Google+ Followers

Kamis, 03 April 2014

Pendidikan Seks Dini Pada Anak

Bagaimana Memulainya?

Sebagai orang tua yang memiliki dua anak balita, rasanya saya belum pantas untuk berbicara tentang hal ini. Tapi saya pikir, tak ada salahnya. Toh saya juga harus memberikan pengetahuan tentang seks pada anak kelak. Mengingat, Kahpie si Jagoan juga sudah memahami kalau dia dengan adiknya yang perempuan berbeda.

Misal satu hari ia bertanya, "Kok kalau dedek pipisnya harus jongkok? Trus kok kayak gitu?" ujarnya sambil menunjuk alat kelamin adiknya.

Bingung juga, gimana ya ngomongnya? Kata-kata apa yang pantas diucapkan sebagai penjelasan buat anak seusia Kahpie?

Ternyata bukan hanya saya. Tak sedikit orang tua yang masih beranggapan tabu bila kita berbicara tentang seks dan atributnya. Banyak orang tua yang merasa tak nyaman untuk berbicara dengan anak mereka tentang seks dn sistem reproduksi. Makanya banyak orang tua juga bingung, bagaimana memulainya.

Saya sebenarnya risih, ketika ada seorang ibu yang menggoda anak lelakinya yang masih berusia balita saat tidak mau pakai celana.

"Ayo, kakak pakai celananya. Nanti burungnya lepas!"

Atau...

"Ayo cebok dulu, nanti memeknya gatal."

Menurut saya, sejak dini anak harus dibekali dengan kemampuan menyebut alat kelaminnya dengan nama sebenarnya.

Banyak orang yang menyebut penis dan vagina dengan cara yang vulgar dan dengan lelucon yang jorok tetapi itu tidak berarti bahwa bagian-bagian itu "jorok" atau "kotor'. Bagaimana mungkin Allah menciptakan sesuatu yang kotor. Penis dan vagina adalah bagian tubuh yang istimewa sama seperti tangan atau kaki atau bagiam tubuh kita yang lain. Organ seks diciptakan sama indahnya dengan organ lainnya.

Saya ingat waktu Kahpie bertanya, "Kok burung sih? Kan gak punya sayap. Kan gak bisa terbang...
Aneh...."

Nah, saya tak ingin dia terus beranggapan itu burung. Karena alat kelaminnya punya nama. Itu penis.

Ya, penis. Tak ada yang aneh dengan nama itu. Yang bikin aneh adalah pikiran manusianya. Bila sejak kecil sudah diajarkan mengucap yang benar, pikirannya tidak lari kemana-mana. Cukuplah dia paham bahwa itu nama kelaminnya. Bukan burung.

Apakah seks itu rahasia? Sebenarnya di sekolah atau di dalam masyarakat ada banyak pembicaraan tentang seks. Akan tetapi pembicaraan membahas seks itu memakai istilah-istilah yang tidak sepatutnya, dalam lelucon kotor dan dalam bentuk yang salah.

So, Bagaimana kita memulainya?

Sebenarnya anak-anak kita sendiri, seringkali memberi kita pintu masuk untuk mulai membicarakannya. Ketika mereka bertanya dengan ragu-ragu dan suara kecil karena takut kena marah, atau ketika sedang nonton tivi bersama dan melihat adegan tertentu. Semua itu dapat menjadi pembuka, asal orang tua sudah menyiapkan diri dan berbesar hati untuk selalu menyadari bahwa anak-anak sedang bertumbuh dan memerlukan pendampingan dan bimbingan. Kalau bukan kita siapa lagi yang kita harapkan mendampingi anak-anak?

Bersambung...

3 komentar:

  1. Ini yg susah, Mak. Kadang kita segen dan merasa tabu untuk membicarakan masalah ini pada anak. Tapi tetep harus ya... TFS. Mak. :)

    BalasHapus
  2. Ayoo Mak, saya tunggu share lanjutannya. (o)

    BalasHapus
  3. mak Nia dan Mak Hilda... yuukk berikan yang terbaik buat anak2 kita...

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI