Google+ Followers

Minggu, 11 Mei 2014

Ditulung Malah Mentung

Kisah ini kutulis bukan untuk mencari sensasi atau menyombongkan diri atau apalah kalian menyebutnya. Hanya berbagi sesuatu untuk bisa menjadi pelajaran. Apalagi bagi yang telah berkeluarga dan menjadi seorang imam bagi istri dan anak-anaknya. Juga seorang wanita yang menjadi istri dan ibu. Semoga bisa mengambil hikmah.

“Mbak, aku minta berasnya ya, anak-anak belum makan.”

Hampir setiap pagi, kedatangan tamu yang membuat perasaanku tak keruan.

Pagi ini, selagi aku sibuk memasak sayur bening dan dadar jagung untuk sarapan, suara si mbak terdengar dari ruang tamu. Sambil menggendong putra bungsunya, ia menuju ke dapur.

“Hmm... wanginya. Masak apa, Mbak?” Tangannya mencomot dadar jagung yang baru saja kuangkat.

“Biasa, Mbak. Menu andalan. Yang penting anak-anak kenyang,” ujarku sembari menyalakan keran air di tempat cuci baju. Sambil memasak, aku tak menyia-nyiakan waktu dengan mencuci.

“Mbak, sampeyan masih punya beras? Aku minta ya.”

Aku menghembuskan napas. Jujur saja, ada kesal dan juga sedih.

“Tak ganti dengan kerjaan, besok.”

Ya, kalimat itu seolah lagu yang berputar ulang setiap saat. Dan lebih sering, esok ia tak kembali dengan janjinya, atau datang dua hari lagi dan meminta beras atau bahan makanan lainnya.

Tanpa menjawab, aku ambilkan sekantong beras yang sekiranya cukup untuk si mbak sekeluarga. Kira-kira, kalau aku masak satu cangkir, baginya bisa dua setengah cangkir. Ya, anggota keluarganya banyak.

“Sekalian, Mbak, aku minta sayur beningnya buat sarapan anak-anak.” Tanpa basa-basi, ia mengambil mangkok kecil dan menyidukkan beberapa sendok sayur. “Dadar jagungnya juga ya, Mbak...”

Aku hanya tersenyum. Ya tak bisa bilang tidak.

~00~

Selepas kepergian si mbak, sembari ngucek cucian, aku berpikir. Kemana suaminya? Tak adakah perasaan hati, anak dan istri makan apa? Betapa jahatnya seorang ayah yang tega melakukan itu. Hanya bisa membuat anak dan menelantarkannya. Sungguh gregetan.

Hampir setahun aku di rumah ini, dan selama itulah hampir tiap hari juga kedatangan si mbak. Awalnya niat menolong. Tapi makin ke sini, benarkah cara yang kulakukan? Serba salah. Memang beberapa tetangga sudah mengingatkan, tapi namanya hati tak tega, ya apa yang bisa kulakukan.

Hanya saja dalam kondisi seperti saat ini, aku tentu salah. Ini sama saja membebani suamiku. Tanpa sadar, aku telah membuat suami menanggung kebutuhan rumah tangga orang lain yang bahkan bisa dibilang lebih besar dari kebutuhan kami.

Seseorang pernah berkata padaku, “Menolong boleh tapi mendidik. Apa yang kamu lakukan tidak membuat dia dan keluarganya jadi lebih baik. Bayangkan, dia jadi terbiasa mengandalkanmu. Tanpa buang keringat, dia bisa dengan mudah mendapat apa yang dibutuhkan. Sedang kamu? Coba pikir, apa suamimu tidak bertanya, kok beras cepat habis? Kok uang belanja boros?”

Ya Allah, suami bukannya tidak tahu, aku sering cerita. Bahkan bila ada suami di rumah pun, si mbak tanpa sungkan meminta. Benar-benar dilema kalau berkata tidak. Hanya mampu berdoa agar keluargaku diberi kelancaran rezeki agar bisa terus berbagi. Namun aku masih belum bisa melakukan sesuatu untuk membantu si mbak agar lebih baik.


Jika kalian menjadi aku, apa yang akan kalian lakukan?

from gugel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI