Google+ Followers

Selasa, 15 April 2014

Sindiran?

Bila Aku Bahagia, Mengapa Kau Murung?

"Apaan, sedikit-sedikit pamer kemesraan ..., lebay!"

Aku hanya tertawa membaca pesan bernada sindiran itu. Pesan yang nyaris muncul setiap aku menulis status atau catatan secuil kisah di rumah tanggaku.

Ada yang menarik dari si pengirim pesan. Meski ia kerap menyindirku, ia tak pernah absen membaca hidupku. Kalau aku galau, dia juga protes.

"Ngapain sih ngeluh aja. Bosen tahu bacanya!"

Nah loh ..., bagaimana aku tak tertawa coba. Sekarang aku jarang mengeluh. Lebih sering menuliskan kehangatan yang kualami. Tapi ternyata pesan bernada nyinyir itu tak pernah berhenti.

Ya, bukan pamer. Tapi ada kegembiraan yang ingin kubagi. Bukankah aura sukacita itu juga akan menular pada siapa pun yang membaca? Katakan, siapa yang murung bila melihat seseorang bergembira? Bila ada, tentu hatinya bermasalah.

Berbagi kisah bahagia tidak melulu pamer. Apalagi, bila yang dibagikan adalah motivasi yang bisa menjadi inspirasi untuk lebih baik.

Namun, aku berterima kasih pada si pengirim pesan. Karenanya, aku selalu ingin memperlihatkan pada dunia. Mungkin dulu gelap menyelimutiku, tapi kini matahari selalu menyinariku.

Ilustrasi from gugel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI