Google+ Followers

Sabtu, 05 April 2014

ODOK - PDIP Anti Islam?

PDI PERJUANGAN (DULU PDI) SEPAK TERJANGNYA
MEMANG ANTI ISLAM (ODOK #18)
Oleh: Agung Pribadi (HISTORIVATOR)
“apabila ada beberapa pilihan yang buruk, pilihlah yang mudharatnya paling sedikit’.
(kaidah ushul fiqh)
Akhir-akhir ini politisi PDIP banyak berulah terhadap umat Islam. Kata-kata mereka menyakitkan umat Islam. Misalnya Jokowi Gubernur DKI dari PDIP mengatakan Presiden
Mesir yang Sah Dr. Muhammad Mursi eksklusif makanya digulingkan, kemudian anggota DPR RI dan Politisi PDIP Eva Sundari berkata bahwa Situs Islam Lebih Berbahaya dari Situs Porno, lalu
Caleg PDIP Zuhairi Misrawi mengatakan dalam akun twitternya berkicau “Kaum Islamis di negeri
ini patut bersyukur, krn kita tidak akan membunuh mereka. Di Mesir, mereka dibunuh dan dinistakan,”
Hal ini tidak mengherankan. Dalam Sejarah Sepak terjang PDIP memang memusuhi umat Islam. Mari kita lihat lintasan sejarahnya.
Ketika PDI Perjuangan meraih suara terbanyak dalam pemilu 1999 Umat Islam panik. Hal ini disebabkan secara historis PDI sejak berdirinya
serta unsur-unsur pembentuk PDI adalah kelompok- kelompok yang senantiasa merugikan (kalau tidak mau disebut memerangi) umat
Islam. Unsur-unsur PDI yaitu PNI, Murba,IPKI, Partai Katholik, dan Partai Kristen Indonesia sejak masa Orde Lama selalu meminggirkan
umat Islam. PNI adalah partai yang
membubarkan Masyumi sebuah simbol persatuan umat Islam.
Ketika masa Orde Baru PDI mendukung Golkar dalam kebijakan-kebijakan yang merugikan umat Islam antara lain Legalisasi AliranKepercayaan
dalam GBHN, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), serta Legalisasi RUU
Perkawinan 1974.
Juga PDI menentang pengesahan RUU Peradilan Agama 1989 dengan mengatakan RUU Peradilan
Agama adalah usaha-usaha menghidupkan Piagam Jakarta. Juga ketika umat Islam mengusulkan libur bulan puasa PDI bersama
Golkar menentangnya.
Ketika masa reformasi umat Islam
menghembuskan isu bahwa Megawati (ketua Umum PDI Perjuangan masa Reformasi) tidak
terlalu memperhatikan aspirasi umat Islam, Megawati membantah dengan mengatakan bahwa kalau ia menjadi presiden ia akan membenahi urusan haji ternyata sampai ia menjadi presiden belum juga membenahi semrawutnya penyelenggaraan ibadah haji yang
sarat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Tanggapan Megawati bahwa ia akan membenahi pengurusan ibadah haji ini juga tipikal jawaban golongan kebangsaan yang netral agama (nasionalis sekuler) yang menganggap bahwa urusan agama Islam hanyalah rukun Islam yang
lima. Sebuah tipikal pemikiran yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, Masa Orde Lama dan Masa Orde Baru.
Umat Islam menentang Megawati sebagai presiden karena di kalangan mereka beredar
foto Megawati yang berdoa dengan cara agama Hindu, ini juga menjadi alasan penentangan umat Islam terhadap Megawati.
Kemudian umat Islam juga mendapati bahwa mayoritas caleg PDI Perjuangan dalam DCS (Daftar Caleg Sementara) adalah non muslim. Kebijakan ini kemudian dikoreksi PDI Perjuangan dalam DCT (Daftar Caleg Tetap) tidak lagi
mayoritas non muslim daftar calegnya, akan tetapi tetap saja jumlah caleg non muslim terlalu
banyak alias tidak proporsional dengan persentase jumlah non muslim di Indonesia.
Kemudian terjadi peristiwa intimidasi terhadap ulama oleh Satgas PDI Perjuangan ataupun
oleh kader mereka yang "nongkrong-nongkrong"
di Posko PDI Perjuangan, sebuah peristiwa yang semakin membuat umat Islam menjadi sangat resisten terhadap Megawati.
Pada masa awal pasca Suharto juga terjadi eksodus besar-besaran orang-orang Orde Baru mantan Golkar dan TNI ke jajaran kepengurusanpusat PDI Perjuangan. Orang-orang itu antara lain Jacob Tobing dan Theo Syafi'i.
Kemudian Theo Syafi'I berceramah yang dianggapmenghina umat Islam dan tidak menganggap penting peranan umat Islam dalam
perjuangan kemerdekaan.
Semakin renggang sajalah hubungan Megawati dengan umat Islam. Kemudian juga beredar isu
bahwa Theo Syafi'I dan Alex Litaay dari jajaran pengurus Pusat PDI Perjuangan berperan dalam
pendanaan konflik Islam-Kristen di Ambon. Dari segi pemikiran Teologi dan Fiqh sebagian (Tidak Semua) umat Islam juga mengharamkan
presiden Perempuan. Pemikiran ini antara lain diwakili oleh PPP, PBB, dan PK. Sementara PAN dan PKB membolehkan presiden perempuan.
Kemudian sebelum Sidang Umum MPR 1999 umat islam berkumpul dan melakukan konsolidasi di rumah Presiden (demisioner) Habibie. Mereka rapat dan memikirkan upaya-upaya
menghadang jalan Megawati ke kursi kepresidenan. Habibie bersedia mundur dari pencalonan kalau memang rapat itu memutuskan bukan dia yang maju. Tapi Habibie benar-benar rela kalau yang maju adalah Amien Rais.
Amien Rais dalam rapat ini ngotot untuk mencalonkan Gus Dur sebagai Presiden. Akhirnya Poros Tengah dan Sebagian anggota golkar setuju untuk memilih Gus Dur sebagai Presiden serta mengatur Akbar Tanjung menjadi ketua DPR, AMien Rais menjadi ketua MPR. Umat Islam kali itu berhasil dan Gus Dur berhasil terpilih sebagai Presiden RI yang keempat.
Akan tetapi dari bulan Mei sampai Juni 2001 terjadi perubahan dukungan umat Islam. Mereka
yang tadinya berpendapat ABM (Asal Bukan Mega) berubah menjadi ABG (Asal Bukan Gus
Dur). Dengan berpegangan pada kaidah ushul fiqh yaitu mencegah mudharat lebih diutamakan
daripada mengambil manfaat mereka sepakat untuk menurunkan Gus Dur dan mengangkat Megawati sebagai Presiden. Juga umat Islam
yang tadinya mengharamkan Presiden Perempuan menjadi menghalalkan dengan alasan darurat.
Ternyata pendapat umat Islam bahwa kalau Megawati menjadi presiden akan merugikan umat Islam terbukti saat ini. Ketika Megawati menjadi Presiden ia mendirikan badan baru yaitu BIN (Badan Intelijen Negara). Umat Islam trauma dengan praktek- praktek operasi intelijen
pada masa Orde Baru yang menindas umatIslam seperti pada kasus Tanjung Priok, Talang Sari Lampung, Demonstrasi menentang RUU Perkawinan, Aliran Kepercayaan, dan P4, serta Asas Tunggal. Ditambah lagi ketua BIN itu adalah AM Hendropriyono "Sang Penjagal" pada peristiwa Talang Sari Lampung 1989.
Ia juga musuh politik Abu Bakar Ba'asyir ketua Majelis Mujahidin Indonesia sebuah organisasi
massa Islam yang menghendaki penerapan Syariat Islam di Indonesia melalui jalur konstitusional.
Pada Masa awal pemerintahan Megawatipun terjadi tragedi World Trade Center (WTC) tanggal 9 September 2001. Sebuah peristiwa
penghancuran Menara Kembar New York WTC dengan cara menabrakkan dua buah pesawat
jumbo jet. Pasca peristiwa ini Megawati menjadi kepala negara pertama yang mengunjungi AS
dan memberikan dukungan kepada George W. Bush dalam upayanya perang melawan terorisme.
George W. Bush pun menawarkan bantuan dan kerjasama dengan militer dan polisi Indonesia
dalam perangnya ini. Terjadilah penangkapan terhadap Ja'far Umar Thalib dan Habib Rizieq Shihab. Dengan tuduhan yang mengada-ada. Juga terjadi penculikan terhadap Umar Al Faruq yang dituduh menjadi pentolan Al Qaeda untuk cabang Asia Tenggara. Terjadi pula penangkapan terhadap Tamsil Linrung (bendahara PAN), Abdul
Jamal Balfast, dan Agus Dwikarna (anggota Komite Persiapan Penerapan Syariat Islam
Sulawesi Selatan) di Filipina yang disinyalir ada kerja sama dengan intelijen Indonesia.
Tepat setahun sebulan sehari setelah Tragedi WTC terjadilah tragedi bom Bali. Lalu terjadilah
petaka terhadap umat Islam yaitu adanya penerapan Perpu Anti Terorisme yang kemudian
berubah menjadi UU Anti Terorisme. Perpu dan UU ini ibarat pukat harimau yang menjaring
segala jenis ikan, binatang, bahkan karang laut.
Yang tertangkap karena UU pukat harimau ini bukan hanya yang benar-benar membom seperti
Amrozi, Imam Samudra, Mukhlas, dan lain-lain melainkan juga menangkap aktivis mesjid
yang tidak melakukan aksi terorisme apapun.
Para Penceramah yang keras juga sejak adanya perpu anti terorisme mulai diincar aparat intelijen baik dari kepolisian maupun militer.
Targetnya terutama aktivis yang ingin menerapkan syariat Islam di berbagai daerah.
Target yang diperluas adalah orang- orang yang aktif di ormas Islam yang kritis terhadap pemerintah. Misalnya penangkapan terhadap
Abu Bakar Ba'asyir , dan Suripto , serta alumni jihad Afghanistan, Ambon, dan Poso.
Hal-hal di atas semakin memperburuk hubungan Megawati dengan umat Islam. Jadi selain
performa Megawati buruk di mata wong cilik akibat penggusuran dan mahalnya harga barang, Megawati juga buruk di mata umat Islam karena hal-hal yang dibeberkan di atas.
Jadi dari dulu sampai sekarang PDI dan PDI Perjuangan memang anti Islam
Wallahu A”lambish Shawab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI