Google+ Followers

Sabtu, 15 Maret 2014

Perjalanan Impian Part 1

“Mbak, penulis ya? Sudah punya buku yang diterbitkan?”

Sesungguhnya, saya sedih sekali ketika ditanya begitu. Kenapa sedih? Pertama, saya jadi ragu apakah saya seorang penulis? Kalau pun benar saya penulis, kok ya saya belum punya satu pun buku yang di kavernya ada nama saya. Kedua, seingat saya, enam tahun yang lalu mulai serius belajar menulis agar jadi penulis. Pantaskah saya menyebut diri ini seorang Penulis?

Tapi kesedihan saya tak berakhir di pojokan kamar. Saya bertekad untuk membuktikan pada semua bahwa saya memang seorang penulis dan suatu saat nanti ada nama saya di kaver buku. Tidak hanya satu, ratusan!
Perjalanan menjadi seorang penulis itu tidak instan. Bayangkan, berapa tahun saya menanti kesempatan baik. Memang tak semua orang punya jalan yang sama. Tapi rasanya cukup indah buat saya berbagi kisah tentang perjalanan menuju tempat yang saya idam-idamkan sejak dulu.

Saya  tak pernah menyerah walau sempat terhenti beberapa bulan karena urusan rumah tangga. Diam-diam saya menggali potensi diri dengan terus berlatih menulis. Layaknya pisau, akan tumpul bila tidak diasah. Saya tak mau impian menjadi penulis berkarat.

Menulis tanpa membaca itu sama saja bohong. Membaca itu perlu. Bagi saya itu seperti makanan bergizi tinggi untuk otak. Banyak ide yang bisa diolah kembali. Selama tidak copy paste, itu tidak jadi soal.
Dengan modal kemauan yang keras dan muka tebal, saya maju terus pantang mundur. Bergabung dengan sebuah komunitas menulis, saya berhasil menjadikan diri saya ‘ada’.  Apa pun yang saya tulis, itu adalah anak bagi saya. Dan sebagai ibu yang baik, tentu saya memperlakukan anak-anak saya dengan baik pula. Curhatan yang tertuang meskipun itu kisah yang buruk dari masa lalu, saya tetap menganggapnya bagai mutiara. Tulisan saya bukanlah sampah, meski tak sedikit orang menganggap apa yang saya tulis jelek. Kalau saya tidak menghargai tulisan saya, bagaimana orang lain bisa menghargainya?

Banyak pelajaran yang saya ambil bahkan dari tulisan-tulisan yang saya hasilkan. Saya percaya, menulis adalah terapi yang baik bagi pertumbuhan jiwa. Hehehe. Kalau dulu saya lebih sering emosian, sekarang sudah agak berkurang. Ya, menulis bisa membantu diri merubah sikap. Bagi saya itu berhasil, mungkin juga berlaku buat orang lain.

Lantas, bagaimana akhirnya saya mampu mewujudkan mimpi?


Tunggu kisah selanjutnya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI