Google+ Followers

Selasa, 25 Maret 2014

Status Estafet menjadi Cerpen - DURJANA (Ajeng Maharani)

Aku senang sekali, cara menulis cepat lewat status, bisa mengisnpirasi teman-teman untuk menuliskan apa yang ada di kepalanya dalam waktu singkat. Sebenarnya mudah saja. Ide yang sudah lama mengendap di otak itulah yang digunakan. Ibarat ikan, kudu dipancing, ide juga begitu.

Menurut mbak Ajeng Maharani, tulisan di bawah ini sudah terekam di pikirannya sejak semalam. Setelah membaca status estafet milikku yang jadi cerpen GIGIL HATI, mbak Ajeng terpompa untuk segera menuliskan.
Yup, tidak ada istilah buntu ide. So, segeralah menulis. hehehe editing setelahnya. :)

Selamat membaca

DURJANA

Perempuanku itu akhirnya kuterkam, kulumat dalam-dalam. Tahu apa dia tentang cinta yang sedang bergemuruh di dalam dadaku ini? Tahu apa! Aku yang sudah mencintainya sejak pertama dia menjejakkan kakinya ke tanah cokelat yang menggeliat di desaku ini, aku sudah tekankan jika dia adalah milikku.
Milikku! Dan tak boleh seorang pun memilikinya..
Lalu, bagaimana bisa dia dengan begitu mudahnya mengatakan jika ada lelaki lain yang sedang dia cinta?
Dia bahkan telah membunuh mati hatiku. Mencabiknya berkali-kali lalu menggantungnya pada pohon-pohon randu yang telah mati. Jika sudah begitu, aku akan bernafas dengan apa?
Lenguh nafas perempuanku kembang kempis. Jiwa-jiwa yang tersudut pada renjanaku membuncah tak keruan arah. Aku meregang, menusuk pun mencakar keayuannya.
Dia menangis namun tetap tak kudengarkan. Memohon dan memohon namun bahkan suaranya tak lebih keras dari suara kunang-kunang malam yang berseliweran di antara kami.
Malam semakin cekat menggoda kebusukanku. Perempuanku lunglai. Tubuhnya rengsa dimakan peluh, raib, dicolong keheningan desir sang bayu.
Sementara aku, masih saja memaksa menanamkan benih pada rahimnya yang masih kosong.
***
Waktu telah berlalu, terhitung jatuh pada malam kedua. Perempuanku membisu. Sedikitpun tak terdengar suara cantiknya yang dulu menderu-deru, bercerita tentang sebuah impian.
Aku menyesal.
Telah menyumpalkan nanah pada hatinya yang indah. Nasi kini telah menjadi semangkok bubur. Waktu tak bisa lagi diputar pada malam itu, dan memintaku memilih kebaikan apa yang seharusnya kulakukan.
Ah, perempuan. Ijinkan aku memilikimu selamanya. Kan kubahagiakan jiwamu yang membatu itu.
Tidak, jangan lelehkan air matamu kembali. Kau menyakiti cintaku yang membusuk ini. Kumohon, bisakah kau memaafkan aku?...
***
Dengan niat palsu kutipu Emak Bapakmu, menawarkan diri menikahi anak gadisnya yang telah berubah menjadi patung, karena ulah durjana sang lelaki yang hilang, entah bersembunyi kepada apa. Pernikahan kita sederhana, namun aku sungguh bahagia. Janjiku akan membahagiakanmu. Kan kuperbaiki kesalahanku.
Lalu, malam pengantinpun tiba. Kau yang secantik rembulan, masih tak mengeluarkan suara. Aku maklum, perempuanku. Pun juga pada tetesan air mata yang terus menggenang di sudut-sudut deritamu, yang akan terus mencekik kenangan kita pada satu malam itu.
Lihatlah, aku bersujud pada kedua kakimu yang putih pucat. Kudekati keningmu, hendak kucium harum sukmamu. Maafkan aku perempuanku. Maafkan..
***
Pagi buta, ketika sang fajar belum berada pada peraduannya, sepasang suami istri yang baru saja menikah semalam, saling menusuk dengan sebilah pisau.
Semuanya hening. Tak seorang kerabatpun tahu, kisah sedih yang bersembunyi pada bilik-bilik dendam yang menggoda untuk mengakhiri segalanya...
~ tamat ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI