Google+ Followers


Sungguh ingin kumemutar waktu atau hentikan saja detik yang berdetak itu. Suaranya membuat hatiku luka. Apa daya, walau jam dinding kuhancurkan, waktu tetap berjalan. Melumatku dalam penyesalan yang tak pernah bisa terobati.

Seharusnya aku bisa memperbaikinya. Gelak tawa yang dulu tercipta setiap bangun pagi, juga peluk hangat ketika merebahkan diri di pembaringan. Ah, mengapa baru kusadari setelah ribuan hari terlewatkan? Sungguhlah gemerlap lampu kota telah membutakan mata dan juga hatiku.

“Pergilah, asal tiap akhir minggu kau kirimkan uang padaku! Aku tak ingin hidup serba cukup. Mau makan cukup, mau beli baju, cukup, mau apa-apa cukup … Aku mau lebih!”
Sebuah kebodohan karena kata-kata itu terlontar untuknya. Lelaki yang telah menikahiku di pertengahan 2007. Setan apa yang merasuki pikiranku saat itu. Sungguh aku malu bibirku berucap. Yang kuinginkan saat itu hanya kekayaan dan tentu saja kebebasan.

Aku tak peduli ia memilih banting tulang di kota orang. Apapun yang ia kerjakan, asal menghasilkan, aku senang. Bukankah ia juga gembira karena jauh dariku? Istri yang selalu menuntut, minta ini minta itu. Katanya, bila jauh, lebih tenang bekerja, walau harus mengurus diri tanpa pendamping.

Untung selalu dapat kuraih. Tiap pekan selalu ada uang melimpah. Aku bisa beli ini itu. Puaskah aku? Tidak … aku ingin lebih. Kebahagiaan akan lebih banyak menghampiri bila aku bisa mendapatkannya dengan caraku sendiri.

Isak tangis sang bayi tak kuanggap. Lebih mudah menitipkannya pada Ibu. Bukankah Ibu juga perlu uang? Gampanglah selembar-dua lembar kuberikan padanya. Dengan begitu langkah kakiku ringan ke mana saja aku mau. Tak ada suami dan anak, apalah bebanku …

Berjauhan dengan pelukan membuatku ingin direngkuh. Dan mantan kekasih adalah pengobat rinduku. Semua terjadi begitu saja. Sangat menyenangkan. Apalagi yang kurang bagiku?

Masa diam-diam menguliti hatiku. Semakin berusaha terbang tinggi, semakin jatuh aku ke dalam lembah kelam. Lambat laun tak ada yang bisa kubanggakan. Diriku rapuh, terpuruk. Dari kejauhan kulihat ayah dari anakku terbang bersama seorang peri. Bagaimana bisa ia melupakan aku? Dan hei … kemana pria yang selama ini menemani dalam kegelimpahan?

Tunggu dulu! Mengapa semua meninggalkanku? Hei!!! Apakah ada yang mendengar teriakanku?

Waktu! Ya, bisakah waktu membawaku kembali?
 

Percuma, sia-sia sudah. Sesal tak bisa berpulang. Aku tahu ini tak ada gunanya lagi. Mengapa dulu kulepaskan lelaki yang mencintaiku, yang memenuhi segala inginku? Mengapa?

Tak ada yang bisa kupinta lagi, selain … ampunilah aku. Angkatlah aku dari sini. Kumohon siapa pun … bawalah aku. Jangan biarkan masa menelanku dalam kesia-siaan. Berilah aku satu kesempatan. Berilah satu saja. Untukku …

Ampunilah aku!

from gugel
Note: Curahan hati seorang wanita, ditulis atas izinnya. Nama tidak disamarkan, karena memang tidak pakai nama.

Simbiosa Alina

Harga Rp 49.000,-.
ISBN/EAN 9786020302973 / 9786020302973.
Pengarang Pringadi Abdi , Sungging Raga.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Maret 2014

Beberapa waktu yang lalu Simbiosa Alina sudah hadir di pintu teras rumah. Tak langsung kubuka sebab ia terdampar di rumah orang tuaku. Hehehe Tak penting, abaikan!

Buku bersampul imut (kukatakan begitu sebab beneran bikin gemas) ini baru bisa kubaca setelah dua minggu berlalu. Terima kasih sekali buat Pringadi A.S yang sudah mengirimkan Kumcer indah  untukku.

Kumpulan cerpen Simbiosa Alina ditulis oleh dua sahabat (SKSD) yang karya-karyanya pertama kali kubaca sejak bergabung di sebuah komunitas menulis online kemudian dot kom. Karakter mereka berdua cukup lekat di ingatanku.

Cinta … satu kata ribuan kisah takkan habis bila bicara soal cinta dan turunannya. Tentang kepedihan karena cinta yang tiada berkesudahan. Tentang luka karena tak bisa menggenggam cinta, dan masih banyak lagi … Semuanya bisa ditemui dalam dua puluh kisah di buku ini.

Entah apa yang ada di benak Sungging dan Pring ketika menuangkannya dalam rangkaian kata, yang jelas membacanya tak cukup sekali untuk bisa mengerti. Tak melulu, ada beberapa yang memang imajinasiku tak sampai hanya dengan selintas mata.

Ada satu cerpen Sungging yang membuatku haru dan larut. Slania. Mengingatkanku pada satu momen indah di Lempuyangan, saat tahun baru 2011. Kalau saja saat ini aku tidak bersama suamiku, tentulah kubayangkan sepasang kakek dan nenek di sana itu aku dan kekasihku. Seratus dua puluh tahun harapan yang sungguh ajaib. Walau aku kurang begitu suka dengan eksekusi Slania, tetap menyisakan tanya dalam imajinasiku.

Cerpen Pring, kebanyakan berkisah tentang cinta dan kasih tak sampai. Barangkali sebagian besar diangkat dari kisah pribadinya mencari cinta yang sesungguhnya. Ah, andai saja aku tak mengenal sebagian kecil darinya, tentu takkan bisa berkata ini. Pring memang lembut memainkan kata-kata di cerita cintanya. Membacanya seolah sedang berbicara langsung walau hanya lewat telepon seluler.

Aku penyuka kisah romantis, apalagi yang berujung tragis. Bicara selera, aku menyukai racikan kata di kumpulan cerpen ini. Kisah Sungging dalam Sebatang Pohon di Loftus Road dan Kisah Pring dalam Mi Zuerido membekas di hatiku.

Secara keseluruhan, dua puluh cerita di dalam buku ini cukup memuaskan. Walau tak habis satu hari aku membacanya, ia tetap layak dilahap hingga lembar terakhir. Hanya saja, bagiku, Sungging dan Pring sepatutnya membuat yang lebih dari ini. Mengingat beberapa tulisan sebelum ini justru lebih tertanam di benak.

Tertarik mendapatkan buku ini dengan tanda tangan asli penulisnya? Hubungi saja penulisnya J

Christina Perri - Sad Song
Today I'm Gonna write a sad song,
I'm gonna make it really long
So that everyone can see,
That I'm very unhappy.
I wish I wasn't always wrong
I wish it wasn't always my fault
But the finger that you're pointing
Has knocked me on my knees
And all you need to know is
I'm sorry it's not like me,
It's maturity that I'm lacking
So don't, don't let me go
Just let me know that growing up goes slow
I wonder what my mom and dad would say,
If I told them that I cry each day.
But it's hard enough to live so far away.
I wish I wasn't always cold
Christina Perri - A Thousand Years
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Senin pagi sudah ditimpuk sama mbak Melani. Jadi ikutan ini deh. Gak papa lah agar pembaca jadi tahu siapa saya yang sesungguhnya, Hehehehe ... tadinya mikir, ini apaan sih, iseng banget deh. Tapi tak ada salahnya nyoba ikutan ah. Liebster Award ini entah siapa yang memulainya. Mau ikutan juga, baca ketentuannya ya ..


  1. Post award ke blog anda
  2. Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini & link back ke blognya
  3. Share 11 hal tentang diri anda
  4. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan kepada anda
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang anda inginkan 

Berikutnya, 11 hal tentang saya... Hmm...
  1. Tentulah saya seorang wanita yang saat ini sudah kepala tiga. Cukup panggil saya Rinz
  2. Saya paling suka makan gado-gado, tahu telur atau semua makanan berbumbu kacang. Enak soalnya. 
  3. Paling hobi molor. Tidak suka bangun pagi. HAhaha dasar pemalassss, Tapi sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, terpaksa lah
  4. Saya terlahir di bumi Papua, Sentani. Lalu sejak kelas empat SD hijrah ke Pontianak hingga lulus SMU. Lalau memilih kuliah, eh bukan, memilih pendidikan profesional sebagai sekretaris di kota Malang.
  5. Saya termasuk wanita yang cengeng. Bahkan digoda suami saja bisa menangis dan ngambek lalu tidur di kamar sebelah.
  6. Sehari saya hanya mandi sekali. Malang dingin boooo!
  7. Saya juga paling malas sisir rambut. Uwel-uwel saja. Simpel. 
  8. Paling hobby nonton film kartun. Apa saja asal kartun
  9. Kata orang saya paling setia. Bukan sama pasangan, bahkan sama baju dan sendal jepit pun begitu, walau sudah sobek sana-sini dan dekil, tetap dipakai.
  10. Paling bandel dinasehatin suami. Misal masak telur mata sapi jangan kematengan, tetap ngeyel dan selalu saja gosong pinggirnya.
  11. Gak bisa kalau bobo tidak dipeluk suami. Kalaupun ditinggal pergi, Guling saja tak cukup! 
              
Pertanyaan Melani :
  1. Sejak kapan anda nge-blog? Sejak awal tahun kayaknya :D Dulu pernah ngeblog tapi lupa kalau pernah punya rumah online buat nulis. *gak lupa tapi dilupakan, soalnya curhatan patah hati semua isinya.
  2. Apa manfaat dari nge-blog menurut anda? Manfaatnya banyak, termasuk salah satu yang paling oke adalah melatih kegemaran menulis jadi lebih baik dan menambah teman di dunia maya
  3. Pernah mengalami hal bahagia atau sedih saat nge-blog? Tentu saja pernah. Bahagia saat dapat rezeki dari job review. Sedihnya, saat gak ada sinyal pas lagi semangat-semangatnya nge-blog.
  4. Tuliskan 3 tempat impian yang ingin anda kunjungi, dan alasannya? Tiga tempat. Hmm ... Tanah Suci tentu saja, ingin beribadah dan semakin dekat dengan Islam. Lalu, Australia ... mewujudkan bulan madu yang tertunda. dan terakhir ke Bali, lagi dan lagi ...
  5. Tuliskan pencapaian apa yang ingin anda dapatkan di tahun ini? Pencapaian ... ingin novel solo diterbitkan.
  6. Buku atau film yang menjadi inspirasi anda selama ini? Hmmm... apa ya? tidak ada.
  7. Apa hobi anda? gangguin suami bobo. Gemesss
  8. Siapa orang yang menjadi inspirasi anda? Suami dan anak-anak
  9. Momen paling bahagia anda selama ini? Bisa terus bersama anak-anak dan suami
  10. Momen paling sedih anda selama ini? Belum bisa punya tempat tinggal sendiri...
  11. Dua hal yang menggambarkan tentang anda? Telaten dan Fokus



Nah, Pengen ikutan? Siapa ya yang akan kutimpuk?

www.intermezoe.com
www.sihwar.com
www.kangdana.com
www.nenysuswati.blogspot.com
www.thisisyourway.blogspot.com
www.junaediajjah.blogspot.com
www.erlinafitriani.blogspot.com
www.kakning.com
www.diaryharianbunda.blogspot.com
www.goresanpemenang.com
www.pandoraque.blogspot.com

Pertanyaannya sama aja ya, biar gak ribet. Heheheh selamat menjawab :D

 

from gugel
“Sayur asemnya dikasih cabai rawit ya, Nda …” Reno mengambil beberapa butir cabai dan mengirisnya tipis-tipis. Dinda hanya tersenyum. Ia tahu kebiasaan suaminya—menambah cabai.

Setiap akhir pekan, ia selalu menyibukkan diri di dapur bersama istrinya. Sebelum jam enam pagi, mereka berdua sudah kembali dari pasar. Dan seperti yang sudah-sudah, sayur asem selalu menjadi menu yang tak pernah tergantikan.

Sejak kecil ia suka makanan yang satu itu. Saat ibunya menghidangkan sayur favorit sepanjang masa itu, ia tak pernah lupa memberikan kecupan manis sebagi ucapan terima kasih. Dan ia bertekad untuk mencari wanita sehebat ibunya. Dalam semangkuk sayur asem ia tahu bagaimana perasaan seorang wanita kepadanya.

***

Tak ada senyum di meja makan. Tatap mata pun rasa hampa. Reno tahu ada yang tidak beres di antara mereka berdua. Piring dan sendok seolah berbisik-bisik. Bunyinya mencoba mengambil alih perhatian Dinda yang tertunduk menatap lantai.

“Apa yang kau pikirkan, Dinda?”

“Eh, tidak ada …”

“Jangan kau dustai aku. Katakan!” Reno berhenti mengaduk-aduk nasi di piring. Disandarkannya punggung ke kursi.

“Tidak ada apa-apa, Mas. Makanlah.”

“Kenapa, Dinda? Apa yang mengganggumu? Tiga pekan rasanya kau seperti ini.”

“Tiga pekan?”

“Ya, rasa sayur asemmu sungguh berbeda. Perasaanmu tak enak?”

Reno memerhatikan Dinda yang semakin menundukkan kepalanya. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sayur asem tak pernah mendustainya. Rasanya nyaris serupa beberapa saat sebelum ibunya memutuskan pergi ke negeri orang … dan tak kembali.

Bulir bening jatuh dari mata Dinda. Reno terkesiap. Ia bangkit dari kursi dan menuju Dinda.

“Kau tak pernah menangis selama ini … Apa yang membuatmu bersedih?”

“Aku …” Dinda pasrah di pelukan Reno. Air matanya membasahi kaos biru Reno.

“Menangislah agar lega, tapi katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Jangan membuatku bingung.”

Reno memeluk erat Dinda. Wanita yang begitu amat dicintainya. Hatinya bertanya-tanya, kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga membuat istrinya menangis. 

“Mas … maukah kau memaafkanku bila kukatakan yang sebenarnya?” Dinda melepaskan diri dari Reno. Menghapus air mata di pipinya dan dengan bibir bergetar ia mengiba.

Reno memandang Dinda dengan penuh tanda tanya. Kesalahan apa yang sudah ia lakukan? Batinnya.

“Selalu ada maaf untukmu … walau … Ya, kau tahu, aku paling tidak suka ada yang membohongiku.”

Dinda mulai menangis lagi.

“Mas tidak mau memaafkanku?”

“Kau belum katakana apa-apa, bagaimana bisa keluar maaf dari bibirku?”

“Aku …”

“Apa …”

“Aku menyukai …”

“Kau menyukai apa? Ada pria lain di hatimu?”

Air mata Dinda jatuh kembali.

Reno memukul meja dengan tangannya lalu meraih piring dan membantingnya.

“Mas, jangan lakukan itu …”

“Bagaimana bisa, Dinda … Apa kurangku padamu?”

“Ya Tuhan … aku menyukai kalau setiap akhir pekan tidak ada lagi sayur asem! Apalagi ditambah cabai rawit. Aku tidak suka sayur asem!”

Tangis Dinda pun pecah.

“Loh!?!”
Kau dan Cacing-cacing di Kepalamu

Kau tak mungkin sadar, namun itu yang kulihat di atas sana. Satu, dua tempo hari. Kini ratusan sudah di kepalamu.

Selalu saja kau marah bila kukatakan ada yang menyeringai di dalam kepalamu. Katamu, itu hanya imajinasiku belaka. Dan kau lagi-lagi terdiam sambil menggoyangkan tubuhmu mengikuti irama yang tidak kupahami.

Dengarkan aku, ini bukan tentang bayangan di mataku seperti katamu. Ini tentang kepalamu. Tidak, bukan. Ini tentang cacing-cacing di kepalamu.

Itu dimulai sejak kau mengeluh luka di sini. Salah sendiri kau cerita padaku. Aku muak mendengar gulanamu. Tahukah kau, resah itu membuatku bimbang. Kau bukan lagi kau yang kukenal. Ya cacing itu menggerogoti isi kepalamu.

Lihatlah betapa kerdil kau sekarang. Apa yang kaulakukan di ruangan ini sungguh membuatku jijik. Cacing-cacing itu tampak kehabisan tempat. Satu-satu jatuh dari kepalamu. Lihat seringainya begitu puas mengambil isi kepalamu.

Kini masihkah kau tak percaya padaku? Kau tak pernah mendengarku lagi. Aku hanya bisa berteriak dari sini. Bodoh! Seharusnya kau acuh pada kata-kataku. Kepala memang penting. Tapi dengarkan aku. Sedikit saja.

Andai kau tak membekukan aku, cacing-cacing itu takkan beranak-pinak di kepalamu.

Kutanya sekali lagi, masih maukah kau mendengar suaraku?

Yang kulihat itu benar. Bukan imajinasi. Cacing-cacing tertawa di kepalamu.

Tertawa!



II

”Ayah, sakit...!” aku meronta ketika tiba-tiba ayah masuk ke kamar lalu menarikku keluar dari rumah di malam buta.

Tanganku dicengkeramnya erat dan langkahku terseret. Kaki kecilku tak mampu mengimbangi langkahnya. Nafasku terengah dan keringat membasahi tubuhku meski angin laut begitu dingin menyelimuti tubuh kecilku.

Ada cahaya kecil di depan. Perlahan sinar itu tampak jelas. Seperti api unggun di sekolah pada waktu perkemahan pramuka sebulan yang lalu. Suara laki-laki dewasa lebih dari satu orang kudengar. Aku jadi tambah takut.

”Ayah
....” ujarku pelan.

”Ssst
... diam”

Buuuk!!!
Aku dilempar ayah begitu saja di atas pasir pantai. Aku mulai menangis. Lalu datang seorang pria dewasa yang aku tak kenal membekap mulutku dengan sehelai kain yang berbau amis. Aku meronta. Aku teriak tapi kain itu menutup mulutku begitu erat.

Aku mencoba melihat ke arah ayah. Ayah tertawa-tawa tak jelas. Sepertinya ayah lagi mabuk. Botol minuman berserakan di dekatnya. Aku tak mengerti mengapa aku dibawa ke sini. Belum sempat aku berpikir, aku diangkat ke atas perahu yang sudah tak terpakai di dekat api. Kakiku menendang-nendang, tapi percuma tubuhku terlalu kecil melawan mereka.

“Sudah
Kaka Nyong, lakukan saja apa yang mau kau lakukan pada anak sial itu. Bebaslah. Utangku lunas semua. Jangan lagi kau kejar-kejar aku. Lagi dia tak berguna. Hanya pembawa kesialan dalam keluarga saja. Coba kalau dia pu Mama tuh beranak laki tidaklah susah hidupku seperti ini. Anak tidak jelas. Ragu juga dia tu anak Sa ko bukan…”

Hatiku menjerit. Kenapa ayah berbicara kacau seperti itu. Aku teriak sekeras mungkin. Kain amis yang terikat di mulutku sudah basah entah kena air ludah atau air mataku.

“Tapi Bapa,
Bapa su yakin ko dengan begini. Ini nona masih kecil anak. Masih terlalu mudalah …” ujar seseorang yang lebih muda dan terlihat lebih sadar di pinggir perahu.

“Ah, persetanlah. Kalau lu sonde mau bikin begini na lebih baik lu pulang. Pulang ko jangan kembali!” usir ayah pada pemuda tadi.

”Kau tahu, kau terlahir sebagai anak sial. Anak setan kau itu. Kau pu
Bapa saja su tidak peduli dengan lu pu nasib. Kau harus disembuhkan. Ini waktunya yang tepat. Saat bulan purnama menerangi pantai ini, saat inilah kesialanmu akan dicabut,” kata seorang pria berbadan besar seraya mengikat kaki kecilku yang kanan dan kiri pada sisi berbeda.

Tangisku semakin pecah. Ayah. Satu-satunya yang dapat menolongku hanya ayah. Aku melirik ke arahnya. Ayah benar-benar tidak peduli padaku, anak perempuannya. Aku menangis dan teriakanku nyaris tak bisa keluar dari mulutku.

Percik-percik api unggun terdengar pilu. Ombak-ombak kecil yang bersahut-sahutan dan sesekali menghantam bibir pantai. Keheningan malam tak benar-benar senyap. Sakit teramat sakit menghujam dalam tubuhku. Mereka memasukan sesuatu ke dalam tubuhku dari bawah. Bertubi-tubi. Aku tak tahu apa itu. Hanya saja mereka meracau tak karuan seolah-olah mengusir suanggi-suanggi yang katanya ada dalam tubuh kecilku. Bahasa-bahasa aneh yang tak pernah kudengar sebelumnya. Suara tertawa atau teriakan mereka benar-benar membuat jeritanku tak terdengar. Aku lelah. Tajam dan sangat menyakitkan seluruh tubuhku. Aku tak sadarkan diri.

* * *

“Bapa, apa yang
Bapa buat sama Destri? Apa ko Destri lemah begini?” tanya mama ketika ayah menggendongku masuk ke dalam kamar.

Ayah tetap diam. Aku tak bisa membuka kedua mataku. Badanku sakit semua. Sayup kudengar mama menangis histeris. Dibasuhnya tubuh kotorku dengan lap basah.

“Mama…,” ucapku lirih.

“Tuhan, apa yang sudah
Bapa buat begini? Coba ko cerita sama Mama, Nak …,” mama mengusap wajahku. Air mataku menetes membasahi pipi.

“Ayah… bilang, Des anak setan
… sakit Mama … ada setan di bawah perut Des … mereka … menusuk kayu ko apa ko di dalam situ …ulang-ulang ...,” ujarku menunjuk lemah ke bawah perut.

“Tuhan,
Bapa!!!” mama teriak memanggil ayah yang mungkin sedang duduk di teras sambil merokok. Mama meninggalkan aku dan Desnita yang sedari tadi menatapku bisu. Tangan kecilnya memegak tangan kananku. Seakan mengerti aku sedang sakit.

“Kakak, ada setan di situ?” tanyanya polos.

Prang!!!
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Desnita, sudah terdengar mama dan Ayah bertengkar hebat dan sepertinya bunyi piring atau gelas yang di lempar.

Desnita kaget dan naik ke tempat tidur lalu duduk di sampingku, tangannya semakin erat memegangku. Larai yang sedang tidur dalam buaian pun terbangun dan mulai menangis kencang. Dengan tubuh yang masih sangat sakit, aku mencoba bangkit dan dengan susah payah ke tempat buaian. Kuayunkan lagi sambil bernyanyi-nyanyi kecil agar Larai kembali tertidur. Kututupi kedua telinganya dengan ujung kain. Desnita berlari ke arahku.

“Bapa keterlaluan. Bapa su gila. Benar-benar gila. Setan apa yang ada di dalam Destri, Bapa pikir Destri tu suanggi ko? Destri tu anak kita darah daging kita…”

“Ah, jangan sembarang omong. Sa ragu anak itu sa pu darah. Jangan sampai dia anak suanggi ko…” suara ayah meninggi.

“Bapa, suanggi apa
… Destri tu anak bapa ko tidak Bapa yang buat ko bilang suanggi …” mama melemah.

“Ya toh, lebih baik kau bilang. Itu anak siapa. Bukan anakku toh? Mana mungkinlah anakku
… sa tinggal berlayar, pulang-pulang sudah berisi pula perutmu, sampai sa bersumpah, kalau anak yang keluar laki, itu baru sa pu anak, tapi yang keluar perempuan itu na bukan sa punya ….”

“Sumpah macam apa itu
Bapa…, Destri ini Bapa pu anak, sama seperti Desnita dan Larai. Tuhan tolong e, bapa su delapan tahun dia besar begini ju masih ragu dengan Bapa pu anak … Bapa betul-betul bukan manusia. Jangan sampai Bapa itu yang suanggi. Sekarang Bapa cerita sama Mama, itu anak Bapa buat apa?”

“Tidak lah, sa tidak buat apa-apa dengan itu anak. Dia hanya perlu dibersihkan. Buang sial. Cukup baik sa pu teman-teman masih mau terima dia. Paling tidak sa pu utang su lunas
…” suara ayah terdengar datar.

“Bapa itu yang suanggi. Setan. Bapa tidak sayang anak. Bapa jual pula anak kita. Bapa keterlaluan…”

Suara kursi yang dibanting, gelas atau piring yang di lempar membuat aku memeluk Desnita semakin erat. Larai gelisah dalam buaian. Kuayun-ayunkan lagi sementara aku sudah tak sanggup untuk bernyanyi seperti tadi.

“Kakak, di rumah ini memang ada setannya. Ayah mungkin sudah jadi anak buahnya. Ayah selalu begitu. Marah-marah tidak jelas. Dua hari yang lalu ayah jemput Nita di
TK. Nita tidak tahu ayah bawa kemana. Cuma ayah bawa Nita ke rumah bapa Domi. Kakak tahu to, itu yang dekat pasar ikan. Nita dikasih boneka itu …” tangan kecil Desnita menunjuk sebuah boneka di samping bantal di tempat tidur.

“Terus
…?”

“Bapa Domi pegang-pegang Nita. Bapa Domi kasih masuk dia pu tangan ke pipis Nita
…” lanjutnya.

“Terus
…?” aku cuma bisa mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar.

“Ayah suruh Nita diam. Ayah sudah siap kayu di tangan kalau Nita menangis
… Ayah pernah pukul Nita pakai kayu. Itu sakit. Nita tidak mau di pukul ayah lagi Nita takut Ayah…”

Desnita memelukku. Ada rasa sakit di pinggangku saat tangan kecil Desnita memelukku. Aku bisa tahan itu tapi air mataku tetap tak mau berhenti menetes. Tirai kamar terbuka, mama datang dengan air mata yang juga membasahi wajahnya. Larai diangkatnya dari buaian dan mama mulai meneteki Larai.

“Mama
…,”

“Sssstt
... kamu tidurlah dulu, Nak … badanmu masih sakit. Naiklah ke tempat tidur. Nanti Mama masakan bubur dulu buat kalian makan…”

Aku menurut. Desnita kuajak naik ke tempat tidur. Aku memang masih delapan tahun. Masih kecil untuk mengerti semua yang telah terjadi. Aku hanya tahu. Ada setan di tubuhku atau ayah itu memang setan. Mungkin juga saat ini hinggap di tubuh Desnita atau bahkan akan masuk pula ke tubuh adik kecilku, Larai.

Sejak hari di
mana mama menangis bersama aku dan adik-adikku, ayah menghilang. Tak pernah lagi dia muncul. Kalaupun ayah muncul di rumah itu pada saat aku tak ada. Pasti Ayah meminta uang sama mama. Bodohnya mama selalu memberinya uang, meski ayah untuk itu ayah meninggalkan beberapa luka pukul di wajah atau tubuh mama.


from gugel



from gugel

PROLOG

Rambut pendek kutata seperti biasa
—belah pinggir. Suara mama terdengar dari kamar sebelah. Barangkali sedang mendandani kedua adikku. Sore ini pernikahan sepupu jauh mama. Yang nikah siapa, yang heboh siapa.
“Pakai rok ini…!” ujar mama yang tiba-tiba masuk kamar tanpa permisi dan sehelai rok berline A berpindah ke tanganku.

Aku bergidik.

“Huh, berapa kali Destri bilang, Des gak mau pakai rok...!” Aku membuang rok berwarna merah bata begitu saja di tempat tidur.

Aku tak pernah mau pakai rok. Terlalu perempuan. Sekali tidak tetap tidak.

Pantulan wajahku muncul di cermin, seakan mentertawakan aku… Betapa muaknya aku melihat diriku sendiri.

Aku tetap takkan menyentuh rok apa
pun. Dan seperti biasa, mama akan mengomel sepanjang waktu.


I.

Aku menatap kesibukan para nelayan dan beberapa perahu kecil yang baru saja tiba pagi ini. Matahari sudah muncul sejak tadi. Hawa laut yang segar dan aroma amis sudah biasa menusuk hidungku. Sejak subuh tadi aku berdiri di tempat ini. Menikmati keindahan air laut yang selalu tenang. Sesekali angin membuatnya bergelombang kecil. Berada di pinggiran pantai pagi ini, sungguh menggugah imaji masa kecilku di sini. Tak jauh dari tempat ini terlihat pelataran rumahku yang kini sudah berganti penghuni dan dengan bentuk yang sudah di renovasi.

Dinginnya angin menusuk tubuh. Keindahan teluk Kalabahi ini membuatku tersadar bahwa aku memiliki tempat berpijak yang benar-benar surga. Pulau kecil tempat pertama kuhembuskan nafas ini terletak di sebelah utara Nusa Tenggara Timur, berbukit-bukit, dan dikelilingi perairan biru. Kalabahi, satu-satunya tempat yang bisa menikmati hamparan teluk terlebar di seluruh dataran propinsi ini.

Selayang pandang  bukit  hijau mulai terkena sinar matahari yang perlahan-lahan membuatku ikut memerah. Nyanyian burung-burung sesekali terdengar, tampaknya asyik menukik ke permukaan air untuk menangkap ikan-ikan kecil dengan moncongnya.

Tempat ini berubah. Segalanya berubah. Dulu hamparan luas ini adalah pinggir pantai. Tempatku berlari-lari kecil bersama teman-teman. Berenang selagi air pasang. Mengumpulkan kerang-kerang yang berbentuk lucu dan menarik, juga mencari Bunga Batu yang terhampar di sepanjang pantai Alor. Bunga Batu atau Batu Puyuh biasanya kami kumpulkan sebagai mata pencaharian. Bentuknya bagus dan beraneka ragam bisa digunakan sebagai hiasan. Aku dan teman-teman paling senang jika bisa membawa pulang beberapa lembar ratusan dari hasil mengumpulkan Bunga Batu yang konon tak pernah ada habisnya, bahkan selalu bertambah setiap hari di pinggir pantai.

Sekarang, kios-kios kecil sudah menghiasi tempat ini. Malam hari, ramai dengan pemuda-pemudi  Alor yang sekedar nongkrong atau menikmati angin malam sambil makan ikan bakar, berkaraoke, berpacaran atau bahkan lebih dari sekedar pacaran. Benar-benar pemandangan yang beda setelah kepergianku duabelas tahun yang lalu. Hanya satu yang tetap. Perasaan benci terhadap diri sendiri dan tentu saja kepada pantai yang sekarang sudah berubah menjadi tempat hiburan. Aku masih belum bisa berdamai dengan pantai yang sebenarnya mengajakku bersalaman dengan hawa sejuk
.

“Kakak, Mama menunggu kita untuk sarapan, ayo kita pulang,” sapaan Seba membuyarkan lamunanku.

Seba, gadis remaja kurus tinggi di hadapanku ini adalah seorang gadis dari pulau Pantar yang membantu mama mengurus rumah dulu. Seba sudah kuanggap adik. Mam Tua yang baru saja disebutnya adalah ibunya. Sejak kemaren aku menginap di rumahnya. Sebenarnya aku ingin menginap di hotel Kenari, tapi karena hotel itu dipakai acara oleh sebuah LSM untuk lokakarya aku memilih menginap di rumah Seba, lebih leluasa untuk keluar masuk dan dekat dengan pantai masa kecilku.

“Baiklah, mari. Perutku juga sudah berbunyi,” ujarku sembari menggandeng tangan kecilnya dan melangkah bersama menuju rumah yang hanya berjarak 5 menit dari tempatku melamun.

Mama Tua sudah menata makanan di meja makan. Tubuhnya yang masih kuat di umurnya yang sudah lebih dari 60 tahun begitu lincah bergerak. Biasa naik turun gunung. Seminggu sekali Mam Tua naik ke Pantar untuk membawa barang dagangan seperti baju-baju rombengan yang ia beli karungan dari kapal yang datang. Lumayan juga, satu karung dia hanya mengeluarkan seratus ribu hingga duaratusribu rupiah untuk baju lebih dari duaratus lembar. Biasanya Mama Tua pulang dengan karung  yang sudah kosong.

Mama Tua menuangkan sesendok Jagung Bose ke piring di depanku. Seba sedari tadi sudah mengambil jatahnya sendiri dan duduk di sampingku.

“Nona, lebih baik lu makan itu jagung bose, karna saya hanya masak itu saja. Tapi barangkali lu su lupa rasanya. Kalau lu tidak suka na, sa buat mie goreng saja
…” Mama Tua langsung membuka lemari makan dan mengeluarkan sebungkus mie instant begitu melihat wajah murungku. Mungkin ia pikir aku tak nafsu melahap makanan khas Timor yang terbuat dari jagung pulut ini.

“Tidak Mam. Aku makan ini saja. Lagi sudah lama juga tidak mencicipi makanan ini. Dulu mama sering masak ini dicampur daging se’i. Tapi sejak di Jakarta, Mama sudah tidak pernah menghidangkan makanan ini,” ujarku semangat sambil menikmati Jagung Bose buatan Mama Tua. Rasanya memang tiada duanya. Apalagi daging se’i, daging sapi yang diiris tipis-tipis dan diasap. Benar-benar mengingatkanku pada masa kecil yang nyaris ingin kumusnahkan dari otakku.

* * *

Namaku Destri. Hanya Destri tanpa embel-embel. Aku terlahir dalam sebuah keluarga nelayan di pesisir Binongko, salah satu desa nelayan di kota Kalabahi, kepulauan Alor, dua
puluh delapan tahun yang lalu.

Aku perempuan pertama dari 3 bersaudari. Ayah dan mamaku adalah pendatang dari Makasar. Ayah lebih dulu tinggal di kota ini bersama orang tuanya dan hidup sebagai nelayan. Kadang-kadang  juga berdagang ikan di pasar. Sewaktu-waktu juga ikut menjadi kuli harian di pelabuhan jika sedang tidak ingin melaut. Tak jarang juga keluar masuk toko sebagai pekerja kasar, toko yang dijuragani oleh keturunan China yang datang dari berbagai pelosok nusantara. Kebanyakan China Surabaya yang memang sudah menyatu dengan alam Alor. Saat ini hampir seluruh pertokoan di Kalabahi ini dikuasai oleh pedagang keturunan itu.

Sejak menikah dengan mama, ayah semakin jarang pulang. Semakin giat melaut. Kembali ke rumah sesukanya. Bahkan ketika aku ada dalam kandungpun, ayah jarang membelai mama apalagi aku di dalam perut. Paling-paling ayah pulang setelah berminggu-minggu melaut atau entah di mana.

Ayah sangat ingin anak laki-laki. Segala ramuan tradisional untuk mendapatkan anak sesuai keinginannya telah dilakukan. Hingga ketika aku terlahir, ayah kecewa, karena yang ada di buaiannya adalah seorang bayi perempuan yang berkulit kuning dan cantik. Persis seperti mama, cantik.

Kekecewaan ayah semakin tampak. Ayah semakin jarang pulang. Kalaupun pulang sambil mabuk-mabuk, memukuli mama. Mama tak kenal putus asa. Tetap setia pada ayah. Apapun yang ayah lakukan pada mama seakan tak ada artinya dengan cinta yang mama berikan pada ayah.

Dua tahun setelah kelahiranku, mama kembali melahirkan anak perempuan, Desnita. Tambah kecewalah ayah. Mama semakin sering menangis. Aku masih kecil, belum mengerti apa-apa, tapi aku tahu mama menderita. Sama halnya ketika kesakitan melanda jika tangan ringan ayah mulai membabibuta dan memukuliku dengan atau tanpa alat. Aku terbiasa dikurung di satu ruang tempat mandi dekat sumur saat malam hari. Sambil menangis tersedu ayah pun tetap tak peduli ketika rengekkanku pecah memohon masuk. Yang kudengar hanya omelan ayah pada mama yang  menangis demikian juga adik kecilku yang ikut memecah keheningan malam.

Sejak aku lahir hingga beranjak usia enam tahun, ayah selalu berlaku kasar. Tak sedikit pun belaian kasih sayang darinya aku terima. Aku selalu menangis. Meski  tak tahu salah apa sebenarnya aku. Aku selalu takut untuk berdekatan dengan ayah. Sebenarnya ingin berada di pelukan tangan kekarnya seperti  Acok, teman sepermainanku di sebelah rumah, yang selalu digendong mesra ayahnya. Apa karena Acok seorang anak laki-laki?

Ketika aku masuk taman kanak-kanak milik sebuah yayasan aku semakin tak peduli dengan keberadaan ayah. Aku menganggapnya tak ada. Meski aku selalu berusaha mencuri-curi pandang ketika ayah pulang dan duduk di meja makan atau sekedar merokok di teras rumah.

Di taman kanak-kanak aku terkenal anak yang pendiam. Selalu menyendiri. Satu-satunya temanku hanya Acok. Acok yang selalu mengajakku berlari-lari di tepi pantai sepulang dari bermain di sekolahan. Ayah Acok selalu mengajak kami berenang hingga ke tengah lautan. Panas terik matahari yang membakar tubuhku tak kurasakan perih, karena itu saat yang paling membahagiakan. Ayah Acok lebih pantas jadi Ayahku.

* * *

Aku baru saja duduk di kelas di kelas 2 sekolah dasar di yayasan yang sama ketika mama melahirkan lagi seorang adik untukku. Perempuan, Larai. Ayah makin menjadi-jadi. Semakin gila mabuk. Kudengar ayah punya wanita lain. Dari mulut halus mama. Tak ada amarah ketika mama bercerita kalau ayah akan semakin jarang pulang. Mama hanya meneteskan air mata. Sambil menggendong Larai, mama memelukku dan Desnita. Aku memang masih umur 8 tahun. Tapi aku kini lebih mengerti. Mama lebih baik tak bersama ayah. Ayah lebih baik tak pulang lagi ke
rumah ini.

Berat hatiku. Belum sempat aku merasakan pelukan hangat tubuhnya. Aku ingat satu hari. Ayah baru saja pulang dari berlayar. Dua minggu ayah pergi melaut. Aku memberanikan diri menyambutnya di muka rumah. Rasa kangenku tak terbendung. Ayah selalu pergi dan hanya kembali untuk beberapa waktu.

”Ah... jangan kaupeluk aku!” Ayah mendorongku hingga hampir terjungkal. Aku kaget dan hampir menangis.

”Ayah kenapa?  Des kangen sama
Ayah, kenapa na Ayah marah sama Des?” aku beranikan diri bertanya.

Ayah hanya diam dan masuk ke rumah tanpa menjawab pertanyaanku. Sejak saat itu aku tak pernah lagi bertanya. Saat mama bilang ayah akan lama pergi mungkin takkan kembali, aku bersyukur dan semakin erat memeluk mama juga adik-adikku.

* * *
Deschia

#1
Bunda mencintaimu bahkan sejak kau belum tercipta. Tidak pernah satu hela nafaspun Bunda terlupa mengucap dalam lantunan doa-doa panjang akan kebahagiaanmu. Deschia, nama yang diberikan Wandi, ayahmu, delapanbelas tahun yang lalu, dua tahun sebelum kau terlahir nyata di dunia. Nama yang sengaja disiapkan dalam daftar panjang bakal nama benih-benih cinta yang terbentuk dalam rahim wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Nama yang secara ikhlas diberikan pada Bunda untuk menjadi identitas kedua Bunda dalam sebuah komunitas saat masih muda belia.

Deschia oh Deschia. Tak terhitung berapa simpul senyum bahagia sejak Bunda menggendongmu dalam buaianku. Meski kerap isak tangismu membuat geram karena kebingungan tak mengerti maumu, Bunda tetap memelukmu mesra dengan penuh kasih sayang. Bunda bahagia sejak memilikimu…utuh bersama Wandi, ayahmu, yang teramat sangat Bunda cintai.

Betapa amat menggembirakan manakala kauucap “Nda..” untuk yang pertama kali. Bunda bangga menjadi bundamu, nak…Sungguh menggetarkan hati dan jiwa. Teduh rasanya tuturmu saat memanggilku bunda. Segala penat letih resah gelisah buyar seketika.

#2
“Bunda jahat,” ujarmu satu petang lalu beranjak pergi dengan membawa sebuah tas di punggungmu. Runtuh dunia Bunda, nak. Berat tertimpa kalimat amarahmu.
Jangan dulu menjauh. Tak sedikitpun Bunda mengerti merah membara tatapanmu pada Bunda. Tak pernah satukalipun Bunda merasakan sesak dan pedih seperti ini, Nak. Patah senyum Bunda di usiamu yang menginjak ke tujuhbelas beberapa bulan lagi.

#3
“Chia tahu semua…Bunda membunuh mama. Mama yang mengandung dan yang melahirkan Chia. Bunda jahat!”
“Nak, Bunda tidak mem…”
“Jangan panggil Chia dengan nak, Bunda tak pantas memanggil Chia dengan sebutan itu. Bunda sudah membuat mama menderita bahkan dalam kubur pun..”
“Chia, kamu gak boleh bicara seperti itu sama Bundamu…”
“Ayah diam. Ayah juga jahat. Kenapa selama ini tidak ada yang bercerita soal Mama?”
“Chia sayang… mengertilah. Bunda sangat mencintaimu, sangat… lebih dari apa yang kamu kira, Chia… apa itu kurang?”
“Kembalikan Mama padaku!!!”
“Bundalah ibumu, Nak…”

#4
Belasan tahun yang lalu…
“Mas, aku ikhlas jika mas menikah dengan Nanda. Dia lebih membutuhkan mas. Aku tak berhak mengambilmu dari sisinya…”
“Tapi Hany, aku tak bisa meninggalkanmu dengan kekecewaan yang amat mendalam seperti ini. Aku memilihmu untuk menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku
tak bisa, Hany…”
“Mas, pikirkanlah keluargamu. Lagipula Nanda adalah wanita yang mencintaimu lebih dulu dari aku. Tak adil buatnya. Aku mencintaimu, tapi aku tak mau memilikimu jika ada yang menderita karenanya. Dia lebih membutuhkanmu. Pergilah. Aku baik-baik saja.”

#5
Sesaat setelah kelahiranmu, Deschia, Ayahmu datang padaku, sambil menggendongmu, bayi mungil yang cantik. Dengan penuh kasih aku menyambut kalian berdua. Di sini, di rumahku, di hatiku, di hidupku, di jiwaku dengan segala cinta yang masih tersimpan rapi.

Nanda, wanita yang melahirkanmu, pergi meninggalkan dunia ke tempat yang lebih indah di surga sana. Sakit yang dideritanya jauh sebelum dia menikah dengan Ayahmu, begitu menyiksanya. Sakit yang memang jika diselusuri adalah sakit perasaan yang membunuhnya pelan-pelan. Selain sakit liver yang kronis, ia pun menyimpan dendam yang teramat sangat padaku, perempuan yang
dicintai ayahmu. Manalah bisa aku membiarkanmu dirawat oleh ayahmu seorang diri.

Hanya “iya” yang bisa keluar dari bibirku, ketika ayahmu memintaku kembali padanya dan menerimamu sebagai anakku. Saat itulah aku menjadi Bundamu. Bunda yang amat menyayangimu lebih dari apapun.

#6
Angin sepoi menyapu sejuk kediamanku. Hari ini tepat usiamu tujuhbelas tahun. Belum juga kakimu melangkah pulang, Nak. Bunda selalu menunggumu di muka rumah. Apakah kamu masih belum memaafkan Bunda, nak?... Tidak cukupkah sebilah pisau dari tangan halusmu mengoyak-ngoyakkan hati Bunda?. Darah yang penuh cinta inipun masih kurang berceceran di pelataran teras
kita?... Ah Sudahlah… Bunda akan tetap menantimu di sini.

Selamanya, nak… karena kamulah anak Bunda. Anak dari seorang lelaki yang Bunda cintai… dan Bunda menyesal mengapa kebencian dari mamamu menurun padamu. Percayalah Deschia…Bunda mengasihimu, sejak kamu belum tercipta, menjadi dewasa, bahkan sampai nafas Bunda terhenti, Bunda tetap mengasihimu.

from gugel

”Bagaimana jika dia tahu aku di sini?” aku bertanya was-was pada lelaki yang basah karena keringat semangatnya di sampingku.

”Dia takkan tahu. Kupastikan tak ada aroma tubuhmu yang tertinggal, bahkan rambutmu yang berguguran itu takkan tersisa di bantal ini, honey....” Jay lalu mendekat padaku dan membasahi wajahku dengan ciumannya yang lembut tapi bertubi-tubi. Aku biarkan diriku larut dalam belaiannya.
Sesekali mengikuti alur yang dia buat. Entah sudah berapa kali Jay-panggilan mesraku padanya- membawaku pada nikmat hari ini. Aku menoleh ke jam dinding di pojok kananku, sudah hampir jam 3 sore. Berarti sisa satu jam lagi aku di kamar ini. Ah...Jay masih belum berhenti mencumbuku.

Aku lelah, bukan karena gelora. Hari ini adalah hari terakhirku di Jakarta. Dan besok aku harus kembali pulang ke Semarang. Dan sudah seminggu ini, setiap pagi hingga sore aku berada di kamar Jay. Menghabiskan liburanku, beradu bersamanya.

”Kamu kenapa, Cinta?” Jay menarik wajahku ke arahnya. Dan menatapku penuh tanya.

”Aku gak papa” jawabku singkat lalu mengalihkan pandanganku darinya.

Aku tahu Jay bisa mendapatkan jawabannya jika terlalu lama menatap kedua mataku yang mungkin kini berkaca-kaca. Perlahan Jay melepaskan diriku, menjauh, menatap langi-langit.

"Kamu masih takut?”

Pertanyaan yang aku rasa tidak perlu dijawab. Siapa pun orang yang berada di posisi ini, khususnya wanita sepertiku tentu akan merasakan takut. Kegelisahan yang teramat dalam. Bahkan kenikmatan yang didapat takkan mampu menutupi kegelisahan dan keresahan dalam hati. Untungnya, wanita selalu bisa untuk berakting puas dalam bercinta.

”Cin, kenapa kamu diam..?, sudahlah, berapa kali harus kubilang. Tak ada penyesalan. Aku memilihmu...!” Jay menegaskan kata-katanya.

Ya, kau memilihku untuk membuangku pada akhirnya...

”Nanda tahu kalau Mas masih jalan denganku. Satu hal yang dia tak tahu, adalah kita selalu bermain di belakangnya. Dia hanya tahu, kita adalah kekasih yang tak pernah bertemu karena jarak. Dia hanya tahu bahwa aku hanya pelepas lelahmu di telepon. Dia taktahu bahwa kita benar-benar bercinta karena cinta. Terlebih, dia tak tahu sekarang aku ada di kamar ini. Kamar di mana kalian selalu tidur berdua, meski tak bercinta katamu, dan aku tahu itu semua bohong....” kataku sembari bangun dan duduk di sampingnya.

”Cin, hentikan keluhmu itu. Nanda memang tahu aku tak mencintainya lagi. Nanda di rumah ini hanya sementara. Sebentar lagi dia akan pindah ke kontrakan yang dekat dengan tempat kerjanya. Aku sudah tak tidur di kamar ini kalau malam. Sofa di ruang tamu itu jadi saksi. Kamu masih bisa lihat tanda-tandanya. Aku selalu menghabiskan malam di sofa itu. Bukan di sini. Kamu tahu, Cin, aku baru masuk lagi ke kamar ini hanya untuk menghabiskan waktu denganmu...” Jay kembali mencumbuku.

Ah, aku muak pada diriku sendiri. Sementara Nanda sibuk bekerja, aku malah bersama lelaki yang akan menjadi suami Nanda nantinya. Ya, masih calon. Jay selalu meyakinkanku, bahwa satu-satunya perempuan yang akan dinikahinya adalah Cinta, aku, dan bukan Nanda, wanita pilihan orang tuanya.

* * *

Aku mengenal Jay setahun yang lalu. Di sebuah pesta pernikahan seorang kerabat. Berawal dari curahan hati aku pun dekat dengan Jay. Aku wanita single yang baru saja memutuskan hubungan dengan seorang lelaki yang hampir enam tahun berpacaran denganku. Jay, seorang lelaki, yang sudah memiliki seorang kekasih –yang belakangan aku tahu sudah tinggal serumah dengannya – yang konon katanya adalah wanita yang disediakan orang tuanya untuk dinikahinya kelak.

Tak ada kata cinta awalnya. Hanya berbagi cerita tentang rasa yang mengganjal. Hubungan Jay
dengan Nanda yang sudah lima tahun berjalan. Semuanya penuh keterpaksaan. Nanda yang egois, pencemburu dan menghambat aktifitas seorang Jay sebagai seorang pemain musik.
Segala sepakterjang Jay dibatasi Nanda. Itu yang membuatnya terpenjara. Apalagi, mereka sudah tinggal serumah, bahkan sering sekamar. Hari demi hari kuhabiskan bersamanya meski hanya lewat telepon. Hanya satu-minggu saja aku bisa mengistirahatkan kupingku dari suaranya. Tentu, karena Nanda ada di rumah dan aku pun tidak mau jadi masalah besar. Sampai satu hari, Nanda
mendengar ada wanita lain dari mulut Jay sendiri. Itu jadi awal kisah cintaku dan Jay.

Menyadari ada cinta meski itu sangat tak lazim. Sebulan sekali, aku mengunjunginya di Jakarta,
atau Jay yang mengunjungiku ke Semarang. Dan tentu saja, nafsu tak dapat dibendung. Peduli setan dengan segala norma. Itu saja yang ada dibenak dua insan yang sedang dimabuk asmara.

* * *

”Aku tahu ini berat, Cin, dan aku tak bisa melawannya...” ujar Jay di suatu senja. Dua bulan sejak aku menghabiskan waktu di Jakarta.

”Lantas? Mas ingin meneruskan hubungan yang Mas yakin takkan bahagia bersamanya?” aku
sudah tahu jawabannya. Bukankah aku terpilih untuk menjadi yang terbuang...

Suara di seberang sana masih tak terdengar. Ada keheningan. Yang hanya aku dan ia yang mengerti. Segala nafsu atau cinta yang sudah aku dan Jay tabung setahun lebih ini tentu akan habis
dalam sekejap. Itu bukan hal yang mudah bagiku untuk melepasnya. Melepas lagi orang yang aku sayangi. Untuk jatuh hati padanya saja bukan hal gampang, apalagi untuk melepasnya.

”Masihkah kamu menungguku, Cinta?” suaranya lirih di ujung sana.

Menunggu. Dengan apa dan atas apa aku menunggu. Atasnama cinta yang tak lagi bercinta? Atasnama sayang yang kini sudah berganti kebencian? Menunggu Nanda pergi untuk selamanya – karena penyakit ginjal yang dideritanya? Atau justru menunggu diriku sendiri menjadi abu? Benar-benar pertanyaan yang tak perlu.

”Berjalanlah, Mas. Memilih itu yang bisa Mas lakukan. Mas telah memilih, untuk hidup bersamanya, meski mas bilang itu hanya untuk membahagiakan orangtua. Mas mencintai Nanda, setidaknya pernah mencintai Nanda, maka hiduplah bersamanya dengan sisa cinta yang masih ada itu. Aku punya jalan sendiri... Aku sudah selesai denganmu. Aku akan selalu mendoakan kalian...” jawabku dengan
ketenangan yang sudah kupersiapkan sejak beberapa waktu lalu.

* * *

Tiga bulan setelahnya... Sebuah pesan masuk di surat elektronikku. Sebuah undangan pernikahan yang memiliki design yang indah dengan corak biru laut terpampang jelas di layar laptopku. Sebuah nama berwarna tinta emas membuat hatiku bergejolak, nama yang akrab di hatiku, Justin. Entah senyum dengan makna apa yang aku ukir ketika aku membaca undangan elektronik ini. Ada bahagia, ada sedih. Aku tutup pesan itu. Tak mau berlama-lama memandangnya.

Pandanganku beralih pada sebuah bingkai di samping laptopku. Gambar seorang pria berwajah sendu dan teduh sedang menatapku dengan senyum yang manis sekali. Pria yang baru saja memasuki hidupku. Belum ada kepastian. Namun berharap pasti. Nino, seorang pria yang juga bernasib sama sepertiku. Yang menunggu pada satu tahap, melepaskan kekasih yang akan mengarungi bahagia bersama orang lain. Ada satu harap di hatiku... kelak, Nino mau menghabiskan waktu bersamaku. Menuju cahaya. Meninggalkan kelam.

* * *

Di sudut pinggiran kota Jakarta.
Tubuh tergolek lemah di ranjang ungu. Ranjang
kisah Cinta, Justin  dan Nanda.

Seorang lelaki meletakkan segelas teh hangat di samping tempat tidur, dan semangkuk
bubur ayam. Dibangunkan tubuh yang terlelap itu…

“Nanda, ayo dimakan buburnya. Aku suapin…” ujar Justin penuh kasih.
Satu persatu suapan.
.........................................

Aku berharap, satu hari nanti kau meracunnya, Jay


*Based on True Story seorang sahabat.
from gugel

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI