Google+ Followers

Minggu, 11 Mei 2014

Deschia

Deschia

#1
Bunda mencintaimu bahkan sejak kau belum tercipta. Tidak pernah satu hela nafaspun Bunda terlupa mengucap dalam lantunan doa-doa panjang akan kebahagiaanmu. Deschia, nama yang diberikan Wandi, ayahmu, delapanbelas tahun yang lalu, dua tahun sebelum kau terlahir nyata di dunia. Nama yang sengaja disiapkan dalam daftar panjang bakal nama benih-benih cinta yang terbentuk dalam rahim wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Nama yang secara ikhlas diberikan pada Bunda untuk menjadi identitas kedua Bunda dalam sebuah komunitas saat masih muda belia.

Deschia oh Deschia. Tak terhitung berapa simpul senyum bahagia sejak Bunda menggendongmu dalam buaianku. Meski kerap isak tangismu membuat geram karena kebingungan tak mengerti maumu, Bunda tetap memelukmu mesra dengan penuh kasih sayang. Bunda bahagia sejak memilikimu…utuh bersama Wandi, ayahmu, yang teramat sangat Bunda cintai.

Betapa amat menggembirakan manakala kauucap “Nda..” untuk yang pertama kali. Bunda bangga menjadi bundamu, nak…Sungguh menggetarkan hati dan jiwa. Teduh rasanya tuturmu saat memanggilku bunda. Segala penat letih resah gelisah buyar seketika.

#2
“Bunda jahat,” ujarmu satu petang lalu beranjak pergi dengan membawa sebuah tas di punggungmu. Runtuh dunia Bunda, nak. Berat tertimpa kalimat amarahmu.
Jangan dulu menjauh. Tak sedikitpun Bunda mengerti merah membara tatapanmu pada Bunda. Tak pernah satukalipun Bunda merasakan sesak dan pedih seperti ini, Nak. Patah senyum Bunda di usiamu yang menginjak ke tujuhbelas beberapa bulan lagi.

#3
“Chia tahu semua…Bunda membunuh mama. Mama yang mengandung dan yang melahirkan Chia. Bunda jahat!”
“Nak, Bunda tidak mem…”
“Jangan panggil Chia dengan nak, Bunda tak pantas memanggil Chia dengan sebutan itu. Bunda sudah membuat mama menderita bahkan dalam kubur pun..”
“Chia, kamu gak boleh bicara seperti itu sama Bundamu…”
“Ayah diam. Ayah juga jahat. Kenapa selama ini tidak ada yang bercerita soal Mama?”
“Chia sayang… mengertilah. Bunda sangat mencintaimu, sangat… lebih dari apa yang kamu kira, Chia… apa itu kurang?”
“Kembalikan Mama padaku!!!”
“Bundalah ibumu, Nak…”

#4
Belasan tahun yang lalu…
“Mas, aku ikhlas jika mas menikah dengan Nanda. Dia lebih membutuhkan mas. Aku tak berhak mengambilmu dari sisinya…”
“Tapi Hany, aku tak bisa meninggalkanmu dengan kekecewaan yang amat mendalam seperti ini. Aku memilihmu untuk menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku
tak bisa, Hany…”
“Mas, pikirkanlah keluargamu. Lagipula Nanda adalah wanita yang mencintaimu lebih dulu dari aku. Tak adil buatnya. Aku mencintaimu, tapi aku tak mau memilikimu jika ada yang menderita karenanya. Dia lebih membutuhkanmu. Pergilah. Aku baik-baik saja.”

#5
Sesaat setelah kelahiranmu, Deschia, Ayahmu datang padaku, sambil menggendongmu, bayi mungil yang cantik. Dengan penuh kasih aku menyambut kalian berdua. Di sini, di rumahku, di hatiku, di hidupku, di jiwaku dengan segala cinta yang masih tersimpan rapi.

Nanda, wanita yang melahirkanmu, pergi meninggalkan dunia ke tempat yang lebih indah di surga sana. Sakit yang dideritanya jauh sebelum dia menikah dengan Ayahmu, begitu menyiksanya. Sakit yang memang jika diselusuri adalah sakit perasaan yang membunuhnya pelan-pelan. Selain sakit liver yang kronis, ia pun menyimpan dendam yang teramat sangat padaku, perempuan yang
dicintai ayahmu. Manalah bisa aku membiarkanmu dirawat oleh ayahmu seorang diri.

Hanya “iya” yang bisa keluar dari bibirku, ketika ayahmu memintaku kembali padanya dan menerimamu sebagai anakku. Saat itulah aku menjadi Bundamu. Bunda yang amat menyayangimu lebih dari apapun.

#6
Angin sepoi menyapu sejuk kediamanku. Hari ini tepat usiamu tujuhbelas tahun. Belum juga kakimu melangkah pulang, Nak. Bunda selalu menunggumu di muka rumah. Apakah kamu masih belum memaafkan Bunda, nak?... Tidak cukupkah sebilah pisau dari tangan halusmu mengoyak-ngoyakkan hati Bunda?. Darah yang penuh cinta inipun masih kurang berceceran di pelataran teras
kita?... Ah Sudahlah… Bunda akan tetap menantimu di sini.

Selamanya, nak… karena kamulah anak Bunda. Anak dari seorang lelaki yang Bunda cintai… dan Bunda menyesal mengapa kebencian dari mamamu menurun padamu. Percayalah Deschia…Bunda mengasihimu, sejak kamu belum tercipta, menjadi dewasa, bahkan sampai nafas Bunda terhenti, Bunda tetap mengasihimu.

from gugel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI