selembar kertas.

Bila begini, maka akhirnya akan jadi ini. Atau seperti itu, atau lebih baik bila begini. Cobalah beberapa alternatif ending. Nah, bayangkan lagi kisahmu, bila pilih ending A hingga seterusnya. Mana yang lebih asyik untuk diceritakan? Mana yang lebih membuat pembaca senang membacanya? Setelah ketemu, barulah tandai. Endingnya harus ke situ.

Oke, tapi masih belum bisa mulai. Bingung menulis awalnya.

Nah ini dia yang kubilang di tulisan sebelumnya. Bila ingin menulis, menulislah. Jangan mikir dulu bagaimana cara menulisnya. Bila yang kau maksud adalah gaya bertuturnya, latihan saja dulu menuliskannya. Beranikan jemarimu menulis apa yang kau pikirkan. Jangan bingung dulu. Mulailah berkisah.

Bagaimana menuliskannya per bab?

Bab novel yang kubuat tidak pernah panjang-panjang. Bagiku, saat satu poin kutuliskan dalam satu bab, bila kurasa sudah selesai, kumulai dengan bab baru. Kuingatkan lagi, tuliskan saja dulu, saat editing nanti, bab bisa ada yang disatukan, atau bahkan pindah posisi.

Berapa lama menulis sebuah novel?

Kita bicara pengalaman saja ya, Keping Hati selesai dalam dua bulan. Sementara Sang Bulan (yang baru kelar) kuselesaikan dalam waktu 1 bulan kurang sekian hari. Kuncinya adalah konsisten. Targetkan mau menulis novel dalam waktu berapa lama. Berjanjilah pada diri sendiri untuk menepati.

Satu bulan? Oke ... bila tidak terpenuhi? Buatlah hukuman untuk janji yang tidak kautepati itu. Sesekali hukumlah diri sendiri karena ketidakdisiplinanmu.

Konsisten, sehari sanggup menulis berapa lembar. Bila ini ditaati, maka targetmu menulis sebuah novel akan tercapai dengan waktu yang memuaskan.

Bila novelmu sudah kelar, tinggal dibaca ulang, dan kita masuk ke tahap editing. Berulang-ulang. Mengedit bisa butuh waktu lebih lama dari menulis. Jangan berkecil hati. Sebab mengedit butuh ketelitian. Apalagi bila sejak awal kita menulis asal menulis. Tak mengapa, yang penting sudah berani mencoba untuk menuliskan kisah hingga selesai. Langkah selanjutnya adalah, memoles kembali kisah kita menjadi lebih apik dan rapi juga lebih mengalir.

Hmmm ... Paham. Semakin ingin segera memulainya. Tapi ...

Apa lagi? Masih bingung mau cerita apa?

Oke, kubantu. Siapa yang mau menulis novel dalam waktu sebulan? Boleh ikut tantangan ini. Siapa yang berani punya komitmen sebulan menulis bersama Lovrinz, akan kubantu dan insyaAllah akan diterbitkan bersama Lovrinz.

Tertarik?
Pernah lihat lebah madu? 


Aku tak ingin membahas apa dan bagaimana hewan yang satu ini. Cuma kesempatan di pagi yang cerah seperti sekarang, aku teringat mimpi semalam. 

Di salah satu sudut rumah, tiba-tiba penuh sarang lebah. Banyak banget. Kata suami, itu namanya lebah madu (lebahnya kecil dan dominan warna kuning) sementara aku ngotot itu tawon. Dalam mimpi pun keinget pernah digigit tawon pas di ubun-ubun sewaktu kecil. 

Ketika bangun tadi, iseng gugling, kira-kira apa sih maknanya. Nah ada yang menarik. Beberapa artikel yang kubaca, cenderung mengatakan bila menemukan sarang lebah madu di dalam rumah, jangan dihancurkan atau dibuang. Pertanda rezeki akan mengalir terus menerus, sedikit demi sedikit. 

Wah, aku agak semringah mengetahui itu. Eh tapi, itukan hanya mimpi. Hahahah. Lalu aku teringat pula kira-kira tiga tahun yang lalu di Cirebon. Suami mengambil sarang lebah di atas dapur. Ada madunya. Enak pake banget. Eh tapi tapi, apa karena mengambil madunya lantas kami jatuh miskin? Walau memang kenyataannya agak seret, hehehe tapi benarkah itu?

Ya, itu konon katanya (beberapa orang pernah mengalami kemerosotan saat dengan sengaja membuang sarang lebah di dalam rumah) di wilayah Bali, bila ada yang tahu, maka diadakan upacara adat, semacam tolak bala mungkin ya. 

Kembali ke mimpiku tentang lebah madu tadi, semoga saja, itu pertanda ada perubahan dalam kemajuan rumah tangga kami, segala usaha lancar jaya tanpa hambatan berarti. Selagi masih tetap berjuang, yang namanya kekayaan pasti mengikuti. 

Namun, rasanya saat ini aku sudah lebih dari cukup kaya. Bisa berbagi pada sesama itu adalah kekayaan yang tak terbatas, ya kan?! 

Tapi andaikata nanti ada sarang lebah madu di dalam rumah, coba ah untuk tidak mengganggunya. Siapa tahu, heheheh

Selasa sore yang menyenangkan … Seorang sahabat mengetuk jendela kamar sambil berbisik.

“Boleh tanya, Mbak?”

Saking pelannya, aku tak mendengar suara sahabatku itu.

“Ndak jadi. Hehe”

“Lah gimana sih? Hehehe Lah sori abis mandi,” jawabku sekian menit kemudian.

“Tanya apa?” Aku menunggu pertanyaan yang sepertinya penting. Jarang-jarang ia serius berbicara padaku.

“Begini, beberapa orang pernah bilang, ‘kalo pengen bisa nulis, ya tuliskan apa saja yg ingin kamu tulis’, itu maksudnya gimana, ya?”

“Kalau menurutku ... Menuliskan apa yang ingin kukisahkan. Tanpa tekanan dari siapa pun atau apapun. Lupakan dulu editing dan sebagainya. Hehehe menulislah dulu. Editing ada masanya.”

“Oh gitu … berarti menulis bebas? Atau gimana?”

“Ya Mas mau nulis apa? Menulislah tapi jangan asal nulis bila ingin dinikmati tulisannya. Bagaimana orang tertarik baca tulisan kita bila nulis asal hehehe.” Tanpa pikir panjang, aku belagak sok tahu.

“Biar bagaimana juga, menulis itu sama dengan bercerita. Bila tidak runut, bagaimana orang bisa menikmatinya dengan nyaman. Ya tooohhhh?!” Lanjutku lagi sambil menikmati sereal coklat hangat.

“Nah, ini yang bikin aku dan mungkin yang lain agak bingung, 'nulis apa saja tapi kok asal jangan asal nulis?' sementara ragam jenis tulisan itu sendiri ada banyak, jadi mummett ... maklum orang awam.” Kubayangkan sahabatku itu garuk-garuk kepala atau ujung hidungnya.

“Hahahaha. Maka menulislah menurut hatimu. Lama-lama akan dapat gayamu sendiri.” Kayaknya ini jawaban yang gak nyambung dariku. Ah biarlah, yang penting jawab (nyengir kuda).

“Gaya batu aja ndak bisa kok ... jelasnya, apa yang harus dilakukan saat nulis, misal novel, pusi, surat, dan seterusnya, masing-masing kan berbeda, Mbak?”

“Yup tentulah beda. Heheh sementara ini, aku juga masih terus belajar kok. Masih terus menggali potensi, menulis yang benar itu bagaimana.”

“Ya kalo asal nulis apa aja ya agak rancu juga …,” ujarnya lemas.

“Pertama yang kulakukan adalah berlatih menulis dengan baik. EYD dan teknis dasar saja dulu. Masalah rasa dan gaya bertutur tentu akan mengikuti. Proses itu tak berhenti. Aku menerapkan prinsip tak pernah puas dalam menulis. Hehehe. Maksudnya gini …” Tarik napas …
“Pertama apa yang ingin kita tulis. Catat di benak atau tuliskan di kertas. Aku ingin menulis tentang .... Lalu bagaimana caranya? Oke, tentukan dulu mau nulis tentang (misal ibu hamil) dalam bentuk apa? Puisi, oke Cerpen, oke Novel, ayo Artikel, boleh. Opini? Yuuk mari ...”


“Caranyaaa?? Dari tadi ditanya caranya kok muter aja sih, Mbak?”

“Oke sudah ditentukan mau nulis apa? Puisi? Ayo ...”

“Tuh kan bener brarti ndak asal nulis. Akakaakak.”

“Lah iya ... Tuliskan inginmu apa, tapi jangan asal nulis.
Kecuali, hanya untuk koleksi pribadi. Kwkkw.”

“Hahaha.... oke, sebenarnya aku paham, cuma pengen tau pendapat Mbak aja ... iseng gitu ... ckckck”

“Hahaha Iseng yeee,” ujarku rada sewot tapi senang juga, setidaknya jadi terangsang lagi ingin menulis.


“Horeeee ... aku dapet tambahan ilmu.” Sahabatku itu kegirangan tapi tetap menggaruk-garuk kepalanya. “Tapi, memang itu perlu diluruskan kok. Karena memang, banyak pernyataan yang kadang ndak jelas arahnya (masih ambigu). Ya satu contoh pernyataan kayak gitu ‘nulis ya nulis aja, nulis apa saja’  ini kan masih butuh penafsiran.”

“Oke kalau gitu, kapan-kapan kita ngobrol lagi tentang ini.”

Aku menutup jendela kamarku lalu kembali buka buku atau catatan tentang dunia menulis. Takut kalau tiba-tiba sahabatku itu datang lagi dengan pertanyaan baru. Jaga-jaga saja, hehehe serem, suka nanya yang tidak-tidak soalnya.
Beberapa hari ini aku disibukkan dengan mondar-mandir Turen-Malang (efek pindahan rumah yang belum kelar). Ada yang 'tertinggal' dari perjalanan itu, biasanya kusempatkan diri menulis blog lewat hape, namun karena agak sedikit berat kepalanya, jadi melewatkan beberapa hari untuk nge-blog.

Alhasil, pengunjung berkurang, karena tidak ada yang baru di dalam Lovrinz. Heheheh agak sedih juga sebenarnya karena ingkar terhadap janji diri sehari minimal satu postingan--selain karena fokus menulis Sang Bulan.

Hari ini, masih di Malang. Pengen banget mengisi blog dengan tulisan bermanfaat seperti yang sudah-sudah. Tapi, otak masih belum nyantol untuk menulis yang agak bagusan dari sebelumnya.

Jadi, hari ini menulis apa?

Tak ada yang spesial selain, hari ini tanggal 23 Juni, adalah hari ulangtahun suami tercinta--dan aku belum juga mengecup pipinya apalagi mencium bibirnya, hehehe--.

Sebagai suami, Yayah lebih dari cukup ikut andil dalam perkembangan blog ini. Tentu saja, sebab ia tidak ingin sia-sia membuatkan blog berbayar kalau hanya dibiarin kosong atau terlihat tak berpenghuni selama beberapa waktu. Suami yang suka menyemangatiku, bila aku terlihat 'malas' menulis di rumah yang bernama LovRinz ini (tentu saja bermakna cinta untuk Rinz).

Kuakui, ngeblog bukan hal baru untukku. Sejak beberapa tahun lalu, sempat memiliki blog gratisan dan sangat amat malas menulis bila tidak patah hati. Hahaha sekarang entah bagaimana nasibnya, password lupa dan memang tak ingin balik ke rumah lama itu. Sangat tidak enak bila membaca tulisan lama yang penuh keluhan dan curhatan patah hati tak jelas.

Ngeblog itu menyenangkan, apalagi sangat mendukung pertumbuhan menulis, bila memang diniatkan untuk menulis dengan baik dan benar. Latihan sepanjang hari agar makin menguasai kosakata dan lihai menggunakan kata-kata menjadi sebuah kalimat yang enak dibaca.

Bisa juga jadikan blog sebagai tempat untuk latihan menulis sebuah novel. Bayangkan bila sehari bisa menulis cerita berkesinambungan, tentu dalam beberapa waktu ke depan, bisa dikumpulin dan jadilah sebuah novel atau kumpulan cerita. Kalau bisa, disiplinlah dalam menggunakan EYD dan teknis menulis lainnya agar, bila memang ingin diterbitkan, tak perlu susah payah mengedit tulisan yang acakadut. Heheheh.

Oke, ini adalah tulisan pertamaku di hari yang cerah ini. Semoga beberapa waktu ke depan, aku bisa menulis lagi yang lebih baik. Ini hanya sekadar pemanasan saja, karena telah cuti sekian hari.

Sudahkah kamu menulis di blogmu?
Sebagai ibu rumah tangga rasanya tangan gatal pengen ini itu. Namun, tak sedikit yang mengeluh, tak punya waktu, sibuk, gak sempet, capek, dan sebagainya dan sebagainya. (termasuk aku hehehehe)

Nah, kali ini aku ingin menulis tentang seorang sahabat yang hobby banget menulis dan melukis. Ribet banget, itu yang ada di benakku waktu pertama kali mengenalnya. Gimana gak riweuh, sudahlah sibuk nulis, masih sempatnya pulak dia melukis. Di kaleng lagi.

Hayo, pasti mikir kan ... Ngapain ngelukis di kaleng???

Eh tapi ternyata, lukis kaleng itu bukan karena kurang kerjaan loh. Justru karena keluwesan jemarinya menggambar yang imut-imut di permukaan kaleng, mbak yang berwajah cantik dan ayu itu punya cadangan buat jalan-jalan. Hehehe pengen banget ... tapi aku gak bisa melukis.


Kaleng lukis ini hasil daur ulang. Cukup bermanfaat. Bisa buat celengan, tempat permen, tempat aksesoris atau tempat bumbu dapur (tepung, garam, gula, dsb) Unik kan ...

Imut kaaan.

manis warnanya.

Banyak pilihannya.



Bisa reseller juga gak yaaa??

Ini dia kesukaanku ... Hehehe



 Selain lukis kaleng yang cantik itu, ibu muda dua anak ini juga membuat kaos imut dengan aplikasi dari flanel. Ternyata, usaha kaos ini malah lebih dulu dimulai ketimbang kaleng lukis tadi (pertengahan  2009) Wuih, sempet banget ya bersibuk ria di sela waktunya mengurus rumah dan juga nulis. Empat jempol untuknya. Buat catatan aja, jadi pengen bisa seperti mbak Farida yang punya kreatifitas lebih.
Pengen juga seperti keluarga mbak Farida, kompak

Hm ... Menambah rasa persatuan antar keluarga.

Pasangan? Why Not?!

Keluarga siapa ini? Kompak banget.

Ini buat team Paduan Suara juga bisa lohh ...

Seragam anak TK buat rekreasi juga oke, biar gak ilang :D

Teteup narsis ternyata mbak Farida ...

Buat sehari-hari juga oke

keren kann...




Bagi yang berminat memiliki koleksinya, silakan hubungi Mbak Farida di alamat fbnya Farida Suryawati atau Fara Flanela. Untuk kaleng lukisnya mulai dari 15ribu rupiah. Untuk kaosnya mulai dari 50ribu rupiah. tidak ada minimum pemesanan, namun lebih baik pesen banyak, biar hemat ongkir.


Yuk buruan hadiahkan kaleng lukis dan kaos istimewa ini untuk orang terkasihmu.




Trick Ngeblog Untuk Pemula ~ Seputar Blogging




Artikel yang menarik buat yang pengen belajar ngeblog.
Pernahkah kalian tahu tentang keunikan suku Masai dalam memanggil hujan?

Suku yang berada di benua Afrika ini adalah suku yang sangat terkenal dengan kemampuan mereka memanggil hujan. Tingkat keberhasilan mereka mendatangkan hujan pun sangat tinggi, bisa mencapai 90 persen bahkan 100 persen keberhasilannya. Satu hari, karena penasaran, seorang warga suku lain menemui kepala suku Masai untuk belajar.

Mereka bertanya, "Kepala suku, kami ingin tahu bagaimana mantra-mantra dan tarian-tarian suku Masai bisa mendatangkan hujan?"

Kepala suku itu menjawab, "Sebenarnya semua orang bisa seperti kami. Kami hanya terus menanri dan menyanyi sampai hujan datang."

Kemudian mereka bertanya lagi, "Bagaimana kalau hujan tidak turun juga?"

"Kami tidak akan berhenti, terus menari dan menyanyi dengan penuh keyakinan bahwa hujan pasti akan turun. Kami akan berhenti kalau hujan turun. Rahasianya adalah, lakukan saja terus," jawab kepala suku.

Lakukan terus, prinsip itulah yang harus kita terapkan dalam menulis. Ketika banyak penolakan dan editor mengembalikan naskah, terima saja. Namun, jangan berhenti sampai di situ. Jangan berputus asa. Ketika naskah dikembalikan, berusahalah untuk memperbaiki dan mengirimnya kembali. Lakukan terus menerus, sampai berhasil.

Namun, bukan sekadar mencoba terus, tapi harus ada perbaikan dan peningkatan kualitas dan pengerjaan ke arah yang lebih baik. Adakalanya kita perlu mengevaluasi tulisan, bila tetap menggunakan gaya menulis seperti semula, kira-kira apa bisa berhasil?

Ketekunan dan mental pantang menyerah seringkali membawa kita pada satu hasil yang memuaskan. Namun, akan lebih memuaskan lagi jika diimbangi dengan sikap yang selalu mau memperbarui diri untuk menjadi lebih baik lagi.
from gugel

dari berbagai sumber :)
Beberapa hari ini sempat merasa down karena mengalami permasalahan yang membuat hati hancur.. Merasa dipermainkan oleh hidup. Beberapa teman bertindak tidak adil sementara hati terasa sedih karena hanya bisa pasrah. Merasa tidak bisa ngapa-ngapain. Tak berguna bahkan untuk diri sendiri.

Pernahkah kau merasakan hal yang sama denganku?

Dulu, bila terjatuh, rasanya tak mau bangkit lagi. Bahkan keluar kata-kata, "Lebih baik aku mati saja, lepas dari segala problema."

Kalau dipikir-pikir, mungkin itulah yang menyebabkan tak sedikit orang yang memilih mengakhiri hidupnya. Seandainya saja mereka bisa lebih mencintai diri sendiri dan menerima apa adanya, tentu hal seperti itu takkan terjadi.

Bertambah hari, aku semakin mengerti, bila hidup haruslah mencintai hidup yang kita jalani. Bila tidak, apa artinya hidup?

Kesedihan boleh saja terjadi, seperti saat aku down ... kecewa hadir pada diri sendiri, kadang merasa bodoh dan sungguh kehidupan ini tidak adil. Namun, tidak ada gunanya terpuruk. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah BANGKIT.

Hal pertama yang harus dilakukan tentu saja, datang pada Allah. Hanya Allah yang sanggup mengubah keputusasaan kita. Serahkanlah segala keluh kesah dalam sujud pada-Nya.

Yang kedua, ubah pandangan terhadap diri kita. Pikirkan hal yang positif tentang diri sendiri. Hal yang negatif hanya akan membuat kita semakin lemah dan pesimis dalam menjalani hidup.

Ketiga, Adakalanya kita membutuhkan seseorang tempat berbagi. Teman, sahabat, keluarga bisa jadi tempat yang nyaman untuk kita mencurahkan kisah. Ada yang beranggapan, bahwa masalah tidak untuk diceritakan, itu benar, namun, alangkah baiknya bila kita mencurahkan rasa pada seseorang yang kita percaya. Sebagai manusia, tentu kita harus lebih percaya pada Allah, namun, tidak menutup kemunkinan Allah menggunakan orang lain untuk membantu kita menghadapi problema. KAdang jalan keluar bisa diambil dari campur tangan orang lain. Tak mungkin kita duduk diam saja di pojok kamar, lalu masalah akan selesai.

Terakhir, hadapi hidup ini dengan penuh cinta. Segala yang terjadi adalah warna-warni kehidupan. Ada suka, duka, tantangan dan hambatan. Nikmatilah itu, hidup ini indah bila kita menikmatinya. Jangan pernah menyerah dan berkata ingin Cukup lalu ingin mengakhirinya. Cintailah dirimu. Maka hidup akan terasa lebih menyenangkan dengan segala yang ada.

from gugel



Sebening Air Mata

"Kau gila, Sya! Ini keterlaluan. Aku takkan pernah menyetujui tindakanmu. Sangat tidak masuk akal!" Dimas membanting pintu. Nisya memegang dadanya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Mengalir di pipi tirusnya.

"Saya harus melakukan ini, Mas. Demi kamu ...." Nisya bergumam lirih. Nisya membenahi jilbab merah mudanya, memoles pewarna bibir senada dan melihat pantulan diri di cermin. Air mata masih menetes. Nisya mengambil napas panjang lalu mengusap pipinya. Saya pasti bisa, batinnya menyemangati diri.

***

Penonton diam seribu bahasa. Yang terdengar di ruangan hanya isak tangis yang tertahan. Pembawa acara pun hanya bisa menatap Nisya iba. Wanita muda yang masih berusia dua puluh tiga tahun itu tampak berusaha tersenyum di hadapan banyak orang.

"Rasanya kami tidak bisa memenuhi permintaan Mbak Nisya. Itu mustahil ...." Pembawa Acara itu membuka keheningan dengan suara bergetar.

"Bagaimana mungkin tak bisa? Bukankah ini acara 'Wujudkan Impianmu'? Saya sangat berharap mimpi ini menjadi nyata." Nisya bersuara kecil namun lantang.

"Tapi, saya rasa semua yang hadir di sini pun tak akan mampu membantu mewujudkan mimpi yang Mbak pinta." Pembawa Acara itu merasa tak enak hati. Terlihat dari raut wajahnya yang tampak iba.
Nisya berdiri dari sofa lalu mendekat ke kamera satu yang sedang menyala. Ia tahu, sedari tadi kamera itu tak pernah lepas menyorotnya.

"Dengan kekuatan hati, saya berdiri di sini. Hanya untuk sebuah keinginan. Harapan besar, agar suami saya bisa mendapat seorang pendamping yang sehat dan menemaninya hingga kakek-nenek."
Nisya menahan suaranya yang mulai goyah. Sebuah tarikan napas panjang mengisi jeda sepersekian detik.

"Saya tahu, tidak ada yang mustahil untuk menggapai sebuah impian. Melalui acara ini, banyak mimpi diwujudkan. Bantulah saya ..., ini permintaan terakhir dalam hidup saya."

Seisi ruangan mulai bereaksi. Seratus orang yang punya kuasa memberi jawaban agar impian peserta di acara yang disiarkan langsung ini mulai memencet tombol merah, satu per satu.

Nisya terisak. "Kumohon, berikanlah hijau untukku. Kumohon!"

Nisya terduduk lemas di lantai. Penonton mulai berdatangan, memeluknya.

"Saya hanya ingin suami merasakan indahnya punya keluarga. Hanya itu ...."

***

"Turuti saja kemauan istri pilihanmu itu, Dimas. Untuk apa kau pertahankan. Sudah tidak ada waktu lagi."

"Pa, jangan bicara seperti itu. Sampai kapan pun, Nisya akan tetap jadi istri Dimas. Walau ...."

"Sadar, Dimas. Nisya itu penyakitan. Napasnya tinggal tunggu waktu. Sejak awal, Papa dan Mama tidak setuju kau menikahi wanita yang tak jelas itu."

"Pa, sudah. Nisya itu wanita yang baik. Dia hanya sedang sakit. Dan akan segera pulih."

Dimas menggepalkan jemarinya. Dia tahu, Nisya tak sekuat itu. Dokter sudah angkat tangan. Kanker otak yang diderita Nisya sudah tidak dapat diatasi lagi. Dan sisa umurnya, membuat Nisya nekat mengikuti acara realita Wujudkan Impianmu. Dengan harapan, akan diberikan seorang wanita bagi Dimas. Namun, harapan itu sia-sia. Penonton tidak bisa mengabulkan, hanya berharap Nisya pulih dan tetap bersama Dimas hingga senja menghampiri.

"Dimas, Papa hanya ingin masa depanmu bahagia. Lepaskan Nisya, ikuti kemauannya. Kali ini Papa sependapat dengan istrimu itu."

Dimas tak menghiraukan perkataan papanya. Dengan hati kesal ia meninggalkan orang tuanya dan menuju ke ruang Flamboyan.

Nisya terbaring lemah. Sejak kepulangannya dari acara itu, Nisya melemah. Dokter menjadwalkan lagi operasi, namun keberhasilannya hanya dua puluh persen. Dimas menyemangatinya. Dimas begitu mencintai Nisya, wanita yang ia temui dari jejaring sosial. Wanita yang begitu memikatnya. Dimas melihat kecantikan yang sejati terpancar dari wajah pucat Nisya, saat mereka pertama kali bertemu, di rumah sakit ini, setahun yang lalu. Pertemuan yang benar-benar tak sekadar kebetulan.

"Aku sedang dirawat karena kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?"

"Seperti biasa, saya masih terbaring di tempat yang sama. Di mana kau dirawat?"

Dan begitulah, pertemuan awal setelah sekian minggu berkenalan di dunia maya. Jodoh memang tak jauh. Dimas menikahi Nisya tanpa persetujuan orang tua. Sedang Nisya, dinikahkan oleh pamannya karena kedua orang tua Nisya telah tiada.

"Nisya, kau sudah siap?"

Wanita muda berkulit putih itu tersenyum tipis. "Saya siap, Mas ..., Tapi, bagaimana jika ...."

"Sst, sudah. Jangan pikirkan apa-apa. Aku akan selalu di sisimu. Apapun yang terjadi setelah operasi, aku siap. Asal, jangan lagi kau punya pikiran untuk mencari penggantimu untukku."

Nisya menatap suaminya haru. Betapa dalam cinta yang diberikan lelaki yang menikahinya itu. Diam-diam kekhawatirannya muncul kembali. Bagaimana bila operasinya gagal, bagaimana jika berhasil tapi ia lumpuh seperti kata dokter, pertanyaan itu berkecamuk dalam hati Nisya.

Dimas seolah membaca kegelisahan hati Nisya. Direngkuh wanita rapuh itu ke dalam pelukannya.

"Sayang, percayalah ..., keadaanmu tak mengubah kasih dan sayangku sebagai suami. Percayalah."
Nisya membalas bisikan lembut suaminya dengan suara syahdu. "Semoga saya bisa hidup lebih lama lagi, bersamamu, menjadi istri dan ibu buat anak-anak kita kelak."

Untuk pertama kali setelah menikah, bulir jatuh dari bening mata lelaki itu.

Terinspirasi dari kisah nyata Ying dan Haibin

credit
Let it go, let it go
Can't hold it back anymore
Let it go, let it go
Turn my back and slam the door
The snow glows white on the mountain tonight,
Not a footprint to be seen.
A kingdom of isolation and it looks like I'm the queen.
The wind is howling like the swirling storm inside.
Couldn't keep it in, heaven knows I tried.
Don't let them in, don't let them see,
be the good girl you always had to be.
Conceal, don't feel, don't let them know.
Well now they know.
Let it go, let it go
Can't hold it back anymore
Let it go, let it go
Turn my back and slam the door
And here I stand and here I'll stay
Let it go, let it go
The cold never bothered me anyway
It's funny how some distance makes everything seem
small
And the fuse that once controlled me, can't get to me
at all.
Up in here in the cold wind air, I finally can breathe.
I know I left a life behind, but I'm too relieved to
grieve.
Let it go, let it go
Can't hold it back anymore
Let it go, let it go
Turn my back and slam the door
And here I stand, and here I'll stay
Let it go, let it go
The cold never bothered me anyway
(Standing, frozen, in the life I've chosen you will find
me
the past is well behind me, buried in the snow)
Let it go, let it go
Can't hold it back anymore
Let it go, let it go
Turn my back and slam the door
And here I stand, and here I'll stay
Let it go, let it go
The cold never bothered me anyway, woah
(na na, na na, na na na na) [x4]
Na, na, you said, let it go, let it go, oooo
Let it go
Hai, jumpa lagi ...

Hari ini aku ingin mengulas sedikit tentang bagaimana sih membuat karakter untuk tokoh dalam cerita. Kebanyakan kuambil dari internet dan kutuliskan kembali. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi pembelajaran kita bersama.





Kenapa harus 'Karakter'?

Cerita menjadi hidup karena ada karakter yang menggerakkannya. Bila kita sudah menyiapkan karakter untuk tokoh yang akan kita pakai dalam cerita, pastilah kisah kita mengikuti karakter itu.

Karakter yang kuat bisa mengendalikan cerita. Jadi, si karakter tidak akan menyesuaikan diri dengan cerita melainkan, ceritalah yang akan menyesuaikan diri dengan karakter.
Itulah yang sering terjadi sehingga inkonsistensi karakter akan terhindari.

Tapi perubahan karakter dari awal cerita sampai akhir itu perlu. Semacam metamorfosis atau transformasi karakter. Maksudnya hanya, hasil pembelajaran si karakter dari kehidupan.


Catatan: Dalam membuat karakter, perlu juga diperhatikan tingkatannya. Maksudku, saat kita membuat karakter tokoh orang yang biasa-biasa saja, tinggal di pedesaan, dengan lingkungan yang seadanya, sangatlah wajar bila pemikirannya juga selevel. Tak mungkin tokoh seperti itu memiliki pemikiran seperti orang sekolahan apalagi sarjana. Kecuali, adal lanjaran lain dalam cerita, misal si tokoh lama bekerja di kota dan memiliki majikan yang cerdas, sehingga menularkan kecerdasannya pada si tokoh. Buang dulu pemikiran kita sebagai penulis. Tokoh kita bukan kita, tapi kita harus menjadi tokoh yang kita ciptakan. Bila memilih menjadi orang desa, ya berpikirlah seperti orang desa pada umumnya.  

Jenis Karakter

1. Flat, karakter ini ada di tokoh-tokoh yang muncul sekilas. Misalkan pelayan restoran, supir taksi, atau apa saja yang hanya sekali lewat. Bisa saja mereka berdialog, dideskripsikan fisiknya, tetapi hal detail lain tentangnya tak perlu diketahui. 

2. Round, karakter yang sepanjang cerita digambarkan utuh dalam tiga dimensi: fisiologi, sosiologi dan psikologi. Karakter seperti ini yang digunakan untuk karakter tokoh utama.

Bagaimana proses menciptakan karakter?
 
1. Buat biografinya mulai dari kecil hingga saat cerita berlangsung. Mulai dari hal sederhana seperti nama, tanggal lahir, tempat lahir, tempat tinggal, hingga hal-hal yang menarik untuk dielaborasi pada novel, seperti kejadian paling menakutkan di masa lalu, ada anggota keluarga yang pergi selamanya, dan lain-lain.
2. Lakukan wawancara imajiner antara penulis dengan si karakter. Lakukan seakan-akan memang ada seseorang yang belum kita kenal duduk di depan kita, dan kita ingin mencari tahu sebanyak mungkin tentang dia. Pastikan dia orang yang menarik bagi kita. Selain data hidupnya, kita juga bisa membayangkan bagaimana cara dia berkomunikasi.

Dalam buku Creative Writing karya A.S. Laksana juga ada penjelasan dan contoh untuk menciptakan karakter lewat wawancara. 

Apa saja yang harus dimiliki oleh karakter?
1. Karater utama harus memiliki “ruling passion/burning passion.” Seperti manusia nyata, mereka digerakkan dengan hasrat akan sesuatu yang membuatnya bertahan hidup. Karakter utama dalam sebuah novel haruslah seseorang dengan keinginan, kebutuhan, atau impian yang memaksanya untuk melakukan sesuatu. Cerita dengan tokoh yang menjalani kehidupan sekadar seperti air mengalir tentu akan menjadi cerita yang membosankan. 
 
2. Pilih keinginan yang menantang bagi karakter, tidak mudah begitu saja dicapai. Adalah tugas penulis untuk meletakkan penghalang bagi karakter dalam mencapai keinginannya tersebut. Bisa dengan menciptakan lingkungan yang tidak cocok dengan passion karakter atau seorang antagonis yang menghalangi niat karakter.
 
3. Karakter harus bertindak/berpikir dalam batas kapasitas kemampuannya dalam menghadapi sesuatu. Kapasitas harus masuk akal, sesuai dengan kriteria dirinya yang tiga dimensional.
Contohnya: jika ada karakter anak SMA dihadapkan dengan masalah dipelonco oleh kakak kelas, jangan buat dia sekadar diam dan tidak mencoba melawan. Tidak mungkin anak pintar bisa dibodohi seperti itu. Dia pasti punya harga diri. 
Contoh lain: karakter yang bertindak sesuai kapasitasnya tidak akan tetap berada di rumah berhantu, berkeliling penuh ketakutan selama dua jam, huft. (Sudah jelas itu tempat seram kenapa dia malah masuk?)
 
4. Karakter harus berusaha mencapai keinginan/kebutuhan/impiannya, dan dalam prosesnya bertindak serta berpikir sesuai dengan kriteria dirinya yang tiga dimensional tersebut. Kalau karakter tidak bergerak demi mencapai keinginannya, tentu ceritanya akan membosankan. 
Contoh: ada karakter cewek malu-malu naksir seorang cowok. Kalau sepanjang cerita dia tidak pernah berusaha agar bisa berinteraksi dengan si cowok, dia tidak perlu dituliskan ceritanya. Sebaiknya, buat karakter yang mau melakukan sesuatu demi burning passion-nya.




Sumber : Opini pribadi, Internet, Goodreads Forum, jasonabdul.blogspot.com.


Tak terasa air mataku menetes. Sungguh apa yang tampak di netra membuat hati berlipat rasa. Seolah tubuh dilingkupi kehangatan yang menggetarkan. Mataku tak berkedip, melihat tayangan yang luar biasa mengharukan.

Sebuah tontonan di televisi saat senja mampu membuatku tak berkutik sedikit pun. Kisah seorang nenek sebatang kara yang mendapat rezeki untuk pergi umrah dari seseorang yang kebetulan mengetahui keinginannya. Betapa beruntungnya ia, terlebih lagi, betapa hebatnya orang yang memberi sukacita padanya, batinku. Kebahagiaan nenek itu terpancar tak terkira, terlihat saat tak hentinya ia mengucap syukur dan berterima kasih telah diberi kesempatan menginjakkan kaki ke Baitullah. Sesuatu yang rasanya tak mungkin ia dapatkan di usia senja yang tinggal menghitung hari.

“Ayah, bisakah Bunda pergi ke sana suatu hari nanti?” tanyaku ke suami yang sedang rebahan.

Ia menoleh. Ada yang jatuh juga dari matanya. Ah, suamiku memang lebih mudah tersentuh hatinya bila menonton tayangan seperti barusan.

“Tentu saja Bunda bisa. Niatkan itu dari dalam hatimu. Terus ucapkan keinginan Bunda dalam doa. InsyaAllah, semua pasti dimudahkan oleh-Nya.”

Aku memeluknya. Ya, suamiku benar. Apapun yang kuinginkan, bila dibicarakan sama suami, ia hanya bisa menyarankan, mintalah pada Allah.

“Sudah, jangan peluk-peluk saja. Mandilah dulu. Sebentar lagi magrib.” Suamiku bangun dan mengambil handuk dari gantungan.

Sembari menunggu suami, aku membuka facebook.

“Ingin pergi ke Tanah Suci.” Tulisku di beranda. Sebuah kalimat singkat namun sangat berarti. Ini serupa doa.

“Bunda, tolong buatin teh hangat, ya!” Seru suami dari dalam kamar mandi. Segera saja aku ke dapur dan menjerang air.

***

“Amin, semoga kelak terwujud, Mbak.”

Satu per satu komentar kubaca. Tentu saja semua mengamini keinginanku. Hati jadi tambah yakin. Bila diamini banyak orang, maka lebih mudah jalanku sampai ke Rumah Allah.

“Bagaimana bila dibuat event menulis, dengan hadiah DP Umrah, Mbak?”

Aku mengeryitkan kening, DP Umrah? Sebuah komentar dari seorang teman yang sudah kuanggap bunda sendiri, Bunda Asih. Tentu saja hatiku riang di tengah kebingungan.

“Subhanallah, Bunda … Serius?”

“Tentu saja Bunda serius, Diajeng. DP Umrah senilai tiga ratus lima puluh dolar. Untuk satu pemenang.”

Ya Allah, sungguh luar biasa jalan-Mu. Hati tak henti mengucap Alhamdulillah. Apalagi respon yang luar biasa datang dari komentar teman-teman. Mereka sangat antusias dengan ide Bunda Asih. Tentulah ini memacu semangatku. Terbayang bila aku bisa memenangkan event menulis itu …

“Eh, sebentar, yang ngadain Bunda?”

“Ya, Bunda sediain satu voucher. Diajeng bisa membuat konsepnya. Bunda ikut saja.”

Aku mengangguk paham membaca komentarnya. Ini lebih luar biasa. Event besar pertama yang dipercayakan padaku. Tunggu dulu, kalau yang bikin acaranya aku, lantas apa yang kudapatkan? Hati kecilku mulai kasak-kusuk. Yang ingin ke Tanah Suci siapa? … Ah, itu tak penting … Coba lihat tanggapan teman-teman, itu lebih membahagiakan sekarang. Lakukan!

“Baiklah, Bunda … segera kubuat konsepnya ya. Boleh ngajak satu orang untuk juri, kan?”

“Tentu saja, Diajeng nyaman bersama siapa? Bunda mendukung.”

Tanpa menunggu lama, aku segera menyusun info sayembara cerpen yang berhadiah DP Umrah itu. Temanya mudah saja, Ingin Pergi Umrah. Rasanya tak percaya, dalam waktu sekian menit, Allah membukakan pintu untuk masuk ke sana. Dengan hati penuh kegembiraan, kukabarkan ini pada suami.

“Memudahkan jalan orang maka Allah akan memudahkan langkahmu  …” ujar suami  dengan suara lembutnya.

Kalimat itu semakin menguatkanku bahwa tidak ada yang sia-sia, apapun yang kulakukan saat ini, pasti akan ada hasilnya.

“Bila bukan saat ini, kelak pasti giliran Bunda. Sekarang jadilah jembatan teman-temanmu untuk ke sana. Selain itu, Bunda bisa lebih banyak belajar dari cerpen-cerpen yang nantinya terkirim. Semua akan lewat Bunda, kan?” tanya suami. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Dengan menyebut nama Allah, aku posting info sayembara itu di grup Menulis. Tak perlu menunggu waktu lama, event ini menggugah ribuan member yang tergabung di grup Menulis. Sungguh mereka menyambut sayembara berkualitas yang rasanya memang baru pertama diadakan. Apalagi sayembara ini gratis dan rencananya akan dibukukan. Rasanya aku ingin memeluk Bunda Asih nun jauh di sana, sebab begitu mulia hatinya membangkitkan semangat menulis teman-teman dengan berlomba menulis kisah terbaik di perlombaan ini.

“Diajeng, bila perlu, Bunda tambahin satu voucher dengan nilai sama untuk juri yang mempunyai cerita terbaik, ya …”

Deg! Jantung ini rasanya mau copot saking kaget membaca komentar Bunda Asih.

“Serius, Bunda?” Ketar-ketir juga, mengingat juri satunya lebih berbobot jika menulis cerita. Ciut pula membayangkannya.

“Iya. Bikinlah cerita yang keren, agar terpilih. Nanti biar Pak Isa yang memilih.”

Wah … belum apa-apa aku sudah merasa kalah duluan. Mas Dekik, juri satunya lagi itu, bagaimana cara mengalahkannya? Putar otak, batinku berkecamuk.

Suami yang melihat ekspresi raut wajahku berubah-ubah ikut bingung.

“Kenapa, Bunda?”

“Ini, Bunda Asih bukan hanya kasih hadiah untuk pemenang, tapi juga buat juri. Hebat, ya Ayah. Tapi …”

“Tapi apalagi?”

“Hehehe … Mas Dekik itu keren, tak bisalah Bunda menang.”

“Sudah, jangan pikirin hadiahnya. Yang perlu Bunda lakukan sekarang, serius! Memegang event itu butuh tanggung jawab. Jangan hanya ngobrol gak jelas di chat. Seperlunya saja. Masih banyak yang penting … misalnya melanjutkan tulisan-tulisan Bunda yang terbengkalai, sambil menunggu teman-teman mengirimkan cerpen umrahnya. Kan lumayan tuh, tulisan Bunda kelar. Siapa tahu bisa menghasilkan juga, buat tabungan. Kali-kali bisa berangkat umrah.”

Aku menghela napas. Lagi-lagi kali ini suamiku benar. Subhanallah, sungguh beruntung aku memiliki seorang pendamping yang selalu mendukung.

“Iya, Yah. Tenang saja … Bunda masih tetap menulis kok. Demi masa depan.”

“Demi, demi … mana? Kayaknya masih segitu-gitu aja.”

Aku tertawa. Memang beberapa hari ini aku meninggalkan tulisan yang seharusnya sudah kelar. Ada satu event menulis  dengan peserta hampir seratus orang yang menyita sebagian waktuku.

“Sabar, Yah. Pasti selesai, bantu Bunda dengan doa, ya.”

“Ya, didoain sih, tapi kalau Bunda gak ngerjain sama aja bohong!”

Ting!

Suara notifikasi laptop menandakan ada pesan masuk.

“Rin, jurinya hanya kita berdua? Bila benar ada voucher untuk juri, biar untukmu saja!”

Aku tersenyum membaca pesan dari Mas Dekik. Tidak, bukan hanya tersenyum … hatiku deg-degan.

“Kalau memang jalan-Nya, pasti dimudahkan. Tenang saja …”

Aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Yang jelas kali ini aku harus bisa menjadi penyelenggara event dengan baik. Membahagiakan orang itu lebih penting. Terbayang kelak saat satu nama berhasil mendapatkan DP Umrah, bahagia rasanya.

***

“Tujuh puluh naskah …” kataku pada suami saat ia bertanya kabar event umrah yang sudah jatuh tempo beberapa hari lalu.

“Wah banyak juga, ya? Sudah dapat pemenangnya?”

“Belum, masih disaring. Sudah ada beberapa yang gugur.”

“Kenapa? Kok bisa gugur?

“Ya karena kebanyakan salah tema. Ide yang tidak nyambung dan cerita umrahnya rata-rata hanya sekadar tempelan.”

“Oh … Terus kalau banyak yang gugur daripada yang disaring bagaimana? Butuh berapa cerita memangnya?”

“Entahlah, mungkin akan nambah cerita lagi. Ini masih proses, jadi belum tahu ada berapa karya yang . layak. Rencananya sih diambil dua puluh tulisan terbaik. Semoga saja cukup. Ayah mau ikutan bikin cerpen?”

“Ah, bisa-bisa menang nanti, kan jadi gak enak,” ujar suami sambil tertawa.

“Ya enggak menang lah. Kan sudah berakhir masa mengirim cerpennya. Cuma buat penggembira saja.” Jawabanku ditanggapi dengan senyum genit.

“Sudah lanjut baca sana. Nanti gak selesai-selesai lagi.”

Aku meneruskan membaca beberapa cerpen yang masuk. Melihat tulisan teman-teman, hati ini semakin menggebu pergi ke Baitullah. Aku ingin semakin mengenal Islam, agama yang belum ada empat tahun ini kupeluk. Apalagi hasratku ingin berkunjung ke sana untuk melihat kakbah secara langsung.

Aku teringat dulu saat kecil di rumah kakek dari ibu. Ada gambar kakbah yang dikelilingi orang banyak. Masih lekat di memoriku pertanyaan ringan yang terlontar dari bibir mungil ini.

“Uwo, itu apa?”

“Oh … itu Rumah Allah di Mekah sana. Tempatnya umat muslim berkiblat dan tawaf sewaktu berhaji dan umrah.”

“Apa itu kiblat dan tawaf?”

“Ah, mau apa kamu tanya-tanya! Mau ke sana kamu? Lihat tuh Papamu sudah mendelik …”

“Uwo sudah pergi ke sana?”

“Sudah … Sayangnya kamu tak bisa ikut, ya …”

Aku tersenyum mengingat kenangan itu. Ya, tentu saja kakekku tidak mau menjelaskan panjang lebar. Sejak ibu menikah dan meninggalkan orang tua, mengunjungi kakek hanya setahun sekali. Kakek tak ingin kunjungan ini diisi dengan keributan kecil. Baginya, cukup sudah kemarahannya meledak saat anak gadisnya memutuskan menikah dengan pria yang beda keyakinan. Ah, seandaikan saja kakek bisa hidup lebih lama, mungkin ia akan mengajarkanku banyak hal tentang islam.

Aku benar-benar ingin pergi umrah. Bukan cuma sekadar membuktikan pada kakek bahwa  bisa pergi ke sana karena sekarang aku seorang mualaf, tapi ingin sekali melihat batu Hajar Aswad dan menciumnya. Bukankah itu sunah Nabi Muhammad SAW? Ah, rasanya aku mulai menangis lagi. Bisakah sebelum ajalku tiba menginjakkan kaki di tanah suci itu?

“Ayah … seandainya Bunda pergi umrah, berarti tidak boleh pergi sendiri, ya?”

“Iya … harus dengan mahramnya.”

“Mahram itu apa, Yah?” Aku asing dengan kata itu.

“Mahram itu … kalau tidak salah, orang yang haram dinikahi.”

Aku makin bingung dengan penjelasan suami.

“Lah … terus, Bunda sama siapa berangkatnya?”

“Ya sama suami. Gitu aja kok repot. Mahram wanita adalah suaminya dan semua orang yang tidak boleh dinikahi selamanya.”

Senyum manis mengembang sempurna di bibirku. Menyenangkan bila bisa beribadah umrah bersama suami tercinta. Hanya saja …

“Kenapa berubah manyun gitu?”

“Hehehe … enggak apa-apa, Yah. Cuma bingung juga, mesti ekstra nabung ya … biar bisa berangkat bareng.”

“Udah coba, lupa ya kapan hari tuh diingatin … jangan terlalu dipikirkan. Usaha jalan terus dan jangan dipaksakan. Semua ada jalannya. Ucapkan terus dalam doa. Allah pasti mendengar. Percaya saja.”

“Baiklah, Yah. InsyaAllah ada jalan.”

“Nah, gitu. Senyum. Jangan cemberut aja.”

Mataku kembali ke layar laptop. Masih ada beberapa tulisan lagi yang harus kubaca. Sepertinya memang banyak yang gugur. Ya memang niatnya mencari cerpen yang terbaik. Semoga saja aku menemukan satu-dua yang bagus.

Dan tak terasa, sebentar lagi tentu akan ada pemenangnya. Siapa pun yang berangkat umrah nanti, akan kutitipi doa, agar kelak aku juga bisa melangkahkan kaki di sana.
credit

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI