Google+ Followers

Sabtu, 22 Maret 2014

Perseteruan Kita

Rumput di matamu kering layu. Hijau telah menjadi mati. Tak sempat aku memberinya nafas. Sungai di nadiku pun mengering. Padang ini senyap, segala lenyap. Sementara kita berpacu hening di bawah teduh Beringin. Aku di timur, kau sisi barat. Berlomba memetik angin yang meramu ingin. Dan membenamkan asa yang kalah di bakal nisan di antara kita. Siapa cepat, mengikat hati dengan erat, mencoba lagi menumbuhkan rerumputan di padang yang telah tandus.

O, sungguh karna cinta, kita dilelahkan.

Dulu, berpijak rerumputan segar. Wangi embun pagi hantarkan asmara yang diselimuti kita. K I T A. Satu segalanya dalam lantun kidung yang terdengar sampai ke ujung-ujung bumi. Menghujam mata-mata yang memandang separuh tatap. Dan bibir-bibir yang kepanasan mencumbu emosi. Di hari-hari yang menelan bulat-bulat cecintaan kita.

Memang kita dipayahkan.

Pada genderang tabuh di dua hati yang saling bertalu-talu. Punya siapa yang lebih dulu didengar alam. Sikut hingga jatuh sakit meringkuk lantas mati.

Ia layu di matamu, kering di nadiku. Lalu kita berlawanan rebah. Aku di timur, kau sisi barat. Sama-sama memetik angin meramu ingin. Siapa cepat, mengikat hati dengan erat. Membangkitkan cinta yang telah mati.

Sungguh kita dilelahkan dan telah payah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI