Google+ Followers

Sabtu, 31 Mei 2014

Dosaku, Ampunilah


Sungguh ingin kumemutar waktu atau hentikan saja detik yang berdetak itu. Suaranya membuat hatiku luka. Apa daya, walau jam dinding kuhancurkan, waktu tetap berjalan. Melumatku dalam penyesalan yang tak pernah bisa terobati.

Seharusnya aku bisa memperbaikinya. Gelak tawa yang dulu tercipta setiap bangun pagi, juga peluk hangat ketika merebahkan diri di pembaringan. Ah, mengapa baru kusadari setelah ribuan hari terlewatkan? Sungguhlah gemerlap lampu kota telah membutakan mata dan juga hatiku.

“Pergilah, asal tiap akhir minggu kau kirimkan uang padaku! Aku tak ingin hidup serba cukup. Mau makan cukup, mau beli baju, cukup, mau apa-apa cukup … Aku mau lebih!”
Sebuah kebodohan karena kata-kata itu terlontar untuknya. Lelaki yang telah menikahiku di pertengahan 2007. Setan apa yang merasuki pikiranku saat itu. Sungguh aku malu bibirku berucap. Yang kuinginkan saat itu hanya kekayaan dan tentu saja kebebasan.

Aku tak peduli ia memilih banting tulang di kota orang. Apapun yang ia kerjakan, asal menghasilkan, aku senang. Bukankah ia juga gembira karena jauh dariku? Istri yang selalu menuntut, minta ini minta itu. Katanya, bila jauh, lebih tenang bekerja, walau harus mengurus diri tanpa pendamping.

Untung selalu dapat kuraih. Tiap pekan selalu ada uang melimpah. Aku bisa beli ini itu. Puaskah aku? Tidak … aku ingin lebih. Kebahagiaan akan lebih banyak menghampiri bila aku bisa mendapatkannya dengan caraku sendiri.

Isak tangis sang bayi tak kuanggap. Lebih mudah menitipkannya pada Ibu. Bukankah Ibu juga perlu uang? Gampanglah selembar-dua lembar kuberikan padanya. Dengan begitu langkah kakiku ringan ke mana saja aku mau. Tak ada suami dan anak, apalah bebanku …

Berjauhan dengan pelukan membuatku ingin direngkuh. Dan mantan kekasih adalah pengobat rinduku. Semua terjadi begitu saja. Sangat menyenangkan. Apalagi yang kurang bagiku?

Masa diam-diam menguliti hatiku. Semakin berusaha terbang tinggi, semakin jatuh aku ke dalam lembah kelam. Lambat laun tak ada yang bisa kubanggakan. Diriku rapuh, terpuruk. Dari kejauhan kulihat ayah dari anakku terbang bersama seorang peri. Bagaimana bisa ia melupakan aku? Dan hei … kemana pria yang selama ini menemani dalam kegelimpahan?

Tunggu dulu! Mengapa semua meninggalkanku? Hei!!! Apakah ada yang mendengar teriakanku?

Waktu! Ya, bisakah waktu membawaku kembali?
 

Percuma, sia-sia sudah. Sesal tak bisa berpulang. Aku tahu ini tak ada gunanya lagi. Mengapa dulu kulepaskan lelaki yang mencintaiku, yang memenuhi segala inginku? Mengapa?

Tak ada yang bisa kupinta lagi, selain … ampunilah aku. Angkatlah aku dari sini. Kumohon siapa pun … bawalah aku. Jangan biarkan masa menelanku dalam kesia-siaan. Berilah aku satu kesempatan. Berilah satu saja. Untukku …

Ampunilah aku!

from gugel
Note: Curahan hati seorang wanita, ditulis atas izinnya. Nama tidak disamarkan, karena memang tidak pakai nama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI