Google+ Followers

Sabtu, 05 April 2014

Jadi Penulis Egois?

Siapa pun pasti bisa menulis. Tapi tidak semua bisa jadi penulis.

Kok begitu?

Coba kita pahami dulu apa itu Penulis dan apa itu Menulis.

Definisi Penulis versi Wikipedia
Penulis adalah sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis, atau menciptakan suatu karya tulis.
Menulis adalah kegiatan membuat huruf (angka) menggunakan alat tulis di suatu sarana atau media penulisan, mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui kegiatan menulis, atau menciptakan suatu karangan dalam bentuk tulisan.

Karya tulis bisa berupa karya tulis ilmiah: penelitian, makalah, jurnal; tulisan jurnalistik:artikel, opini, feature; sastraatau fiksi (termasuk prosa, novel, cerpen, puisi). Format
tulisan penerbit berupa media cetak: buku, majalah, tabloid, koran; media on-line/internet: (website, blog; media jejaring sosial: facebook, twitter, google plus dan sebagainya.

Padanan istilah penulis adalah pengarang, penggubah, prosais, pujangga, sastrawan. Berpadan kata pula dengan pencatat, carik (Jawa), dabir (arkais), juru tulis, katib (Arab), kerani, klerek (arkais), panitera, sekretaris, setia usaha. Pelukis dan penggambar kadangkala juga dimasukkan sebagai padan kata penulis.

Pada umumnya seorang penulis harus memiliki tiga keterampilan dasar menulis :
1. Keterampilan berbahasa dalam merekam bentuk lisan ke tulisan, termasuk kemampuan menggunakan ejaan, tanda baca, dan pemilihan kata.
2. Keterampilan penyajian, seperti
pengembangan paragraf, merinci pokok bahasa menjadi sub bahasan pokok, dan susunan secara sistematis.
3. Keterampilan perwajahan, termasuk kemampuan pengaturan tipografi seperti penyusunan format, jenis huruf, kertas, tabel
dan lain sebagainya.

Oke, Bukankah Mudah? Kok ada pernyataan tidak semua orang bisa jadi penulis?


Hmm, begini...

Pernahkah anda membaca tulisan, katakanlah cerita, pendek saja, tapi cerita tersebut tidak nyantol di hati anda. Padahal, tulisannya rapi, tidak ada salah ketik, tanda baca oke semua. Tapi sungguh, alur yang disajikan membuat anda sudah pusing tujuh keliling ketika membaca paragraf demi paragraf.

Kalau penulis cerita tersebut melakukannya sesekali saat ia menulis, bisa jadi ia memang sedang hilang fokus. Tapi bagaimana bila setiap menulis cerita, tetap seperti itu?
Ini namanya egois. Penulis hanya merasa ceritanya bagus. Hebat dan membanggakan imajinasinya. Tapi percuma saja, bila pembaca lainnya tidak memahami apa yang dituliskan si penulis.

Tapi kan teknis menulisnya sudah bagus?


Kalau kisah yang ia tulis sudah bagus, hidup dan masuk di jiwa pembaca, tapi tulisannya tak rapi, eyd berantakan, tanda baca salah, nah, itu sudah wajib dibenahi. Namanya juga belajar. Teorinya memang dalam tulisan tidak boleh menganggap remeh apa yang saya sebutkan tadi. Namun, semua itu bisa diperbaiki. Harus mendisiplinkan diri untuk menulis dengan rapi.

Nah, kalau teknis menulisnya sesuai teori, tapi cerita hanya bisa dimengerti penulisnya saja, bagaimana? Kembali lagi, apa tujuan anda menulis?

Koleksi pribadi? Atau hendak membagikan sesuatu untuk orang lain?
Bertanyalah pada hati anda, maka akan terjawab, anda termasuk penulis yang egois atau tidak?
Siapa bilang menulis hanya butuh teori? Menulislah dengan hati dan rasamu.
Selamat Menulis.

2 komentar:

  1. Simpel ternyata pesannya, menulis tak cuma butuh teori, tapi juga perasaan, wah jangan-jangan ini rahasia tulisan kamu, sory ya Rin, ilmu kamu kucolong......RIn, kalau mau berkunjung ke saya, kamu bisa klik DI SINI

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI