Google+ Followers

Sabtu, 17 Mei 2014

Sayur Asem

from gugel
“Sayur asemnya dikasih cabai rawit ya, Nda …” Reno mengambil beberapa butir cabai dan mengirisnya tipis-tipis. Dinda hanya tersenyum. Ia tahu kebiasaan suaminya—menambah cabai.

Setiap akhir pekan, ia selalu menyibukkan diri di dapur bersama istrinya. Sebelum jam enam pagi, mereka berdua sudah kembali dari pasar. Dan seperti yang sudah-sudah, sayur asem selalu menjadi menu yang tak pernah tergantikan.

Sejak kecil ia suka makanan yang satu itu. Saat ibunya menghidangkan sayur favorit sepanjang masa itu, ia tak pernah lupa memberikan kecupan manis sebagi ucapan terima kasih. Dan ia bertekad untuk mencari wanita sehebat ibunya. Dalam semangkuk sayur asem ia tahu bagaimana perasaan seorang wanita kepadanya.

***

Tak ada senyum di meja makan. Tatap mata pun rasa hampa. Reno tahu ada yang tidak beres di antara mereka berdua. Piring dan sendok seolah berbisik-bisik. Bunyinya mencoba mengambil alih perhatian Dinda yang tertunduk menatap lantai.

“Apa yang kau pikirkan, Dinda?”

“Eh, tidak ada …”

“Jangan kau dustai aku. Katakan!” Reno berhenti mengaduk-aduk nasi di piring. Disandarkannya punggung ke kursi.

“Tidak ada apa-apa, Mas. Makanlah.”

“Kenapa, Dinda? Apa yang mengganggumu? Tiga pekan rasanya kau seperti ini.”

“Tiga pekan?”

“Ya, rasa sayur asemmu sungguh berbeda. Perasaanmu tak enak?”

Reno memerhatikan Dinda yang semakin menundukkan kepalanya. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sayur asem tak pernah mendustainya. Rasanya nyaris serupa beberapa saat sebelum ibunya memutuskan pergi ke negeri orang … dan tak kembali.

Bulir bening jatuh dari mata Dinda. Reno terkesiap. Ia bangkit dari kursi dan menuju Dinda.

“Kau tak pernah menangis selama ini … Apa yang membuatmu bersedih?”

“Aku …” Dinda pasrah di pelukan Reno. Air matanya membasahi kaos biru Reno.

“Menangislah agar lega, tapi katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Jangan membuatku bingung.”

Reno memeluk erat Dinda. Wanita yang begitu amat dicintainya. Hatinya bertanya-tanya, kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga membuat istrinya menangis. 

“Mas … maukah kau memaafkanku bila kukatakan yang sebenarnya?” Dinda melepaskan diri dari Reno. Menghapus air mata di pipinya dan dengan bibir bergetar ia mengiba.

Reno memandang Dinda dengan penuh tanda tanya. Kesalahan apa yang sudah ia lakukan? Batinnya.

“Selalu ada maaf untukmu … walau … Ya, kau tahu, aku paling tidak suka ada yang membohongiku.”

Dinda mulai menangis lagi.

“Mas tidak mau memaafkanku?”

“Kau belum katakana apa-apa, bagaimana bisa keluar maaf dari bibirku?”

“Aku …”

“Apa …”

“Aku menyukai …”

“Kau menyukai apa? Ada pria lain di hatimu?”

Air mata Dinda jatuh kembali.

Reno memukul meja dengan tangannya lalu meraih piring dan membantingnya.

“Mas, jangan lakukan itu …”

“Bagaimana bisa, Dinda … Apa kurangku padamu?”

“Ya Tuhan … aku menyukai kalau setiap akhir pekan tidak ada lagi sayur asem! Apalagi ditambah cabai rawit. Aku tidak suka sayur asem!”

Tangis Dinda pun pecah.

“Loh!?!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI