Google+ Followers

Rabu, 07 Mei 2014

Kupu-Kupu Biru, Terbanglah!

Akhir November 2009, rasanya ketamatan hidupku. Bagaimana tidak, di satu hari yang cerah, akhir pekan, aku mendapat sebuah kabar yang menggelegar. Bukan kabar yang baik untukku, walau berita itu adalah bentuk sukacita. Pernikahan! Siapa pun pasti bersuka bila mendengar kata itu. Kecuali aku!

“Mas akan pemberkatan nikah nanti jam satu siang, Dek …” Suara Mamas terdengar pelan dan hati-hati dari telepon.

“Jadi pemain musik?” Aku bertanya tanpa pikiran aneh, sebab memang tugasnya di gereja bila ada yang melangsungkan pemberkatan nikah, ia mengiringi dengan bandnya.

“Bukan. Mas yang berjalan di altar. Mas menikah hari ini?”
Jantungku berdegup kencang. Ini tak mungkin … Bukankah?
“Jangan bercanda!” Bibirku bergetar. Tanpa sadar aku sudah terduduk di depan teras kantor.

“Tidak. Ini benar. Maafkan Mas tidak memberitahumu sebelumnya, ini sungguh …”
Kupencet tombol end untuk mengakhiri panggilan. Sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa kekasihku menikah dengan wanita lain? Ya, oke, sebenarnya aku tahu ia dijodohkan. Tapi mengapa? Bukankah ia sudah berjanji akan berjuang demi cinta kami?

Sejak Sabtu pedih itu, aku mengurung diri. Hari-hari kuhabiskan dengan menggerutu di media sosial. Keluhan demi keluhan dan amarah aku luapkan lewat status dan catatan-catatan kelam. Sungguh hatiku masih tidak bisa menerima kenyataan, orang yang kusayangi telah melukai begitu dalam.
Satu yang kuingat, dia menjanjikan  seekor kupu-kupu biru untukku. Sesungguhnya aku masih berharap ia kembali dan membawa kupu-kupu biru.

Kekecewaanku berakibat fatal. Aku menutup hati rapat-rapat. Dan hampir selalu berpikiran buruk bila ada seorang laki-laki yang berusaha mendekat. Rasanya kebencian di hatiku sudah sangat mengakar. Aku benci laki-laki. Teramat benci.

Satu hari saat aku sedang mengisi laporan, ada seekor kupu-kupu masuk ke ruanganku. Berwarna kebiruan dengan totol hitam di kedua sayapnya. Tentu saja aku kegirangan. Dengan sigap aku menangkap dan memasukannya ke dalam botol kaca.

Kupu-kupu biru itu meronta. Mengepakkan sayapnya, ingin keluar. Aku melihatnya dengan perasaan yang entah. Ada senang tapi juga perih. Aku teringat perasaan yang selama ini membelenggu. Tiba-tiba kupu-kupu itu berhenti mengepakkan sayap. Ia kelelahan. Aku membuka tutup botol. Mengeluarkan dan menaruhnya di selembar kertas.

Kupu-kupu mungil itu mencoba terbang. Namun ia benar kepayahan.

Seiring detik yang terus berdetak, aku menyadari satu hal. Bila perasaan benciku tetap kusimpan dalam hati, lama-lama kesakitan akan terus kuderita, lalu kepayahan dan mungkin saja aku mati. Tidak, aku tak mau itu terjadi.

Kuambil kupu-kupu itu dengan hati-hati dan kubawa ke luar ruangan. Sambil berdoa, aku meminta ia untuk terbang. Seakan mendengar pintaku, ia mengepakkan sayapnya berkali-kali, dan terbanglah ia.

Hatiku lega. Ada yang hilang dari dalam kalbu. Namun, perasaanku menjadi lebih baik. Aku ingat itu terjadi di bulan Maret 2010. Sesaat setelah hari ulang tahunku. Dengan hati yang lapang, kuberanikan diri mengirim pesan singkat untuk lelaki yang pernah melukaiku.
“Maafkan Dedek. Semoga Mas berbahagia dengan pernikahannya. Dedek tak bisa memberikan kado apa-apa selain doa yang tulus.”

Ya, akhirnya aku memutuskan untuk memaafkan semua yang terjadi. Membuka hatiku lagi, untuk cinta yang baru.
***

April 2010
Seorang pria yang istimewa hadir di hidupku. Dan sungguh ajaib, ia kerap memberiku kupu-kupu biru, walau hanya berupa gambar.

Yang lebih special lagi, pria ini mengantarku ke jalan Allah. Karenanya aku mengenal Allah dan Rasul-Nya. Aku memilih Islam.

Mei 2014
Empat tahun bersamanya, hidupku lebih tenang. Darinya aku belajar banyak keikhlasan hati.


Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS



2 komentar:

  1. ahhh.... aku terharu baca cerita ini.. beneran... makasih sudah ikut give awayku

    BalasHapus
  2. ahhh.... aku terharu baca cerita ini.. beneran... makasih sudah ikut give awayku

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI