Google+ Followers

Selasa, 25 Maret 2014

Status Estafet menjadi Cerpen - GIGIL HATI

Tadi pagi, tertantang untuk menulis status estafet. Maksudnya, aku menuliskan status cerita, yang bersambung ke status berikutnya. Tanpa jeda. Dan kurang dari satu jam, jadilah kisah ini. Kemudian, beberapa orang teman juga ikut menulis status estafet, dan jadilah kisah pendek. Akan kutulis di postingan berbeda.

Selamat menikmati :)

Gigil Hati

Kau benar, Mas. Hidupku tidak bahagia. Semua ini hanya sandiwara. Seharusnya aku bisa memilih.
Tidak ada kata terlambat. Kusadari, pintu terbuka untuk melangkah keluar. Namun, aku terlalu takut di luar sana.
Tentang cinta, semakin erat kaugenggam, lenyaplah ia pelan-pelan.
Begitulah yang terjadi padaku. Egois. Itu diriku. Setiap saat kuucapkan cinta padamu. Namun, lakuku tidak. Tak pernah melayanimu dengan baik. Kubiarkan kau makan sendiri, mencuci sendiri, setrika sendiri, semua sendiri.
Aku egois. Sungguh terkutuk wanita sepertiku. Dan kini tinggal menunggumu melepasku.
Lalu kubertanya pada siapa? Cinta itu apa sesungguhnya? Aku ingat saat kau sakit, aku hampir pula meregang nyawa karena panik dan mengalami kecelakaan. Panik saat sepertiga malam kau menelepon dan katakan panas tubuhmu sudah sampai empat puluh dua derajat celcius. Hanya orang konyol yang berkendara pagi-pagi buta dan menerobos jalan salah jalur lalu menabrak tukang sari kedelai lalu terlempar tiga meter dan mengalami gegar otak.
Aku juga ingat ketika dengan berat hati menerima dikatakan hanya seorang pengasuh saat kau malu memperkenalkan diriku seorang istri kedua kepada beberapa teman wanitamu.
Karena cintakah? Ah entahlah. Kebaikan yang kulakukan memang sedikit. Tak ada artinya bila dibanding semua perlakuanmu padaku.
Mungkin kau menyesal telah menikahiku. Tapi aku tidak menyesal mencintaimu. Walau cinta yang kupunya hanya keegoisan saja.
Apa kaupikir, semua wanita itu sama? Gila harta? Doyan selingkuh?
Meski kesempatan itu ada, hatiku memilih berdiam di rumah. Rumah yang adalah kau.
Sungguhkah kau tak mengenaliku? Kesetiaan macam mana lagi yang harus kubuktikan? Aku tak sama seperti dia. Yang pergi meninggalkanmu demi berlembar-lembar uang untuk sekadar membeli bedak mahal. Aku tak pergi ke luar sana dan memamerkan keindahan cantik rupaku. Tidak. Jangan samakan aku dengannya.
Aku bukan peselingkuh!
***
Kini apa yang bisa kuharapkan? Bila orang di luar sana tak mempercayaiku, aku tak peduli. Tapi kau? Sungguh hancur hati ini bila orang terdekatku tak mempercayaiku lagi. Lantas buat apa aku ada?
Tidak, tidak. Aku tidak meminta apa-apa padamu, lagi. Cukup sudah.
Hal paling menyakitkan di hati wanita adalah saat ia dikatakan tak setia. Tahukah kau, sesungguhnya dalam keadaan luka sekali pun, wanita tetap bisa menjaga hati demi lelaki yang ia cintai? Ah, kau memang tidak mau tahu. Bagimu semua wanita sama saja. Pengkhianat!
***
Sudah. Jangan menyesali diri. Aku tak menyesal ada di sini.
Kau sudah membuatku memilih. Puaskah kau? Ya, sekarang sampai nanti, kau akan tetap percaya, hatiku tak kan ke mana-mana.
Jangan. Jangan mengisak. Ingat, kau pernah bilang aku tak boleh cengeng. Kau tak suka melihat wanita menangis. Aku juga tak suka melihat air matamu jatuh. Apalagi untukku.
Ya, aku tahu kau mencintaiku. Sangat. Dan kau takut dunia mengambilku darimu. Aku tak kan selingkuh. Tak pernah selingkuh.
Dan kini kau yakin, perkataanku tentang setia adalah benar.
Tersenyumlah. Jangan menangis. Aku baik-baik saja.
Simpan hatiku, ya.
Jangan lupa tuliskan di nisanku, "Istri paling setia."
Aku tahu, pilihan ini akan membuatmu percaya. Cinta itu konyol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI