Google+ Followers

Sabtu, 15 Maret 2014

Perjalanan Impian Part.2





Kesabaran suami, membuatku malu. Ya, bagaimana tidak. Selama dua tahun terakhir ini rumah tanggaku benar-benar diuji.

Sejak putriku berusia satu tahun, aku merasa telah terjadi perubahan luar biasa dalam diri. Emosian, cepat sekali marah, gampang tersinggung. Tak jarang aku suka membantah suami kalau nasihat yang ia berikan tidak berkenan di hatiku.

Ini semua berawal ketika aku mendengar kabar, mantan istri suami ingin rujuk. Aku marah, kecewa dan benar-benar kesal. Sedikit saja salah paham, pasti meledak-ledak. Aku jengkel, karena suamiku ternyata masih bersikap baik dan terkesan menerima kembali wanita yang meninggalkannya juga buah hati yang masih kecil. Dan kini dengan mudahnya ia katakan ingin rujuk? Sungguh luar biasa tak keruan rasa yang ada di hati ini.

Hari demi hari kulalui dengan murung dan melamun di kamar. Suami lebih memilih diam daripada membuat seisi rumah kacau dengan emosi gilaku.

Suatu hari, suami mengatakan hal yang bikin hatiku luluh.

“Bunda, daripada marah-marah tidak jelas, coba kembali lagi menulis. Itu lebih baik. Siapa tahu, Bunda bisa menulis sebuah buku dari perjalanan kisah kita.”

Kupikir, ada benarnya juga. Buat apa kemarahan kuledakkan di dalam rumah. Hanya bikin tambah gila dan sakit hati. Sejak saat itu, aku mulai menulis kembali seperti saat-saat sebelum menikah dulu. Namun emosiku masih tidak stabil. Hatiku tampaknya menderita sakit yang teramat parah. Tiba-tiba saja aku merasa hampa.

“Bunda, Ayah bukan suami yang sempurna, tapi Ayah ingin punya keluarga yang baik. Selama ini kita jarang bersujud sama-sama lagi. Karena emosi membuat kita saling menjauh. Sadar gak sih, Bunda, kalau kita sudah jauh juga dari Allah?”

Aku  tertunduk. Dalam hati mengiyakan perkataan suami. Gara-gara hati yang sensitif, aku melupakan satu hal penting dalam keluarga ini. Aku melupakan Allah. Kemana aku saat kesal? Saat sedih? Seharusnya aku datang pada-Nya.

“Ayah, maafin Bunda. Ini salah Bunda.”

“Sudah, ini bukan kesalahan Bunda. Seharusnya Ayah bisa membimbing Bunda. Bukannya malah cuek dan tidak mau tahu seperti beberapa waktu belakangan ini. Ayah juga salah.”

~00~

Belakangan, keluarga kecilku tumbuh seperti kuncup bunga yang bermekaran. Kadang angin menerpa, tapi bunga itu tetap kokoh di ranting. Dasar yang kuat membuat ia tetap bertahan. Begitu pun aku dan suami. Tak jarang kami jatuh bangun, saling ribut, tapi semua itu terkalahkan oleh kasih dan cinta yang selalu menyelimuti.

Memasuki tahun ke empat kebersamaan kami, sama-sama belajar mendewasakan diri. Aku beruntung memiliki suami yang sabar dan bijaksana. Ia mengajarkanku kelembutan. Dulu ia sempat berlaku kasar, tapi ketika kami sama-sama bertekad memperbaiki diri, ia membuktikan mampu menjadi suami dan ayah yang terbaik.

Ini takkan berhenti sampai di sini. Perjalanan kami masih panjang. Dan aku memastikan diri terus melangkah sambil memegang erat tangannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI