Google+ Followers

Rabu, 02 April 2014

Ada Hadiah Di Sini........

Dia menatapku dalam-dalam, bukan dengan rasa cinta atau sayang, tetapi dengan perasaan bersalah.
"Siapa perempuan itu?" Aku bertanya, mencoba menahan amarah dan kepedihan di dalam hatiku.
"Seseorang..... dan kau takkan mengenalnya," sahutnya tenang, seolah-olah dengan tidak mengenal perempuan itu akan mengurangi sakit yang kurasakan. Mata ini mencoba memandangnya, tetapi aku sadar yang bisa kulakukan adalah menatap lantai dan berharap air mata yang membendung tidak berjatuhan. Bisa kurasakan dia perlahan bergeser mendekat, tangannya diletakkan di bahuku untuk menenangkanku.
Cepat-cepat kutepis tangannya, tidak menginginkan bujukan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
#olivia

Tulisan seperti ini sering kita baca atau bahkan mungkin pernah kita alami. Namun adakah yang bisa melanjutkan kisah ini agar bisa menjadi sebuah kisah utuh?
Yuk lanjutin dengan ide kamu. Akan ada hadiah menarik untuk 2 tulisan terpilih

9 komentar:

  1. Coba lanjutin ya mbak...

    " Mas minta maaf ya dek. Mas tidak menyangka adek akan kecewa sekali setelah mengetahui yang sebenarnya," Mas sudah berlutut di depan ku sambil menggenggam erat tanganku. "Dek, lihat mas dek," mas meraih daguku. Astaghfirulloh... mas sepertinya menyesal sekali. "Aku merasa bodoh sekali tidak bisa mendapat tempat di hatimu seperti dia mas. Aku, aku," mendadak tangisku pecah. Mas panik coba menenangkanku "Dek, sudah dek. Mas janji nggak akan ke tempatnya lagi. Mas janji nggak akan membangga-banggakan lagi pepes ikan buatannya," pintanya sungguh-sungguh. Aku hanya mengangguk sambil berkata "Maafkan adek juga ya mas." Kamipun berpelukan melepas luka.

    Sekian.

    *edisi istri sensi lagi PMS* dan *edisi pengorbanan suami melupakan pepes ikan favoritnya di kantin kantor demi menjaga perasaan istri tercinta*

    Semoga berkenan :)

    BalasHapus
  2. in lanjutin ya mbak Rinz :)



    Ingin rasanya aku pergi meninggalkannya, sadar diri bahwa ternyata masih ada perempuan lain yang dia anggap penting.

    ''Kau marah?'' desisnya setelah menerima tepisan tanganku saat tangannya menyentuh bahuku.

    Aku menggeleng. Perih, tapi tak kuasa apapun.

    ''Aku bisa menjelaskannya, dan kau pasti mengerti,..'' jelasnya lagi.

    ''Tak usah..!'' jawabku singkat, kemudian memalingkan wajahku dari hadapannya saat bulir-bulir air mata sudah tak mampu lagi kubendung.

    ''Itu sahabat lamaku, kau tak perlu curiga kepadanya. Dan tak ada yang pantas kau curigai dari persahabatan kita...''

    Degg...! Jantungku bagai dihantam besi. Persahabatan? Jadi selama ini hanya sahabat?

    ''Ya, aku tahu itu... Kita hanya sahabat dan aku sahabat yang diam-diam berharap padamu...'' tapi suaraku tercekat di kerongkongan, jawabanku tak lahir dan tak bisa membuatmu sadar, bahwa aku tersakiti.


    #Thank you Mbak Rinz


    BalasHapus
  3. namun ternyata bukanlah kata bujukan yang terdengar olehku, perlahan tapi jelas suaranya hadir menelusuri gendang telingaku.
    "Maafkan aku harus memilih dia untuk menjadi pendamping hidupku", kata-kata itu menggelegar bagaikan petir menyentak alam kesadaranku. Aku hanya bisa menatapnya, tanpa suara dan tanpa kata-kata ketika dia berdiri kemudian melangkah meninggalkanku yang masih terpaku tak tahu harus berbuat apa. Perlahan tapi pasti langkahnya semakin menjauh dariku, mendekati perempuan yang tak kukenal, yang menanti di ujung lorong gelap.

    BalasHapus
  4. Cepat-cepat kutepis tangannya, tidak menginginkan bujukan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kutarik tasku dan melangkah pergi meninggalkannya.

    Sejak pertemuan dengan perempuan itu, hatiku selalu terbakar amarah sementara di mata suamiku yang biasanya kutemukan penuh cinta dan semangat sering menatapku kuyu. Ada sesuatu yang begitu berat tersimpan di hatinya hingga terpancar jelas di bola matanya. Amarahku pun kian berkobar. Rasa ini bukan lagi sekedar cemburu. Aku harus tahu siapa perempuan itu, dan ada hubungan apa dengan suamiku.

    http://penggalkisah.blogspot.com/2014/04/seputih-hati-olivia_4.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. deny yustisia7 April 2014 10.50

      aku masih tertunduk dalam - dalam mengenang kembali masa - masa dulu sebelum kami menikah. teringat kembali seperti apa ikranya dulu padaku, semuanya masih berasa manis. setiap kata lembutnya bak secawan anggur dan aku pun mabuk karenanya.
      " apa kau masih percaya padaku?" tanyanya membuyarkan kebisuanku.
      " bagaimana mungkin aku tidak mempercayai pengakuanmu, sedangkan aku memintaku untuk selalu percaya padaku."

      Hapus
  5. Ini kesekian kalinya Herlan “bermain api” dengan “seseorang” di belakangku. Berulang kali, dengan si seseorang yang ikut berganti. Namun, meski pada akhirnya pengkhianatan Herlan selalu dapat aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri, aku tak pernah mampu melangkahkan kaki untuk pergi menjauh darinya. Setiap luka yang ia toreh, selalu saja berhasil sembuh dalam sekejap bila ia telah merangkulku, menenggelamkan tubuh dan hati ringkihku dalam pelukannya yang hangat. Semua kesal dan amarah meluruh sempurna seiring rangkaian kata maaf dan janji manis meluncur dari bibirnya. Salahkah aku? Bodohkah aku?

    Herlan bilang, hadirku ibarat ratu dalam kerajaan istananya. Sedangkan mereka –para seseorang- tak ubah bak selir saja. Sekian lama aku menuruti maunya Herlan, membiarkan diri terjebak dalam siklus yang makin hari makin menyakiti. Mencintai Herlan – membiarkannya bercinta dengan wanita lain – menangis dan terluka – dibujuk janji manis Herlan – luluh dan kembali mencinta – terluka lagi. Hih! Jika pepatah lama mengatakan “keledai saja tak akan jatuh 2 kali ke lubang yang sama”, jadi aku ini lebih dungu dari seekor keledai, bukan?

    Herlan mencoba memelukku, namun tak seperti yang sudah-sudah. Aku tak akan membiarkan pelukkannya yang penuh racun menjebakku lagi. Dia mengerjap tak percaya atas penolakanku, penolakan pertama yang aku lakukan atas inginnya selama kurun waktu 7 tahun ini. Seolah mendapatkan kekuatan yang bersumber dari rasa perih yang sekian lama menggunung, aku mantap berdiri, memandangnya yang masih membeku dalam ekspresi tak percaya. “Kita putus, Lan ..” ucapku sekilas lalu segera berlalu meninggalkan Herlan sebelum ia menyadari benar apa makna ucapan yang baru saja meluncur lancar dari bibirku barusan.

    Aku melangkah ringan, seakan beban kepedihan hilang sempurna. Duh, jika aku tau rasanya akan senyaman ini ketika berani melepaskan diri dari jerat Herlan, kenapa tak dari dulu saja aku melakukannya? Senyumku mengembang. Hari baru siap dimulai, tanpa tangis, tanpa luka. Bahagia dan indah.

    Namun, tepat ketika aku tiba di seberang jalan …


    Ciiiiittttttttt buuuummmmmmm ..


    Aku sontak menoleh,


    “Herlaaaaaaaaaaaaaaaannnnnn ..”


    Duh Tuhan, sepertinya kali ini aku akan menangis tak berkesudahan.

    BalasHapus
  6. "Seseorang..... ?" Lirihku pelan. Mendadak aku tertawa.sinis dengan tatapan yang tak kalah sinis memandang perempuan yang berdiri di depan mobil lelaki yang dua tahun sudah hidup bersamaku.

    "Dia bukan siapa-siapa, kau tak perlu cemburu"
    Lanjutnya seakan tahu apa yang terbesit dalam
    pikiranku.

    "Jadi, dia alasan kau tidak pulang ke rumah. Katanya lagi dinas ke luar kota, kok malah ada di Hotel Cendana"

    "Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dia cuma rekan kantorku."

    "Ooooh, ceritanya kau dan perempuan itu sementara dinas di hotel. Hebat. Kau pikir aku terlalu bodoh tak bisa mencium gelagat busukmu. Kau tahu beberapa hari ini aku sengaja meninggalkan putra kita dan membuntutimu. Dengan mata kepalaku sendiri, aku saksikan kalian gandengan, pelukan, bermesraan di depan
    umum. Apa itu namanya. Hah?" Tanyaku dengan nada yang sengaja kukeraskan. Emosiku membuncah. Hatiku sudah menangis tapi aku tak boleh tampak lemahbdi hadapan lelaki yang tega mengkhianati pernikahan kami.

    Sejenak tercipta hening. Lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku dan ayah dari putra kecilku yang baru menginjak enam bulan itu tak bergeming. Untuk beberapa saat ia hanya diam membisu. Mungkinkah akan timbul kesadaran di hati suamiku setelah ketangkap basah oleh
    istrinya?

    "Baiklah, kau tak perlu menjelaskan apa-apa karena semua sudah sangat jelas. Cukup sampai di sini hubungan kita. Ceraikan aku segera" Seharusnya kalimat tersebut yang meluncur ditengah perasaanku yang kini carut
    marut. Ah, kalau saja aku tak melahirkan anaknya, kalau saja tak ada Alif, mungkin aku tidak akan sekuat ini.

    "Pulanglah... jika kau masih sayang pada Alif, dan juga keluargamu" ucapku memecahkan keheningan dengan sebuah kalimat yang sungguh tak kusangka akan meluncur dari mulutku.

    Lelakiku masih membisu. Mungkin ia sedang mencerna perkataanku barusan. Ia yang mengkhianatiku dan aku justru memberinya kesempatan untuk kembali. Kedengarannya tak adil, tapi demi Alif aku tidak boleh
    egois.

    "Maaf" hanya satu kata yang terucap setelah sekian menit ia membisu. Aku menunggu ucapan selanjutnya namun keadaan kembali hening.

    Kuberanikan diri menatapnya. Benar tak ada lagi rasa sayang juga cinta yang berpendar dimatanya. Penyesalan
    pun tak kuasa mengubah perasaan lelaki yang masih sangat kucintai itu. Ia telah memilih dan rasanya tak perlu lagi ada kata-kata.

    Perlahan sekali aku melangkah, berlalu dari hadapannya diikuti bulir-bulir yang mulai berjatuhan. Aku berjalan gontai dengan perasaan yang tak kuasa kubendung lagi. Aku pergi membawa semua amarah dan rasa sakit ini.

    BalasHapus
  7. Maaf mbak... klu sy kembali menanyakan hadiah di sini... wktu itu sy sudah kirim alamat via twitter tp gak ada konfirmasiny dan smpai saat ini sy jg belum terima hadiah giveaway ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Siska Dwyta, kirim alamatnya lagi ya, nanti saya kirim hadianya lagi plus nomor teleponnya, ke 085933115757 (wa)
      Terima Kasih ...

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI